NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 "Jatuh"

Pagi itu awan memang tidak bersahabat.

Langit menggantung rendah, berwarna abu-abu pucat, seperti kain basah yang belum sempat dijemur. Angin berembus dingin, membawa aroma tanah yang belum sepenuhnya tersentuh hujan, seakan langit sedang menimbang—akan turun sekarang, atau menunggu sedikit lebih lama.

Cherrin berdiri di garasi mobil mansion dengan tas ransel di punggungnya.

Seragam sekolahnya rapi, meski kancing atas tidak ia tutup sepenuhnya. Rambutnya terikat sederhana, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Ia menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun, pikirannya melayang ke banyak hal yang ingin ia hindari hari itu.

Ia harus ke sekolah.

Ia tidak boleh membuat Varla marah lagi.

Ia tidak mau membuat keributan.

Dan yang paling penting—ia tidak ingin nama nenek Serra, perempuan yang telah mengulurkan tangan saat dunia menutup pintunya, tercoreng hanya karena keberadaannya.

Pak Maman berdiri beberapa langkah darinya, menunduk di samping motor matic warna pink. Mesin motor itu berdengung pelan, asap tipis keluar dari knalpot. Motor itu bersih, terawat—hadiah ulang tahunnya yang ke enam belas dari nenek Serra.

Satu-satunya hadiah yang membuatnya merasa… dimiliki.

Cherrin merapatkan jaketnya, memeluk tubuh sendiri.

“Sama aku.”

Suara itu datang dari belakang.

Tenang.

Rendah.

Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Cherrin tersentak seolah seseorang memanggilnya dari mimpi.

Ia berbalik cepat. “Eh—Niel!”

Zivaniel berdiri beberapa langkah darinya.

Seragam sekolahnya sempurna. Jas hitam pas di tubuhnya, dasi terikat rapi, rambutnya disisir ke belakang tanpa satu helai pun yang berantakan. Wajahnya tenang seperti biasa, terlalu tenang untuk pagi yang terasa berat.

Cherrin menggeleng kencang, hampir refleks. “Nggak usah,” katanya cepat. “Aku naik motor aja. Itu juga lagi dipanasin sama Pak Maman.”

Ia menunjuk ke arah motor pink itu, seolah benda itu bisa menjadi perisai. Seolah jarak beberapa meter cukup untuk menolak kehadiran Zivaniel.

Zivaniel tidak bergerak.

Tidak berubah ekspresi.

“Sama aku,” ulangnya.

Nada yang sama.

Tidak memaksa.

Tidak membujuk.

Namun entah kenapa, justru itu yang membuat Cherrin semakin gugup.

Ia menghela napas, lalu berkata dengan suara lebih pelan, hampir mengeluh, “Kemarin aku digosipin pacaran sama kamu.”

Zivaniel mengangkat alis tipis. Isyarat kecil, nyaris tak terlihat.

“Semua perempuan satu sekolah natap aku sinis banget,” lanjut Cherrin. “Bahkan ada yang marah-marah langsung di depan aku. Katanya nggak terima ketua OSIS mereka punya pasangan.”

Ia tertawa kecil, tapi tawanya kering. Tidak benar-benar lucu.

Zivaniel menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata, “Aku nggak peduli.”

Jawaban itu jatuh begitu saja.

Tanpa emosi.

Tanpa penjelasan.

Dan sebelum Cherrin sempat membuka mulut untuk menolak lagi, tangan Zivaniel sudah meraih pergelangan tangannya.

Tidak kasar.

Namun tegas.

Cukup untuk menghentikan dunia Cherrin bergerak ke arah lain.

“Niel—!” Cherrin terperanjat, matanya melebar. “Tunggu—!”

Zivaniel tidak menjawab.

Ia hanya menarik Cherrin dengan langkah mantap menuju Lamborghini Aventador hitam yang terparkir tidak jauh dari sana. Pintu terbuka. Cherrin hampir tidak sempat berpikir ketika ia sudah duduk di kursi penumpang.

Pintu ditutup.

Suara itu terdengar terlalu final.

Cherrin menoleh tajam. “Kamu tuh—!” Ia mengomel, napasnya cepat. “Aku bilang juga apa, ini bikin tambah ribut!”

Zivaniel masuk ke kursi pengemudi, memasang sabuk pengaman. “Kamu aman.”

“Aman apanya—”

Mesin mobil menyala.

Suara rendahnya memotong omelan Cherrin.

