Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 SARI SAKIT.
Kesabaran Sabrina akhirnya habis. Sejak sarapan tadi, pikirannya dipenuhi rasa curiga. Sikap Ammar yang terlalu membela. Queen yang begitu lengket dengan pengasuhnya. Dan Sari gadis desa itu yang tak kunjung menampakkan diri seolah sengaja menghindar.
Dengan langkah cepat dan wajah menegang, Sabrina menuju kamar kecil di ujung koridor kamar Sari.
Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.
“Apa maksudmu bersembunyi?” bentaknya.
Tak ada jawaban.
Sabrina melangkah masuk. Tirai kamar tertutup, cahaya redup. Di ranjang kecil, Sari terbaring meringkuk di bawah selimut.
“Bangun!” Sabrina menarik selimut itu tanpa ampun.
Namun yang ia lihat bukan gadis yang pura-pura sakit.
Wajah Sari pucat pasi. Keningnya basah oleh keringat. Bibirnya gemetar, tubuhnya menggigil meski udara tak dingin. Napasnya terengah kecil, jelas menahan rasa tidak nyaman.
Sari membuka mata setengah sadar. “Nyonya…” suaranya nyaris tak terdengar.
Sabrina tertegun sesaat, namun amarahnya lebih cepat mengambil alih. “Jangan berpura-pura lemah!” hardiknya. “Kamu pikir dengan begini semua orang akan membelamu?”
Sari mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. Ia kembali terjatuh ke bantal, napasnya semakin berat.
Pada saat itulah...
“Apa yang kamu lakukan?!” Bentak Ammar
Suara Ammar menggema dari pintu.
Sabrina menoleh tajam. “Aku hanya ingin memastikan pembantu ini tidak berlagak sakit!”
Ammar melangkah cepat mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada Sari. Wajah gadis itu membuat dadanya mencelos.
“Kamu demam…” gumam Ammar, menempelkan punggung tangannya ke kening Sari. Panasnya nyata.
Sari menggigil semakin hebat.
“Kenapa kamu memaksanya?” Ammar menatap
Sabrina dengan kemarahan tertahan. “Aku ini ibunya Queen! Aku berhak tahu siapa yang mengurus anakku!” Sabrina membalas tajam.
“Bukan dengan cara seperti ini,” suara Ammar tegas. “Dia jelas sakit.”
Sabrina hendak membantah, namun langkah kaki kecil terdengar tergesa di lorong.
“Papah!”
Queen berlari masuk ke kamar. Matanya langsung membesar melihat Sari terbaring lemah. “Kak Sari!” teriaknya panik.
Queen naik ke ranjang, duduk di samping Sari, menggenggam tangannya erat. “Kak Sari kenapa?” suaranya bergetar, air mata menggenang. “Sakit ya?”
Sari mencoba tersenyum, meski wajahnya meringis. “Tidak apa-apa, Nona…”
Tangis Queen pecah.
Ammar menoleh cepat ke arah pintu. “Panggil dokter keluarga sekarang juga,” perintahnya tegas pada
kepala pelayan yang baru datang. “Baik, Tuan.”
Sabrina berdiri kaku di sudut kamar. Melihat suaminya panik, melihat putrinya menangis di sisi pengasuh perasaan panas menjalar di dadanya. Bukan iba.
Melainkan cemburu dan murka.
Dokter datang tak lama kemudian.
Pemeriksaan dilakukan singkat namun menyeluruh. Queen akhirnya dibawa keluar kamar oleh pelayan agar tidak melihat lebih jauh.
Sari setengah sadar ketika dokter memeriksa suhu tubuhnya dan tekanan darahnya.
“Demam tinggi,” kata dokter. “Tubuhnya kelelahan.”
Dokter kemudian meminta Ammar keluar sebentar untuk berbicara empat mata di luar kamar.
“Secara fisik, tidak ada yang mengkhawatirkan nyawanya,” ujar dokter pelan. “Namun ada tanda-tanda trauma ringan dan beberapa luka di bagian area pribadi yang menyebabkan nyeri. itulah yang membuat demam tinggi " Kata Dokter itu.
Ammar menegang.
“Ada pembengkakan yang perlu diberi salep khusus agar rasa sakitnya berkurang,” lanjut dokter profesional. “Saya akan tuliskan resepnya. Pastikan ia banyak istirahat dan oleskan salep secara teratur.”
Ammar mengangguk kaku. Tenggorokannya tercekat.
Ia tahu persis apa yang dimaksud dokter.
