"Di bawah lampu panggung, mereka adalah bintang. Di bawah cahaya bulan, mereka adalah pemburu."
Seoul, 2025. Industri K-Pop telah berubah menjadi lebih dari sekadar hiburan. Di balik gemerlap konser megah yang memenuhi stadion, sebuah dimensi kegelapan bernama The Void mulai merayap keluar, mengincar energi dari jutaan mimpi manusia.
Wonyoung (IVE), yang dikenal dunia sebagai Nation’s It-Girl, menyimpan beban berat di pundaknya. Sebagai pewaris klan Star Enchanter, setiap senyum dan gerakannya di atas panggung adalah segel sihir untuk melindungi penggemarnya. Namun, kekuatan cahayanya mulai tidak stabil sejak ancaman The Void menguat.
Di sisi lain, Sunghoon (ENHYPEN), sang Ice Prince yang dingin dan perfeksionis, bergerak dalam senyap sebagai Shadow Vanguard. Bersama timnya, ia membasmi monster dari balik bayangan panggung, memastikan tidak ada satu pun nyawa yang hilang saat musik berkumandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : The Neon Labyrinth
Pesawat jet mendarat di JFK saat matahari terbenam, menyemburkan warna oranye kemerahan yang terpantul di kaca-kaca pencakar langit Manhattan. Namun, bagi tim Hunter, pemandangan New York kali ini tidak terasa megah. Ada sesuatu yang berdenyut di balik lampu-lampu neon itu, terdapat sebuah frekuensi statis yang membuat telinga berdenging.
Begitu mereka keluar dari terminal, mereka disambut oleh lautan fotografer dan penggemar. Namun, Wonyoung menyadari sesuatu yang janggal. Senyum orang-orang di sini terasa terlalu simetris, terlalu sempurna, seolah-olah mereka adalah bagian dari sebuah iklan televisi yang diputar berulang-ulang.
"Jangan menatap langsung ke papan iklan digital," bisik Jake saat mereka memasuki limusin yang akan membawa mereka ke hotel di Times Square. Ia memegang alat pemindai yang layarnya terus memunculkan peringatan 'Visual Distortion Detected'.
"Kenapa, Jake?" tanya Leeseo sambil menatap nanar ke arah layar raksasa yang menampilkan iklan parfum.
"Layar-layar itu memancarkan pulsa subliminal," jawab Jake. "Arthur benar. The Illusionist mengendalikan kota ini melalui persepsi. Di London kita melawan kabut fisik, di sini kita melawan kabut informasi. Jika kau terlalu lama menatapnya, ingatanmu tentang siapa dirimu bisa mulai bergeser."
Wonyoung menggenggam Silver Vinyl di dalam tasnya. Piringan itu kini terasa sangat dingin, warnanya berubah menjadi abu-abu metalik yang pekat. Tulisan "MEMORIA" di permukaannya berkedip-kedip seirama dengan lampu-lampu di Times Square.
"Sunghoon-ssi, lihat itu," Wonyoung menunjuk ke sebuah layar raksasa di pusat Times Square yang seharusnya menampilkan promosi konser mereka. Namun, alih-alih video latihan mereka, layar itu menampilkan cuplikan masa lalu mereka di Training Ground Zero saat mereka masih menjadi monster yang haus darah, namun dengan narasi yang diputarbalikkan.
Layar itu menuliskan: “Apakah mereka benar-benar pahlawan? Ataukah mereka monster yang memanipulasi ingatan kalian?”
"Dia mulai menyerang reputasi kita bahkan sebelum kita naik panggung," geram Sunghoon. "Dia ingin dunia membenci kita agar perisai emosional dari fans kita hancur."
Malam itu, mereka dijadwalkan untuk melakukan sesi pemotretan promosi tepat di jantung Times Square. Madam Joo mungkin sudah tidak ada, namun manajemen baru tetap harus menjalankan jadwal profesional untuk menjaga penyamaran mereka.
Saat lampu sorot kamera mulai menyambar, kabut neon mulai turun. Bukan kabut alami seperti di London, melainkan kabut cahaya warna-warni yang keluar dari layar-layar digital.