Mobil melaju keluar dari halaman mansion.

Sepanjang jalan, Cherrin tidak berhenti bicara.

Tentang tatapan.

Tentang bisik-bisik.

Tentang bagaimana ia merasa seperti berdiri di tengah lapangan tanpa tempat bersembunyi.

Zivaniel hanya menjawab seperlunya.

“Hmm.”

“Iya.”

“Tidak penting.”

Kalimat-kalimat pendek itu membuat Cherrin semakin frustrasi.

“Kamu tuh nggak ngerti rasanya jadi aku,” katanya akhirnya, suaranya turun. “Kamu bisa berdiri tegak, orang-orang diam. Aku… aku cuma numpang hidup di rumah kalian.”

Zivaniel mengencangkan genggaman pada kemudi.

Sedikit saja.

Ia tidak menjawab.

Namun keheningan itu lebih berat dari bantahan apa pun.

Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang SMA Cendrawasih.

Seperti yang sudah Cherrin duga—pemandangan itu sudah menunggu.

Sekelompok murid perempuan berdiri di dekat gerbang. Begitu Lamborghini itu berhenti dan pintu terbuka, suara-suara kecil langsung muncul. Bisik-bisik berubah menjadi tatapan terbuka.

Cherrin turun.

Langkahnya ragu.

Ia bisa merasakan pandangan itu seperti duri di kulitnya.

Iri.

Kesal.

Marah.

Beberapa bahkan terang-terangan menggerutu.

“Serius itu cewek siapa sih…”

"Itu Cherrin!"

“Berani banget…”

“Pantas aja kemarin—”

Zivaniel turun menyusul.

Berdiri di samping Cherrin.

Sedikit lebih depan.

Tidak menyentuh.

Namun jelas—melindungi.

Ia tidak melihat ke arah mereka.

Seolah dunia hanya berisi satu titik, Cherrin.

“Lihat kan,” gumam Cherrin pelan. “Mereka pada sibuk.”

“Biarin,” jawab Zivaniel singkat.

“Niel.”

“Ya?”

Ia menoleh.

Dan pada saat itu—

Cherrin menatapnya.

Tatapan itu tidak menuntut.

Tidak meminta.

Hanya… lelah.

Dan tepat saat mata mereka bertemu—

langit akhirnya memutuskan.

Hujan turun.

Bukan gerimis.

Melainkan deras.

Seolah langit pecah.

Air menghantam aspal, payung, seragam, rambut. Suara hujan menghapus bisik-bisik, membuat semuanya kabur. Murid-murid berlarian, berteriak kecil, mencari tempat berteduh.

Waktu terasa berhenti.

Air hujan membasahi rambut Cherrin dalam hitungan detik. Poni kecil menempel di dahinya. Jaketnya mulai berat.

Zivaniel tetap berdiri.

Hujan membasahi jasnya.

Ia tidak bergerak.

Tidak memanggil.

Tidak menarik Cherrin pergi.

Hanya berdiri di sana, menatapnya, seolah dunia yang basah ini tidak ada.

Cherrin menelan ludah.

Hujan mengalir di pipinya—tidak jelas mana air, mana sesuatu yang lain.

“Niel…” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.

Zivaniel melangkah satu langkah mendekat.

Hanya satu.

Cukup untuk menutup jarak tanpa menyentuh.

“Masuk,” katanya lembut. “Nanti sakit.”

Cherrin mengangguk kecil.

Mereka berjalan berdampingan ke arah kanopi sekolah.

Langkah mereka seirama.

Lorong sekolah itu panjang.

Dindingnya berwarna krem pucat, dihiasi papan pengumuman yang penuh selebaran usang dan jadwal kegiatan yang jarang benar-benar diperhatikan. Lantai keramik masih basah oleh jejak sepatu dan air hujan yang terbawa masuk. Lampu-lampu neon di langit-langit berdengung pelan, menciptakan suara latar yang konstan—seperti denyut nadi bangunan tua itu sendiri.

Cherrin melangkah pelan.

Tas ranselnya terasa lebih berat dari biasanya, entah karena buku-buku di dalamnya atau karena semua mata yang terasa menempel di punggungnya. Sepatunya sedikit licin. Ujung solnya basah.

Ia menunduk, berusaha fokus pada langkah.

Satu.

Dua.

Dan di langkah ketiga—

kakinya terpeleset.

Bukan jatuh keras.

Bukan juga sesuatu yang dramatis.

Hanya satu detik kecil ketika keseimbangan menghilang.

