NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Kesunyian di Balik Kemenangan

Pagi pertama setelah kejadian di Grand Opera terasa sangat asing di Mansion keluarga Kim. Tidak ada suara tawa keras dari Jungkook yang biasanya mengejar Taehyung, atau bunyi spatula Seokjin yang beradu dengan wajan dengan riang. Ruang makan itu hanya dipenuhi oleh denting sendok yang bersentuhan dengan piring porselen.

Aira duduk di tempat biasanya, namun kali ini ia tidak mengenakan kacamata tebalnya. Wajah aslinya yang cantik, yang selama ini disembunyikan di balik identitas "si cupu", kini terpampang nyata di depan ketujuh kakaknya. Namun, Aira merasa lebih "telanjang" daripada sebelumnya.

"Aira," suara Namjoon memecah kesunyian. Ia meletakkan tabletnya, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan bangga, namun penuh kekhawatiran. "Kami sudah mengatur agar identitas Miss KA tetap terkunci di antara kita dan para pangeran itu. Soobin sudah ditangani oleh tim hukum agensi, dia tidak akan bicara."

Aira hanya mengangguk pelan, jemarinya memainkan ujung taplak meja. "Terima kasih, Kak. Dan... maaf. Karena aku, studio Kak Yoongi..."

"Hentikan," potong Yoongi dengan suara serak. Ia duduk di ujung meja dengan perban di lengannya akibat ledakan kemarin. "Studio bisa dibangun lagi. Tapi jika kau sampai terluka di Grand Opera kemarin, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Jangan pernah meminta maaf karena bakatmu, Aira. Menjadi Miss KA bukan kesalahanmu."

Jimin menggeser kursinya mendekat, meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat. "Tapi Aira, mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia. Jika kau butuh bantuan untuk naskahmu, atau jika ada 'The Watcher' lain yang muncul, kau harus bicara. Kami bukan hanya kakakmu, kami adalah pelindungmu."

Aira menatap kakak-kakaknya satu per satu. Ia melihat cinta yang begitu besar, namun ia juga melihat beban baru di mata mereka. Sekarang mereka tahu bahwa adik kecil mereka adalah target global. Rasa bersalah itu masih ada, mengendap di dasar hatinya, membuat Aira merasa ingin kembali bersembunyi di balik topengnya.

Kembali ke sekolah terasa seperti berjalan ke dalam medan perang yang baru. Kabar tentang penangkapan "penyusup" di Grand Opera memang tidak menyebutkan nama Aira atau Soobin, namun absennya Soobin di sekolah menimbulkan spekulasi liar.

Aira berjalan melewati koridor dengan perasaan hampa. Di kelas, kursi Choi Soobin tampak kosong. Meja yang biasanya dihiasi dengan senyum ramah sang pangeran malaikat itu kini terasa dingin. Meskipun Soobin adalah pengkhianat, Aira tidak bisa memungkiri bahwa perhatian yang diberikan Soobin selama ini terasa sangat nyata. Apakah semuanya hanya akting? Ataukah ada bagian dari Soobin yang benar-benar peduli padanya?

"Memikirkan pengkhianat tidak akan membuat naskahmu selesai, Aira."

Sunoo muncul dari balik pintu kelas, bersandar dengan gaya santainya yang khas. Namun kali ini, tidak ada lagi ejekan di matanya. Ia berjalan mendekat dan duduk di meja Soobin, menatap Aira dengan intens.

"Bagaimana rasanya? Menjadi ratu yang baru saja menghukum salah satu ksatria-nya?" tanya Sunoo.

"Aku tidak menghukumnya, Kak Sunoo. Dia menghukum dirinya sendiri," jawab Aira dingin.

Sunoo terkekeh pelan. "Kau benar-benar Miss KA. Dingin dan logis. Tapi aku tahu, di dalam sana, kau sedang menangis karena kehilangan teman pertama yang kau miliki di sekolah ini."

Aira terdiam. Sunoo selalu berhasil menusuk tepat di bagian yang paling ia sembunyikan.

"Guanlin dan Heeseung sedang berada di ruang kepala sekolah. Mereka mencoba menutupi jejak Soobin agar tidak merembet ke reputasi kelompok pangeran," lanjut Sunoo. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Soobin meninggalkan sebuah pesan di lokermu sebelum dia dibawa pergi. Aku tidak membukanya, karena aku ingin kau yang melihatnya sendiri."

