Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.
Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Ketika bulan dan bintang mulai muncul, langit sudah tampak gelap. Perlahan Erick menggandeng tangan Melina keluar dari museum menuju parkiran mobil.
Jalanan tidak terlalu ramai, angin malam masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Melina duduk dengan tubuh rileks, punggungnya bersandar nyaman, matanya menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
Perasaannya jauh lebih ringan dibanding beberapa bulan terakhir. Ada kelegaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Seolah beban panjang dari semester tiga akhirnya sedikit terasa lega.
"Kamu kelihatan capek," kata Erick sambil meliriknya sekilas, suaranya santai.
Melina tersenyum kecil.
"Iya. Aku hanya kecapean menjalani semester tiga. Rasanya sangat berat."
Erick tertawa pelan.
"Iya memang benar. Semester tiga gejala awal mulai pusing" jawabnya
Nada bicaranya lembut, tidak ragu, tidak canggung. Mereka sudah berdamai hari itu. Bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan sikap.
"Mel, kamu lapar?" tanya Erick lagi.
Melina sedikit merasa aneh dengan panggilan Erick. Biasanya Erick akan memanggilnya "Melina" bukan dengan panggilan "Mel"
"Kenapa bingung? Kamu tidak terbiasa dengan panggilan itu?"
"Iya, sedikit." ujarnya
"Jadi, kamu lapar?" tanya Erick lagi
Melina mengangguk
Erick menghela nafas.
"Aku tahu tempat makan sederhana, tapi enak."
Mobil berbelok ke sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan. Bangunannya tidak mencolok, hanya papan nama sederhana dengan lampu putih kekuningan. Di dalamnya ada beberapa meja plastik dan aroma nasi goreng yang menggoda.
Mereka duduk berhadapan. Erick langsung memesan dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas teh hangat. Tidak banyak basa-basi. Rasanya natural, seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal.
Saat makanan datang, Melina langsung tersenyum.
"Kelihatannya enak." ujar Melina
"Rasanya juga," kata Erick sambil mulai makan.
Melina mulai mencicipi nasi gorengnya. Udang dan cumi terasa pas, bumbunya sederhana tapi hangat. Entah kenapa, makan malam itu terasa lebih istimewa dibanding makan di tempat mahal mana pun.
"Kamu kelihatan lebih segar, Mel" ucap Erick sambil mengunyah.
Melina mendongak.
"Maksudnya?"
"Kamu lebih... ada. Beberapa bulan lalu kamu sering kelihatan banyak tekanan."
Melina terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.
"Semester tiga itu berat."
"Aku tahu," jawab Erick pelan.
"Dan aku tidak selalu ada buat kamu. Bahkan sering salah."
Melina menatapnya, tidak ada amarah di matanya.
"Yang penting kamu sadar sekarang."
Erick tersenyum tipis.
"Aku janji, aku akan lebih jaga sikap. Aku tidak mau kamu sakit lagi gara-gara aku."
Melina mengangguk. Ia tidak butuh janji panjang. Kalimat itu saja sudah cukup.
Setelah makan, Erick membayar makan malam mereka. Tidak mahal, hanya satu lembar uang merah. Berbeda dengan makan di restaurant yang bisa mengeluarkan lima puluh lembar uang merah.
...****************...
Erick dan Melina lalu kembali ke mobil. Malam semakin gelap, jalanan mulai sepi. Erick tidak langsung mengarah ke apartemen. Ia berhenti di sebuah toko bunga kecil yang masih buka.
"Tunggu sebentar," katanya sambil turun dari mobil.
Melina mengernyit bingung, tapi menunggu. Dari dalam mobil, ia melihat Erick memilih-milih bunga, berbicara singkat dengan penjaga toko. Beberapa menit kemudian, Erick kembali dengan sebuah buket tulip sederhana berwarna merah muda.
Ia membuka pintu mobil dan menyerahkannya pada Melina.
"Ini buat kamu."
Melina terdiam. Tangannya ragu menerima buket itu.
"Tulip?"
"Iya," jawab Erick santai.
"Aku memilih tulip karena indah sepertimu, Mel." ujarnya
Melina tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Makasih, Erick."
Ia memeluk buket itu pelan, mencium aroma segarnya. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Bukan karena bunganya, tapi karena perhatian yang tulus.
Mobil kembali melaju. Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di lampu merah. Jalanan depan kosong. Lampu merah memantul di kaca depan mobil, memantulkan cahaya disekitar di wajah mereka.
