Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 (Part 1) Persiapan pertunangan dan Terkuburnya Kontrak.
Perjalanan kembali dari Surabaya terasa berbeda.
Jika saat berangkat mereka dipisahkan oleh ketegangan dan tujuan yang jelas, mereka, Marisa dan Dalend berbagi keheningan yang nyaman.
Genggaman tangan Dalend saat mereka berjalan menuju bus antarkota di Surabaya tidak dilepaskan hingga mereka duduk bersebelahan. Sentuhan itu tidak lagi terasa sebagai akting atau godaan, melainkan koneksi yang alami. sangat mendebarkan hati. kehangatan menjalar.
Marisa tidak memprotes. $100 juta sudah di tangannya, ibunya aman, dan ia akan kembali ke kampung halaman dalam dua minggu. Namun, semakin dekat ia dengan batas waktu perpisahan, semakin berat rasanya. Ia sadar, hoodie Dalend, aroma mint-nya, dan mata sipit yang penuh kejujuran kini telah menggantikan kenangan pahit tentang Bara. Mantan calon suaminya. ia akan segera melupakan Bara.
.
Mereka tiba di Jakarta larut malam. Dalend langsung memesan taksi daring melalui aplikasi, memastikan tidak menggunakan koneksi keluarga.
"Kita langsung ke apartemen," kata Dalend. "Besok pagi, kita akan diserbu Mama. Dia pasti sudah merencanakan perangkap pertunangan yang mewah." menghela nafasnya.
Setibanya di apartemen, Marisa segera menuju kamar utama. Dalend, sesuai janjinya, menuju kamar tamu. "Selamat malam, Tunangan," Dalend berujar saat Marisa menutup pintu. ia tersenyum melihat pintu yang telah tertutup itu. sungguh ada getaran didalam hatinya.
"Malam, Dalend " balas Marisa dibalik pintu, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Namun, sebelum Marisa bisa memejamkan mata, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
"Halo?"
"Marisa Sartika Asih," suara Nyonya Elvira Angkasa terdengar dingin dan berwibawa di ujung telepon. "Saya ingin bicara.Datang ke rumah saya besok pagi pukul 09.00. Saya akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu.Dan pastikan kamu datang sendirian."
Marisa menelan ludah. Ini adalah tantangan yang tidak bisa ia hindari.
"Baik, Nyonya Elvira. Saya akan datang," jawab Marisa, memasang kembali ketenangan yang ia pelajari.
Ia segera keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar tamu. Dalend, yang sudah bersiap tidur, membuka pintu.
"Ada apa?" setelah membuka pintu.
"Mama lo telpon. Dia minta gue datang ke rumah besok pagi, jam sembilan. Sendirian," lapor Marisa, wajahnya tegang.
Dalend tersenyum dingin. "Of course. Dia akan mencoba merayu atau menakut-nakuti Lo. Itu ciri khas Mama. Dia bakal nawarin uang yang lebih besar untuk membatalkan pertunangan. "
"Apa yang harus gue lakukan?"
"Jangan terima uangnya, berapa pun jumlahnya. Dan jangan takut. Lo adalah pemenang. Ingat, Lo enggak butuh Angkasa Raya. Mama gue menghargai kekuatan. Kalau Lo menolak, dia akan makin terpojok. Bilang aja, 'Maaf, Nyonya. Saya akan menikah dengan Dalend bukan karena uang, tapi karena cinta.' Klise, tapi itu akan membuatnya muak," jelas Dalend.
"Gue enggak akan bilang cinta," Marisa memprotes. "Gue akan bilang ini adalah kesepakatan dan gue tidak akan mengingkari janji gue pada Dalend."
"Fine. Terserah. Tapi intinya jangan mundur," Dalend memandang Marisa lurus-lurus. "Gue akan tunggu kabar dari Lo di sini. Kalau Lo butuh bantuan, call me. Dan Marisa, don't wear the cheap clothes. Pakai salah satu gaun yang kita beli kemarin. Tunjukkan pada Mama bahwa Dalend tidak memilih sembarang orang."
...
Keesokan paginya, Marisa dijemput oleh mobil mewah, bukan dari jasa taksi daring, melainkan milik keluarga Angkasa Raya. Ia mengenakan dress modern berwarna hijau zamrud yang ia beli saat transformasi kemarin, yang menonjolkan kulitnya. Ia melangkah keluar dari mobil di estate megah itu, siap menghadapi Nyonya Elvira.