Dan pengetahuan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun. “Jaga kondisi mentalnya juga,” tambah dokter. “Trauma tidak selalu terlihat.”
Dokter pamit.
Ammar berdiri terpaku beberapa detik sebelum kembali masuk kamar.
Sari masih terbaring, matanya terpejam, napasnya berat. Queen kini duduk di kursi kecil di samping ranjang, menggenggam tangan Sari dengan dua tangannya yang mungil.
Sabrina berdiri agak jauh, wajahnya kaku, matanya menyipit menatap pemandangan itu.
“Aku tidak menyangka dia selemah ini,” ucap Sabrina dingin.
Ammar menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh tekanan. “Cukup,” katanya singkat.
Sabrina tersentak. “Apa maksudmu?”
“Kamu sudah melihat kondisinya,” lanjut Ammar. “Aku tidak ingin mendengar satu pun kata kasar lagi darimu hari ini.”
Sabrina tertawa kecil, sinis. “Sejak kapan kamu sebegitu pedulinya pada pembantu?”
Ammar tak menjawab. Ia kembali menatap Sari wajah pucat, tubuh ringkih, gadis muda yang kini menanggung luka karena dirinya.
Rasa bersalah menyesakkan dadanya. Begitu ganasnya ia semalam. Dan kini, akibatnya terbaring lemah di hadapannya.
Queen mendongak menatap papahnya dengan mata sembab. “Papah… Kak Sari jangan dimarahin ya.” Ammar mengangguk pelan. “Papah janji.”
Sabrina mengepalkan tangan. Di kamar itu, untuk pertama kalinya, ia merasa ia bukan lagi pusat perhatian. Dan perasaan itu membuatnya semakin berbahaya.
...----------------...
Koridor rumah kembali sunyi setelah dokter dan para pelayan pergi. Pintu kamar Sari tertutup rapat, menyisakan ketegangan yang menggantung di udara.
Ammar melangkah menjauh, berniat menuju ruang kerja kecil di lantai bawah. Kepalanya penuh. Dadanya sesak. Ia ingin sendiri setidaknya beberapa menit untuk menenangkan pikirannya.
Namun langkahnya terhenti.
“Ammar.”
Suara Sabrina memanggil dari belakang. Nadanya ditekan, tapi jelas menyimpan amarah.
Ammar tidak menoleh. Ia melanjutkan langkahnya.
Sabrina menyusul, menahan lengannya. “Aku bicara padamu.”
Ammar berhenti, menarik lengannya perlahan. “Bukan sekarang.”
“Tidak,” potong Sabrina tajam. “Sekarang.”
Ammar akhirnya berbalik. Tatapan mereka bertemu dingin dan penuh jarak. Tak ada lagi kehangatan yang dulu pernah ada.
“Ada apa lagi?” tanya Ammar datar.
Sabrina menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya. Namun kata-kata yang keluar tetap tajam.
“Kenapa kamu sangat membela wanita itu?” keluhnya dengan nada tinggi. “Kenapa Queen sampai menangisinya? Queen terlihat sangat menyayangi pembantu itu!”
Ammar menghela napas panjang. “Apa yang ingin kamu katakan, Sabrina?”
“Aku ibunya!” suara Sabrina meninggi. “Seharusnya Queen bergantung padaku, bukan pada seorang pelayan!”
Ammar tertawa kecil tawa getir yang membuat Sabrina terdiam sejenak.
“Kamu ingin tahu kenapa Queen begitu menyayangi Sari?” ucap Ammar pelan namun menekan. “Pikirkan sendiri jawabannya.”
Sabrina mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Ammar melangkah mendekat satu langkah. Tatapannya tajam, suaranya tegas. “Setiap hari Queen bersamanya,” katanya. “Pagi, siang, malam Sari yang ada di sampingnya. Sari yang menemaninya bangun tidur. Sari yang mendengarkan ceritanya. Sari yang memeluknya saat dia menangis.”
Ammar berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah namun jauh lebih menusuk.
“Kamu sebagai ibunya… di mana, Sabrina?” kata Ammar " Kamu tidak hanya seoarang ibu tapi kamu juga sebagai seorang istri.. dimana kamu di saat kami membutuhkan kamu? "
ucapan itu seperti tamparan keras untuk Sabrina.
Sabrina terdiam. Wajahnya menegang. Bibirnya bergetar halus, namun bukan karena rasa bersalah melainkan karena harga diri yang terluka.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...