Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geger di Asrama Putra dan Malam Keakraban Tak Terduga
[Setelah selesai makan, Gus Arka dan Gus Arzan yang berencana menuju asrama putra, melihat Ning Abigail di depan masjid asrama putra. Kedua kakaknya itu menghampiri Abigail.]
Gus Arka: (dengan nada heran) "Dek, kok kamu di sini? Tadi bukannya makan di ndalemnya Gus Ivan?"
[Ning Abigail diam, tidak menjawab pertanyaan Gus Arka. Salah seorang santri yang melihat kejadian itu memberanikan diri untuk menjelaskan.]
Santri Senior 2: (dengan sopan) "Anu, Gus, tadi Ning Abigail makan di ndalem Gus Ivan, tapi setelah Gus Faiq entah bicara apa, Ning Abigail jadi kesedak, terus akhirnya Ning Abigail makan di sini."
[Gus Arzan mencoba mengajak Abigail berbicara dengan lembut.]
Gus Arzan: "Dek, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pindah makan ke sini?"
Ning Abigail: (menjawab dengan dingin dan ketus) "Tanya aja tuh sama Faiq."
[Tidak lama kemudian, Gus Faiq datang bersama Gus Ivan. Gus Arzan dan Gus Arka langsung menanyai Faiq tentang apa yang terjadi.]
Gus Arzan: "Faiq, ada apa ini? Kenapa Abigail jadi pindah makan ke sini?"
Gus Faiq: (tiba-tiba memanggil Abigail dengan nada manja yang dibuat-buat) "Bijel, Sayang... Kamu kenapa sih kok marah sama Kakak?"
[Semua yang mendengar ucapan Gus Faiq terkejut, termasuk para santri yang berada di sekitar masjid. Mereka tidak menyangka Gus Faiq yang selama ini dikenal dingin dan cuek bisa bersikap lembut dan manja seperti itu.]
Santri 5: (berbisik) "Eh, denger nggak? Gus Faiq manggil Ning Abigail 'Sayang'!"
Santri 6: "Iya, bener! Kok bisa ya Gus Faiq yang dingin gitu jadi kayak gini?"
Santri 7: "Jangan-jangan Gus Faiq suka sama Ning Abigail?"
Santri 8: (bingung) "Nggak mungkin lah Gus Faiq suka sama Ning Abigail. Kan mereka sepupu!"
Santri 14: "Iya juga sih. Tapi kok Gus Faiq manggil Ning Abigail 'Sayang' ya?"
Santri 15: "Mungkin cuma panggilan sayang biasa aja antar saudara sepupu. Nggak usah dipikirin yang aneh-aneh."
[Gus Faiq dengan suara lembut dan nada yang agak manja mencoba meminta maaf kepada Abigail. Semua orang merasa heran dan kaget karena Gus Faiq bisa bersikap selembut ini, padahal selama ini ia juga dikenal dingin, cuek, dan cool seperti Abigail.]
Gus Faiq: (dengan nada memelas) "Bijel, Kakak minta maaf ya kalau tadi ada salah ngomong. Jangan marah dong sama Kakak."
[Namun, Abigail sama sekali tidak mau menjawab ucapan Gus Faiq. Gus Faiq mencoba merayu adiknya itu.]
Gus Faiq: "Kalau Kakak bisa dapetin maaf dari kamu, kamu mau apa dari Kakak? Apa aja Kakak turutin."
[Abigail masih belum menjawab.]
Gus Faiq: (semakin memelas) "Apa mau Kakak teleponin dulu biar kamu mau maafin Kakak?"
[Gus Faiq sengaja menggantungkan kalimatnya, seolah-olah ia akan menyebut nama seseorang.]
Gus Faiq: "Kakak teleponin G... Gus A..."
Ning Abigail: (dengan nada dingin, cuek, tegas, dan wajah yang judes melebihi biasanya) "STOP! Jangan sebut nama dia!" (nada bicaranya dingin dan penuh penekanan)
[Semua orang kembali terkejut mendengar bentakan Abigail. Mereka merasa penasaran siapa "Gus A" yang dimaksud oleh Gus Faiq.]
Gus Arka: (dengan nada penasaran) "Faiq, siapa sih Gus A itu? Kenapa Abigail sampai segitunya?"
Gus Arzan: "Iya, Faiq. Jangan bikin kita penasaran dong."
Gus Ivan: "Kamu ada hubungan apa sama Gus A itu, Dek?"
Gus Atha: "Abigail, cerita dong sama kita. Ada apa sebenarnya?"
[Ning Abigail merasa malas berdebat dengan Faiq. Ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kantin.]
Ning Abigail: (dalam hati) "Males banget ngeladenin Faiq. Mending jajan aja."
[Setelah membeli jajanan di kantin, ia kembali ke depan masjid asrama putra dan mulai makan. Faiq terus merayunya agar dimaafkan, meskipun dengan nada dingin dan cuek. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Abigail menyumpal papeda ke mulut Faiq agar dia tidak terus berbicara. Abigail juga malas meladeni Faiq.]
[Gus Arka, Gus Arzan, Gus Ivan, Gus Atha, Gus Faiq, dan Ning Abigail bersantai di teras ndalem selatan 3, ndalem yang sekarang ditempati oleh Gus Faiq. Sebenarnya, Gus Arka, Gus Arzan, Gus Ivan, dan Gus Atha penasaran dengan maksud ucapan Faiq tadi. Faiq dan Abigail didesak oleh keempat kakaknya dan kakak sepupunya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.]
Gus Arka: "Faiq, cepetan cerita! Siapa sih Gus A itu? Kenapa Abigail sampai marah gitu?"
