Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapanbelas
Aku mematung, seketika napasku tiba-tiba tertahan, dan jantungku rasanya berhenti berdetak.
“Din? Dinda?” ibu menggoyang pelan lenganku, agar Aku tersadar dari mimpi aneh ini.
Aku menatap Ibu dan Ayah bergantian, masih berharap kedua orang tuaku itu hanya bercanda. Tapi yang Aku lihat hanyalah keseriusan di wajah keduanya.
“Dinda nggak marah sama Ayah ‘kan?” tanya Ayahku pelan.
Aku hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Memangnya Aku boleh marah sama Ayah? Orang yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan tidak pernah memarahiku.
Ayah menundukkan dan mengusap kasar wajahnya, “Maafkan Ayah, Ayah memang egois.” tuturnya.
Aku menggeleng cepat, Aku nggak mau kata maaf keluar dari mulut Ayah untukku. Aku hanyalah seorang anak, Aku harus patuhkan?
Tapi—
Ini semua terlalu tiba-tiba.
“Ayah?” Aku menatap pria paruh baya itu, dan kemudian menatap ibuku, “Ibu?”
Kini atensi keduanya hanya fokus padaku.
Aku menarik napas dalam-dalam, “Dinda—” tenggorokanku tercekat, Aku tidak bisa berbicara apapun, “Dinda mau masuk ke kamar.” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Tanpa menunggu jawaban kedua orang tuaku, Aku berjalan cepat menuju kamar. Kusentuh dadaku, kenapa rasanya begitu sesak?
Ceklek!
Mataku langsung menatap foto-foto Kim Taehyung di dalam kamar bergantian.
Ah Kim Taehyung, bawa Aku pergi...
Rasanya Aku ingin berteriak kencang.
Aku fikir setelah Ayah menolak lamaran Bagas, hidupku akan berjalan seperti biasanya. Tapi nyatanya? Lebih parah dari itu. Bahkan—Ayah dan manusia yang Aku tidak tahu bagaimana bentuknya sudah mengucapkan kalimat yang paling sakral!?
Aku? Aku sudah jadi istri orang?
Ah siapakah orang yang beruntung itu?
Angin kencang berhembus dari jendela membuat gorden cantikku bergoyang lincah. Karena Aku terlalu sibuk di dapur, Aku sampai lupa menutup jendela kamar.
Aku berjalan cepat hendak menutup jendela, khawatir akan turun hujan susulan.
Di sana—di salah satu balkon kamar rumah besar Ummi Lailatul, berdiri sosok yang sangat Aku kenali. Dia mengarah tepat ke arah kamarku.
“Mau apa dia?”
Dih!
Aku mendengus, dan membuang wajahku meski Aku tidak melihat dengan jelas dia melihat ke arah mana.
Blam! Aku menutup jendela.
Aku berjalan gontai menuju ranjang, harusnya Aku mengantuk karena lelah. Tapi nyatanya, setelah merebahkan diri di atas kasur, Aku tidak bisa tidur bahkan sampai subuh.
Tok! Tok! Tok!
“Dinda? Bangun! Sudah subuh—” ucap Ibu dari balik pintu. “Kim Dinda—mantan istrinya Kim Taehyung?”
Apa kata ibu? Sejak kapan Aku dan Kim Taehyung menjadi mantan?
“Dinda sudah bangun.” sahutku lesu.
Aku beranjak dari kasurku yang begitu berantakan, seberantakan hatiku saat ini. Dan Aku menyelesaikan semua ritualku dengan cepat.
Jam enam tepat Aku membuka jendela, rutinitas seperti biasa. Dan Aku melihat lagi—orang yang sama berdiri di tempat yang sama, berdiri di balkon mengarah kamarku. “Apa dia semalaman di sana? Sedang apa dia? Bersemedi kah?”
Aku mengendikkan bahu dan memilih mengabaikannya.
Manusia aneh.
