"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbagi dua
Langit di luar jendela rumah sakit sudah gelap sempurna, cahaya lampu neon menyinari lorong yang sepi.
Ara berdiri di depan pintu ruang kerja Dokter Jacob, jari-jarinya bergesekan pada tutup baju yang kencang di dadanya. Hatinya berdebar kencang, seolah akan melompat keluar dari dalam sana. Ara masih tidak bisa melepaskan bayangan malam kelam itu, sentuhan lembut yang tidak seharusnya terjadi.
Setelah cukup lama mengumpulkan keberanian, akhirnya Ara memberanikan diri untuk mengetuk pintu penuh kenangan pahit tersebut.
"Masuk!" suara Dokter Jacob terdengar dari dalam, tenang dan profesional seperti biasa.
Ara mendorong pintu perlahan. Dilihatnya Dokter Jacob yang sedang duduk di balik meja kerjanya, kacamata yang bertengger di atas hidung pria itu malah membuat Dokter Jacob terlihat semakin tampan. Wajah Dokter Jacob tampak serius memeriksa catatan medis ibu Ara, tidak ada jejak apa pun dari apa yang terjadi di malam itu. Seolah semuanya hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah menjadi nyata.
"Kondisi ibumu membaik dengan cepat," kata Dokter Jacob tanpa mengangkat pandangannya terlebih dahulu.
"Pemeriksaan hari ini menunjukkan kondisi jantung ibumu sudah lebih baik. Besok pagi, beliau sudah bisa pulang ke rumah. Tapi ingat, kontrol rutin setiap minggu harus tetap dilakukan." Lanjut dokter tampan itu.
Ara mengangguk, tapi pandangannya menatap ke sembarang arah. Kadang melihat lantai, kemudian beralih ke tembok, kemana saja kecuali mata Dokter Jacob. Tangan kanan Ara sesekali naik ke mulut, menahan rasa mual yang tiba-tiba datang, atau mungkin rasa ingin melarikan diri yang semakin mendesak.
Jacob akhirnya menatapnya. "Apa kau sakit, Ara? Kau terlihat pucat dan tidak fokus." tanya Dokter Jacob.
"Aku baik-baik saja, Dokter." jawab Ara dengan suara lemah, kepalanya menggeleng perlahan. Tapi denyut jantungnya yang kencang dan keringat yang muncul di keningnya tidak bisa bohong.
Dokter Jacob berdiri, berjalan mendekati Ara. Saat dokter Jacob mendekat, bau parfum yang Ara kenal begitu jelas tercium. Ara mundur perlahan, sampai punggungnya menabrak tembok. Dokter Jacob mengangkat tangan, dan Ara menutup mata tanpa sadar. Tapi yang terjadi selanjutnya bukanlah yang ada di bayangan Ara, Dokter Jacob memegang tangan Ara, jari-jarinya meraba denyut nadi di pergelangan tangannya.
Wajah Jacob tiba-tiba berubah. Matanya membelalak tajam. "Kau sedang hamil?" kata Dokter Jacob dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Ara menggeleng kuat. "Tidak, Dokter. Tidak mungkin." Suaranya mulai gemetar. "Ibu akan membunuhku jika aku sampai hamil. Aku tidak boleh hamil."
Tanpa sadar, tangan Ara turun ke perutnya yang masih rata, memukul-mukul perut itu dengan cukup keras.
"Jangan lakukan itu! Apa kau sudah gila?" Dokter Jacob melihat itu dengan marah. Dokter Jacob menangkap tangan Ara, menahannya dengan kuat.
"Katakan yang sejujurnya! Siapa ayah dari anak itu, Ara?" Nada bicara Dokter Jacob naik lebih tinggi, penuh dengan kemarahan.
Ara memberanikan diri melihat wajah dokter Jacob, matanya sudah basah oleh air mata.
"Aku bersumpah, Dokter. Hanya kau saja. Tidak ada pria lain yang pernah menyentuhku. Hanya kau." lirih Ara.
Kata-kata itu membuat tubuh Jacob menjadi lemas. Ia melepaskan tangan Ara, mundur satu langkah.
Hatinya terbagi dua, setengahnya merasa senang yang tidak bisa diungkapkan. Penantian panjangnya untuk menjadi seorang ayah akhirnya akan menjadi kenyataan. Tapi setengah yang lain merasa sedih dan khawatir, bagaimana ia akan memberitahu Yasmin, istrinya yang selalu mencintainya dan menunggu kesempatan untuk memiliki anak bersama?
Kedua orang itu berdiri dalam diam, terjebak di antara kenyataan yang pahit dan masa depan yang tidak jelas. Cahaya lampu neon masih menyinari ruangan tersebut, tapi malam kelam yang mereka coba lupakan kembali menyelimuti mereka berdua dalam kegelapan.
Bersambung.