Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 20
Rangga membuka matanya perlahan, merasakan perutnya sudah jauh lebih tenang meski tubuhnya masih terasa sedikit lemas dan sendi-sendinya kaku. Ia melirik jam dinding digital di atas meja nakas; sudah pukul enam pagi.
Dengan langkah pelan dan sedikit gontai, Rangga bangkit dari ranjang. Ia keluar dari kamar dengan kaos hitam yang tampak agak kusut. Namun, langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara denting spatula dan aroma harum nasi yang digoreng dari arah dapur.
Rangga berjalan mendekat, mendapati sosok Ayu yang sudah rapi dengan rambut dicepol asal, sedang sibuk membelakangi arah kedatangannya.
"Kamu ngapain, Yu?" tanya Rangga dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Astagfirullah!" Ayu tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan spatula yang dipegangnya. Ia memutar tubuh dengan cepat, tangan kanannya memegang dada. "Mas Rangga! Bisa nggak sih kalau jalan itu pakai suara? Kaget tahu!"
Rangga justru terkekeh kecil melihat ekspresi terkejut Ayu yang menurutnya sangat menggemaskan di pagi hari. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu dapur, memperhatikan Ayu yang wajahnya mulai memerah karena malu sekaligus kesal.
"Ya maaf, lagian kamu serius banget masaknya," ucap Rangga sambil berjalan mendekat ke arah kompor. "Kamu masak apa pagi-pagi begini?"
"Masak nasi goreng putih. Tanpa cabai, tanpa saus pedas, pokoknya aman buat lambung Mas yang manja itu," sahut Ayu ketus, meski tangannya dengan telaten mengaduk nasi di wajan.
Rangga berdiri tepat di samping Ayu, cukup dekat hingga Ayu bisa mencium aroma maskulin bercampur minyak kayu putih dari tubuh pria itu. Rangga mengintip ke dalam wajan. "Baunya enak. Nggak pakai racun lagi kan?"
Ayu mendelik tajam. "Kalau mau pakai racun, nggak perlu repot-repot bangun jam lima subuh buat bersih-bersih dapur Mas"
Rangga tersenyum, kali ini senyumnya terasa tulus dan hangat. Ia melihat meja dapur yang tadinya sedikit berdebu kini sudah bersih mengkilap. "Makasih ya, Yu. Sudah lama sekali dapur ini nggak ada aromanya. Biasanya cuma bau kopi sachet atau mie instan."
Ayu terdiam sejenak mendengar nada bicara Rangga yang mendadak melankolis. Ia mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng itu ke piring.
"Sudah, Mas duduk saja di sana. Jangan banyak bicara dulu, nanti perutnya kram lagi," perintah Ayu sambil menunjuk ke arah meja makan minimalis di dekat jendela.
Rangga menarik kursi makan minimalisnya, lalu duduk dengan tenang sambil menumpu dagu dengan kedua tangan. Matanya tidak lepas dari sosok Ayu yang sedang lincah memindahkan nasi goreng ke piring.
"Kamu ingat nggak, Yu? Dulu waktu kita masih pacaran," suara Rangga mengalun rendah, memecah keheningan dapur. "Waktu itu kita belum punya apa-apa. Kalau tanggal tua dan uang saku habis, kita sering masak bareng di dapur kontrakan lama. Kamu yang masak nasi goreng putih persis kayak gini, dan saya yang bagian kupas bawang sambil nangis karena perih."
Ayu yang sedang menuangkan teh hangat ke gelas, gerakannya sedikit tertahan. Namun, ia segera menguasai diri dan meletakkan piring di depan Rangga dengan suara denting yang cukup tegas.
"Mantan ya mantan, Mas. Nggak usah diungkit-ungkit lagi," sahut Ayu dingin, mencoba membentengi hatinya yang mulai goyah mendengar memori itu.
Rangga tidak menyerah. Ia meraih sendoknya, tapi matanya tetap terpaku pada Ayu yang kini duduk di depannya. "Bagi kamu mungkin itu cuma masa lalu yang harus dikubur. Tapi buat saya, ingatan itu yang bikin saya bisa bangun rumah ini. Setiap sudut rumah ini, saya bayangin ada kamu di dalamnya. Dari warna cat sampai model dapur ini, semuanya referensinya dari selera kamu saat kita masih bareng dulu."
