Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: ANCAMAN BARU DARI EDWARD
#
Hari itu, Rabu sore. Sekolah selesai jam tiga. Dyon lagi beresin buku di kelas, mau pulang. Andra sama Leonardo udah duluan, mereka ada urusan.
Jadi Dyon sendirian.
Keluar kelas, jalan ke parkiran sepeda. Dyon sekarang naik sepeda tua pinjeman dari Pak Darmo, bapaknya Andra. Sepeda ontel berkarat, tapi jalan.
Parkiran sepi. Cuma ada beberapa motor sama mobil yang masih parkir. Langit mulai mendung, kayaknya mau hujan.
Dyon buka gembok sepeda, mau pergi.
Tapi...
"Dyon Syahputra."
Suara dari belakang. Dingin. Penuh kebencian.
Dyon ngerasain bulu kuduknya berdiri. Dia kenal suara itu.
Edward.
Nengok pelan. Edward berdiri di belakang, jarak lima meter. Tangan dilipet di dada. Senyum... senyum yang bikin perut mual. Senyum psikopat.
"Edward," kata Dyon datar. "Ada apa?"
Edward jalan mendekat. Pelan. Setiap langkah kayak ancaman. Mata ngeliatin Dyon dari atas ke bawah, kayak ngeliatin musuh yang harus dibunuh.
"Kamu... kamu pikir kamu bisa kembali begitu aja?" tanya Edward, suaranya rendah tapi menusuk. "Kamu pikir kamu bisa ambil Ismi begitu aja? Setelah kamu kabur kayak pengecut enam bulan?"
Dyon berdiri tegak. "Gue nggak kabur. Gue pergi buat jadi lebih baik."
"LEBIH BAIK?!" Edward ketawa, keras, kayak orang gila. "Kamu? Sampah kayak kamu? Jadi lebih baik? LUCU!"
Dyon ngepal tangan. Tahan emosi. "Gue nggak mau berantem sama lo, Edward. Gue cuma mau hidup damai sama Ismi."
"Hidup damai?" Edward melangkah lebih deket, sekarang cuma sejengkal dari muka Dyon. Napasnya bau rokok, menyengat. "Kamu nggak akan pernah hidup damai selama gue masih hidup. Karena Ismi... ISMI ITU PUNYAKU!"
"Ismi bukan barang!" Dyon bentak balik. "Dia bukan milik siapa siapa! Dia punya hak milih! Dan dia... dia milih gue!"
Tamparan keras.
Bukan tamparan fisik. Tapi kata kata Edward selanjutnya yang kayak tamparan.
"Kamu tau nggak," Edward senyum, senyum paling jahat yang pernah Dyon liat. "Gue punya sesuatu. Sesuatu yang... yang bisa hancurkan Ismi. Hancurkan nama baiknya. Hancurkan hidupnya."
Dyon kaget. "Apa maksud lo?"
Edward ngeluarin hape dari saku celana. Buka galeri. Tunjukin ke Dyon.
Video.
Video Ismi.
Dyon ngeliatin layar. Video itu... Ismi lagi jalan sendirian di koridor sekolah. Direkam dari belakang, diam diam. Terus ada video lain. Ismi lagi ganti baju di toilet sekolah, direkam dari celah pintu yang sengaja dibuka dikit.
Darah Dyon mendidih.
"KAMU... KAMU REKAM DIA?!" Dyon teriak, pegang kerah baju Edward. "KAMU GILA APA?!"
Edward nyengir, nggak takut. "Lepas gue. Atau... atau gue sebarkan video ini. Ke seluruh sekolah. Ke orang tua Ismi. Ke... ke semua orang."
Dyon melepas kerah Edward, tapi tangannya gemetar parah. "Lo... lo psikopat! Lo... lo nggak punya hati nurani?!"
"Hati nurani?" Edward ketawa lagi. "Hati nurani nggak akan kasih gue Ismi. Tapi ini..." dia lambaikan hape, "ini akan bikin kamu pergi. Dan waktu kamu pergi... Ismi akan jadi milik gue."
"Ismi nggak akan pernah jadi milik lo!" Dyon teriak. "Dia... dia benci sama lo!"
