Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.
Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.
Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.
Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.
Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.
Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Perubahan itu tidak datang dengan dentuman. Ia menyusup pelan seperti debu halus yang menempel di sudut-sudut rumah, nyaris tak terlihat sampai seseorang menyadari napasnya terasa lebih berat. Yun Qi menyadarinya pada hari keempat.
Pagi itu ia bangun sedikit terlambat. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Dua puluh menit lebih lambat dari biasanya. Ia terlonjak kaget, buru-buru keluar kamar sambil mengikat rambut seadanya.
Dan mendapati Hao Yu masih ada di rumah. Pria itu duduk di meja makan, jasnya sudah dikenakan, kopi di tangannya masih mengepul. Jam tangannya menunjukkan ia seharusnya sudah berangkat lima belas menit lalu. Yun Qi berhenti di ambang pintu dapur. “Ge… bukankah biasanya sudah berangkat jam segini?”
Hao Yu mengangkat mata. Tatapannya berhenti di wajah Yun Qi yang sedikit panik, lalu turun sekilas ke rambutnya yang berantakan dan sweater tipis yang jelas belum disetrika. “Aku menunggumu,” katanya. Dua kata itu membuat Yun Qi membeku. “Menunggu?” ulangnya pelan.
“Kamu belum keluar kamar.” Nada Hao Yu tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Kupikir kamu kesiangan.” Yun Qi menelan ludah. “Gege tidak perlu menunggu saya. Saya bisa berangkat sendiri.” Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopi, lalu berdiri, mengambil tas kerjanya. “Besok jangan tidur terlalu larut,” katanya. “Sarapan dulu.” Bukan teguran. Lebih seperti… arahan. Yun Qi mengangguk kaku. “Iya.”
Ketika pintu tertutup di belakang Hao Yu, Yun Qi masih berdiri di tempatnya. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit dijelaskan bukan senang, bukan kesal, tapi sesuatu di antaranya.
Ia tidak terbiasa ditunggu.
Perhatian itu terus bertambah.Awalnya hal kecil: pesan singkat di tengah hari.
Hao Yu: Sudah makan siang?
Yun Qi: Sudah.
Hao Yu: Apa?
Yun Qi: Nasi ayam.
Hao Yu: Jangan terlalu pedas.
Yun Qi menatap layar ponselnya lama. Ia bahkan tidak menyebut pedas. Lalu panggilan dari sopir yang biasanya diam. “nona Yun, Tuan Hao Yu meminta saya menjemput Anda lebih awal hari ini.”
“Kenapa?” tanya Yun Qi bingung. “Saya tidak tahu, nana.”
Dan sore hari, Hao Yu sudah ada di rumah saat ia pulang. “gege pulang cepat,” kata Yun Qi. “Kamu juga,” jawab Hao Yu. Mereka saling menatap sejenak. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang kosong melainkan sunyi yang penuh pengamatan.
Puncaknya terjadi pada malam hujan. Yun Qi pulang lebih malam dari biasanya karena diskusi kelompok. Ketika ia masuk ke apartemen, jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Ia membuka sepatu dengan pelan, berharap tidak membangunkan siapa pun. Namun lampu ruang tamu menyala terang.
Hao Yu duduk di sofa, satu kaki disilangkan, ponsel di tangannya. Tatapannya terangkat begitu Yun Qi masuk. “Kamu pulang malam,” katanya. Yun Qi terkejut. “Gege belum tidur?”
“Kamu belum pulang,” jawabnya. Nada itu… datar, tapi ada sesuatu yang menekan di baliknya. “Ada diskusi tadi,” jelas Yun Qi sambil meletakkan tas. “Saya sudah kirim pesan.”
“Kamu bilang selesai jam delapan.”
“Iya, tapi molor.” Hao Yu berdiri. Langkahnya pelan, tapi pasti, mendekat hingga jarak mereka tinggal satu langkah. “Dengan siapa?” tanyanya. Yun Qi mengangkat kepala. “Teman sekelompok.”
“Laki-laki?” Pertanyaan itu membuat Yun Qi terdiam. “Kenapa Ge tanya begitu?” balasnya hati-hati. Hao Yu tidak menjawab langsung. Tatapannya menelusuri wajah Yun Qi bukan seperti kakak yang khawatir, melainkan seperti seseorang yang sedang mengukur sesuatu di dalam pikirannya sendiri.
“Kamu tidak perlu menjawab kalau tidak mau,” katanya akhirnya. “Aku hanya memastikan kamu aman.” Yun Qi mengangguk pelan, tapi alisnya berkerut. “Ge… saya baik-baik saja. Saya bisa jaga diri sekarang.”
“Aku tahu,” jawab Hao Yu cepat. “Aku hanya—” Ia berhenti. Hao Yu jarang berhenti di tengah kalimat. Yun Qi menunggu. Namun Hao Yu hanya menghela napas, lalu berbalik. “Pergilah tidur,” katanya. “Besok kamu kuliah pagi.”
Nada itu menutup percakapan. Yun Qi masuk kamar dengan perasaan menggantung. Di balik pintu, ia menyandarkan dahi ke kayu, mengingat sorot mata Hao Yu barusan. Itu bukan tatapan seorang kakak. Dan bukan pula tatapan seorang wali.
Hari-hari berikutnya, batas-batas itu semakin kabur. Hao Yu mulai tahu jadwal Yun Qi bukan karena Yun Qi menceritakan, melainkan karena ia menyebutnya begitu saja. “Kelasmu besok jam sepuluh, kan?”
“Kamu ada presentasi hari Kamis.”
“Ujianmu minggu depan.”