Ayu menarik napas panjang, mencoba tetap terlihat tidak peduli. "Itu kesalahan Mas sendiri. Buat apa bangun rumah pakai bayangan orang yang sudah nggak ada di hidup Mas? Itu namanya menyiksa diri sendiri."
"Memang menyiksa," aku Rangga jujur sambil menyuap nasi goreng pertamanya. "Tapi lebih menyiksa lagi kalau saya melupakan alasan kenapa saya harus sukses. Saya kerja keras selama lima tahun ini biar kalau suatu saat kita ketemu lagi, saya bisa kasih kamu tempat yang nyaman. Saya nggak mau kamu hidup susah lagi kayak dulu."
Ayu terdiam, tangannya memainkan ujung taplak meja. Kalimat Rangga barusan menghantam pertahanannya. Ia tahu betapa kerasnya Rangga berjuang dulu, dan ia juga tahu betapa menyakitkannya alasan di balik kepergiannya yang tiba-tiba.
"Makan saja nasinya, Mas. Nanti dingin," ucap Ayu pelan, suaranya sedikit melunak meskipun ia masih enggan menatap mata Rangga.
Rangga tersenyum tipis, menikmati suapan demi suapan masakan Ayu yang sangat ia rindukan. "Enak, Yu. Masakan kamu nggak pernah berubah. Tetap jadi satu-satunya hal yang bisa bikin saya ngerasa pulang ke rumah."
Ayu beranjak dari kursi, membereskan piring-piring kotor dengan gerakan yang terburu-buru.
"Sudah jam tujuh, Mas. Aku harus pulang sekarang, kedai harus segera disiapkan," ucap Ayu tanpa menoleh ke arah Rangga.
Rangga langsung berdiri, meskipun badannya masih terasa sedikit berat. "Saya antar ya. Tunggu sebentar, saya ambil kunci mobil dulu."
"Nggak usah," potong Ayu cepat. "Mas itu baru mendingan, jangan dipaksa nyetir dulu. Aku naik ojek online saja, sudah aku pesan juga."
Rangga terdiam. Ia menatap Ayu yang sedang sibuk merapikan tas kecilnya. Langkah Rangga kemudian mendekat, ia berdiri tepat di depan Ayu, menghalangi jalan wanita itu sejenak. Jarak mereka begitu dekat, hingga Rangga bisa melihat gurat kecemasan yang tersisa di mata Ayu.
Suasana menjadi hening selama beberapa detik. Hanya ada deru napas mereka yang saling bersahutan di dapur minimalis itu. Rangga ingin sekali menggenggam tangan Ayu, tapi ia sadar ia sudah berjanji tidak akan macam-macam.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa sangat lama itu, Rangga mengangguk pelan, mengalah.
"Ya sudah kalau itu mau kamu," ucap Rangga dengan suara yang lembut dan tulus. "Hati-hati di jalan, Yu."
Ayu mengangguk singkat, hendak melangkah pergi, namun tertahan oleh suara Rangga lagi.
"Yu," panggilnya. Ayu menoleh.
"Terima kasih ya. Untuk semalam, untuk sarapannya, dan... terima kasih sudah mau datang ke rumah ini," ucap Rangga sambil tersenyum manis.
Rangga berdiri di ambang pintu rumah minimalisnya, memperhatikan punggung Ayu yang naik ke atas motor ojek di depan gerbang.
Begitu motor ojek yang membawa Ayu menghilang di tikungan kompleks, Rangga menutup pintu depan dengan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh itu, terdiam sejenak seolah sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.
Rangga tidak bisa lagi menahan sudut bibirnya yang terus tertarik ke atas. Ia tersenyum lebar, jenis senyum yang sangat lebar hingga menampakkan deretan giginya.
"Dia beneran datang..." bisiknya pada diri sendiri.
Rangga mengepalkan tangannya di udara, melakukan selebrasi kecil yang terasa konyol namun jujur. "Yes! Dia khawatir sama aku!"
"Ternyata cara paling cepat bikin dia luluh itu bukan lewat utang, tapi lewat sakit perut," gumamnya sambil tertawa sendiri, tawanya terdengar sangat puas dan bahagia.