Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Udara di ketinggian Puncak Langit terasa begitu tipis, seolah-olah setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan kehendak alam. Jalur pendakian yang mereka lalui kini tak lebih dari setapak sempit yang di satu sisinya adalah dinding es tegak lurus, dan di sisi lainnya adalah jurang tak berdasar yang tertutup kabut putih.
Alistair berada di posisi paling depan, menggunakan belati kecil untuk membuat pijakan di es yang licin. Aurora berada di tengah, terikat tali pengaman pada pinggang Alistair dan Gideon. Sedangkan Gideon... pangeran yang biasanya paling banyak bicara itu kini tampak sangat berbeda. Wajahnya yang semula ceria berubah menjadi pucat pasi, matanya terpaku hanya pada punggung Aurora, tidak berani melirik ke samping sedikit pun.
"Gideon, kakimu gemetar," ucap Alistair tanpa menoleh, namun telinganya menangkap suara gemertak gigi adiknya.
"Aku... aku tidak gemetar! Ini hanya... teknik rahasia untuk memanaskan otot!" jawab Gideon dengan suara yang melengking tinggi, jauh dari nada biasanya yang gagah.
Aurora menoleh sedikit ke belakang dan tersenyum lembut. "Kak Gideon, jika kau takut, pegang saja pundakku. Aku akan menjagamu."
"Aku? Takut? Haha!" Gideon tertawa sumbang. "Seorang ksatria Aethelgard tidak takut pada apa pun, Aurora! Kecuali mungkin... jika tanah tiba-tiba hilang dari bawah kakinya. Tapi itu hal yang logis, bukan?"
Namun, saat sebuah kerikil yang sedikit terbalut salju jatuh ke jurang dan suaranya tak pernah terdengar kembali karena saking dalamnya, Gideon langsung mencengkeram jubah Aurora dengan sangat kuat. "Oke, baiklah! Aku benci ketinggian! Kenapa permata ini tidak ditaruh di kebun bunga saja sih?!"
Setelah perjuangan yang menguras tenaga, mereka akhirnya sampai di sebuah dataran luas di puncak gunung. Di sana berdiri sebuah kuil kuno yang terbuat dari kristal bening. Cahaya matahari yang memantul pada permukaan kuil itu menciptakan pelangi yang melingkari seluruh puncak. Di tengah kuil, melayang sebuah permata berwarna putih cemerlang yang mengeluarkan percikan listrik kecil. Itulah Permata Berlian Langit.
Namun, permata itu tidak dibiarkan tanpa penjaga. Seekor elang raksasa dengan bulu-bulu yang tampak seperti bilah perak tajam mendarat di atas pilar kristal. Matanya yang keemasan menatap mereka dengan penuh kecerdasan.
"Banyak yang datang membawa pedang, namun hanya sedikit yang membawa kebenaran," suara elang itu bergema di dalam pikiran mereka. "Untuk mendapatkan Cahaya Langit, kau harus menjawab satu teka-teki. Jika kau salah, badai abadi akan menyapumu dari gunung ini selamanya."
Alistair maju, hendak berbicara, namun elang itu mengepakkan sayapnya hingga menciptakan angin kencang yang menahan Alistair. "Bukan kau, Ksatria Sulung. Gadis itu yang harus menjawab."
Aurora melangkah maju. Meskipun hatinya berdebar, ia merasa Tongkat Cahaya Bintang di tangannya bergetar selaras dengan detak jantung sang elang.
"Tanyakanlah, Penjaga Langit," ucap Aurora mantap.
Sang elang memiringkan kepalanya. "Ia bisa membunuh tanpa senjata, bisa menyembuhkan tanpa obat. Ia tidak terlihat namun bisa dirasakan di seluruh dunia. Jika kau memberikannya, kau akan menjadi kaya. Jika kau mencurinya, kau akan hancur. Apakah itu?"
Hening menyelimuti puncak gunung. Gideon mengerutkan kening. "Uang? Bukan, uang bisa dilihat. Kentut? Eh, maaf Aurora, lupakan yang itu."
Alistair tampak berpikir keras. "Kekuasaan? Tapi kekuasaan tidak selalu menyembuhkan.
"
Aurora menutup matanya. Ia mengingat semua yang telah ia lalui. Saat ia menjadi budak di Noxvallys, satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah sebuah perasaan kecil yang tersisa di sudut hatinya. Saat ia bertemu kakak-kakaknya, perasaan itu meledak menjadi kekuatan.