Aku akan bersiap untuk pergi kerja. Ah, kemarin dan hari ini rasanya sangatlah berbeda. Apalagi semalaman Aku tidak tidur barang satu menit pun. Dan lingkaran hitam di mataku, tidak bisa disembunyikan meski sudah Aku tutupi dengan make up.
Jam tujuh kurang Aku turun dan bersiap pergi. Kunci motor sudah di tangan, hari ini Aku akan pergi sendiri. Kalau alasannya hujan, Aku hanya perlu membawa jas hujan, bukan?
Ayah langsung memelukku saat melihatku, Aku tahu Ayah pasti merasa bersalah. Tapi Aku tidak akan mengungkit hal itu lagi dan membuat Ayah semakin merasa bersalah. Aku harus tampak biasa saja, meski di dalam terasa begitu rapuh.
“Dinda berangkat ya, Yah?” ucapku, dan hendak mencium punggung tangannya.
“Sarapan dulu, Din.” sahut ibu dari arah dapur.
“Dinda pengen jajan bubur ayam di depan gang aja, Bu.” jawabku saat mendekatinya, dan sekalian akan berpamitan.
“Kamu mau naik motor?” tanya ibu saat melihat Aku membawa helm.
Aku mengangguk singkat.
“Bareng mas Aydan aja—”
Aku menggeleng cepat, “Nggak, Bu! Ayah dan orang itu sudah mengucapkan ijab kabul ‘kan? Berarti Dinda sudah jadi istri orang ‘kan? Kalau begitu Dinda mau menjaga hati suami Dinda. Benar begitu ‘kan, Yah?” tanyaku tiba-tiba, dan Ayah hanya mengerjap.
“Sudah ya, Dinda berangkat sekarang. Takut terlambat. Assalamu'alaikum?” ucapku, dan segera pergi. Aku tidak mau lagi mendengarkan kalimat-kalimat aneh yang mungkin akan keluar dari mulut ibu dan Ayah.
Ketika Aku melewati rumah Ummi Lailatul, Aku melihat mas dokter menegakkan punggungnya yang tengah bersandar di mobil saat dia melihatku. Tapi Aku langsung melengos, dan menambah kecepatan motorku menuju mamang bubur ayam.
Aku sudah benar ‘kan? Memang begitu ‘kan? Harus menjaga pandangan dari yang ganteng—ah maksudku dari yang bukan mahram.
“Pake telur nggak, Din?” tanya mamang bubur ayam.
“Seperti biasa lah, mang!” Aku menjawab tanpa menoleh, sebab tanganku sedang sibuk membalas pesan dari Aira.
Sahabatku itu menunggu laporan tentang hubunganku dengan Kim Taehyung kw! Ini masih sangat pagi Aira!? Aku sedang berpikir keras memikirkan alasan apa yang tepat kalau kami saat ini sedang tidak bersama—Apa aku bilang saja kalau Kim Taehyung kw sedang keluar kota? Ah ide yang bagus.
Aku memiringkan tubuhku saat seseorang duduk di hadapanku, khawatir orang itu kepo dan membaca pesanku dan Aira.
“Mas-nya pake telur nggak?”
“Pake.” jawab orang yang duduk di depanku. Aku langsung menoleh.
Hei!
Kenapa Kim Taehyung kw juga sarapan di sini? Bukankah Ummi Lailatul selalu masak banyak setiap pagi?
“Terima kasih.” ucapnya sopan saat mamang bubur ayam mengantarkan pesanannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, cekrek! Aku mengambil fotonya. Kuhapus pesanku sebelumnya.
‘Sedang sarapan bareng bubur ayam mamang depan gang’, send!
Terkirim.
Aku menarik kedua sudut bibirku.
Tanpa menyapanya, Aku juga makan dengan cepat karena takut terlambat. Kalau Aku terlambat, berarti itu gara-gara Aira.
Lelaki itu pun tidak menyapaku sama sekali, bahkan setelah menghabiskan makanannya dia langsung masuk ke dalam mobil.
Aku mendengus pelan.