Namun dunia tidak pernah membutuhkan lebih dari satu detik untuk berubah.

Cherrin tersentak, tubuhnya condong ke depan. Jantungnya melonjak, udara tercekat di tenggorokan. Otaknya berteriak satu kata yang tidak sempat keluar—

jatuh.

Namun sebelum gravitasi menyelesaikan pekerjaannya—

sebuah tangan menangkapnya.

Cepat.

Refleks.

Kuat.

Zivaniel menarik pergelangan tangannya dan mengaitkan satu lengan ke pinggang Cherrin, menghentikan tubuh itu tepat sebelum menyentuh lantai. Gerakannya begitu alami, seolah tubuhnya sudah memutuskan lebih dulu sebelum pikirannya sempat menimbang.

Cherrin terhenti.

Napasnya terputus di dada Zivaniel.

Jarak mereka—

terlalu dekat.

Waktu—

terlalu lambat.

“Whoa!!”

“OMG!!”

Seruan-seruan itu meledak di sekitar mereka, memantul di dinding lorong, bercampur dengan suara tawa, decakan kagum, dan bisik-bisik yang langsung berubah menjadi bahan cerita.

Beberapa murid berhenti berjalan.

Beberapa sengaja memperlambat langkah.

Ponsel terangkat.

Mata membesar.

Cherrin bisa merasakan semuanya—bahkan tanpa menoleh.

Ia menyadari satu hal dengan sangat jelas:

tangannya masih digenggam.

Pinggangnya masih ditahan.

Dan Zivaniel—

belum melepaskannya.

Zivaniel menunduk sedikit. “Kamu kenapa?”

Suaranya rendah. Tidak terdengar panik.

Namun cengkeraman lengannya menguat sepersekian detik—cukup untuk memastikan Cherrin benar-benar berdiri.

“A-aku…” Cherrin menelan ludah. Wajahnya memanas. “Aku kepleset.”

Zivaniel mengangguk kecil.

Ia perlahan melepas pegangan di pinggang Cherrin, lalu melepaskan pergelangan tangannya.

Gerakan itu halus.

Namun bagi Cherrin, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia sadari keberadaannya.

Ia mundur setengah langkah.

Bahunya kaku.

Wajahnya menunduk.

Di seberang lorong—

Elran berdiri diam.

Seragamnya kusut sedikit karena hujan, rambutnya basah di ujung-ujungnya. Tangannya mengepal sempurna di sisi tubuh, urat di punggung tangannya menonjol jelas.

Rahangnya mengeras.

“Sial…” gumamnya nyaris tak terdengar.

Matanya tidak lepas dari Cherrin.

Lebih tepatnya—

dari jarak yang barusan tidak ada antara Cherrin dan Zivaniel.

Ia sudah lama mengincar gadis itu.

Bukan dengan cara kasar.

Bukan dengan teriakan.

Melainkan dengan perhatian yang selalu terlambat.

Selalu setengah langkah di belakang.

Dan barusan—

ia melihat dengan matanya sendiri—

betapa mudahnya Zivaniel berada di posisi yang tidak pernah bisa ia raih.

Cherrin akhirnya berani mengangkat wajah.

Ia melihat Elran.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

Ada kemarahan di sana.

Ada kecemburuan.

Dan ada kekecewaan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Zivaniel menyadari arah pandangan Cherrin.

Ia menoleh.

Tatapannya jatuh ke Elran.

Tidak ada ekspresi.

Tidak ada tantangan.

Namun ada sesuatu di cara ia berdiri—tegap, tenang, tidak bergeser—yang membuat pesan itu jelas.

Jangan!!

Lorong itu kembali bergerak.

Langkah-langkah berlanjut.

Suara-suara mulai memudar, meski bisik-bisik tetap tertinggal di udara seperti sisa hujan yang belum mengering.

Cherrin menarik napas dalam-dalam.

“Maaf,” katanya pelan, entah pada siapa.

Zivaniel menoleh sedikit. “Tidak apa.”

Ia berjalan di samping Cherrin lagi.

Namun kali ini—

langkahnya sedikit lebih dekat.

Tidak menyentuh.

Tidak mengekang.

Hanya cukup untuk memastikan—

jika ia tersandung lagi—

ia tidak akan jatuh sendirian.

Dan di belakang mereka—

Elran masih berdiri.

Tangannya perlahan mengendur, lalu mengepal lagi.

Tatapannya gelap.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!