Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 The Sound of Cold Silence
Keheningan adalah senjata baru Liora Elowyn. Setelah pagi yang menyakitkan di meja makan, di mana lebam di lengannya menjadi tontonan dan harga dirinya dikuliti oleh kata-kata Leo, Liora memutuskan untuk berhenti bicara. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia menyadari bahwa memberi kata-kata kepada Leo Alexander Caelum adalah sebuah pemborosan jiwa.
Liora menjalani harinya di White Rose Mansion seperti hantu. Ia melakukan pekerjaannya, membantu Eleanor menata arsip yayasan, lalu pergi ke toko buku tanpa pamit. Saat berpapasan dengan Leo di lorong, Liora tidak lagi menunduk takut, namun ia juga tidak menatap pria itu. Ia hanya melewatinya seolah Leo hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata.
Hal ini membuat Leo gila.
Sore itu, Leo pulang lebih awal. Ia sengaja duduk di ruang tengah, pura-pura membaca dokumen bisnis, namun matanya terus melirik ke arah pintu masuk, menunggu Liora pulang dari toko buku. Saat pintu besar terbuka dan Liora melangkah masuk dengan wajah lelah, Leo segera menutup mapnya dengan suara keras.
"Kau terlambat sepuluh menit dari jam pulang biasanya," ucap Leo dengan suara bariton yang menuntut. "Busnya mogok atau kau sengaja mampir menemui dosen miskin itu lagi?"
Liora tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju tangga, bahkan tidak melirik ke arah sofa tempat Leo duduk.
Leo bangkit, langkahnya lebar dan cepat hingga ia berhasil mencegat Liora di anak tangga pertama. "Aku sedang bicara padamu, Liora Elowyn. Sejak kapan kau punya nyali untuk mengabaikan pertanyaanku?"
Liora tetap diam. Ia hanya menatap kancing kemeja kedua milik Leo dengan pandangan kosong. Tidak ada kemarahan, tidak ada ketakutan. Hanya kehampaan yang terasa sangat dingin.
"Jawab aku!" bentak Leo, tangannya terangkat ingin mencengkeram lengan Liora lagi, namun ia berhenti saat teringat lebam biru di sana. Ia mengepalkan tangannya di udara dan menurunkannya kembali. "Kau ingin bermain aksi mogok bicara? Kau pikir itu akan membuatku kasihan?"
Liora menghela napas pendek, lalu sedikit bergeser ke samping untuk melewati Leo tanpa sepatah kata pun. Gerakannya begitu halus, seolah-olah Leo adalah benda mati yang menghalangi jalannya.
"Sialan!" umpat Leo saat Liora menghilang di balik pintu kamarnya dan menguncinya.
Malam harinya, kegelisahan Leo mencapai puncaknya. Ia merasa menang saat Liora menangis, ia merasa berkuasa saat Liora membalas makiannya. Namun, didiamkan seperti ini membuatnya merasa tidak ada. Ia merasa eksistensinya sebagai penguasa di rumah ini sedang dilenyapkan oleh diamnya seorang gadis miskin.
Leo mengetuk pintu kamar Liora dengan kasar. "Liora! Keluar! Pelayan sudah menyiapkan makan malam. Ibu menunggumu!"
Tidak ada jawaban.
"Liora! Jika kau tidak keluar dalam hitungan ketiga, aku akan mendobrak pintu ini dan memastikan kau tidak punya privasi lagi di rumah ini!"
Pintu terbuka. Liora berdiri di sana, masih mengenakan pakaian kerjanya yang kusam. Ia menatap Leo datar, lalu berjalan melewatinya menuju ruang makan. Sepanjang makan malam, Liora hanya bicara pada Eleanor dengan suara lembut, tertawa kecil saat Eleanor menceritakan sesuatu, namun saat Leo mencoba memotong pembicaraan atau menghina masakannya, Liora langsung membeku dan kembali diam.