“Ini mang—”
“Sudah di bayar pacarnya, Din.” beritahu mamang bubur ayam, membuatku melengkungkan bibirku ke bawah.
Mentang-mentang Aku dan dia makannya berdekatan langsung disangka pacaran?
Dasar!
Tapi dah lah, lumayan. Lima belas ribu masuk lagi ke dalam dompet rampingku.
\*
Hari kedua bekerja Aku semakin mahir, tidak ada lagi senior yang berwajah masam karena Aku banyak bertanya. Yang ada hanyalah, “Dinda tolong ini, Dinda tolong itu.” Oke, tidak masalah. Selagi Aku masih bisa mengerjakannya, akan Aku kerjakan. Toh, Aku di sini memang untuk bekerja.
“Dinda, kenapa tadi nggak ada di mushola?” tanya teman satu-satunya Kim Taehyung kw, dia mendatangi ruanganku.
Aku meletakkan berkas yang baru saja Aku rapikan. “Pekerjaanku baru selesai, Kak. Ini baru mau shalat dan makan.”
Lelaki itu mengangguk, “Tadi dokter Aydan pesan, setelah shalat langsung ke ruangannya.” ucapnya pelan seperti berbisik.
Aku hanya diam tidak berniat menjawab.
“Sudah ya, Kakak cuma mau menyampaikan itu aja. Kakak mau makan di cafe depan, kamu mau titip sesuatu?” tawarnya dan kembali berbicara santai.
“Nggak ada, Kak. Terima kasih.” jawabku, ‘Belum gajian soalnya.’ sambungku dalam hati.
Setelah Kak Jonie pergi, Aku pun bergegas memanfaatkan waktu istirahatku. Aku melaksanakan shalat sendiri karena sudah terlambat. Tidak ikut berjamaah seperti kemarin. Setelah shalat, Aku teringat dengan pesan kak Jonie. ‘Apa perlu Aku menuruti perintah lelaki itu? Memangnya siapa dia?’ gerutuku dalam hati.
Tapi—pasti hanya sekedar makan siang ‘kan? Makan siangnya katering ibuku ‘kan? Baiklah, Aku ke ruangannya hanyalah semata-mata ingin menghargai masakan ibuku. Bukan karena perintahnya.
Ceklek! Pintu terbuka dengan sendirinya, bahkan sebelum Aku mengetuk pintu. Aku masuk setelahnya dan duduk di sofa yang di atas mejanya sudah ada kotak katering ibu.
Sesuai tebakanku.
Dia meletakkan air minum untukku? Karena miliknya ada di dekatnya.
“Setelah makan ganti plesternya.” ucap mas dokter.
Refleks Aku menyentuh pipiku yang dibalut plester putih kecil. Aku bukan lupa menggantinya, tapi dokter ini memang tidak memberikan penggantinya.
“Hm.” jawabku singkat.
Aku dan dia makan dalam diam. Aku tahu sesekali dia melihatku, tapi Aku tidak perduli. Aku hanya perlu menghabiskan makananku dan keluar dari ruangan ini secepatnya.
“Mana plesternya?” Aku menjulurkan tangan kananku, meminta.
Dia hanya menatap tanganku, beberapa detik kemudian baru beranjak.
Aku menunggu dia mengambil plester ganti sembari berkirim pesan dengan Aira. Namun Aku tersentak saat mas dokter tiba-tiba duduk di sebelahku.
“Mau apa?” tanyaku dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Mengganti plester.”
“Biar Aku saja.”
“Nanti kamu memasangnya sembarangan.” dia mengulang ucapan ibu semalam.
Ish!
“Aku bisa sendiri! Kemarikan plesternya?”
“Itu harus dibersihkan terlebih dahulu, baru di ganti plester baru.” jawabnya lagi.
“Iya Aku tahu, berikan saja obat dan plesternya. Aku bisa sendiri!”
Dia menatapku lekat.
“Apa? Jangan lihat-lihat!” Aku memalingkan wajah, “A-aku wanita bersuami.”
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