NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah membisikkan peringatan yang mencekam itu, sosok Arjuna perlahan memudar menjadi kepulan kabut hitam yang dingin, meninggalkan aroma cendana yang kuat di kamar Jelita. Suasana kamar yang tadi gelap gulita perlahan kembali diterangi cahaya sore, namun sisa-sisa aura kemarahan Arjuna masih terasa di udara.

​Dinda langsung merosot duduk di lantai, napasnya tersengal-sengal. "A-aduh... aura Mas Arjuna kalau lagi marah beneran bukan main. Aku berasa kayak lagi di dalam freezer raksasa," keluhnya sambil mengusap lengan yang merinding. "Tapi Jel, kamu dengar kan? Dia bilang 'tamu tak diundang'. Berarti malam ini bakal ada serangan?"

​Ira berjalan mendekati jendela, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. "Bukan cuma serangan biasa, Din. Ini perang harga diri di alam sana. Dan Jelita adalah pusatnya." Ia menoleh ke arah Jelita yang masih berdiri mematung. "Jel, apa kamu siap? Kamu sadar kan kalau sekarang kamu bukan cuma mahasiswi, tapi target politik alam gaib?"

​Jelita meremas liontin birunya. Kehangatan dari permata itu seolah memberinya kekuatan tambahan. "Aku tidak punya pilihan lain, Ra. Aku sudah menerima mahkota itu, dan aku tidak akan membiarkan Arjuna menghadapi mereka sendirian hanya karena mereka membenciku."

​Menjelang maghrib, suasana rumah Jelita terasa semakin asing. Bayangan pepohonan di halaman luar tampak lebih panjang dan bergerak-gerak seperti tangan yang ingin menggapai dinding rumah. Di luar gerbang rumah, sosok pria berjaket kulit yang tadi di kampus—Gama—terlihat berdiri bersandar pada tiang lampu jalan. Ia tidak bergerak sedikit pun, matanya yang tajam terus mengawasi setiap sudut jalanan yang mulai sepi. Dinda yang mengintip dari balik gorden hanya bisa menelan ludah melihat "pacar hantunya" sedang bertugas dengan sangat serius.

​Jelita menyadari bahwa setiap pintu dan jendela rumahnya kini dikelilingi oleh garis cahaya tipis berwarna keunguan—segel perlindungan yang dipasang Arjuna agar tidak ada makhluk rendah yang bisa menyusup masuk.

​Tepat saat adzan maghrib berkumandang, suara ketukan pelan terdengar di pintu depan. Namun, itu bukan ketukan manusia. Suaranya kering, seperti gesekan tulang di atas kayu keras.

​Tok... Tok... Tok...

​"Jangan dibuka!" seru Jelita saat melihat ibunya hendak berjalan menuju pintu.

​Diana mengernyit bingung. "Kenapa, Jel? Siapa tahu itu tetangga atau kurir paket?"

​"Jangan, Bu. Biar Jelita saja," ucap Jelita dengan nada tegas yang membuat ibunya terdiam. Jelita mendekati pintu, namun ia tidak membukanya. Melalui celah bawah pintu, terdengar suara desis halus seperti ular—Ssssshhhh...—diikuti kabut hitam yang berbau busuk mencoba merayap masuk. Begitu menyentuh segel ungu Arjuna, terdengar bunyi letupan listrik yang tajam, Prak!, saat kabut itu terbakar habis.

​Sebuah suara serak, parau, dan bergetar terdengar dari balik pintu, bukan bahasa manusia, melainkan geraman yang penuh kebencian. "Manusiaaa... mahkota ituuu... akan menjadiii kuburanmuuu..."

​Tiba-tiba, dari luar terdengar suara HANTAMAN KERAS, BUM!, disusul bunyi dentingan logam yang memekakkan telinga, TRANG! CIAT!. Gama sudah bergerak. Sang ksatria bayangan itu sedang menghalau "tamu" pertama yang mencoba mengganggu ketenangan rumah Jelita.

​"Siapa yang bertamu Jelita?" Tanya Diana. Jelita mulai bersikap normal agar ibunya tidak curiga.

​"Bukan siapa-siapa bu! Mungkin orang yang salah alamat, sebaiknya ibu istirahat saja." Desak Jelita dengan menuntun ibunya menuju ke dalam kamar.

​"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba jadi aneh."

​Jelita hanya menampilkan cengiran bodohnya. "Tidak apa-apa ibu! Ya sudah ibu istirahat, Jelita mau ke depan dulu ada Ira dan Dinda menginap di sini."

