siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Janda dan Misteri "The Tailor"
Kemenangan di Karang Hantu seharusnya menjadi tiket liburan gratis ke Maladewa bagi ketiga janda kita. Namun, di dunia intelijen, satu kepala naga yang dipenggal biasanya hanya akan menumbuhkan tiga kepala baru yang lebih haus darah.
Tiga bulan setelah peristiwa penghancuran satelit Fiona, kehidupan di Apartemen Puri Kencana tampak kembali normal. Siska Paramita baru saja membuka kedai kecil di area lobi bernama "Sutil Sakti", yang langsung viral karena rendangnya konon bisa menyembuhkan patah hati. Bella Damayanti kini secara resmi menjadi kepala keamanan apartemen (sebuah kedok sempurna bagi pekerjaannya sebagai agen lapangan senior). Sedangkan Maya Adinda... yah, Maya tetap menjadi Maya, sibuk melakukan live streaming tutorial daster yang kini disponsori langsung oleh agensi.
Namun, ketenangan itu pecah saat sebuah paket anonim mendarat di depan pintu unit 302 milik Maya. Paket itu tidak berisi bom, melainkan sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan: sepotong kain perca berwarna emas yang jahitannya sangat identik dengan daster legendaris yang mereka hancurkan di Karang Hantu.
Di atas kain itu tertulis pesan singkat dengan tinta merah:
"Kunci itu tidak pernah hancur. Ia hanya berpindah tangan. – The Tailor"
Malam itu, meja bundar di kedai Siska menjadi saksi bisu berkumpulnya kembali The Widow Squad. Bella membanting foto kain perca itu ke atas meja.
"Gue baru dapet info dari Kolonel Lastri," bisik Bella, suaranya tenggelam di antara bunyi desis kompor Siska. "Ada sosok misterius yang dikenal dengan sebutan The Tailor (Si Penjahit). Dia adalah otak di balik pembuatan ketiga daster legendaris itu. Selama ini kita pikir daster itu cuma wadah kode, tapi ternyata ada teknologi nano-chip yang ditenun langsung ke dalam serat kainnya."
"Maksudmu... chip itu masih aktif?" tanya Siska sambil mengaduk bumbu kacang.
"Tepat. Dan chip itu menyimpan data cadangan tentang semua aset kripto milik oligarki dunia yang nilainya bisa bikin Elon Musk kelihatan kayak pengangguran," jawab Bella serius. "Masalahnya, kain perca yang dikirim ke Maya ini adalah bagian dari 'Daster Keempat'. Daster yang selama ini dianggap hanya mitos: The White Widow."
Maya menelan ludah. "White Widow? Kedengarannya kayak nama laba-laba yang kalau gigit bisa bikin kita mati berdiri."
"Lebih dari itu, May," potong Kolonel Lastri yang tiba-tiba muncul dari balik tirai dapur, membuat Maya nyaris tersedak teh obengnya. "The White Widow adalah pakaian pelindung yang dilengkapi dengan exoskeleton mikro. Siapa pun yang memakainya akan memiliki kekuatan fisik lima kali lipat manusia biasa dan kemampuan menghilang dari sensor termal."
Maya langsung berdiri. "Bisa menghilang?! Wah, itu cocok banget buat aku kalau lagi mau menghindari mantan di mal!"
"Ini bukan soal mantanmu, Maya!" tegur Lastri. "The Tailor berencana melelang daster keempat ini di sebuah pasar gelap yang bergerak di atas kapal pesiar internasional, 'The Gilded Lily', yang akan berlayar di perairan internasional besok malam."
Misi kali ini memerlukan penyamaran tingkat tinggi. Mereka tidak bisa masuk sebagai pelayan atau koki katering lagi. Mereka harus masuk sebagai tamu undangan VVIP.
"Siska, kamu akan menyamar sebagai sosialita pemilik perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Bella, kamu adalah pengawal pribadinya yang dingin. Dan Maya..." Lastri menatap Maya dengan senyum penuh arti. "Kamu adalah 'The Muse', model internasional yang akan menjadi daya tarik utama untuk memancing The Tailor keluar."
