🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara kesadaran
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura terbangun dengan wajah meringis. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, seolah dihantam benda keras berkali-kali.
Setiap tarikan napas terasa berat, dan sensasi perih itu paling jelas terasa di bagian tubuh yang membuatnya spontan menahan gerakan.
Perlahan, ia membuka kelopak matanya.
Langit-langit kamar menyambut pandangannya lebih dulu. Cahaya pagi masuk samar dari sela jendela, membuat kepalanya sedikit pening.
Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya benar-benar kembali, dan saat itu pula ingatannya menyusul dengan brutal.
Yura menoleh ke samping kanan.
Alexa terbaring di sana, tertidur tenang. Tubuh bagian atasnya tidak tertutup pakaian, hanya diselimuti kain tebal yang mereka gunakan semalam.
Namun yang membuat Yura terdiam adalah kulit Alexa dipenuhi memar-memar kecil, tersebar di leher, bahu, lengan, hingga dada. Jejak yang terlalu jelas untuk disangkal.
Napas Yura tercekat.
Dengan gerakan kaku, ia menurunkan pandangannya ke tubuh sendiri. Selimut yang menutupi dadanya sedikit bergeser, cukup untuk membuatnya membeku. Matanya melebar, jantungnya berdetak kencang.
Semua itu benar-benar telah terjadi.
Yura kembali menoleh ke arah Alexa, kepalanya terasa penuh.
"Aku tidak ingin kau berteriak," ucap Alexa tiba-tiba dengan suara datar, matanya masih terpejam. "Semua sudah terjadi."
Ia bergerak santai, membalikkan tubuhnya hingga memunggungi Yura dengan suaranya terdengar sama sekali tidak terganggu. Ia sudah bangun duluan, hanya saja tidak ingin banyak mengeluh dan membutuhkan sedikit istirahat lagi.
"Jangan berisik. Aku masih mengantuk."
Yura mengepalkan tangannya di balik selimut. Umpatan demi umpatan tertahan di tenggorokannya. Ia ingin marah, ingin berteriak, namun tubuhnya sendiri tidak memberinya ruang untuk itu. Rasa sakit masih terlalu dominan.
Dalam benaknya, ia menyalahkan banyak hal termasuk kedua orang tuanya. Namun tetap saja, ada sesuatu dari sikap Alexa yang membuatnya semakin kesal.
"Apa Anda sudah pernah melakukannya sebelumnya," ucap Yura akhirnya dengan suaranya tertahan namun tajam, "Hingga Anda merasa ini bukan hal yang perlu saya takuti?"
Alexa terdiam sejenak sebelum menjawab, masih tanpa menoleh.
"Jangan salah paham," katanya tenang. "Aku bukan pria seperti itu. Namun setidaknya, kau tidak perlu takut. Kau tidak akan hamil."
Ucapan itu membuat Yura tersentak.
Ia menoleh cepat ke arah Alexa, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ini juga kali pertama ia mendengar pria itu berbicara tentang hal semacam itu dengan nada sedingin ini.
"Aku telah melakukan vasektomi," lanjut Alexa sebelum Yura sempat menyela. "Aku memang tidak berniat menikah ataupun memiliki anak. Hal itu juga kulakukan agar kejadian seperti ini tidak berkembang menjadi masalah besar."
Yura terdiam. Kata-kata itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan di kepalanya. Ia menatap punggung Alexa dengan perasaan campur aduk.
Namun satu pertanyaan tetap keluar dari mulutnya, lirih namun jelas.
"Bagaimana jika ternyata saya hamil?"
Alexa terdiam cukup lama. Ia lalu membalikkan tubuhnya, meluruskan posisinya, dan menatap langit-langit kamar sebelum berbicara.
"Itu tidak akan terjadi," katanya. "Namun jika pun terjadi, hanya ada dua kemungkinan."
Yura menatapnya dengan dahi berkerut.