Nyonya Elvira sudah menunggu di ruang tamu yang lebih kecil, yang terasa lebih dingin dan formal daripada ruang kerja Tuan Wijaya. Di sebelahnya duduk Aurelia.
"Duduk, Marisa," kata Nyonya Elvira, tanpa basa-basi. Marisa duduk tegak, membiarkan tatapan meremehkan dari kedua wanita itu menyapu dirinya.
"Langsung ke intinya. Saya sudah tahu bahwa kamu baru saja menerima sejumlah uang yang sangat besar dari Dalend," Nyonya Elvira membuka kartu. "Lima puluh juta rupiah, kan?"
Marisa terkejut. Bima benar-benar mata-mata yang hebat. "Benar, Nyonya," Marisa mengakui, tenang. "Itu adalah pinjaman yang akan saya kembalikan setelah saya mendapatkan pekerjaan tetap di Jakarta."
Aurelia tersenyum sinis. "Pinjaman? Atau harga untuk pura-pura jadi kekasih Dalend,"
"Nona Aurelia, Anda tidak memiliki hak untuk menanyakan transaksi pribadi antara tunangan saya dan saya," balas Marisa, meniru nada bicara Dalend yang angkuh.
Nyonya Elvira mengeluarkan sebuah map tebal. " jangan banyak alasan. Saya menawarkan Anda tawaran yang jauh lebih baik. Ini adalah cek senilai dua ratus juta rupiah." Meletakkan cek itu di meja marmer di antara mereka. Angkasa itu tampak luar biasa bagi Marisa-empat kali lipat dari fee yang ia dapatkan.
"Ambil cek ini. Batalkan pertunangan. Bilang sama Dalend, kamu sadar bahwa dunia kamu terlalu berbeda. Dengan uang ini, kamu bisa membuka usaha kecil. Setelah itu, kamu menghilang dari Jakarta. Dalend bakal kesal, tapi dia akan kembali ke London dan menikahi Aurelia dalam waktu setahun. Ini win-win solution untuk semua orang."
Marisa menatap cek itu. Dua ratus juta. Ini adalah godaan yang paling kuat. Ia bisa mendapatkan kebebasan penuh dan jaminan masa depan bagi ibunya.
Namun, ia teringat wajah Dalend di gerbong kereta, saat ia tersenyum tulus setelah mendengar kisah hidupnya, dan saat ia memberinya hoodie hangat. Ia teringat janji Dalend: Gue akan bayar Lo lima puluh juta lagi, untuk dua minggu tetap jadi kekasih gue. Dalend menaruh kepercayaan pada Marisa, dan Marisa tidak bisa mengkhianati kepercayaan itu demi uang.
Ia mendorong cek itu kembali ke Nyonya Elvira. "Maaf, Nyonya Elvira," kata Marisa, suaranya mantap. "Saya tidak akan mengambil uang Anda."
Nyonya Elvira tercengang. Aurelia tampak shock. "Kenapa? Kamu sudah mendapatkan uang dari Dalend. Ambil ini, dan Anda bebas!" Tuntut Nyonya Elvira.
"Saya memang membutuhkan uang itu," Marisa mengakui. "Tapi, saya tidak menjual diri saya. Saya sudah berjanji pada Dalend bahwa saya akan menemaninya. Saya percaya pada janji. Jika saya mengambil uang Anda, saya tidak hanya mengkhianati Dalend, tapi saya mengkhianati harga diri saya sendiri."
Marisa berdiri. Ia menatap Nyonya Elvira dan Aurelua dengan pandangan yang sama lurusnya.
"saya tidak akan mengambil uang Anda. Uang itu tidak sebanding dengan janji saya pada Dalend."
Ia membungkuk sedikit, menunjukkan kesopanan yang tidak terduga. "Selamat pagi, Nyonya. Saya akan kembali untuk urusan pertunangan, bukan untuk urusan uang. "
Marisa meninggalkan ruangan. Ia tidak meminta mobil untuk mengantarnya. Ia berjalan keluar dari gerbang estate Angkasa Raya, memesan taksi daring, dan kembali ke apartemen Dalend, jantungnya berdebar kencang karena kemenangan yang manis.
...