Sunoo menyerahkan sebuah kunci kecil berwarna perak. "Gunakan ini untuk loker rahasia di ruang musik. Mungkin itu satu-satunya kejujuran yang tersisa dari seorang pengkhianat."

Dengan langkah ragu, Aira menuju ruang musik yang sepi. Ia menemukan sebuah loker kecil di pojok ruangan yang tersembunyi di balik piano besar. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci perak pemberian Sunoo.

Di dalamnya, tidak ada uang atau dokumen rahasia. Hanya ada sebuah buku catatan usang dan sekuntum bunga baby's breath yang sudah mulai layu. Di halaman pertama buku itu, tertulis sebuah surat dengan tulisan tangan Soobin yang rapi.

"Aira, saat kau membaca ini, mungkin kau sudah membenciku. Dan itu benar. Aku memang pengkhianat. Tapi kau harus tahu satu hal yang tidak pernah kukatakan pada 'The Watcher'. Aku tahu kau adalah Miss KA sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan. Bukan karena aroma lilinmu, tapi karena tatapan matamu saat kau melihat dunia. Kau melihat dunia dengan rasa sakit yang sama denganku.

Aku mendekatimu untuk mencuri informasimu, tapi aku malah mencuri rasa sakitmu. Aku sengaja meninggalkan jejak agar Beomgyu bisa melacakku. Aku ingin kau menang, Aira. Aku ingin kau menghancurkanku agar kau bisa aman dari 'The Watcher' yang sebenarnya. Dia bukan aku. Dia jauh lebih dekat dengan kakak-kakakmu daripada yang kau duga. Berhati-hatilah dengan orang yang paling dipercaya oleh Namjoon-hyung."

Aira jatuh terduduk di lantai ruang musik. Air matanya jatuh membasahi kertas surat itu. Soobin mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi umpan agar Aira bisa selamat? Hatinya hancur berkeping-keping. Sisi sensitif Aira kembali meledak. Ia memeluk buku catatan itu dan menangis tersedu-sedu di ruangan yang gelap.

"Hiks... Kak Soobin... kenapa? Kenapa harus seperti ini?" isaknya.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya. Aira mendongak, berharap itu salah satu kakaknya, namun ternyata itu adalah Lai Guanlin. Wajahnya yang dingin tampak melunak melihat kerapuhan Aira.

"Jangan menangis sendirian," ucap Guanlin pelan. Ia duduk di samping Aira, membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. "Kami semua bodoh karena tidak menyadari beban yang kau pikul. Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi menjadi Miss KA yang kesepian. Aku akan menjadi pelindungmu, bukan sebagai pangeran yang dijodohkan, tapi sebagai pria yang mengagumi setiap kata yang kau tulis."

Aira terisak dalam dekapan Guanlin, sementara di luar pintu, Sunoo hanya bisa mengepalkan tangannya. Sebuah peringatan baru muncul di ponsel Aira yang tergeletak di lantai.

[Pesan dari Nomor Tak Dikenal]

"Soobin hanyalah pembuka. Selamat datang di babak kedua, Aira. Mari kita lihat, apakah tujuh kakakmu bisa melindungimu dari pengkhianat yang ada di dalam rumahmu sendiri?"

Aira membeku. Pengkhianat di dalam rumah? Siapa?

Setelah membaca surat terakhir dari Soobin, Aira tidak bisa lagi memandang Mansion keluarga Kim dengan cara yang sama. Setiap sudut ruangan yang dulunya terasa hangat, kini terasa seperti memiliki mata dan telinga. Pesan The Watcher tentang "pengkhianat di dalam rumah" terus bergaung di kepalanya, menciptakan paranoia yang mencekik.

Malam itu, Aira tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerjanya yang baru, sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh sistem keamanan buatan Namjoon. Namun, Aira tahu, sistem secanggih apa pun tidak bisa mendeteksi pengkhianatan manusia. Ia menghubungi Beomgyu dan Ryujin melalui frekuensi radio khusus yang tidak bisa dilacak oleh Wi-Fi rumah.

"Beomgyu, aku butuh daftar semua staf yang memiliki akses ke sayap barat Mansion dalam tiga bulan terakhir," perintah Aira. "Termasuk koki cadangan, asisten pribadi Kak Namjoon, dan tim kebersihan."

"Aira, kau serius mencurigai orang rumah?" suara Beomgyu terdengar ragu. "Kakak-kakakmu sangat selektif dalam memilih staf. Mereka semua sudah bekerja bertahun-tahun."