"Liora, cobalah wagyu ini. Leo yang menyuruh koki menyiapkannya khusus untukmu karena kau terlihat kurang gizi," ucap Eleanor dengan nada menjodohkan yang canggung.
Liora menatap potongan daging mahal di piringnya, lalu dengan tenang memindahkannya ke piring Eleanor. "Saya lebih suka sayuran, Nyonya. Terima kasih."
Leo mencengkeram garpunya hingga buku jarinya memutih. "Daging itu harganya lebih mahal dari gajimu setahun di toko buku itu, Liora. Jangan bersikap sok suci."
Liora meletakkan sendoknya, mengelap bibirnya dengan serbet, lalu menatap Eleanor. "Nyonya, saya sudah kenyang. Saya permisi ke kamar untuk beristirahat."
Ia bangkit dan pergi, meninggalkan Leo yang napasnya mulai memburu karena amarah yang tertahan.
"Kau lihat, Ibu? Dia benar-benar sombong!" protes Leo setelah Liora pergi.
Eleanor menatap putranya dengan iba. "Leo, kau benar-benar bodoh dalam urusan hati. Kau ingin dia bicara padamu, tapi mulutmu hanya bisa mengeluarkan duri. Kau ingin dia menatapmu, tapi kau terus menunjukkan sisi monster yang ia benci. Dia tidak sombong, Leo. Dia sedang melindungi sisa-sisa jiwanya yang kau hancurkan."
"Aku tidak peduli!" bohong Leo.
Namun, tengah malam itu, Leo kembali melakukan hal aneh. Ia menyelinap ke dapur. Ia melihat kotak bekal Liora yang akan dibawa ke toko buku besok pagi. Dengan gerakan canggung dan wajah ketus, ia memasukkan beberapa cokelat mahal dan vitamin terbaik ke dalam tas kain Liora.
"Aku hanya tidak ingin dia pingsan di jalan dan merepotkan nama keluargaku," gumam Leo pada kegelapan dapur, mencoba membohongi nuraninya sendiri.
Keesokan paginya, Liora menemukan cokelat-cokelat itu. Ia tahu itu dari Leo, karena tidak ada orang lain di rumah ini yang memiliki cokelat dengan merek eksklusif tersebut. Alih-alih merasa tersentuh, Liora justru merasa semakin kesal. Ia mengambil cokelat itu dan meletakkannya kembali di meja kerja Leo dengan sebuah catatan singkat satu-satunya komunikasi tertulis yang ia berikan.
"Simpan kemurahan hati Anda untuk orang yang Anda hargai. Saya tidak butuh sedekah dari pria yang merusak lengan saya."
Saat Leo membaca catatan itu, ia menyapu semua barang di atas mejanya hingga berantakan. Ia benci Liora. Ia benci betapa keras kepalanya gadis itu. Namun, di balik kebencian itu, ada rasa sakit yang berdenyut di dadanya. Ia menyadari bahwa diamnya Liora adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada hukuman penjara mana pun.
"Kau ingin diam, Liora?" bisik Leo di ruang kerjanya yang kacau. "Baiklah. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa membisu saat aku mulai mengambil satu per satu hal yang kau sayangi di toko buku itu."
Obsesi Leo belum berakhir. Ia tidak tahu cara mencintai, maka ia akan terus menyakiti sampai Liora tidak punya pilihan lain selain berteriak memanggil namanya, meskipun teriakan itu adalah teriakan kebencian.
"Diamnya Liora adalah cermin yang memaksa Leo melihat betapa buruknya bayangan dirinya sendiri."
"Bagi Leo, memberi cokelat adalah diplomasi, namun bagi Liora, itu adalah racun yang dibungkus kertas emas."
"Keheningan di antara mereka bukan berarti kedamaian, melainkan badai yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan segalanya."
"Leo tidak menyadari bahwa semakin ia mencoba menarik perhatian Liora dengan kekejaman, semakin jauh jiwa Liora terbang meninggalkan raga yang ia kurung."