Tiba-tiba, suara hiruk-pikuk kota menghilang. Wonyoung yang sedang berpose di depan air mancur kecil mendadak merasa dunianya berputar. Orang-orang di sekitarnya seperti staf, fotografer, bahkan member IVE lainnya lenyap dalam sekejap.
"Yujin? Leeseo?" panggil Wonyoung. Suaranya bergema di lorong beton yang tak berujung.
Pemandangan Times Square berubah menjadi ruang interogasi di markas SIGMA. Di depannya berdiri sosok yang sangat ia kenal. Dirinya sendiri versi tiga ratus tahun yang lalu, dengan mata merah menyala dan taring yang tajam.
"Kau pikir kau bisa menjadi manusia, Wonyoung-ah?" sosok itu berbicara dengan nada menghina. "Kau hanya memakai topeng. Di bawah kulit cantikmu, kau tetaplah pemangsa. Kau tidak menyelamatkan London karena kau peduli, kau hanya lapar akan pemujaan."
"Itu tidak benar!" teriak Wonyoung. Ia mencoba menarik busurnya, namun tangannya terasa berat, seolah-olah terbuat dari timah.
Di tempat lain, Sunghoon terjebak dalam ilusinya sendiri. Ia melihat dirinya kembali berada di dalam peti es, dikelilingi oleh jasad klan Shadow yang ia khianati. Sosok The Illusionistmuncul di depannya dalam wujud bayangan yang terus berubah bentuk.
"Ingatkah kau rasa dinginnya kematian, Ice Prince? Kau meninggalkan klanmu demi seorang gadis klan Star. Kau egois. Kau bukan pahlawan, kau adalah pengkhianat yang mencari penebusan palsu."
Sunghoon berlutut, kepalanya terasa seperti akan pecah. Kekuatan The Illusionist di New York bukan menyerang fisik, melainkan menyerang rasa bersalah yang paling dalam di hati mereka.
Di tengah kekacauan mental itu, sebuah denting perak terdengar. Itu adalah suara dari kalung perak yang diberikan Sunghoon kepada Wonyoung di pesawat. Kalung itu bereaksi terhadap Silver Vinylyang terjatuh di aspal Times Square.
Piringan perak itu tiba-tiba memancarkan gelombang kejut berwarna putih murni yang membelah kabut neon. Gelombang itu membawa frekuensi "MEMORIA" ingatan-ingatan tulus yang dikumpulkan dari London.
Wonyoung tersentak. Ia melihat memori saat ia memeluk Leeseo di puncak Bukhansan. Ia melihat wajah Jay yang tersenyum meski terluka demi melindungi Gaeul. Ingatan itu jauh lebih kuat dan lebih hangat daripada kebohongan yang dibisikkan oleh ilusi.
"Aku bukan pemangsa," bisik Wonyoung. "Aku adalah manusia yang memilih untuk mencintai."
Wonyoung meraih piringannya dan berlari menembus dinding ilusi. Ia menemukan Sunghoon yang masih berlutut dalam kesakitan. Tanpa ragu, Wonyoung memeluk Sunghoon dari belakang, menempelkan piringan perak itu ke dadanya.
"Sunghoon-ssi! Jangan dengarkan suaranya! Ingat detak jantungku! Itu bukan mimpi!"
Sunghoon menarik napas panjang, matanya kembali fokus. Saat mereka bersentuhan, perisai Human Sync mereka aktif kembali, lebih kuat dari sebelumnya karena kini ditenagai oleh memori nyata yang mereka bangun bersama.
Ilusi di sekitar mereka retak seperti kaca yang pecah. Times Square kembali ke wujud aslinya, namun layar-layar raksasa itu kini berkedip-kedip panik. Sosok pria jangkung dengan jas berwarna neon yang menyilaukan terlihat berdiri di atas salah satu papan iklan tertinggi. Itulah The Illusionist.
Ia tersenyum tipis, lalu menghilang menjadi butiran piksel digital.
"Kalian berhasil melewati ujian pertama," suara The Illusionist bergema di seluruh pengeras suara kota. "Tapi Madison Square Garden akan menjadi tempat di mana kalian akan melupakan nama kalian sendiri selamanya."
Wonyoung berdiri tegak, menggenggam tangan Sunghoon. "Kita tidak akan lupa. Karena kita tidak lagi membawa beban masa lalu, kita membawa memori masa depan."