Awalnya Yun Qi mengira ia hanya mengingat dari obrolan singkat. Namun semakin lama, perasaan tidak nyaman itu tumbuh.
Suatu sore, Yun Qi memberanikan diri bertanya. “Ge,” katanya sambil menuang air minum, “kenapa Gege tahu semua jadwal saya?” Hao Yu sedang membuka laptop. Tangannya berhenti di keyboard.
“Kamu sering cerita,” jawabnya. Yun Qi menggeleng pelan. “ tapi tidak sedetail itu.” Hao Yu menutup laptop. Tatapannya tenang, tapi matanya mengeras sedikit. “Aku memperhatikan,” katanya. Kata itu jatuh berat di udara. “Memperhatikan… sampai sejauh itu?” tanya Yun Qi.
“Sebatas yang perlu.”
“Perlu untuk apa?” Hao Yu berdiri. Lagi-lagi mengurangi jarak di antara mereka. Kali ini, Yun Qi tidak mundur bukan karena berani, tapi karena kakinya terasa kaku. “Untuk memastikan kamu tidak terluka,” kata Hao Yu pelan. Yun Qi menatap wajah pria di depannya. Kerutan tipis di antara alis Hao Yu menunjukkan kelelahan atau ketegangan yang ditahan. “Saya bukan anak kecil,” ucap Yun Qi lirih.
“Aku tahu.”
“Tapi Gege memperlakukan saya seperti—”
“Seperti apa?” potong Hao Yu. Seperti milikmu, hampir saja Yun Qi mengatakan itu.
Namun kata-kata itu terlalu berbahaya untuk diucapkan. “Seperti seseorang yang tidak boleh membuat keputusan sendiri,” jawabnya akhirnya. Hao Yu terdiam lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, Yun Qi melihat keraguan jelas di wajahnya. “Aku tidak bermaksud begitu,” katanya.
“Tapi rasanya begitu.” Sunyi kembali turun. Namun kali ini sunyi itu menekan, bukan menenangkan. “Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan,” kata Hao Yu akhirnya, suaranya lebih rendah. “Kesalahan apa?”
Tatapan Hao Yu menggelap. “Meninggalkanmu sendirian.” Yun Qi terkejut. Dadanya menghangat, sekaligus perih. “Itu bukan salah Gege,” katanya pelan. “Gege punya hidup sendiri.”
Hao Yu menggeleng. “Kamu tidak tahu seperti apa rasanya melihat laporan tentangmu setiap minggu. Foto-foto. Catatan kecil. Mengetahui kamu tumbuh tanpa aku ada di sana.” Kata laporan membuat Yun Qi tersentak. “Laporan?” ulangnya.
Hao Yu terdiam. Satu detik. Dua detik. Terlambat. “Ge… maksudnya apa?” tanya Yun Qi, nadanya mulai gemetar. Hao Yu menatapnya lama, lalu berkata, “Aku memastikan kamu baik-baik saja.”
“Dengan laporan?”
“Qi—”
“Sejak kapan?” potong Yun Qi. Hao Yu menarik napas dalam. “Sejak aku pergi.” Yun Qi mundur satu langkah. Dunia di sekelilingnya terasa miring. “Jadi selama ini…” suaranya bergetar, “hidup saya diawasi?”
“Tidak seperti yang kamu bayangkan,” kata Hao Yu cepat. “Tapi tetap saja diawasi,” balas Yun Qi. Hening. Untuk pertama kalinya, jarak itu bukan hanya fisik, tapi emosional. “Kenapa Gege tidak bilang?” tanya Yun Qi lirih.
“Karena kamu akan bereaksi seperti ini.” Yun Qi tertawa kecil, getir. “Jadi Gege tahu ini salah kan.” Hao Yu menutup mata sejenak. Ketika membukanya kembali, tatapannya tajam, tapi jujur. “Aku tahu ini berlebihan,” katanya. “Tapi aku tidak menyesal.”
Kalimat itu membuat Yun Qi terdiam sepenuhnya. Tidak menyesal. “Aku melindungimu,” lanjut Hao Yu. “Dengan caraku.”
“Bagaimana kalau cara itu membuat saya sesak?” tanya Yun Qi. Hao Yu mendekat lagi, suaranya rendah. “Kalau itu harga yang harus dibayar agar kamu aman, aku akan tetap melakukannya.”
Jantung Yun Qi berdegup keras. Ada rasa takut. Tapi juga sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam. Rasa dipilih. Rasa menjadi pusat. Itu yang paling berbahaya. “Saya perlu waktu,” kata Yun Qi akhirnya. “Untuk mencerna semua ini.”
Hao Yu mengangguk. “ya.” Namun ketika Yun Qi berjalan menuju kamarnya, suara Hao Yu menghentikannya. “Qi.”
Yun Qi menoleh. “Apa pun yang kamu rasakan,” kata Hao Yu, tatapannya dalam, “ingat satu hal. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Nada itu bukan janji manis. Itu peringatan. Yun Qi masuk kamar dan mengunci pintu. Di dalam, ia duduk di ranjang, memeluk lutut. Pikirannya kacau. Ada bagian dirinya yang ingin marah, ingin lari. Tapi ada juga bagian lain bagian yang lelah sendirian yang merasa… aman.
Dan di ruang tamu, Hao Yu berdiri lama, menatap pintu kamar Yun Qi. Ia tahu. Ia sudah melewati batas. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Wang Hao Yu menyadari satu kebenaran yang tidak ingin ia akui: Perhatiannya bukan lagi perlindungan. Ia telah berubah menjadi kebutuhan. Dan Yun Qi tanpa ia sadari perlahan menjadi pusat dari seluruh kendalinya.