NovelToon NovelToon
AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Menjadi NPC / Masuk ke dalam novel / Kaya Raya
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

ongoing

Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.

Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Malam tidak pernah benar-benar gelap di kota ini. Cahaya lampu menembus jendela, memantul di dinding apartemen Wei Li, menciptakan bayangan-bayangan tipis yang bergerak pelan seiring waktu. Ia duduk di lantai ruang tengah, punggung bersandar pada sofa, lutut ditekuk, tangan melingkar di sekitarnya. Posisinya terlihat santai, tapi bahunya tegang, dan rahangnya mengeras setiap kali pikirannya melompat terlalu jauh.

Ia tidak menyalakan musik. Sunyi memberinya ruang untuk berpikir. Di hadapannya, laptop menyala. Layar penuh dengan data alur transaksi, waktu akses, pergerakan kecil yang jika dilihat sekilas tampak acak. Wei Li menatapnya lama tanpa menyentuh apa pun, seolah ingin memastikan bahwa keputusan berikutnya benar-benar datang dari kepala, bukan dari emosi.

Dia nyari pola, pikirnya. Berarti gue harus ngasih sesuatu yang kelihatan kayak pola. Wei Li mengangkat tangan, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia mendesah pelan, lalu meraih cangkir kopi di sampingnya. Kopinya sudah dingin. Ia tetap meneguknya, merasakan pahit yang menempel di lidah. Pintu terbuka pelan.

Wei Li tidak menoleh. “anda belum tidur,” suara Jae Hyun terdengar ringan, tapi langkah kakinya berhenti begitu melihat posisi Wei Li di lantai. Wei Li mengangkat bahu. “Belum ngantuk.” Jae Hyun mendekat, duduk di sofa, satu kaki menapak lantai, satu lagi disilangkan. Ia menatap layar laptop, lalu Wei Li.

“anda lagi nyiapin sesuatu?” katanya. Wei Li tersenyum kecil. “aku vlagi bikin umpan.” Jae Hyun bersandar. “Untuk?” Wei Li mengangkat pandangan. Matanya tenang, tapi fokusnya tajam. “Orang yang terlalu yakin sama kepintarannya sendiri.”

Jae Hyun mengangguk pelan. “Shen Yu An.” Wei Li menutup laptop sebentar, menepuk-nepuk penutupnya dengan ujung jari. Gerakan kecil, berirama.

“Dia ngira aku bakal main aman,” kata Wei Li. “Ngurangin gerak, nutup semua celah.” Jae Hyun menyeringai. “Dan anda nggak mau ngasih dia itu.” Wei Li membuka laptop lagi. “amu mau dia mikir aku ini ceroboh.”

Jae Hyun tertawa kecil. “Itu berbahaya nyonya.” Wei Li menoleh. “Makanya kelihatan nyata.”

Beberapa jam kemudian, Kun A Tai pulang. Ia berhenti di ambang pintu ruang tengah, memperhatikan Wei Li yang masih di lantai. Cahaya layar memantul di wajahnya, menyorot garis kelelahan yang tidak ia sembunyikan. “Kau belum istirahat,” katanya. Wei Li tidak menoleh. “Bentar lagi.”

Kun A Tai mendekat, berdiri di belakangnya. Ia tidak berbicara lagi, hanya mengamati. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya tegak, ekspresinya sulit dibaca. “Apa yang kau rencanakan?” tanyanya akhirnya. Wei Li menutup satu jendela di layar, membuka yang lain. “aku mau ngasih dia jejak.”

Kun A Tai mengernyit. “Jejakmu?” Wei Li mengangguk. “sebuah jejak palsu.” Ia berdiri, meregangkan bahu, lalu berjalan ke jendela. Tangannya menyentuh kaca dingin, jari-jarinya terbuka lebar. “Dia nggak nyari kesalahan,” lanjut Wei Li. “Dia nyari kebiasaan.”

Kun A Tai menatapnya. “Dan kau akan menciptakannya.” Wei Li berbalik. “Iya.” Ada jeda. Kun A Tai mempelajari wajah Wei Li cara rahangnya mengeras, cara matanya fokus tapi tidak liar. “Ini akan membuatmu terlihat,” katanya. Wei Li mengangguk. “aku tau.”

“Dan kau siap?” Wei Li tersenyum kecil, tanpa humor. “Kalo amu nggak siap, aku nggak bakal berdiri di sini.”

Keesokan paginya, Wei Li mengubah ritmenya. Ia keluar lebih sering. Makan di tempat yang sama dua kali. Mengunjungi satu galeri kecil di sisi kota, lalu kembali lagi dua hari kemudian. Transaksi kecil dilakukan dengan pola waktu yang mirip tidak mencolok, tapi cukup konsisten untuk diperhatikan oleh seseorang yang memang sedang mengamati. Tubuhnya ikut beradaptasi.

Wei Li berjalan dengan langkah sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah sedang terburu-buru. Ia sering mengecek ponsel, mengerutkan kening, menghela napas pelan di tempat umum gestur-gestur kecil yang terlihat alami, nyaris refleks. Di dalam, ia menghitung setiap detik. Di sebuah kafe, ia duduk dekat jendela. Tangannya melingkar di cangkir, bahunya sedikit membungkuk. Ia menatap ke luar, lalu ke ponsel, lalu ke luar lagi.

'Lihat aku' pikirnya 'aku di sini. aku bisa ditebak'. Ia merasakan kehadiran itu lagi bukan tatapan tajam, melainkan ruang kosong yang terlalu rapi. Wei Li menelan ludah, memaksa dirinya tetap santai.