"Itu anak orang lain," lanjut Alexa tanpa ekspresi, "Atau kau harus menggugurkannya secepat mungkin. Aku tidak ingin anak itu lahir ke dunia ini. Terlebih jika ibunya adalah kau."
Ia melirik Yura sekilas, lalu kembali memunggunginya, seolah pembicaraan itu tidak lagi penting.
"Lagian saya tidak pernah berniat memiliki anak dengan ayah seperti Anda," ucap Yura datar, meski jelas ada kekesalan di balik suaranya. "Anda memang aneh. Tapi setidaknya, Anda sudah memilih jalan yang Anda anggap benar."
Yura tidak melanjutkan, dan tidak ingin tahu lebih jauh alasan di balik sikap Alexa. Pria itu juga tidak berniat menjelaskan apa pun.
Keinginannya untuk mempercepat perceraian kembali menguat. Yura ingin segera bangkit dan menjauh dari pria di hadapannya. Namun saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa sakit yang tajam kembali menusuk.
"Aw…"
Alexa langsung terjaga. Ia bangkit dan duduk, menoleh ke arah Yura yang juga terduduk sambil memegangi selimut di dadanya agar tetap tertutup, meski kenyataannya mereka telah melihat satu sama lain tanpa sisa.
Pandangan mereka bertemu sesaat.
"Apa… ini juga pertama kali bagimu?" tanya Alexa akhirnya.
Pertanyaan itu bukan basa-basi, melainkan dorongan dari pikirannya sendiri yang menduga sejak awal telah yakini.
Yura adalah wanita yang pernah memiliki masa lalu, mungkin dengan pria lain, seperti cerita-cerita yang tak pernah ia dengar namun ia anggap ada. Dugaan itu terasa masuk akal baginya, meski tanpa bukti.
Yura tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan di sana. Tawa itu terdengar sinis, nyaris getir.
"Lebih baik Anda memikirkan cara menghilangkan noda di seprai ini," katanya dingin. Ia mengalihkan pandangan, jelas tidak berniat menjelaskan apa pun lebih jauh. "Itu hanya membuat saya semakin kesal saja."
Gumamannya yang terdengar cukup jelas untuk ditangkap Alexa.
Ada sesuatu yang bergerak pelan di dada Alexa. Rasa bersalah tiba-tiba menghujamnya berlapis-lapis, meski semua itu bukanlah kehendaknya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa apa yang terjadi di antara mereka merupakan pengalaman pertama bagi mereka berdua. Kesadaran itu menahannya dalam diam, membuatnya tertegun lebih lama dari yang ia sadari.
"Lebih baik Anda mengenakan pakaian saja," ucap Yura kemudian dengan nada kesalnya kini tidak lagi bisa disembunyikan. "Sepertinya Anda juga tidak tahu harus melakukan apapun untuk membereskan hal ini."
Tanpa menjawab, Alexa bergerak. Ia meraih pakaiannya dan mulai mengenakannya dari balik selimut. Yura sontak terkejut dan refleks menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya dengan gugup.
Alexa tidak menghiraukan sikap waspada Yura. Ia terus berpakaian, mengambil kemeja di sisi sampingnya dan mengenakannya dengan cekatan, mengancingkannya satu persatu tanpa menoleh.
"Kau tetap di sini sampai aku kembali," ucapnya singkat sambil berjalan ke arah pintu.
Tanpa menunggu jawaban, Alexa membuka pintu dan keluar, meninggalkan kamar dalam keheningan yang terasa menekan.
Yura menghela napas panjang. Kepalanya terasa semakin berat, bukan hanya oleh rasa sakit di tubuhnya, tetapi juga oleh kekacauan perasaan yang belum sempat ia cerna.
"Apa yang akan ia lakukan?" gumamnya pelan. Tatapannya tertuju ke arah pintu yang telah tertutup rapat.