"Model internasional?" Mata Maya berbinar. "Akhirnya, bakatku diakui negara!"
Malam keberangkatan tiba. Kapal pesiar 'The Gilded Lily' bersinar seperti berlian di tengah laut gelap. Ketiganya melangkah naik ke dek utama. Siska tampak sangat elegan dengan gaun hijau zamrud, Bella terlihat gagah dengan setelan jas hitam yang menyembunyikan berbagai senjata tajam, dan Maya... Maya mengenakan gaun sutra putih yang begitu panjang hingga ia hampir tersandung tiga kali saat menaiki tangga.
"Ingat," bisik Bella lewat mikrofon yang disamarkan sebagai anting-anting. "The Tailor tidak pernah menunjukkan wajahnya. Dia selalu memakai masker kain perca. Cari siapa pun yang memiliki aroma bahan kimia tekstil atau benang sutra."
Siska bergerak ke arah area prasmanan tempat terbaik untuk mengumpulkan informasi. "Bella, gue di area makanan. Di sini ada Jenderal dari negara tetangga dan beberapa bandar senjata. Tapi ada satu orang yang aneh. Dia nggak makan, cuma memperhatikan cara koki memotong daging."
"Maya, posisi?" tanya Bella.
"Aku lagi di bar, Bel. Lagi dikerubuti cowok-cowok yang mau minta foto. Tapi ada satu bapak-bapak tua di pojokan, dia nggak liat wajahku, dia malah liat jahitan gaun aku pakai kaca pembesar! Ih, mesum apa gimana sih?" lapor Maya risih.
"Itu targetnya! May, jangan lepasin dia!" perintah Bella.
Maya mencoba mendekati pria tua tersebut, namun pria itu bergerak dengan sangat lincah, menghilang di balik kerumunan penari tango. Maya mengejarnya hingga ke lantai bawah kapal, area yang dilarang untuk tamu.
"Pak! Tunggu! Gaun saya nggak buat dijual!" teriak Maya.
Pria itu berhenti di depan sebuah pintu baja besar. Ia berbalik dan membuka maskernya. Ternyata dia bukan pria tua, melainkan seorang pemuda dengan wajah pucat dan tangan yang penuh dengan luka bekas tusukan jarum.
"Jahitan gaunmu... sangat berantakan. Siapa yang membuatnya?" tanya pemuda itu dengan nada datar.
"Hah? Ini desainer terkenal lho!" protes Maya.
"Sampah," ejek pemuda itu. "Hanya daster macanmu yang layak disebut karya seni. Sayang, kamu menghancurkannya."
Tiba-tiba, pintu baja di belakang pemuda itu terbuka, dan puluhan robot penjahit otomatis berukuran kecil tapi dilengkapi dengan jarum-jarum tajam beracun keluar menyerbu Maya.
"BELLA! SISKA! TOLONG! AKU DISERANG JARUM RAKSASA!" teriak Maya panik sambil berlari zig-zag.
Bella dan Siska tiba tepat waktu. Bella menggunakan payung titaniumnya sebagai tameng untuk menepis jarum-jarum yang terbang seperti hujan. Siska, di sisi lain, mengeluarkan "senjata" barunya: sebuah magnet raksasa yang disamarkan sebagai tas tangan.
KLIK!
Magnet itu menarik semua robot penjahit tersebut hingga menempel jadi satu gumpalan besi yang tidak berguna.
"The Tailor, menyerah lah," ancam Bella sambil menodongkan payungnya.
Pemuda itu tertawa. "Kalian pikir aku adalah The Tailor? Aku hanyalah muridnya. Guru yang asli... dia sudah ada di antara kalian sejak lama."
Tiba-tiba, kapal berguncang hebat. Suara ledakan terdengar dari dek atas. Dari speaker kapal, terdengar suara wanita yang sangat mereka kenal.