Piringan perak itu kini menunjukkan sebuah simbol baru di bawah "MEMORIA": Sebuah Jaring Laba-laba yang terpotong. Perang di New York baru saja dimulai.
Persiapan konser di Madison Square Garden (MSG) terasa seperti mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam perut binatang buas. Berbeda dengan O2 Arena di London yang memiliki aura "suci" setelah dibersihkan, MSGkini telah terinfeksi sepenuhnya oleh teknologi Void dari The Illusionist.
Setiap sudut gedung telah dipasangi dengan kabel fiber optik berwarna ungu neon yang berdenyut seirama dengan detak jantung kota New York yang gelisah. Jake bekerja tanpa henti di ruang kontrol, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan.
"Wonyoung, Sunghoon, dengarkan aku," suara Jake terdengar bergetar di in-ear mereka. "The Illusionist tidak hanya menggunakan layar. Dia telah meretas sistem augmented reality (AR) penonton. Begitu mereka menyalakan ponsel untuk merekam konser, ponsel itu akan bertindak sebagai proyektor ilusi yang membuat mereka melihat monster di tempat kita berada."
Di ruang ganti, Jay sedang mengasah belatinya dengan wajah muram. "Jadi kita akan terlihat seperti iblis di mata penggemar kita sendiri? Itu cara paling efektif untuk menghancurkan perisai emosional kita."
Wonyoung menatap pantulan dirinya. Ia mengenakan kostum yang bisa berubah warna sebuah inovasi dari klan Bumi untuk membiaskan cahaya ilusi. "Jika mereka melihat monster, maka kita harus menyanyi lebih keras untuk membuktikan bahwa kita adalah manusia. Suara adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan oleh piksel digital."
Sunghoon mendekati Wonyoung, membantunya memasang pelindung pergelangan tangan. "Konser ini akan dimulai dalam sepuluh menit. Ingat, jangan biarkan cahaya neon itu masuk ke matamu. Fokus pada melodi Silver Vinyl."
Lampu MSGpadam. Gemuruh penonton terdengar memekakkan telinga, namun ada yang berbeda. Ketika para member naik ke panggung, ribuan ponsel diangkat ke udara. Melalui layar ponsel tersebut, berkat manipulasi The Illusionist, penonton tidak melihat IVE dan ENHYPEN yang cantik dan tampan.
Mereka melihat sosok-sosok mengerikan dengan kulit yang membusuk dan mata yang mengeluarkan asap hitam. Suara teriakan kagum perlahan berubah menjadi teriakan ketakutan dan kebingungan.
"Tunggu, ada apa dengan mereka?!" teriak seorang penonton di barisan depan.
The Illusionistmuncul di layar raksasa di belakang panggung, kali ini dalam wujud seorang pembawa acara berita yang karismatik. "Warga New York, lihatlah kebenaran di depan kalian! Ini adalah wujud asli dari mereka yang kalian sebut idola. Monster dari masa lalu yang datang untuk memangsa masa depan kalian!"
"Mulai lagunya sekarang!" teriak Wonyoung melalui komunikasi.
Musik dimulai. Ni-ki dan Heeseung memimpin koreografi dengan intensitas yang belum pernah mereka tunjukkan sebelumnya. Mereka bergerak begitu cepat hingga cahaya ilusi sulit untuk mengunci posisi mereka.
Wonyoung melangkah ke depan, suaranya mulai membelah frekuensi statis di ruangan itu. Namun, setiap kali ia menyanyi, The Illusionist mengirimkan gelombang balik yang membuat suaranya terdengar seperti raungan binatang di telinga penonton.
"Sial! Dia melakukanreal-time audio distortion!" Jake mengumpat di ruang kontrol. "Wonyoung! Kau harus menyentuh piringan Silver Vinyl secara fisik! Kita butuh analog signal!"
Wonyoung berlari ke tengah panggung, di mana piringan perak itu tertanam di dalam lantai kaca. Ia berlutut dan meletakkan telapak tangannya di atas piringan itu. Seketika, rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya. Ilusi-ilusi tentang masa lalunya kembali menyerang saat-saat ia merasa kesepian selama 300 tahun, rasa takutnya akan kematian.
"Kau tidak punya siapa-siapa, Wonyoung..." bisik suara The Illusionist di telinganya.