Gus Arzan: "Iya, Faiq. Jangan bikin kita penasaran dong. Ini udah kayak sinetron aja."
Gus Ivan: "Kamu ada hubungan apa sama Gus A itu, Dek?"
Gus Atha: "Abigail, cerita dong sama kita. Ada apa sebenarnya?"
Gus Faiq: (menghela napas) "Sebenarnya... ini urusan pribadi Abigail. Faiq nggak berani cerita."
Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Nggak ada yang perlu diceritain."
[Gus Arka dan Gus Arzan berkata bahwa sebenarnya sudah lama mereka ingin quality time bersama Abigail. Namun, untuk Abigail, ini adalah pertama kalinya ia diajak quality time. Dengan sedikit paksaan, akhirnya sore ini mereka memutuskan untuk quality time di ndalem Ivan. Mereka mengajak bakar-bakar, dan sebagian dari para santri senior, sekitar 80 santri, diundang di acara quality time antar saudara ini.]
Gus Arka: "Sebenarnya Kan Mas udah lama pengen quality time sama kalian semua. Tapi susah banget nyari waktu yang pas."
Gus Arzan: "Iya, Dek. Kamu juga jarang banget mau diajak quality time sama kita."
Gus Ivan: "Mumpung hari ini kita lagi pada ngumpul, gimana kalau kita quality time aja? Kita bakar-bakar di ndalemku."
Gus Atha: "Setuju! Kita ajak juga para santri senior biar makin seru."
Ning Abigail: (dengan nada datar) "Terserah."
[Sore hari, acara bakar-bakar dilaksanakan. Ning Abigail yang memasak makanan bakar-bakarnya untuk kakak-kakaknya dan para santri dibantu oleh kang keamanan, 2 santri putra senior, dan Gus Ivan.]
Gus Ivan: "Dek, sini Kakak bantuin. Kamu masak apa aja?"
Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Nggak usah. Bikin sate aja."
Santri Senior 3: (dengan sopan) "Ning, mau saya bantu motongin dagingnya?"
Ning Abigail: "Nggak usah. Biar saya sendiri."
[Setelah memasak, mereka pun makan bersama. Namun, sebelum makan, mereka membentuk lingkaran, lalu Gus Arka memimpin doa. Setelah itu, mereka mulai makan. Di tengah-tengah acara makan, ponsel Abigail dan ponsel Faiq berbunyi bersamaan. Abigail dan Faiq melihat siapa yang menelepon, dan mereka sama-sama kaget dan terkejut. Namun, wajah mereka tetap dingin, apalagi Abigail dengan wajah semakin judes.]
Santri 8: "Eh, kok bisa ya hpnya Ning Abigail sama Gus Faiq bunyi barengan?"
Santri 9: "Iya, aneh banget. Jangan-jangan mereka janjian?"
Santri 10: "Mungkin aja. Tapi siapa ya yang nelpon mereka?"
[Mereka mengangkat telepon itu. Abigail ditelepon oleh sosok pria dengan clue "Gus A" yang disebutkan oleh Faiq tadi, sedangkan Faiq ditelepon oleh Abi dari "Gus A". Mereka sama-sama bingung. Mereka berdua berdiri lalu mengkode satu sama lain untuk mengangkat telepon, tetapi menjauh dan berpencar agar tidak ada yang curiga. Mereka berdua menjalankan aksi mereka.]
[Ning Abigail mengangkat telepon lalu berbincang sebentar dengan nada dingin kepada Gus Ar itu.]
Ning Abigail: (di telepon, dengan nada dingin) "Assalamualaikum."
Gus Ar (di telepon): "Waalaikumsalam. Kamu lagi apa, Bijel?"
Ning Abigail: "Lagi makan."
Gus Ar (di telepon): "Sama siapa?"
Ning Abigail: "Bukan urusanmu."
Gus Ar (di telepon): "Kenapa sih kamu selalu dingin sama aku? Aku salah apa sama kamu?"
Ning Abigail: "Nggak ada yang salah. Udah ya, aku mau makan dulu." (mematikan telepon)
[Gus Faiq juga berbincang-bincang dengan Abi dari Gus Ar itu.]
Gus Faiq: (di telepon, dengan sopan) "Assalamualaikum, Gus."
Abi Gus Ar (di telepon): "Waalaikumsalam, Faiq. Kamu lagi sama Abigail?"
Gus Faiq: "Iya, gus. Lagi acara bakar-bakar sama keluarga."
Abi Gus Ar (di telepon): "saya mau bicara sama Abigail, bisa?"
Gus Faiq: "Maaf, gus. Abigail lagi nggak mau bicara sama siapa-siapa."
Abi Gus Ar (di telepon): "Ya sudah, titip salam aja buat Abigail."
Gus Faiq: "Nggih, gus. Waalaikumsalam." (mematikan telepon)
[Setelah selesai menelepon, mereka kembali bergabung dengan yang lainnya dan melanjutkan makan lagi. Namun, pikiran mereka masih dipenuhi dengan pertanyaan dan kebingungan.]
Gus Arka: (dengan nada curiga) "Siapa yang nelpon, Dek? Kok kayaknya penting banget sampai kamu menjauh gitu?"
Ning Abigail: (menjawab dengan dingin) "Nggak ada siapa-siapa."
Gus Arzan: "Kamu juga, Faiq. Siapa yang nelpon?"
Gus Faiq: (berusaha tenang) "Cuma teman kok, mas."
Gus Ivan: "Tapi kok kalian berdua kayak gelisah gitu?"
Gus Atha: "Ada yang disembunyiin ya dari kita?"
[Ning Abigail dan Gus Faiq hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dari kakak-kakaknya. Mereka berdua menyimpan rahasia yang besar, rahasia yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.]