"Justru itu masalahnya, Beomgyu. Orang yang paling lama berada di sini adalah orang yang paling tahu kapan kita lengah," jawab Aira dingin. "Soobin bilang pengkhianat itu adalah orang yang paling dipercaya Kak Namjoon. Aku harus menemukannya sebelum mereka menyentuh Kakak-kakakku lagi."

Ryujin menyahut, "Aku sedang memantau log aktivitas di gerbang belakang. Ada satu nama yang mencurigakan. Manajer Kang. Dia adalah asisten senior Kak Namjoon. Dalam log tercatat dia sering keluar masuk Mansion di jam-jam yang tidak biasa, tepat saat kau sedang aktif mengirim naskah Miss KA."

Jantung Aira berdegup kencang. Manajer Kang? Dia sudah dianggap seperti paman sendiri oleh Aira. Dia yang sering membawakan susu hangat saat Aira belajar hingga larut malam. Jika benar dia orangnya, maka Aira benar-benar sedang menghadapi musuh yang sangat mengerikan.

Pukul 01.00 pagi.

Aira keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Ia berjalan menuju dapur, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok Jungkook sedang duduk di meja makan, menatap tumpukan berkas keamanan dengan wajah lelah.

Begitu melihat Aira, Jungkook langsung mengubah ekspresinya menjadi ceria, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. "Aira? Kenapa belum tidur, sayang? Mau susu cokelat?"

Aira tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekat dan langsung memeluk Jungkook dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang adik bungsu BTS itu. Tiba-tiba, rasa sedih yang luar biasa menyerangnya. Ia merindukan masa-masa ketika ia hanya memikirkan nilai sekolah dan naskah novel, bukan memikirkan siapa yang ingin membunuh mereka.

"Kak Kookie... hiks..."

Jungkook terkejut, ia segera memutar kursinya dan menarik Aira ke pangkuannya. "Hei, hei... kenapa menangis lagi? Apa ada yang sakit? Katakan pada Kakak."

"Aku takut, Kak... hiks... aku takut jika suatu hari nanti, bukan hanya studio Kak Yoongi yang hancur, tapi kita semua. Aku takut jika orang-orang yang kita sayangi ternyata hanya ingin menyakiti kita," tangis Aira pecah. Mood-nya yang sangat sensitif membuatnya merasa sangat rapuh malam ini.

Jungkook mendekap Aira erat, mencium kening adiknya berkali-kali. "Selama Kakak masih bisa berdiri, Kakak tidak akan membiarkan sehelai rambutmu pun jatuh, Aira. Jangan pikirkan hal-hal buruk itu. Kak Namjoon sudah memperketat penjagaan. Manajer Kang dan tim keamanan sudah menyisir seluruh area."

Mendengar nama Manajer Kang, tubuh Aira menegang. Ia ingin berteriak memberi tahu Jungkook untuk tidak mempercayai pria itu, tapi ia tidak punya bukti. Ia hanya bisa menangis di dada Jungkook, membiarkan rasa sesaknya keluar.

"Janji ya, Kak... hiks... jangan pernah tinggalkan aku sendiri," isak Aira.

"Janji, Tuan Putri. Kakak akan selalu di sini," bisik Jungkook lembut, tanpa menyadari bahwa di balik bayangan pintu dapur, seseorang sedang mengawasi mereka dengan tatapan yang sangat dingin.

Keesokan harinya, Aira memutuskan untuk melakukan "perjudian". Ia sengaja meninggalkan sebuah flashdisk merah yang sebenarnya berisi virus pelacak buatan Beomgyu di atas meja kerja Namjoon yang berada di ruang baca utama. Ia tahu bahwa hanya orang-orang kepercayaan yang diperbolehkan masuk ke ruangan itu.

"Kak Namjoon, aku meninggalkan draf novel baruku di flashdisk merah itu. Tolong jangan biarkan siapapun menyentuhnya, ya? Aku akan mengambilnya nanti sore," ucap Aira sengaja dengan suara keras di depan beberapa staf yang sedang berlalu lalang.

Aira kemudian pergi ke sekolah, namun ia tidak benar-benar belajar. Ia duduk di pojok perpustakaan, memantau pergerakan flashdisk tersebut melalui laptop rahasianya.

"Aira, kau terlihat sangat tegang hari ini," suara Heeseung mengejutkannya. Pangeran musik itu duduk di sampingnya, membawa dua kaleng minuman dingin.

"Aku hanya... sedang menunggu akhir dari sebuah cerita, Kak," jawab Aira tanpa menoleh.

