Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Keysa
“Aku berangkat,” ucap Reynan pada Zara.
Saat ini, tepatnya pukul lima sore, Reynan akan kembali ke Jakarta.
“Iya, hati-hati. Jangan lupa selalu kabarin,” kata Zara.
“Iya, pasti. Kamu juga hati-hati,” ujar Reynan.
Zara pun menganggukan kepalanya.
Sebelum keluar kamar, Reynan mengecup dulu bibir Zara.
“Bakal kangen aku. Za,” ucapnya, setelah melepas pagutannya.
Zara hanya membalas dengan senyuman. Setelah itu, keduanya keluar dari kamar.
Budi dan Lia sudah berada di ruang tengah. “Yah, Bu, Rey pulang dulu,” ucapnya, seraya mencium tangan kedua mertuanya.
“Iya, Rey. Hati-hati,” kata Budi.
“Pasti, Yah.”
Lia tidak bicara, ia hanya mengelus bahu Reynan saja.
Setelah itu, Reynan mengelus pucuk kepala Zara. “Mas pergi,” ucapnya.
“Iya,” jawab Zara seraya menganggukan kepalanya.
Dengan berat hati, Reynan pun masuk ke mobilnya.
Sebelum melajukan mobilnya, Reynan melambaikan tangan pada Zara.
***
Zara menjatuhkan tubuhnya pada sofa dengan sedikit kasar.
Setelah perginya Reynan, ia merasa sepi. Tidak dipungkiri, ia pun merasa cemas, gelisah juga khawatir.
Selain mengkhawatirkan Reynan di perjalanan, Zara pun khawatir dengan perjodohan itu.
Entah… ia merasa jika Keysa tidak akan menyerah dan menerima begitu saja.
“Lindungi rumah tangga kami, ya Allah. Jauhkan dari segala sesuatu yang membuat rumah tangga ini renggang. Izinkan aku untuk bahagia dengan pernikahan ini, Izinkan aku membina rumah tangga ini bersama suamiku, Reynan.”
“Terima kasih, Engkau telah menggantikan seorang Danish dengan seorang Reynan Ghani Utama, sosok pria yang bertanggung jawab. Berkahi pernikahan ini, ya Allah.” Zara bergumam seraya memejamkan matanya.
“Belum ada dua puluh menit ditinggal, udah murung aja, Neng.” goda Lia.
Zara langsung membuka matanya. “Ibu …”
Lia tersenyum simpul. “Udah ada perasaan sama Rey, Za?” tanyanya.
Zara diam.
Lia kembali tersenyum. “Jangan malu. Memang seharusnya seorang istri mencintai dan menyayangi suaminya, itu udah sebagai keharusan dan kewajiban.” Lia bicara seraya mengelus rambut Zara.
Zara berdehem, ia pun membenarkan posisi duduknya.
“Untuk perasaan itu … entah, Bu. Aku belum bisa memastikannya. Tapi … entah kenapa ya Bu, ditinggal gini, rasanya gak enak, gak nyaman,” ucapnya.
Lia kembali tersenyum. “Ya … itu kamu udah ada perasaan pada Rey. Mungkin, belum besar. Tapi itu udah ada,” ujarnya.
Zara kembali diam.
“Kenapa?” tanya Lia lagi, melihat sang anak, seperti ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
“Aku takut, Bu.”
Lia mengerutkan dahinya. “Takut? Takut apa?”
“Takut kalo Mas Rey menerima wanita itu,” ucapnya.
Lia diam seraya berpikir. “Wanita yang mau dijodohkan sama Reynan itu?” tanyanya.
“Iya, Bu.”
“Takutnya apa?” tanyanya lagi.
“Waktu kami bertemu saat makan malam, wanita itu tetap kekeh ingin menikah dengan Mas Rey, Bu. Meski ia tau Mas Rey udah nikah, tapi ia gak keberatan jadi yang kedua,” ucapnya.
Lia kembali mengelus rambut Zara. “Sekeras apapun wanita itu mau, jika Rey tetap menolak, ya tidak akan bisa,” ujar Lia.
“Sama Mas Rey, aku gak khawatir, Bu. Tapi aku takut, wanita itu melakukan sesuatu diluar batas wajar.”
“Kita serahkan semuanya pada yang Esa, ya.”
Zara menghela napas pelan. Perkataan sang Ibu tidak membuat dirinya puas, tapi disisi lain ia sadar, semuanya sudah ada garis takdirnya.
Akhirnya, ia menjawab dengan anggukan pelan.
***
“Kau nerima gitu aja?”
“Ya Nggak lah.”
“Kalo gitu. Jangan diam saja.”
“Masih mikir mau buat huru-hara apa.”
“Jangan lama-lama. Ayah mau lihat gimana hancurkan bocah ingusan itu.”
“Tapi … kalo ketahuan gimana, Yah?”
“Bodoh. Jangan sampai meninggalkan jejak sedikitpun. Gitu aja masa gak bisa.”
“Jangan mengotori tangan sendiri. Suruh orang lain,” lanjutnya.
“Iya, itu pasti, Yah.”
“Ya, bagus.”
Senyum menyeringai terukir dari keduanya.
***
Ponsel Reynan berdering. Lekas ia mengangkatnya lalu menekan tombol loudspeaker.
“Iya, Pah?” tanya Reynan pada Reza. Ya, yang menghubunginya sang Papa.
“Lagi di mana kamu?” tanyanya.
“Di jalan, Pah.”
“Sama Zara?”
“Sendiri,” jawab Reynan.
“Zara di rumah?”
“Zara di Tangerang. Ini aku habis nganterin dia, aku lagi di jalan arah Jakarta.”
“Kok gak pamit dulu sama Papa Mama?” tanya Reza. Ada sedikit kecewa di sana.
