NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Bulanan

Saat sedang olahraga, tiba-tiba perut Naura terasa tak nyaman. Rasa nyeri datang bergulung, membuat langkahnya melambat. Ia baru ingat—hari ini jadwal tamu bulannya.

Naura segera meminta izin ke toilet. Beruntung, ia selalu membawa pembalut cadangan di dalam tasnya. Selesai mengganti, ia keluar dengan wajah meringis, menahan sakit yang semakin menusuk. Langkahnya pelan dan goyah. Di sampingnya, Lala setia menemani.

“Lo yakin nggak mau pulang?” tanya Lala cemas. Ia tahu betul, setiap datang bulan, Naura selalu kesakitan. Dulu bahkan pernah sampai pingsan.

Wajah Naura sudah pucat. Tangannya gemetar saat menahan perutnya.

“Anter gue ke UKS aja, La,” ucapnya lirih.

Sakit bulanan kali ini benar-benar menyiksanya.

Tak jauh dari area toilet, Hamka sedang berjalan bersama seorang perempuan—teman sekelas mereka. Perempuan itu tampak antusias karena diberi tugas mengambil beberapa alat peraga di lab bersama Hamka.

Namun tepat saat Hamka berbelok, ujung matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

Naura.

Wajahnya pucat. Jalannya pelan. Satu tangannya meremas perut seolah menahan sesuatu yang tak tertahankan.

Langkah Hamka langsung terhenti. Dadanya mendadak sesak.

“Naura?” panggilnya spontan.

Tanpa menunggu jawaban, Hamka berjalan setengah berlari menghampiri mereka, bahkan lupa pada tugas dan orang yang bersamanya. Perempuan itu terdiam, menatap punggung Hamka yang menjauh.

Hamka berdiri di depan Naura. “Lo kenapa?” suaranya terdengar tegang.

Naura mengangkat wajahnya perlahan. “Sakit…,” jawabnya singkat, nyaris tak bersuara.

“Datang bulan,” sela Lala cepat.

Rahang Hamka mengeras. Tanpa banyak bicara, ia langsung berdiri di sisi Naura. “UKS di mana?”

“Lewat sana,” tunjuk Lala.

Hamka menyesuaikan langkahnya dengan Naura. Tangannya refleks berada di dekat lengan Naura, siap menopang kapan saja.

“Pelan aja. Jangan dipaksa,” ucapnya rendah.

Beberapa langkah kemudian, tubuh Naura sedikit oleng.

Hamka sigap. Ia menahan lengan Naura sebelum gadis itu jatuh.

“Gue di sini,” katanya tegas namun lembut. “Pegangan.”

Naura tak membantah lagi. Dengan sisa tenaga, ia membiarkan Hamka membantunya berjalan.

Di tengah riuh lapangan olahraga, mereka bertiga melangkah menuju UKS—meninggalkan tugas, suara peluit, dan satu hal yang tak bisa disangkal Hamka: melihat Naura kesakitan seperti ini selalu membuatnya panik, lebih dari yang ingin ia akui.

Di UKS, suasana terasa lebih sunyi. Naura berbaring lemah di ranjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Wajahnya masih pucat, keringat dingin belum sepenuhnya mengering.

Hamka berdiri di samping ranjang, memperhatikan setiap gerak kecil Naura. Saat petugas UKS pergi mengambilkan obat dan air hangat, Hamka justru mengambil posisi duduk di kursi yang ada di dekat kepala ranjang.

“Ka… lo balik aja ke kelas,” ujar Naura pelan, matanya terpejam setengah. “Ntar dimarahin guru.”

Hamka melirik sekilas, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. “Emang gue denger?”

Naura membuka mata, menatapnya kesal meski lemah. “Hamka…”

“Tenang aja. Gue nggak bakal kena skors gara-gara gue ilang bentar,” balasnya ringan, tapi matanya tetap tertuju pada wajah Naura.