"Aku punya mereka!" Wonyoung berteriak.
Tiba-tiba, Sunghoon, Yujin, dan seluruh member lainnya membentuk lingkaran di sekitar Wonyoung. Mereka saling menggenggam tangan, menciptakan sirkuit manusia yang menghubungkan emosi mereka langsung ke piringan perak.
Sinkronisasi Memoria : ON.
Sebuah ledakan cahaya perak murni memancar dari tengah panggung. Cahaya ini bukan berasal dari lampu sorot, melainkan dari memori kolektif seluruh member. Memori tentang London, memori tentang Incheon, dan memori tentang kencan mereka di Lotte World.
Cahaya itu menyapu seluruh arena, menghancurkan jaring-jaring digital yang dipasang The Illusionist. Puluhan ribu ponsel penonton tiba-tiba mengalami restart massal. Saat layar mereka menyala kembali, ilusi itu telah sirna.
Penonton terdiam, menatap panggung dengan mata yang kini jernih. Mereka melihat para idola mereka bersimbah keringat, terengah-engah, namun tetap berdiri tegak dengan mata yang penuh kasih.
"Kami adalah manusia!" teriak Sunghoon, suaranya kini terdengar murni melalui setiap speaker. "Dan kami di sini untuk melindungi kalian dari kebohongan yang paling indah sekalipun!"
Di atas langit-langit arena, sosok The Illusionist yang asli muncul. Ia tampak seperti seorang pria kurus dengan setelan jas perak cair yang terus bergerak. Wajahnya tidak memiliki fitur tetap, terus berganti antara wajah-wajah orang yang dikenal para member.
"Berani sekali kalian menghancurkan mahakaryaku!" raung The Illusionist. Ia mengayunkan tangannya, mengubah seluruh lantai arena menjadi "Lautan Piksel" yang mencoba menelan para member ke dalam ruang digital.
Wonyoung berdiri, piringan perak di tangannya kini bersinar keemasan. "Kau tidak punya kekuatan atas kami, karena kau tidak punya memori yang nyata. Kau hanya sekadar bayangan dari data yang kau curi!"
Wonyoung melempar piringannya ke arah The Illusionist. Saat piringan itu mengenai dadanya, seluruh energi "MEMORIA" meledak keluar. Ribuan klip video nyata dari kehidupan para member berputar di udara—tawa mereka di ruang latihan, tangisan mereka saat Jay terluka, kebersamaan mereka saat makan malam.
Data palsu The Illusionist tidak bisa menahan beban emosi yang begitu berat. Tubuhnya mulai retak, mengeluarkan kode-kode digital yang rusak sebelum akhirnya hancur menjadi butiran cahaya putih.
Arena Madison Square Garden bergetar sekali lagi, lalu kembali tenang. Kabut neon di Manhattan seketika menghilang, digantikan oleh cahaya bulan yang sesungguhnya.
Wonyoung jatuh ke pelukan Sunghoon, tubuhnya gemetar karena kelelahan emosional. Penonton bersorak, namun kali ini sorakan itu adalah sorakan pengakuan. Mereka tahu sekarang bahwa pahlawan mereka bukan sekadar citra di layar, tapi manusia yang bersedia hancur demi kebenaran.
Piringan perak itu jatuh kembali ke tangan Wonyoung. Di permukaannya, sebuah ukiran baru muncul di samping "MEMORIA" dan "VERITAS" (Kebenaran).
"Dua kota terselamatkan," bisik Sunghoon. "Tapi piringan ini... dia menunjukkan tujuan selanjutnya."
Wonyoung melihat piringan itu. Titik merah berikutnya berkedip di Tokyo. "Di sana, bukan lagi memori atau jiwa yang diincar. Tapi Waktu."
New York Arc berakhir dengan kemenangan telak melawan manipulasi digital! Wonyoung dan Sunghoon berhasil membuktikan kalau kebenaran (VERITAS) lebih kuat dari ilusi manapun.
LIKE kalau kalian merinding pas Wonyoung teriak "Kami adalah manusia!" di depan MSG!
KOMEN "TOKYO DRIFT" kalau kalian siap buat petualangan melintasi waktu di Jepang!
SHARE dan SUBSCRIBE ke temen-temen kalian, jangan biarkan mereka terjebak dalam ilusi!