Reynan pun baru sadar, jujur ia lupa.
“Em- itu … awalnya Zara mau ketemu sama temannya, Pah. Jadi gak ada niat mau pulang juga, tapi setelah kami diskusi di jalan, akhirnya kami memutuskan itu. Jangan salah paham ya, Pah. Apalagi kalo kecewa sama Zara,” kata Reynan.
“Hem, ya sudahlah.”
“Papa ada perlu apa?” tanya Reynan.
“Pulang ke rumah Papa,” ucapnya.
Reynan mengerutkan dahinya. “Ada apa? Mama baik-baik saja ‘kan?”
“Mama baik. Tapi … keluarga Joko di rumah, mereka mau ketemu kamu.”
“Bukannya masalah itu, Papa yang beresin?”
“Papa udah coba beresin, Papa udah jelasin sampai mulut ini berbusa. Tapi … Keysa bebal, ia tidak terima begitu saja. Ia tetap ingin menikah denganmu, Rey. Jadi yang kedua pun siap, katanya.”
Reynan menghela napas dengan kasar. “Apa Rey harus berbuat kasar?”
“Jangan mengorbankan image kamu yang udah di bangun dengan susah payah, demi seorang wanita.”
“Pah … kalo Zara tau gimana? Aku gak mau Zara minta cerai gara-gara masalah ini.”
“Zara gak bakalan tau, kalo kamu gak ngomong.”
“Ckk. Ini gara-gara Papa. Aku juga yang pusing,” ucapnya dengan kesal. “Ya udah, aku kesana sekarang.”
Setelah mendengar balasan ‘iya’ dari Reza, Reynan pun mematikan panggilan itu.
Dengan pandangan lurus ke jalan, Ia menyugar rambutnya dengan tangan kiri. Napasnya terdengar sangat berat.
***
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Keysa langsung menoleh dan menunggu siapa gerangan yang datang, dengan wajah ceria dan penuh harap.
“Assalamualaikum … wah, lagi ada tamu,” ucapnya.
Mendengar suara dan melihat siapa sosok itu, Keysa mendesah pelan.
Orang itu bukan orang yang diharapkan, bukan Reynan. Melainkan Rendi.
Rendi pun langsung bersalaman pada Joko dan Sofi. Ia cukup menghargai tamu yang datang.
“Pah, Mah, Rendi naik dulu,” ucapnya.
“Iya. Ren,” jawab Yola. Sedangkan Reza, menganggukan kepalanya.
Rendi pun melangkahkan kakinya untuk menuju kamar seraya bergumam: “Mampus lo Bang.” Senyum jahil pun terbentuk dari bibirnya.
(Bang cepat datang. Calon istri kedua lo udah nunggu)
Setelah mengetikkan itu dan mengirimkannya pada Reynan, Rendi tertawa lepas.
“Hahahaha … yang anti cewek. Sekarang dikejar-kejar, rasain, lo.” Rendi bicara seolah Reynan ada dihadapannya.
Di tempat lain, Reynan yang mendengar notifikasi pesan, ia segera membacanya.
Decakan kesal keluar dari mulutnya. Ia kira pesan dari sang istri, ternyata dari sang adik.
Reynan pun menaruh kembali ponselnya dengan sedikit kasar.
Sekitar tiga menit lagi, ia tiba di rumah sang Papa.
Jujur, ia malas sungguh malas. Namun … ia tidak akan membiarkan masalah ini berlarut, ia akan menyelesaikannya malam ini juga.
“Assalamualaikum,” ucap Reynan kala masuk ke rumah sang Papa.
“Waalaikumsalam,” jawab semuanya, termasuk Keysa.
Senyumnya begitu mengembang, kala seseorang yang ia tunggu sudah datang.
“Saya tidak punya banyak waktu, jadi apa mau kalian?” Reynan langsung to the point.
Joko memutar malas bola matanya. Ia tidak suka dengan sikap Reynan yang angkuh dan arogan.
Sedangkan Keysa, ia tersenyum.
“Jadi … begini, Mas. Aku gak apa-apa jadi yang kedua, aku siap. Jadi kapan kita nikahnya?”
Mendengar perkataan itu dari Keysa, tidak hanya Reynan yang tercengang. Tapi Reza dan Yola pun turut terkejut.
Namun Joko dan Sofi, merasa malu. Mereka seperti tidak punya harga diri. Terlebih, Keysa sudah merendahkan harga dirinya dengan serendah-rendahnya.
Cukup bebal memang, Joko dan Sofi sudah memberikan nasihat pada Keysa. Namun … Keysa seolah-olah tutup mata dan telinga. Ia tetap ingin Reynan, menikah dengan Reynan dan memiliki Reynan.
Reynan tersenyum. “Sudah saya katakan, bukan? Saya tidak mau, saya sudah punya istri. Daripada jadi yang kedua, lebih baik anda mencari lelaki yang masih single.”
Keysa menggelengkan kepalanya. “Mas … aku tidak apa-apa jadi yang kedua juga. Aku cuma mau kamu, aku cuma mau nikah sama kamu,” ucap Keysa dengan wajah sendu, matanya berkaca-kaca.
Reynan mengusap wajahnya dengan kasar. “Kenapa anda ngotot sekali ingin menikah dengan saya?”
“Karena Mas Rey lelaki sempurna, lelaki yang tidak ada celah sedikitpun.”
Reynan tersenyum miris. “Manusia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah.”
“Iya … aku tau. Tapi Mas Rey tipeku. Pertama Ayah memberikan foto Mas Rey, aku langsung jatuh cinta.”
Reynan kembali mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tapi saya tidak suka apalagi cinta. Saya suka dan cinta cuma sama istri saya saja, Qistina Zara.”