Lala yang berdiri di ujung ranjang hanya bisa menghela napas kecil. “Kepala batu ketemu kepala batu,” gumamnya sebelum pamit ke kelas setelah petugas UKS datang.

Hamka bangkit sebentar saat petugas menyerahkan segelas air hangat dan obat pereda nyeri. Ia menerimanya, lalu kembali duduk.

“Minum,” katanya singkat sambil menyodorkan gelas.

Naura ragu. Tangannya masih gemetar. Tanpa banyak kata, Hamka menahan gelas itu agar tak tumpah.

“Pelan,” ujarnya lagi, kali ini lebih lembut.

Setelah obatnya diminum, Naura menyandarkan kepala ke bantal. Napasnya masih berat, tapi nyerinya sedikit mereda.

“Lo pucat gini, masa gue tinggal.”

Kalimat itu membuat Naura terdiam. Ada jeda sunyi di antara mereka, hanya diisi suara kipas angin UKS yang berputar pelan.

Hamka menyilangkan tangan di dada, tetap duduk di sana.

Hamka melirik Naura yang meringkuk pelan, kedua tangannya masih sesekali menekan perut. Alisnya berkerut. Ia meraih ponsel dari saku celana, membuka layar dengan cepat.

Jarinya bergerak gesit.

“Cara meredakan sakit perut saat haid.”

Ia membaca satu per satu dengan serius, bibirnya menggumam pelan. Kompres hangat. Posisi miring. Usapan lembut searah jarum jam.

Hamka menghela napas kecil. Ponsel ia letakkan di kursi.

“Naw,” panggilnya pelan.

Naura membuka mata setengah. “Apa lagi…?”

“Gue mau nyoba sesuatu. Kalau nggak nyaman, bilang.”

Belum sempat Naura menjawab, Hamka sudah menggeser kursinya lebih dekat. Dengan ragu sesaat,lalu mantap..ia mengulurkan tangan. Telapak tangannya hangat saat menyentuh perut Naura di balik selimut, mengusap pelan seperti yang ia baca.

“HAMKA!” Naura memekik kaget, refleks hendak menepis.

“Eh..eh..sabar,” Hamka buru-buru menghentikan gerakan. “Ini kata Google. Beneran. Bukan aneh-aneh.”

Wajah Naura memerah, antara malu dan kaget. “Lo tuh… nggak ada rem!”

“Makanya gue bilang dulu,” sahut Hamka defensif, lalu melirik wajah Naura. “Sakitnya masih parah?”

Naura terdiam sejenak. Rasa nyeri yang tadi menusuk perlahan berubah jadi lebih tumpul. Hangat. Menenangkan.

“…lanjutin aja,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.

Hamka menatapnya, memastikan. Saat Naura mengangguk kecil, ia kembali mengusap dengan gerakan santai, pelan dan teratur. Kali ini tanpa bercanda.

Beberapa menit berlalu. Napas Naura mulai lebih teratur. Dahi yang tadinya berkerut perlahan mengendur.

“Gimana?” tanya Hamka rendah.

Naura memejamkan mata. “Aneh… tapi enak.”

Hamka terkekeh kecil. “Berarti Google nggak bohong.”

Ia tetap mengusap pelan, fokus, seolah dunia di luar UKS tak ada.Hanya detak waktu dan napas Naura yang kini lebih tenang.

Tanpa sadar, Naura bergeser sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman. Hamka menghentikan gerakan sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih hati-hati.

“Ka…,” panggil Naura lirih.

“Ya?”

“Makasi.”nadanya pelan

Hamka menoleh, menatap wajah Naura yang kini tampak jauh lebih tenang.

“Tidur aja,” katanya pelan. “Gue tungguin.”

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Naura benar-benar merasa sakitnya tidak sepenuhnya menguasainya,karena ada Hamka, dengan caranya yang kikuk tapi tulus.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lebih aman..meski tak akan pernah ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!