NovelToon NovelToon
Selingkuh Terindah

Selingkuh Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.

Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun ​di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.

Pilihan yang sulit, ​Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.

Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?

Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cobaan Yang Semakin Berat

Suasana pagi ini di ruang makan nampak berbeda sejak Sisca datang. Ibu Welas nampak ceria, sarapan sambil mengobrol akrab dengan Sisca yang sedang menceritakan kehidupannya di luar negeri. Sesekali Ibu Welas memuji kehebatan Sisca yang dianggap mandiri.

Di sisi lain, nampak Setyo yang nampak murung sedang duduk di atas kursi roda. Ia menatap makanan dengan tidak berselera sambil sesekali menghela nafas dalam.

"Mas, mau aku suapi?" tanya Tasya. Ia sudah rapi dan siap berangkat kerja.

Setyo menggelengkan kepalanya. Wajahnya makin keruh. "Tanganku masih bisa kupakai, Sya, tidak cacat," jawabnya dengan ketus.

"Bukan begitu maksudku, Mas. Mungkin Mas mau-"

"Tak usah, aku bisa sendiri," tolak Setyo.

Sebenarnya Setyo tidak marah pada Tasya, ia hanya merasa rendah diri. Apa yang terjadi semalam membuatnya berpikiran buruk. Bagaimana kalau ia selamanya impoten dan tak bisa memuaskan istrinya? Kakinya juga belum sembuh. Ia merasa tak lagi menjadi kepala keluarga yang hebat dan bisa melindungi keluarganya.

Pertanyaan Tasya membuat rasa rendah diri Setyo semakin besar. Sudah tak bisa melayani dan berjalan, ia tak mau dianggap tak bisa makan sendiri.

Sayangnya, tak ada yang memahami perasaan Setyo dan arti penolakannya pada Tasya. Ibu Welas dan Sisca yang asyik mengobrol jadi diam. Mereka memperhatikan Tasya dan Setyo, menebak kalau ada pertengkaran di antara keduanya. Ibu Welas malah berpikir kalau ini celah untuk mendekatkan Setyo dengan Sisca.

"Bagaimana kalau Sisca yang suapi kamu, Yo?" Ibu Welas memberi kode pada Sisca untuk menyuapi Setyo. "Kalau sama Sisca, pasti kamu lebih lahap makannya."

Tasya hendak protes namun Setyo malah setuju dengan Ibu Welas. "Jangan banyak-banyak, Sis." Setyo tak mau terlihat lemah di mata Tasya. Dia mau tetap dianggap suami hebat, bukan suami cacat seperti saat ini. Egonya tersentil, ia mau tetap terlihat keren, meski tanpa sadar ia sudah menyakiti hati Tasya.

"Tuh kan, kalau sama Sisca pasti Setyo mau. Kalian tuh sudah dekat sejak kecil, pasti Setyo juga lebih nyaman dengan Sisca yang penyabar." Ibu Welas semakin membanggakan Sisca di depan Tasya.

"Tante, jangan begitu ah. Aku tak enak jadinya sama Mbak Tasya. Aku ini hanya ingin membantu saja, Tan." Sisca tersenyum ramah pada Tasya. "Mbak Tasya bukannya mau berangkat kerja ya? Kalau tidak segera berangkat, nanti telat loh, Mbak. Setahuku, Jakarta itu macet."

Meski terdengar ramah di telinga Ibu Welas dan Setyo, namun ucapan Sisca tidak terdengar demikian di telinga Tasya. Sikap ramahnya terlihat tidak natural dan dibuat-buat, seolah ingin menunjukkan kalau dirinya lebih perhatian dan dibutuhkan oleh Setyo dibanding Tasya.

Tasya menghela nafas dalam. Bahkan ia tak diijinkan sarapan bersama. Sebuah senyum ia paksakan seraya menatap Sisca dengan lekat. "Kamu benar, Sis. Aku harus berangkat kalau tidak mau telat."

Tasya berdiri lalu mengambil tas miliknya. Baru saja ia hendak pamit pada Setyo yang sedang asyik disuapi oleh Sisca, ponsel Setyo berbunyi. Sebuah notifikasi masuk.

"Mas, ada email masuk." Tasya memberikan ponsel pada pemiliknya.

