NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Yang Tidak di Undang

Beberapa hari kemudian, fakultas kedokteran di hebohkan oleh berita tentang kuliah umum. Pematerinya adalah seorang dokter muda, blasteran Indonesia-Belanda yang juga ahli bedah ternama dari Amerika. 

Sontak berita ini menjadi viral di kalangan mahasiswa, banyak yang mencari tahu tentang sosok dokter muda yang akan menjadi pemateri itu, apalagi beredar kabar bahwa sang dokter masih lajang alias belum memiliki pawang. 

Siang itu, di kantin fakultas, Sesilia sedang serius menghabiskan porsi kedua dari bakso pedasnya. Tiba-tiba seseorang memukul bahunya dari belakang, pukulan itu keras sehingga membuat satu bulatan utuh bakso yang sudah didalam mulut Sesilia, terbang keluar dan mengenai kepala juniornya yang bernama Dias. Dias mengeluh perlahan, bakso itu tepat mengenai kacamata tebal yang ia gunakan.

“Ukhuk…ukhuk…” Sesilia terbatuk-batuk keras, ia segera meraih es jeruk miliknya, menghabiskannya dalam satu tegukan.

“I'm so sorry, Dias. A-aku nggak sengaja…” Sesilia mencoba menjelaskan, padahal napasnya juga belum stabil sepenuhnya.

“I-iya, it's okey kak,” Dias menyahut dengan senyum paksa di bibirnya. Kemudian segera pergi dari sana. Mungkin takut berurusan dengan seniornya yang terkenal itu. 

Sedangan di belakang Sesilia, oknum yang menjadi dalang tragedi mengenaskan itu berdiri kaku. Bibirnya tertutup rapat, dan matanya memandang sang sahabat dengan memelas. 

“Uni Steel!!!” Sesilia berteriak garang. Beberapa penghuni kantin menoleh penasaran, yang lainnya hanya menatap sekilas dan kembali ke aktivitas masing-masing. Sudah sangat hafal dan terbiasa akan persahabatan dua orang itu.

Uni hanya meringis kala gendang telinganya menangkap kemarahan sang sahabat. Gadis itu memandang sekeliling, pada banyak pasang mata yang melihat penasaran.

“It's okay, its okay. We're friends.” 

“Uni! Why you do that?” Sesilia kembali bersuara.

“Sorry, Si. Tadinya cuma mau ngagetin, di…kit… hehe”

“Hhhuuuummmm,” Sesilia menarik napas berat, masih kesal karena bakso terakhirnya jatuh mengenaskan.

“A-aku ganti satu porsi bakso lagi deh, yayang kuh tersayang, pliss”

“Kenyang!!!!” Sesilia menjawab sewot.

Uni lalu berjalan dan duduk di kursi depan sahabatnya itu. 

“Btw, Si. Kamu udah daftar kuliah umum itu nggak?”

“Udah dong!” Sesilia menjawab, memberikan senyum tipis.

“Aku kenal loh sama pematerinya” Uni berbisik pelan, nadanya serius.

“Ha, serius?” 

“Iya, dia dulu sahabat Edward dan Axel. Mereka sering main bareng.”

Wajah Sesilia berubah kaku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.

“O-oh yah??”

“Dulu mereka bertiga akrab banget. Tapi entah kenapa jadi lost contact gitu aja.”

Sesilia mencoba mengenyahkan perasaan aneh yang menggerogoti hatinya, mencoba memasang wajah normal di hadapan Uni. Mereka lalu kembali membahas hal lain, menghabiskan sisa waktu istirahat dengan baik sebelum kembali ke rutinitas sibuk seperti biasa.

… 

Tiga hari kemudian 

Aula utama Fakultas Kedokteran hari itu penuh sesak. Semua mata tertuju pada sosok wanita di atas podium. Lily Allen. Wanita itu berdiri dengan jas dokter putih yang disampirkan di bahunya, memaparkan materi bedah saraf dengan bahasa yang sangat cerdas namun tenang.

​Sesilia duduk di barisan tengah, mencatat setiap kata dengan seksama. Di matanya, sosok Lily Allen adalah wanita yang sempurna, pintar, berwibawa dan sangat cantik. Walaupun ada sedikit perasaan mengganjal di hatinya, karena sosok sempurna di depannya adalah sahabat kecil Axel.  Bukankah mereka berdua terlihat sangat serasi bersama? Malaikat jahat dalam dirinya berteriak kesenangan.

​"Ingatlah," suara Lily menggema di aula. "Di meja operasi, satu detik adalah pemisah antara hidup dan mati. Jangan pernah biarkan perasaan menguasai logika kalian."

​Sesilia terpaku, merasa kecil di hadapan wanita bernama Lily Allen itu. 

​Setelah kuliah umum selesai, suasana aula menjadi riuh. Banyak mahasiswa yang mengantre untuk sekadar berfoto atau bertanya pada pemateri cantik itu. Sesilia memutuskan untuk keluar lebih awal karena Axel sudah mengirim pesan bahwa dia sudah menunggu di parkiran depan gedung fakultas.