Tiba-tiba, alarm di laptop Aira berbunyi pelan. Flashdisk merah itu baru saja dicolokkan ke sebuah perangkat yang bukan milik Namjoon. Aira menahan napas. Beomgyu segera mengirimkan transmisi lokasi.

Beomgyu : "Aira! Perangkat pengakses ada di ruang bawah tanah Mansion! Dan kau tidak akan percaya ini... kamera tersembunyiku menangkap wajahnya. Itu benar-benar Manajer Kang! Dia sedang mencoba menyalin data ke server eksternal!"

Aira berdiri dengan gemetar. "Ryujin, kunci semua pintu keluar Mansion sekarang! Hubungi Kak Yoongi dan Kak Jungkook!"

"Aira, ada apa?" Heeseung ikut berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran.

Aira menatap Heeseung, lalu menatap Sunoo yang tiba-tiba muncul di pintu perpustakaan. "Pengkhianatnya sedang bergerak di rumahku. Aku harus pergi!"

Namun, sebelum Aira sempat melangkah, sebuah pesan teks masuk ke ponsel pribadinya. Bukan dari The Watcher, tapi dari nomor Manajer Kang.

"Aira, jika kau ingin Kak Namjoon tetap hidup, jangan panggil siapa pun. Datanglah ke ruang bawah tanah sekarang. Sendiri. Atau teh yang baru saja diminum Kakakmu akan menjadi minuman terakhirnya."

Aira terjatuh lemas. Racun. Manajer Kang telah meracuni Namjoon. Sisi Miss KA yang dingin dalam diri Aira seketika runtuh, digantikan oleh Aira si adik kecil yang hancur. Ia menatap Sunoo dengan mata penuh permohonan.

"Kak Sunoo... tolong aku... Kak Namjoon..."

Sunoo tidak banyak bicara. Ia meraih kunci mobilnya. "Naik. Kita akan sampai di sana dalam sepuluh menit. Heeseung, hubungi tim medis darurat agensi, sekarang!"

Perang di dalam Mansion telah dimulai, dan Aira menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang paling tahu bagaimana cara mencintaimu.

Setelah tim medis membawa Namjoon ke rumah sakit pribadi agensi, suasana di ruang bawah tanah yang dingin itu perlahan mulai sepi. Manajer Kang telah dibawa pergi, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Aira masih duduk bersimpuh di lantai beton, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya yang tadi memegang botol penawar racun kini kosong, saling meremas satu sama lain.

Yoongi mendekat, ia melepaskan jaketnya yang beraroma kopi dan kayu cendana, lalu menyampirkannya ke bahu Aira yang mungil. Tanpa sepatah kata pun, Yoongi mengangkat tubuh adiknya itu ke dalam gendongannya.

"Kak Yoongi... hiks... Kak Namjoon hampir mati karena aku..." bisik Aira di ceruk leher Yoongi. Air matanya membasahi kaos kakaknya.

"Diamlah, Aira. Jangan bicara omong kosong," suara Yoongi terdengar rendah namun sangat lembut. "Namjoon selamat. Kita semua selamat. Jangan biarkan si pengecut itu menang dengan membuatmu merasa bersalah."

Yoongi membawa Aira ke ruang tengah Mansion. Di sana, Jin, Hoseok, dan Taehyung sudah menunggu dengan wajah cemas yang luar biasa. Begitu melihat Aira dalam kondisi sekacau itu, Jin langsung mengambil alih. Ia menarik Aira ke dalam pelukannya yang hangat, membiarkan adiknya itu bermanja sejadi-jadinya.

"Aigoo, adik bayi Kakak... lihatlah wajahmu, penuh air mata begini," ucap Jin sambil menghapus noda hitam di pipi Aira dengan ibu jarinya. "Kakak sudah siapkan cokelat panas dan selimut di kamarmu. Malam ini, kau tidak boleh tidur sendirian. Kau harus tidur di pelukan Kakak, oke?"

Aira hanya mengangguk lemas, ia merasa sangat kecil dan terlindungi. Rasa takut yang tadi mencekik kini perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh ketujuh pria ini.

Malam itu, Mansion Kim tetap dijaga ketat, namun pintu depan terbuka untuk dua tamu istimewa Guanlin dan Sunoo. Mereka tidak bisa tenang sebelum melihat kondisi Aira secara langsung.

Jungkook awalnya ingin mengusir mereka, namun Jimin menahannya. "Biarkan saja. Mereka membantu Aira tadi," ucap Jimin singkat.