"Halo, anak-anak manis... Terima kasih sudah membawakan 'kunci' terakhir padaku."
Mata Bella membelalak. "Suara itu... Kolonel Lastri?!"
Mereka berlari kembali ke dek atas. Di sana, Kolonel Lastri berdiri di bawah lampu sorot, mengenakan sebuah jubah putih panjang yang berkilau luar biasa. Jubah itu bergerak-gerak seperti memiliki nyawa sendiri. Itulah The White Widow.
"Kolonel? Kenapa?" tanya Siska tak percaya.
"Dunia ini terlalu kacau untuk dipimpin oleh pria-pria bodoh seperti Baskoro," ujar Lastri dengan tatapan dingin. "Dengan daster keempat ini, aku tidak butuh agensi. Aku bisa mengendalikan aliran uang dunia dan menciptakan tatanan baru. Dan kalian, janda-jandaku yang berharga... kalian adalah eksperimen tersuksesku."
Lastri menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya. Jubah putih itu tiba-tiba mengeras, membentuk baju zirah yang ramping. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia, menendang Bella hingga terlempar ke kolam renang kapal.
Siska mencoba menyerang dengan sutil karbonnya, tapi Lastri menangkap sutil itu dengan satu tangan dan mematahkannya menjadi dua seolah itu hanya lidi.
"Sutilmu tidak berguna melawan teknologi nano, Siska," ejek Lastri.
Maya berdiri gemetar di pojok dek. Ia melihat Lastri yang begitu perkasa. Namun, Maya menyadari sesuatu. Ia melihat daster putih itu memiliki satu titik lemah di bagian ketiak sebuah sambungan jahitan yang tidak sempurna karena terburu-buru diselesaikan.
"Siska! Bella! Ketiaknya! Serang ketiaknya!" teriak Maya.
Lastri tertawa. "Ketiak? Apa maksudmu—"
Siska, dengan sisa kekuatannya, melemparkan bumbu rendang super pedas yang selalu ia bawa di kantong rahasianya tepat ke arah wajah Lastri untuk mengalihkan perhatian. Bella yang baru merangkak keluar dari kolam renang, menggunakan payung titaniumnya untuk menembakkan gas tidur tepat ke arah celah di bagian ketiak jubah tersebut.
Gas itu masuk ke dalam sistem sirkulasi jubah, menyebabkan short circuit pada teknologi nanonya. Jubah putih itu mendadak mengerut, menjepit tubuh Lastri hingga ia tidak bisa bergerak.
"Argh! Tidak! Jahitannya... jahitannya belum sempurna!" teriah Lastri frustrasi.
Kapal pesiar itu akhirnya dikuasai oleh pasukan intelijen internasional yang masih setia pada negara. Kolonel Lastri dan si pemuda penjahit dibawa ke sel dengan keamanan paling ketat di dunia.
Keesokan harinya, di balkon Apartemen Puri Kencana, ketiga janda kita duduk termenung. Mereka baru saja kehilangan mentor, pekerjaan resmi, dan hampir kehilangan nyawa.
"Jadi... sekarang kita pengangguran lagi?" tanya Maya sambil mencoba menjahit daster macannya yang baru, namun malah menusuk jarinya sendiri.
"Nggak juga," kata Bella sambil menunjukkan sebuah tablet. "Gue sempat menyalin semua data dari The White Widow sebelum dihancurkan. Di sini ada daftar aset koruptor yang belum tersentuh hukum."
Siska tersenyum sambil mengaduk rendangnya. "Dan agensi baru saja mengirim email. Mereka mau kita membentuk tim independen. Tanpa bos, tanpa kolonel, tanpa pengkhianatan. Cuma kita bertiga."
"Namanya apa?" tanya Maya penasaran.
Bella melihat ke arah langit sore Jakarta yang mulai jingga. "Bukan Janda-Janda Undercover lagi. Mulai sekarang, panggil kita: The Justice Widows."
"Bagus!" seru Maya. "Tapi syaratnya satu seragam kita harus ada motif macannya!"
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