Meski matanya tampak kosong, pikirannya bekerja keras. Kekhawatiran perlahan menyelinap, membayangkan kemungkinan Alexa akan menyalahkan kedua orang tuanya, atau bahkan melakukan sesuatu yang berada di luar kendalinya.
......................
Alexa melihat ke arah dapur, menduga Yeshuki dan Ranim berada di sana pagi ini. Namun baru saja ia mengenakan sandal rumah, langkahnya terhenti.
Dari arah pagar rumah, Yeshuki dan Ranim masuk dengan wajah ceria, membawa hasil ladang pagi ini. Keduanya tampak segar, seolah pagi telah memberi mereka cukup tenaga.
Alexa sontak berhenti. Pada saat yang sama, Yeshuki dan Ranim pun menyadari keberadaannya.
"Kau sudah bangun lebih dulu lagi?" tanya Yeshuki sambil tersenyum.
Alexa mengangguk pelan, meski rautnya terlihat ragu.
"Sepertinya Mama dan Papa baru dari luar," ucapnya, mencoba bersikap santai.
"Seperti biasa," jawab Yeshuki. "Kami dari ladang. Kebetulan sayuran hari ini cukup banyak. Bisa kau bawa sebagai oleh-oleh nanti."
Yeshuki berjalan mendekat bersama Ranim menuju pancuran air untuk mencuci tangan dan kaki mereka.
"Ma," ucap Alexa tiba-tiba, suaranya terdengar lebih tegas. "Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Yeshuki menoleh, lalu melirik Ranim yang ikut mendekat, keduanya tampak penasaran.
"Apa yang kau perlukan, Nak?" tanya Ranim lembut.
Alexa menarik napas sejenak sebelum berbicara.
"Aku merasa cukup nyaman dengan alas tidur di kamar kami. Apakah aku boleh membawanya?"
Yeshuki menatap Ranim dengan sorot mata penuh arti, bibirnya melengkung dalam senyum yang sulit diartikan.
"Nanti Mama siapkan yang baru saja," ujar Yeshuki.
"Tidak perlu, Ma," jawab Alexa cepat. "Aku ingin yang dari kamar kami saja."
"Itu sudah kotor," sahut Ranim, masih berusaha menolak halus.
"Tidak apa-apa, Pa," kata Alexa spontan. Baru setelah itu ia menyadari keanehan permintaannya sendiri. Ia pun segera menurunkan nada suaranya. "Maaf jika aku terdengar memaksa."
Yeshuki tertawa kecil, senyumnya semakin melebar. "Kau tidak memaksa apa pun," katanya. "Jika kau menginginkannya, bawalah. Nanti Mama bantu membereskannya."
"Tidak perlu, Ma," sahut Alexa cepat. "Biar aku dan Yura saja."
Senyum Yeshuki semakin sulit disembunyikan. Ia menatap Ranim penuh arti sebelum berkata, "Kalau begitu, lakukanlah sesuka kalian."
Alexa hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia sudah menduga bahwa kedua mertuanya memahami lebih banyak daripada yang ia inginkan.
Bagaimana mungkin tidak diketahui, ketika leher Alexa sendiri memperlihatkan bercak-bercak yang begitu jelas dan sulit disembunyikan.
ku harap rose kena karma dr perbutany sdri.trus rendra jg bs kebka mata hatiy d sukur2 sadar d bs ninggalin rose.
km dilepeh ros km menyesal tlh bersikap kejam ma yura stlh tau kebenarany ...trus km mlh pindah haluan ke yura....siap2 aj km dislepet ma alexa🤭
jadi kangen si cipit😁😁😁😁
Semangat ya otor update nya 🔥💪🥰
Apa Rose punya kelainan yg menyimpang ... seperti menyukai sesama jenis 🤔🤔 kalau itu benar sungguh menjijikan dan Rendra akan benar-benar dapat kejutan yang besar dan akan menyesal sudah menolak Yura 😩 demi seorang Rose wanita jadi"an 😅😅