Sore itu, ponselnya bergetar. Pesan dari Jae Hyun.

JH: Ada yang menggigit.

Wei Li tidak langsung membalas. Ia meneguk kopinya, berdiri, membuang gelas, lalu berjalan keluar kafe dengan langkah yang sedikit tergesa cukup untuk terlihat seperti kebiasaan baru. Baru setelah ia masuk mobil, ia mengetik balasan.

WL: Seberapa dalam?

Beberapa detik berlalu.

JH: Belum dalam. Tapi arahnya jelas.

Wei Li menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Ia menutup mata sebentar, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Oke, pikirnya. Sekarang bagian paling berbahaya. Malam itu, apartemen terasa berbeda.

Wei Li berdiri di dapur, memotong buah dengan gerakan pelan. Pisau naik turun, teratur. Tangannya stabil, tapi bahunya tegang. Ia mendengar langkah kaki Kun A Tai mendekat. “Dia mulai mengikuti pola itu,” kata Kun A Tai. Wei Li mengangguk tanpa menoleh. “Berarti dia percaya.”

Kun A Tai berhenti di belakangnya. “Atau ia sedang menunggu.” Wei Li meletakkan pisau, menyeka tangannya dengan lap. Ia berbalik, menyandarkan pinggul ke meja dapur. “aku tau risiko ini,” katanya. “Makanya gue bikin polanya setengah-setengah.”

Kun A Tai menyipitkan mata. “Jelaskan.” Wei Li mengangkat satu bahu. “Cukup konsisten buat kelihatan nyata, tapi cukup aneh buat bikin dia ragu di saat terakhir.” Kun A Tai menatapnya lama. “Kau memainkan psikologi.”

Wei Li tersenyum tipis. “aku belajar dari yang terbaik.” Ada keheningan. Lampu dapur memantul di permukaan meja, menciptakan kilau dingin. “Kalau dia bergerak lebih jauh,” kata Kun A Tai, “aku akan menghentikannya.” Wei Li menggeleng. “Belum.” Kun A Tai mengangkat alis. “Wei Li—”

“Belum,” ulang Wei Li, lebih tegas. Tangannya mengepal, lalu terbuka lagi. “aku butuh dia percaya penuh dulu.” Kun A Tai menatapnya, wajahnya serius. “Dan jika itu membahayakanmu?” Wei Li mengangkat pandangan. “Makanya lo ada di sini.”

Jawaban itu membuat Kun A Tai terdiam. Beberapa hari berlalu. Jejak palsu bekerja. Shen Yu An mulai mengarahkan perhatiannya ke titik yang Wei Li siapkan sebuah cabang kecil, satu orang yang terlihat kurang penting, satu kebiasaan yang tampak seperti celah. Semua terlihat cukup masuk akal untuk dikejar.

Dan Wei Li merasakan tekanannya. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Setiap kali ia sendirian di ruang publik, bahunya menegang. Tangannya sering tanpa sadar mengusap lengan sendiri, seolah mencari pegangan. Tapi ia tidak berhenti. Di malam keempat, Jae Hyun menelepon. “Dia bergerak,” katanya tanpa basa-basi.

Wei Li berdiri dari tempat tidurnya. “Ke mana?” “Ke umpan,” jawab Jae Hyun. “Bukan ke anda.”

Wei Li memejamkan mata. Napasnya keluar pelan. “Bagus,” gumamnya. Ia berjalan ke jendela, menatap kota yang berkilau di bawah. Tangannya bertumpu di kusen, jari-jarinya menekan kuat. edikit lagi, pikirnya. Jangan goyah. Di belakangnya, Kun A Tai berdiri diam, memperhatikan siluet Wei Li di depan cahaya kota. “Kau tidak gentar,” katanya.

Wei Li tertawa pelan. “Gentar sih. Tapi aku nggak berhenti.” Kun A Tai mendekat satu langkah. “Itu perbedaan besar.”

Wei Li menoleh. “Iya.” Di kejauhan, Shen Yu An sedang membaca pola yang salah. Mengikuti jejak yang sengaja ditinggalkan. Meyakinkan dirinya bahwa ia sudah memahami permainan. Dan Wei Li tahu saat seseorang terlalu yakin, saat itulah mereka paling rapuh. Ia menghela napas panjang, bahunya turun sedikit.

1
Midah Zaenudien
bgus sih cuma si wenli ini kurg bar2 terkesan ragu dn entahlah RS x stuk d tempat
Midah Zaenudien
boleh GK alur x GK muter2 dn peran sin Wen li ini lebih bar2 rasa x geram benar dlm mengmbil keputusan bnyk yg bikin kesal
BONBON
ceritanya sejauh ini bagus tetapi bahasanya belibet kek baca nopel terjemahan. rasa baca cerita AI juga😭, mungkin bisa diedit bahasanya...
Parno Pino
masih aman tapi...
Parno Pino
baru mulai baca
Parno Pino
seruu
Queen AL
nama sudah ke china-chinaan, eh malah keluar bahasa gue. tiba down baca novelnya
@fjr_nfs: maaf ya, terimakasih untuk masukannya
total 1 replies
@fjr_nfs
/Determined/
@fjr_nfs
/Kiss/
Milkysoft_AiQ Chhi
uhuyy Mangat slalu🤓💪
@fjr_nfs: /Determined/
total 1 replies
Jhulie
semangat kak
@fjr_nfs
jangan lupa tinggalkan like dan komennya yaa ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!