"Jawabannya adalah Kasih Sayang," ucap Aurora dengan suara jernih. "Kasih sayang bisa menyembuhkan jiwa yang terluka tanpa obat, dan kasih sayang yang tulus bisa menghancurkan kegelapan tanpa perlu senjata. Memberikannya membuat hati kaya, tapi mencurinya—seperti yang dilakukan Morena—hanya akan membawa kehancuran pada diri sendiri."
Sang elang terdiam sejenak, lalu menundukkan kepalanya yang besar di depan Aurora. "Jawabanmu benar, Putri Aethelgard. Kau melihat melampaui apa yang tampak oleh mata."
Permata Berlian Langit meluncur turun dan tertanam di bagian tengah tongkat Aurora, tepat di bawah Permata Safir. Seketika, kekuatan angin dan petir menyatu ke dalam diri Aurora. Rambutnya berkibar ditiup angin yang kini terasa bersahabat.
Namun, kegembiraan mereka kembali terusik. Dari langit yang semula cerah, muncul puluhan bayangan bersayap. Itu adalah Harpia—makhluk setengah burung setengah manusia yang dikirim oleh sihir Malakor.
"Mereka tidak pernah menyerah, ya?" geram Gideon, yang anehnya, begitu melihat musuh, rasa takutnya pada ketinggian menghilang. Ia segera menarik busur dan melepaskan tiga anak panah sekaligus. "Mari kita lihat apakah burung-burung jelek ini bisa terbang setelah kupatahkan sayapnya!"
Alistair bersiaga di samping Aurora. "Gunakan kekuatan barumu, Aurora! Perintahkan langit untuk membantumu!"
Aurora mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Ia merasakan energi Berlian Langit yang berdenyut kencang. "Angin Puncak Langit, bersihkan langit kami!"
Sebuah pusaran angin raksasa tercipta dari ujung tongkat Aurora. Angin itu membawa kekuatan es dan petir, menghantam kumpulan Harpia yang mencoba mendekat. Makhluk-makhluk itu terlempar jauh, terperangkap dalam badai yang diciptakan Aurora sendiri. Dalam hitungan menit, langit kembali bersih.
Setelah semua ancaman hilang, Aurora jatuh terduduk karena lelah. Gideon segera menghampirinya dan, tanpa memedulikan tatapan tajam Alistair, ia langsung duduk di samping Aurora dan merangkulnya erat.
"Kau luar biasa, Aurora! Kau tadi seperti dewi perang!" puji Gideon sambil tertawa riang.
Alistair mendekat dan memberikan air minum pada Aurora. "Kau belajar dengan sangat cepat. Permata kedua sudah di tangan. Sekarang, tinggal satu lagi."
"Hutan Terlarang," bisik Aurora. "Tempat di mana Permata Zamrud berada."
"Eh, tunggu," Gideon mendadak berhenti tertawa. "Hutan Terlarang itu bukannya penuh dengan laba-laba raksasa dan tanaman yang bisa memakan orang hidup-hidup ya?"
Alistair mengangguk datar. "Dan kabarnya, di sana tidak ada ketinggian. Hanya kegelapan abadi di bawah pepohonan."
Gideon langsung berdiri tegak dan membusungkan dadanya. "Oh! Kalau tidak ada ketinggian, aku tidak takut! Aku akan menjadi orang pertama yang masuk ke hutan itu dan menebas semua laba-laba itu untukmu, Aurora!"
Alistair tersenyum sinis. "Kita lihat saja nanti saat kau melihat kaki laba-laba yang lebih besar dari tubuhmu sendiri, Gideon."
Aurora tertawa melihat interaksi kedua kakaknya. Meskipun perjalanan ini berbahaya, ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Ia kini bukan lagi putri yang ditemukan, tapi putri yang sedang berjuang memenangkan kembali dunianya.
Dengan dua permata yang kini bersinar di tongkatnya, mereka mulai turun dari puncak gunung. Fajar mulai bersinar di kejauhan, memberikan warna emas pada salju putih. Namun di arah Hutan Terlarang, awan hijau gelap sudah menunggu, menandakan ujian terakhir yang mungkin akan menjadi yang paling berat bagi mereka bertiga.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.