Melina menoleh. Erick juga menoleh pada saat yang sama. Mata mereka bertemu, tidak terburu-buru, tidak gugup. Erick mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Melina dengan lembut.
"Mel-"
Belum sempat Erick melanjutkan, Melina langsung memotong
"Iya, boleh Erick." ujarnya langsung.
Erick mendekat perlahan ke arah Melina. Hidung mereka hampir bersentuhan. Napas mereka saling terasa.
Erick mendekatkan wajahnya perlahan, memberi waktu, memberi ruang. Melina menutup jarak itu dengan gerakan kecil. Bibir mereka bertemu dalam ciuman itu.
Ciuman pertama yang terjadi tanpa paksaan. Tdak tergesa dan tidak ada tuntutan dari Erick. Ciuman itu terasa dalam dan hangat. Seolah mereka sedang menghapus semua jarak yang sempat terjadi.
Lampu merah masih menyala. Waktu berjalan pelan. Detik demi detik terasa panjang. Enam puluh detik yang terasa seperti dunia hanya milik mereka berdua.
Dua detik sebelum lampu berubah hijau, Erick melepaskan ciuman itu perlahan. Dahi mereka masih saling bersentuhan.
Lampu hijau kembali menyala. Mobil di belakang mulai bergerak. Erick kembali fokus menyetir. Melina tersenyum kecil, jantungnya masih berdetak cepat.
"Maaf Melina, aku terlalu lancang"
"Tidak. Aku kan sudah mengijinkan tadi." ujar Melina sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Selama perjalanan, Erick mulai memegang tangan Melina. Mengaitkan jari-jari mereka tanpa adanya paksaan.
...****************...
Perjalanan ke apartemen terasa tenang. Melina memeluk buket tulip di pangkuannya. Hatinya terasa lebih damai. Tekanan yang sempat mencengkeramnya selama semester tiga perlahan mengendur.
Seperti biasa, mereka lewat dari jalan belakang yang sepi. Hanya ada mobil Erick yang terparkir disitu.
"Istirahat yang cukup, Melina." ujar Erick lalu mencium punggung tangan Melina.
"Iya. Kamu juga" jawab Melina.
Ia masuk ke apartemen dengan perasaan bahagia. Baru saja ia meletakkan tas dan buket bunga di meja, ponselnya bergetar. Panggilan video masuk. Nama Bunga muncul di layar. Jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Melina refleks melihat dirinya di cermin. Liptint masih terlihat dan juga bedak tipis masih menempel diwajahnya. Baju belum diganti. Dadanya langsung terasa sesak.
Ia ragu sejenak, lalu mengangkat panggilan.
"Mel, gimana kabar kamu?" suara Bunga terdengar.
"Iya Bunga. Aku baik kok" jawab Melina, mencoba terdengar santai.
"Kamu dari mana, Mel?" tanya Bunga sambil memperhatikan wajah Melina di layar.
Melina tersenyum gugup.
"Nggak ke mana-mana. Cuma gabut. Pengen dandan."
Bunga mengernyit sedikit.
"Dandan jam segini?"
Melina tertawa kecil.
"Iseng aja."
Bunga terdiam. Ada sesuatu yang terasa familiar. Ini bukan pertama kalinya. Ingatannya kembali ke semester satu. Wajah Melina yang terlalu rapi untuk sekadar di kamar.
"Hmm" gumam Bunga.
"Ya udah deh. Aku mau nanya kabar kamu aja. Baik-baik ya Mel disana. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku." lanjut Bunga
Melina mengangguk "Iya"
Panggilan ditutup. Melina langsung mematikan ponselnya dan menghela napas panjang. Hampir saja.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap buket tulip di meja. Ia sadar dirinya ceroboh. Tapi jika ia tidak mengangkat panggilan itu, kecurigaan Bunga justru akan lebih besar.
Melina merebahkan tubuhnya perlahan. Malam itu, meski masih ada rahasia, hatinya terasa jauh lebih tenang. Ia tak menyangka akan melakukan adegan romantis itu bersama Erick. Tanpa paksaan dari Erick, memang rasanya lebih romantis.
Sesuatu tidak dapat dipaksakan jika hanya menguntungkan satu pihak, namun malam ini Melina merasa ciuman itu seperti sesuatu yang menggiurkan.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Anak orang kamu bikin nangis🥲
nikahin dulu gih pak😇