NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VION YG BELUM TERBIASA DI TUBUH PANGERAN

"Enakan juga pakai kaos singlet terus pakai hoodie. Cckk, ini baju apaan sih? Astaga... gue udah kayak vampir zaman kuno yang kurang tidur," gerutu Vion sambil mematut dirinya di cermin besar.

Ia berdecak beberapa kali, tangannya tampak sangat sibuk dan kikuk mencoba menempelkan lapisan demi lapisan pakaian itu ke tubuhnya.

Jubah beludru ini terasa sangat berat, sumpek, dan sama sekali bukan style-nya yang biasanya hanya mengandalkan pakaian santai.

Setelah semua kain mahal itu akhirnya menempel di raga pangerannya, Vion keluar dari kamar pemandian dengan langkah gontai, sementara rambut panjangnya masih terikat asal-asalan—lebih mirip buntut kuda yang berantakan.

Bruk!

Dua pengawal berbaju zirah yang berjaga di depan pintu kamar pribadinya segera membungkukkan badan serempak saat vion melintas.

Suara denting besi mereka membuat telinga vion sedikit berdengung. Ia kembali membuang napas panjang saat mendapati sosok meiden ternyata sudah berdiri menunggunya di tengah kamar dengan raut wajah cemas.

"Kenap—"

"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia," potong meiden cepat, suaranya terdengar mendesak.

"Hamba hanya ingin membantu menata rambut Anda agar terlihat pantas. Setengah jam lagi, acara pertemuan penting di Pengadilan Istana akan segera dimulai. Para menteri dan Baginda Kaisar sudah hampir berkumpul."

Vion tertegun, matanya membelalak.

"Pengadilan? Gue... maksudku, aku harus ke sana?"

Meiden hanya mengangguk pelan sambil meraih sisir kayu cendana, wajahnya menyiratkan bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa, melainkan sidang yang bisa menentukan nasib banyak orang.

Tak bisa menolak karena tekanan waktu, Vion duduk di kursi kayu berukir tepat di depan cermin lonjong yang berdiri di sudut ruangan.

Ia isa merasakan jemari meiden yang gemetar mulai merapikan rambut panjangnya yang berantakan.

Melalui pantulan cermin, Vion tahu meiden mencuri pandang ke arahnya beberapa kali—tatapan yang penuh kerinduan sekaligus kebingungan—namun vion memilih untuk membuang muka dan mengabaikannya.

Hampir lima belas menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga akhirnya meiden memasangkan mahkota kecil berbahan emas murni, simbol keagungan putra mahkota.

Tanpa sengaja, mata mereka bertemu di pantulan kaca. Jantung vion berdesir sesaat melihat tatapan sendu itu, namun ia segera memutuskan kontak mata. Ia beranjak dari kursi dengan cepat, berdiri membelakangi meiden untuk menyembunyikan rasa kikuknya.

"Semua sudah selesai, kan?" tanyanya dengan suara dingin, tanpa mau menoleh lagi ke arah wanita yang menurut penilaian subjektifnya adalah wanita... penggoda.

Ia tidak mau terjebak dalam pesona pelayan yang punya sejarah intim dengan pemilik tubuh ini.

meiden menatap punggung vion dengan kilat kekesalan yang tertahan di matanya. Bibirnya mengerucut tipis.

"Iya, sudah selesai, Yang Mulia," jawabnya dengan nada yang sedikit ketus.

Tanpa sepatah kata pun lagi, vion melangkah lebar keluar dari kamar. Begitu pintu terbuka, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mendapati barisan pelayan wanita dan pria yang sudah menunduk hormat, siap mengawal langkahnya menuju pusat kekuasaan istana.

"Duh, beneran berasa jadi aktor drakor kolosal gue," gumamnya dalam hati sambil mencoba berjalan setegap mungkin, meski jantungnya berdegup kencang membayangkan sidang yang menanti.

"Mengesalkan!" umpat vion dalam hati.

Ia merasa risih terus dibuntuti seolah ia adalah anak kecil yang tidak tahu jalan, apalagi oleh wanita yang baru saja membuatnya salah tingkah.

Ia mendadak berhenti, lalu menoleh tajam ke arah meiden yang berdiri tepat di belakangnya.

"Kau jalan di depan," perintahnya singkat.

Seketika, suasana di koridor itu membeku. Para pelayan dan pengawal yang ada di sana serentak menatap ke arah meiden dengan mata melotot.

Dalam protokol istana, tidak pernah ada pelayan yang berjalan mendahului seorang Putra Mahkota; itu dianggap sebagai pelanggaran sopan santun yang berat.

"Yang Mulia... tapi hamba..." Kata-kata meiden terhenti saat melihat vion justru membuang muka dengan cuek, kedua tangannya dilipat di depan dada dengan gaya menantang.

"Baik, Yang Mulia," sahut meiden patuh meski hatinya dongkol.

Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada, membungkuk dalam sesuai tata krama pelayan wanita, lalu melangkah memimpin jalan dengan perasaan campur aduk.

...

Langkah vion mendadak terasa berat saat ia tiba di ambang pintu besar balairung pengadilan.

Ia menelan ludah dengan susah payah. Di hadapannya, puluhan pejabat dan bangsawan dengan pakaian dinas istana yang kaku dan megah berdiri berjajar, semuanya menatap lurus ke arah kedatangannya.

Suasana di sana begitu hening dan menekan. Di ujung ruangan yang luas itu, di atas panggung yang tinggi, duduklah raja Valerius dengan wajah berwibawa dan Permaisuri Beatrice yang tampak anggun namun dingin di kursi Kerajaan mereka.

vion merasa kakinya sedikit gemetar.

Gila, ini bukan lagi latihan teater atau ospek kampus, batinnya ngeri. Salah ngomong dikit, bisa-bisa kepala gue beneran pisah dari pundak!

"Alaric," panggilan Raja Valerius memecah keheningan, membuat vion menoleh dengan canggung. Meski telinganya masih merasa asing mendengar nama itu, ia tahu dialah yang dimaksud. "Duduklah di tempatmu."

Meiden melangkah maju dengan gerakan halus, berniat memegang lengan Sang Pangeran untuk membantunya duduk di kursi kebesaran yang terbuat dari kayu ek berukir emas.

Namun, dengan gerakan cepat yang hampir kasar, vion mengangkat tangannya, menolak bantuan Meiden secara terang-terangan.

Kejadian kecil itu seperti hantaman palu di tengah ruangan. Beberapa bangsawan dan menteri yang duduk di barisan depan saling berbisik dengan ekspresi terkejut.

Ini adalah pemandangan yang sangat tidak wajar; Pangeran Alaric yang mereka kenal biasanya selalu membiarkan Meiden berada di dekatnya, bahkan cenderung sangat bergantung pada pelayan itu.

"Beri hormat kepada Sang Agung Raja Valerius!" seru Lord Chamberlain dengan suara lantang, menghentikan gunjingan para menteri seketika.

Seketika itu juga, suasana menjadi sangat sakral. Seluruh menteri, ksatria, dan bangsawan yang hadir segera berlutut dengan satu kaki atau membungkukkan badan sedalam-dalamnya.

"Salam keselamatan bagi Baginda Raja. Semoga kemuliaan selalu menyertai takhta dan kesehatan abadi bagi penguasa Eisenhold!" ucap mereka serempak, suara mereka bergema di langit-langit balairung yang tinggi.

Mereka semua menundukkan kepala di hadapan Raja Valerius yang duduk di takhta tertinggi, pria paling berkuasa di seluruh tanah Eropa bagian utara tersebut.

vion yang baru saja duduk di kursinya hanya bisa terpaku, merasa dadanya sesak melihat pemandangan kolosal yang selama ini hanya ia lihat di layar kaca.

Raja Valerius menarik napas panjang, menegakkan punggungnya di atas takhta kebesaran yang dingin. Satu tangannya yang mengenakan cincin segel kerajaan terangkat, telapaknya menengadah ke atas, lalu melambai dengan gerakan yang sangat berwibawa namun santai.

"Bangunlah, para pelayanku yang setia," titahnya dengan suara bariton yang berat.

"Terima kasih, Baginda Raja. Semoga surga selalu memberkati langkah Anda dan menjaga kemuliaan takhta ini," sahut para menteri dan bangsawan serempak sambil bangkit berdiri, merapikan jubah kebesaran mereka yang berat.

Detik kemudian, suasana balairung yang tadinya sunyi berubah menjadi sedikit riuh oleh suara gesekan sepatu bot kulit di atas lantai marmer.

Seluruh menteri yang mengabdi untuk Kerajaan Eisenhold kini berdiri tegak dalam barisan yang rapi, menunggu titah selanjutnya.

"Terima kasih kepada kalian, para menteriku, yang telah bekerja keras demi kemakmuran rakyat di seluruh penjuru negeri," tutur Raja Valerius dengan sorot mata tajam yang menyapu seluruh ruangan.

"Aku mendengar desas-desus tentang kegelisahan di perbatasan dan masalah di pasar-pasar kota, namun laporan yang sampai ke telingaku masih terasa samar. Silakan, majulah dan laporkan apa pun yang ingin kalian sampaikan hari ini."

Vion, yang duduk di kursi pangeran tepat di sebelah kanan Raja, hanya bisa menelan ludah. Ia merasa seperti sedang menonton film kolosal dalam format 4D.

Suasana tegang ini membuatnya merasa mulas, apalagi saat melihat salah seorang menteri dengan jubah merah tua melangkah maju dengan gulungan perkamen di tangannya.

"Mampus gue," bisik vion sangat lirih, "ini beneran rapat kabinet versi nyata. Jangan sampai mereka nanya pendapat gue."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!