​Diana memicingkan mata, menatap Jelita dengan penuh selidik. Namun, karena melihat wajah putrinya yang tampak "biasa saja"—meski sebenarnya jantung Jelita berdegup kencang—Diana akhirnya luluh juga. "Ya sudah, Ibu masuk kamar. Tapi kalau ada tamu lagi, tanya yang jelas siapa orangnya. Zaman sekarang banyak orang aneh," pesan Diana sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya dengan bunyi Klik yang mantap.

​Jelita menghela napas lega. Begitu punggung ibunya menghilang, ekspresi normal Jelita langsung luruh. Ia segera berlari kembali ke ruang tamu di mana Ira dan Dinda sudah pucat pasi.

​"Jel... di luar... suaranya makin ngeri!" bisik Dinda sambil menunjuk ke arah pintu depan. Di luar, terdengar suara lengkingan panjang yang memilukan, IIIIIIIIEEEEEE!, bercampur dengan derap kaki yang sangat cepat di atas aspal dan tanah.

​Jelita mengintip dari balik gorden. Di halaman depan, pemandangan yang tersaji benar-benar di luar nalar. Kabut hitam pekat mulai mengepung. Di tengah kabut itu, terdengar bunyi "Sring! Sring!" dari pedang perak Gama yang membelah udara dengan kecepatan luar biasa.

​Gama tidak lagi berwujud mahasiswa berjaket kulit. Sosoknya kini tampak lebih besar, mengenakan baju zirah hitam legam. Setiap kali pedangnya mengenai lawan, terdengar suara jeritan melengking yang pecah seperti kaca yang dihantam palu. Ia sedang menghadapi tiga sosok bayangan tinggi kurus dengan kuku-kuku tajam yang sesekali mengeluarkan bunyi gesekan logam, Krieeet..., saat mencoba mencakar dinding rumah.

​"Gama... dia sendirian," gumam Jelita khawatir.

​"Jel, lihat! Garis ungu di pintu rumahmu mulai meredup!" teriak Ira panik. Terdengar suara derit kayu yang mulai retak, KREKKK..., saat segel Arjuna dipaksa menahan beban dari makhluk-makhluk luar tersebut.

​"Wah! Mas pacar hantuku terlihat sangat keren." Bisik Dinda sangat takjub melihat Gama. Ira langsung menyikut lengan Dinda dengan keras. "Dinda! Sempat-sempatnya kamu fangirling!"

​Gama mengayunkan pedang batunya, menciptakan gelombang kejut yang menghasilkan bunyi ledakan udara yang berat, WHUUMMM!, membuyarkan kabut busuk. Namun, musuh terus berdatangan. Suara geraman lapar mulai terdengar dari segala arah, mengepung rumah mereka.

​"Arjuna... aku butuh kamu," bisik Jelita. Ia menggenggam mawar hitam kristalnya.

​Tiba-tiba, suasana menjadi sunyi senyap sesaat—keheningan yang memekakkan telinga. Lalu, suara dentuman berat, DUARRR!, mengguncang rumah. Suhu turun drastis. Sebuah bayangan raksasa muncul dari langit-langit, menembus lantai dengan bunyi gemericik cairan hitam yang meluap. Aroma cendana seketika membungkam bau busuk luar.

​"SIAPA YANG BERANI MENGUSIK KETENANGAN ISTANAKU?!" Suara Arjuna menggelegar layaknya guntur, membuat kaca jendela bergetar hebat—Drrrttttt!—hingga hampir pecah. Ia muncul dengan wujud penuhnya, memegang keris pusaka yang berdesis mengeluarkan api ungu, Wusshhh!.

​Arjuna melirik Gama sekilas. Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan gelombang energi. Terdengar suara "ZAP!" yang kuat, membuat pedang Gama menyala lebih terang. Gama menggeram rendah, lalu kembali menebas bayangan-bayangan itu dengan suara tebasan daging yang memuaskan, Sraat! Sraat!, hingga mereka hancur menjadi abu.

​Arjuna kemudian berbalik menatap Jelita. "Kau aman, Jelita. Maafkan aku karena membiarkan sampah-sampah ini mendekat."

​"Arjuna, Ibu ada di dalam kamar! Tolong jangan biarkan mereka masuk," pinta Jelita panik.

​"Jangan khawatir. Rumah ini sekarang berada di bawah perlindunganku sepenuhnya. Tapi..." Arjuna menatap pintu yang terus dihantam dari luar—DUM! DUM! DUM!—oleh sesuatu yang jauh lebih besar. "Mereka tidak akan berhenti. Kita tidak bisa tetap di sini."

​Arjuna mengulurkan tangannya. "Ira, Dinda, tetaplah di dalam lingkaran ini." Ia menghentakkan kakinya ke lantai, menciptakan dentuman cahaya ungu yang membentuk lingkaran pelindung di sekitar mereka.

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!