​Sesilia berjalan terburu-buru. Saat sampai di lobi gedung, gadis itu melihat mobil hitam besar milik tunangannya sudah terparkir. Axel berdiri bersandar di pintu mobil, tampak sangat mencolok di lingkungan kampus dengan setelan jas mahalnya.

​"X!" panggil gadis itu sambil tersenyum lebar.

​Axel menoleh, tatapan matanya melembut saat melihat belahan jiwanya. Lelaki itu baru saja akan membukakan pintu untuk Sesilia, ketika suara keributan kecil terdengar dari belakang mereka.

“Ma-maaf kak, saya tidak sengaja.” Ucap seorang mahasiswa yang menabrak wanita berdetelan modis.

“Yah, it's okay.” Jawab wanita itu pelan, kemudian berjongkok untuk memungut buku-bukunya yang berhamburan.

Sesilia bisa mengenali wanita yang sedang memungut bukunya itu sebagai Lily Allen. Sebab wanita itu punya tinggi diatas rata-rata perempuan Indonesia. Saat menoleh ke arah Axel, lelaki itu masih terpaku di depannya. Pandangan matanya tidak lepas dari sosok Lily Allen yang membelakangi mereka.

“X!!! X!! Axel Steel!!” Suara Sesilia naik satu oktaf, Axel buru-buru menoleh pada kekasihnya itu. Di saat bersamaan, Lily Allen juga menoleh ke arah mereka. Wanita itu seperti mengenali nama yang disebut Sesilia.

“Are you okey?” Sesilia bertanya pada Axel yang seperti kehilangan arah.

“Fine,” jawabnya dengan senyum dipaksakan.

“Let's go home, X. I'm so tired.”

“Of course, baby girl…” Belum selesai kalimat itu keluar dari mulut Axel, seseorang menginterupsi dari belakang.

“Excuse me..” Itu suara Lily

“What the…” Axel menjawab, wajahnya berubah dingin kala mendengar suara seseorang yang menggangu waktu berharganya. Saat menoleh kebelakang, berniat memberikan tatapan membunuh pada si pengganggu. Tiba-tiba, hening.

Axel terdiam kala melihat pengganggu itu.

Sama halnya dengan Lily Allen. Keduanya tiba-tiba mengheningkan cipta. Sedangkan Sesilia di sana, hanya menatap penasaran, tidak berniat menginterupsi.

Mungkin memang mereka sahabat baik yang telah lama berpisah, pikirnya.

“Ax-Axel…” Lily bersuara pelan, bak semilir angin yang membawa kantuk. Wajahnya menguarkan ekspresi yang sulit di tebak.

Axel disana, masih berdiri kaku. Ekspresinya sedikit melembut kala menatap wanita itu. Sesilia dapat menangkap kerutan samar di dahi lelaki itu, mulutnya juga sedikit terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi urung dikeluarkan.

Sesilia yang tidak tahan dengan suasana aneh itu, kemudian memutuskan menjadi penengah.

“Eeee guys.. Do you know each other?”

“No.” Axel menjawab cepat.

“Yes.” Lily menjawab tak kalah cepat.

“Eee, si-siapa yang ben-”

“Let's go home, mine.” Axel memutus apapun yang hendak gadis itu katakan. Kemudian memutari mobil sambil menggandeng tangan kekasihnya. Membukakan pintu mobil dan mendorongnya lembut hingga ke kursi penumpang. Tak lupa memasangkan sabuk pengaman dengan sangat lembut. 

Lalu kembali memutari mobil untuk masuk ke kursi pengemudi dan segera tancap gas, meninggalkan lingkungan fakultas dengan cepat.

Lily Allen, masih disana. Wanita itu diam. Otaknya sedang mencerna kata-kata manis yang keluar dari mulut lelaki yang dicintainya, untuk perempuan lain. Juga sikap romantis yang ditunjukkan lelaki itu.

“Mine, hah?!” Wanita itu tertawa kecil. “Shit!!” Ia kalah cepat dari bocah ingusan bernama Sesilia.

Hingga beberapa menit kemudian, Lily tetap disana. Berdiri mematung, menatap sisa asap knalpot mobil Axel yang telah hilang di balik gerbang kampus. Angin sore menerpa rambutnya, namun dinginnya tak sebanding dengan kekosongan yang baru saja menghantam dadanya. Di dalam mobil itu, Axel sedang melindungi dunianya yang baru, sementara di sini, Lily berdiri membawa puing-puing masa lalu yang belum sempat ia selesaikan.

Wanita itu tahu betul bahwa Axel sengaja berbohong dengan berkata tidak mengenalnya, dan itu justru membuat Lily semakin tertantang. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Antara cinta yang tumbuh karena waktu atau cinta yang hadir karena takdir. Kini, hanya tinggal menunggu waktu sampai benteng yang dibangun Axel runtuh, atau justru Sesilia yang akan hancur tertimpa bayang-bayang masa lalu yang kembali menagih janji.

1
merdi Yanto
pendek amat bab ini
merdi Yanto
plot twist banget bab ini👍
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!