Setyo membuka email yang masuk. Ia baru saja agak rileks saat disuapi Sisca yang mengajaknya mengobrol akrab namun ekspresi wajahnya berubah kaku setelah membaca email yang dikirimkan oleh atasannya tersebut. Kening Setyo berkerut dalam.

"Ada apa, Mas?" tanya Tasya yang begitu peka membaca perubahan ekspresi Setyo.

Setyo mengangkat wajahnya dari layar ponsel lalu menatap istrinya yang nampak cantik mengenakan pakaian kerja dengan tatapan sedih bercampur iri. "Aku dipecat, Sya. Perusahaan tak bisa menunggu sampai aku sembuh dan aku... diminta mengajukan surat resign secepatnya."

"Ya Allah, Mas, kok bisa? Bukankah Mas sudah jadi karyawan, mengapa segampang itu memecat karyawannya?" Tasya merasakan cobaan hidupnya kembali bertambah. Hutang menumpuk, biaya pengobatan Dicky terus bertambah dan kini suaminya diberhentikan kerja. Bagaimana ia harus membayar semua kebutuhan hidup mereka kelak?

"Aku juga tidak tahu, Sya. Mungkin karena kini aku cacat jadi tak ada yang membutuhkanku lagi." Setyo nampak begitu emosi. Ucapan Tasya dianggap menyudutkannya padahal Tasya tidak bermaksud begitu.

Sisca mengusap lengan Setyo dan menghiburnya dengan lembut. "Tak apa, Mas. Mungkin bukan rejeki untuk Mas Setyo bekerja di perusahaan itu. Mas Setyo itu pintar, mereka yang rugi kehilangan Mas. Pasti ada perusahaan yang sangat membutuhkan kepintaran Mas Setyo."

Setyo memalingkan wajahnya dari Tasya untuk menatap Sisca dengan lekat. "Benarkah itu, Sis? Aku ini cacat loh, Sis. Mana ada perusahaan yang mau menerima orang cacat macam aku." Mata Setyo berkaca-kaca saat mengatakannya.

"Ya kamu cacat juga karena istrimu yang bawa sial itu, Yo!" Ibu Welas ikut berkomentar pedas. Ia menatap Tasya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak susah payah ia sembunyikan. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak berkomentar karena ingin terlihat baik di depan Sisca namun ternyata ia tak kuat dan akhirnya keluarlah perkataan menyakitkan yang ia tahan. "Andai kamu tak menuruti keinginannya, pasti semua ini tak akan terjadi."

"Tante... sudahlah. Tante tak perlu menyalahkan Mbak Tasya. Tak ada yang mau semua ini terjadi." Bak seorang pahlawan, Sisca membela Tasya di depan semua orang. "Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Mas Setyo masih bisa bekerja dari rumah kok. Aku akan bantu mencari pekerjaan dari rumah. Di luar negeri, banyak kok pekerjaan remote yang gajinya bahkan lebih besar dari pekerjaan kantoran."

"Serius, Sis? Aku bisa tetap bekerja?" Setyo menatap Sisca penuh harapan.

Sisca mengangguk lalu tersenyum lebar. "Pasti bisa. Mas habiskan dulu sarapannya lalu kita coba cari pekerjaan yang cocok untuk Mas ya, nanti aku carikan yang gajinya lebih besar dari yang sekarang...."

Sisca dan Setyo nampak begitu akrab, seolah masalah pelik yang baru saja menimpa Setyo bukanlah apa-apa. Tasya yang sejak tadi berdiri mematung seakan tak ada gunanya berada di ruangan ini. Bahkan ketika Tasya pamit untuk berangkat ke kantor, tak ada seorang pun yang menanggapinya.

.

.

.

Tasya sampai di kantor dengan mata yang bengkak. Sepanjang jalan, ia terus menangis dalam diam di bus. Baru saja Tasya duduk di kursi kerjanya, ketika Radit datang menyapa dengan riangnya.

"Pagi, Sya!"

"Pagi, Pak," jawab Tasya dengan suara serak.

Baru beberapa langkah Radit melewati Tasya, ia mundur kembali. Radit menatap Tasya dengan lekat, melihat dengan jelas bengkak di mata Tasya pertanda asisten pribadinya habis menangis.