"Sekarang iya," Edward angguk, senyum makin lebar. "Tapi tunggu aja. Tunggu sampai video ini tersebar. Tunggu sampai semua orang liat dia. Tunggu sampai dia... dia malu, depresi, nggak punya siapa siapa lagi. Siapa yang bakal ada buat dia? CUMA GUE!"
Dyon nggak bisa napas. Dadanya sesak. "Lo... lo nggak akan lakuin itu. Lo... lo nggak segila itu."
"Oh, gue gila," Edward berbisik, deket banget ke telinga Dyon. "Gue gila karena cinta. Cinta yang... yang nggak kesampaian. Dan kalau gue nggak bisa punya Ismi... NGGAK ADA YANG BOLEH PUNYA DIA!"
Dyon mundur, jijik. "Lo... lo bukan cinta. Lo cuma... obsesi sakit!"
"Terserah lo mau sebut apa," Edward masukin hape lagi ke saku. "Yang penting... gue kasih lo pilihan. Pergi dari hidup Ismi. Sekarang. Atau... atau video ini tersebar besok pagi. Semua orang akan liat. Orang tua Ismi akan liat. Dan Ismi... Ismi akan hancur."
Dyon terdiam. Pikirannya kacau. Tangannya gemetar, ngepal erat sampe kuku nusuk telapak tangan, berdarah.
*Nggak... nggak bisa. Gue nggak bisa ninggalin Ismi lagi. Tapi... tapi kalau video itu tersebar...*
"Atau," Edward nambah, senyum makin jahat, "ada pilihan kedua. Kita... kita selesaikan ini. Laki ke laki. Duel. Kamu... kamu lawan gue. Kalau kamu menang, gue hapus video ini. Kalau gue menang... kamu pergi. Dan nggak pernah balik lagi."
"Duel?" Dyon ngeliatin Edward, tajam. "Lo... lo serius?"
"Sangat serius," Edward angguk. "Gue nggak akan pakai preman lagi. Gue nggak akan pakai orang lain. Cuma... cuma gue sama lo. Adu fisik. Adu mental. Sampai salah satu dari kita... nggak bisa bangkit lagi."
Dyon diam lama. Napas berat.
*Duel... kalau gue lawan dia, gue bisa menang. Gue udah lebih kuat sekarang. Tapi... tapi kalau gue kalah...*
"Gue... gue butuh waktu mikir," kata Dyon pelan.
"Waktu?" Edward ketawa. "Oke. Gue kasih lo waktu. Sampai Jumat. Dua hari. Kalau Jumat lo nggak kasih jawaban... video ini langsung tersebar. Otomatis."
Edward jalan mundur, senyum penuh kemenangan. "Oh iya, satu lagi. Jangan coba coba lapor ke siapa pun. Jangan coba coba bilang ke Ismi. Karena kalau lo lakuin itu... video langsung tersebar. Mengerti?"
Dyon nggak jawab. Cuma natap Edward dengan mata penuh benci.
"Bagus," Edward senyum. "Sampai jumpa, Dyon. Semoga... semoga lo bikin keputusan yang tepat."
Edward pergi, jalan santai keluar parkiran. Ninggalin Dyon yang berdiri sendirian, gemetar, marah, takut, bingung semua campur jadi satu.
Dyon jatuh berlutut. Tangan masih ngepal. Darah netes dari telapak tangan ke aspal.
"BAJINGAN!" teriaknya keras, suara ngegema di parkiran kosong. "BAJINGAN! PSIKOPAT!"
Air mata keluar. Bukan karena takut. Tapi karena... frustrasi. Marah. Nggak berdaya.
*Kenapa... kenapa hidup gue harus kayak gini terus? Kenapa... kenapa selalu ada yang ngalangin gue buat bahagia?*
Dia inget wajah Ismi. Senyum Ismi tadi siang waktu mereka pelukan. Kata kata Ismi: "Jangan pergi lagi."
*Ismi... maafin aku. Aku... aku nggak tau harus gimana.*
Hujan mulai turun. Pelan. Dingin. Basahin Dyon yang masih berlutut di parkiran.
Tapi dia nggak gerak. Cuma... nangis dalam diam.
***
BERSAMBUNG
***