Guanlin dan Sunoo masuk ke kamar Aira yang luas dan harum lavender. Aira sedang duduk di atas tempat tidurnya, bersandar pada bantal-bantal besar, dikelilingi oleh Taehyung dan Hoseok yang sedang mencoba menghiburnya dengan boneka.

Begitu melihat Guanlin, Aira tiba-tiba merasa malu. Ia ingat betapa histerisnya ia tadi di ruang bawah tanah. "Kak Guanlin... Kak Sunoo... terima kasih ya untuk yang tadi," ucap Aira dengan suara imut yang sedikit parau.

Guanlin berjalan mendekat, ia duduk di pinggir tempat tidur, mengabaikan tatapan tajam Jungkook dari sudut ruangan. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu mengusap rambut Aira dengan sangat lembut. "Kau sangat berani tadi, Aira. Aku tidak pernah melihat asisten riset yang lebih tangguh darimu."

Sunoo menyeringai tipis, ia melemparkan sebuah kotak kecil ke arah Aira. "Makanlah itu. Cokelat impor dari Swiss. Aku tahu kau akan menangis seharian, jadi kau butuh energi untuk memulihkan wajah jelekmu itu."

"Ih! Kak Sunoo jahat banget!" seru Aira sambil mengerucutkan bibirnya manja. Ia melempar bantal ke arah Sunoo, membuat semua orang di ruangan itu akhirnya tertawa.

Momentum itu menjadi penyembuh bagi Aira. Ia menyadari bahwa di balik kecerdasan Miss KA yang dingin, ia tetaplah Aira yang dicintai oleh banyak orang tampan di sekitarnya.

Larut malam, setelah para pangeran pulang dan kakak-kakaknya mulai tertidur, Aira berdiri di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah pelukan dari belakang. Aroma parfum maskulin yang segar segera menyapa indranya. Itu Jungkook.

"Belum tidur?" tanya Jungkook, suaranya sangat lembut, dagunya bertumpu di bahu Aira.

"Belum, Kak. Masih kepikiran... kalau nanti ada pengkhianat lain, gimana?" tanya Aira manja, ia memutar tubuhnya dalam pelukan Jungkook dan menyandarkan kepalanya di dada bidang adiknya (yang secara teknis adalah kakaknya dalam cerita ini).

Jungkook mengeratkan pelukannya, seolah tidak mau membiarkan udara sedikit pun masuk di antara mereka. "Dengar, Aira. Kami sudah sepakat. Mulai besok, jadwalmu akan kami atur. Kamu tidak boleh pergi ke mana pun sendirian. Kalau perlu, salah satu dari kami akan menyamar jadi supirmu."

Aira tertawa kecil. "Masa idol dunia jadi supir?"

"Apapun buat kamu, Tuan Putri," jawab Jungkook serius. Ia menangkup wajah Aira, menatap matanya dalam-dalam. "Dan soal Miss KA... teruslah menulis. Jangan berhenti. Kami akan menjadi perisaimu agar duniamu tetap aman. Kamu hanya perlu menulis, bermanja, dan tersenyum. Urusan sisanya... biar abang-abangmu yang bereskan."

Aira merasa hatinya penuh. Ia berjinjit dan mengecup pipi Jungkook dengan sayang. "Makasih, Kak Kookie. Aira sayang banget sama kalian."

Di kegelapan taman bawah, siluet seseorang memperhatikan mereka. Bukan 'The Watcher', melainkan Sunoo yang sengaja kembali karena tertinggal ponselnya. Ia menatap ke arah balkon itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau beruntung, Aira. Tapi ingat, dunia Miss KA tidak semudah pelukan kakakmu," gumam Sunoo pelan sebelum menghilang di balik bayang-bayang pohon sakura.

[TO BE CONTINUED]

📢 Aww! 🥰 Momen bermanja Aira sama Kak Kookie bikin meleleh ya! Tapi Sunoo kayaknya masih punya rahasia lain nih. Menurut kalian, Sunoo sebenernya cemburu nggak sih lihat Aira deket sama kakak-kakaknya?

👇 VOTE [LOVE] kalau kalian mau adegan kencan Aira sama Sunoo di bab depan!

💬 KOMEN : Siapa nih kakak BTS yang paling protektif menurut kalian? [A] Jin [B] Yoongi [C] Jungkook

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya bakal mulai fokus ke kencan-kencan manis Aira dengan para pangeran!

⭐ KASIH RATING 5 STARS biar author makin semangat bikin adegan baper!

BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #AiraComfort #BTSLove #JungkookSweet #SunooMystery

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!