"Ikut aku yuk, Sya!" Radit masuk ke dalam ruangannya diikuti Tasya, tak banyak bicara. Ia baru berbicara setelah Tasya masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

"Ada apa?" Radit berhenti di tengah ruangan. Ia berbalik badan lalu menatap Tasya dengan penuh selidik. "Keadaan Dicky memburuk?"

Tasya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Pak."

"Kalau bukan karena Dicky, kamu menangis karena suami atau mertuamu, benar tebakanku?" tebak Radit.

Tasya mengangguk pelan. "Maaf, Pak. Seharusnya penampilanku tidak-"

"Tak apa." Radit menghela nafas dalam. "Sepertinya bukan salah satu dari mereka tapi keduanya yang membuat matamu sudah bengkak di pagi hari," tebak Radit.

"Ma-maaf, Pak. Seharusnya aku menahan diri agar tidak-"

"Kenapa kamu yang harus menahan diri, Sya? Manusia itu sudah kodratnya, kalau lapar ya makan, haus ya minum dan sedih ya menangis." Radit mengusap lengan Tasya mencoba memberikan dukungan yang ia bisa.

Tasya kembali meneteskan air mata. Jika sebelumnya air matanya hanya untuk Dicky, namun tidak kali ini. Ia merasa cobaan hidupnya semakin bertambah setiap hari. Ia ingin pergi, kabur dari semua masalah.

Radit menghapus air mata Tasya dengan sapu tangan miliknya namun air mata itu terus menetes seakan rasa sakit yang dirasakan begitu dalam. Tanpa pikir panjang, Radit lalu melakukan sesuatu yang membuat tangis Tasya berhenti mendadak, menarik Tasya dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku ya, Sya, maaf jika aku tak bisa membahagiakanmu. Andai kita bertemu lebih cepat...."

****

1
EmakKece
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Mawar Hitam
Untung sdh dapT jatah ehm jadi papi Richard gak marah..
yeni NurFitriah
Tasya bakalan banyak ketawa juga kalo jadi bagian keluarga Kusumadewa yg pada sengklek,Tasya bakal ikut sengklek apalagi kalo bergaul sama Maya🤭
Eka Marliyani
diawal nyesek diakhir lucu
yeni NurFitriah
🤣🤣ah Aq terhibur kalo udah nyeritain keluarga Kusumadewa,masih mending Radit nyuri Singkong goreng Pi...lah istri orang juga di curi Pi..😅hukum tuh anakmu Papi..
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
ibumu menolong pengobatanmu ya sudah kewajibannya sebagai orang tua dari pihak laki2 lah, apalagi kamu anaknya
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
dari sini udah tahu klo Setyo anak yg takut ma orang tua
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
benar sya,banyak halangan di hubungan rumah tangga mu,mertua yang toxic dan adanya pelakorrr.. lebih baik pergi menjauh
Mommy'ySnowy 💕
jngankn singkong org,, bini org aja radit ajak kabur..🤭🤣🤣🤣
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
Mertua Lucknut memang
Nanysetyarsi24 Nanyse24
gantian rebutin singkong goreng
Wanita Aries
gak ank gk bpk sama tengilnya🤣

huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
Dien Elvina
pasti ibunya s Setyo dan Siska bersorak gembira...pas Tasya pergi dari rmh nya 🤭
Dien Elvina
nah gitu Sya, pergilah dari rmh neraka itu ..carilah kebahagiaan mu ..tapi janganlah lupa ceraikan dulu s Setyo gendeng 🤣
Dien Elvina
wkwkwk rasain Lo Pi, singkong goreng nya d bawa kabur Radit 🤣
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣
tehNci
Hahaha....lucu banget Icad sama Radit. Keluarga yg sangat hangat. Konglomerat yg lagi rebutan singkong goreng🤣🤣🤣🤣
Irma
good job sya mingat dari rumah mertua yg seperti meraka ,urus surat ceraimu dan kembali kepelukan Radit pasti mendapatkan kebahagiaan mempunyai mertua yg baik hati dan suami penyayang seperti radit
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Apa kabar dengan keluarga Leo ya...kangen sama mereka
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
eka perwita
yess ayo cerai Tasya, mommy adel psti syok klo tau Radit jd pebinor 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!