Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kecewa
Bab 21
Kecewa
Lyra menerima syarat yang diberikan Dika, yaitu menikah secara siri. Wanita itu tahu bahwa mengurus proses pernikahan sesuai prosedur resmi tidaklah cepat, karena ia sendiri telah mengalaminya sebelumnya.
Namun ajakan menikah dengan rentang waktu satu minggu itu menjadi bumerang untuk Dika.
Bagaimana Lyra bisa tahu aku sudah menikah dan masih beristri?
Pertanyaan itu terus berputar dalam benak Dika hari itu. Dan menambah sakit kepalanya karena harus memikirkan, bagaimana caranya ia bisa melakukan pernikahan siri dalam satu minggu ke depan, sedangkan ia sama sekali belum memberitahukan hubungannya itu kepada ibunya. Tidak mungkin pernikahan itu tidak di hadiri ibunya karena ia juga telah berbohong, kalau keluarga telah merestui hubungan mereka. Satu-satunya cara adalah mengabari ibunya sekarang. Dan meminta untuk mendampingi pada hari pernikahannya nanti.
Dika mengambil kunci mobilnya, ia bersiap hendak pergi mencari tempat untuk berdiskusi tanpa sepengetahuan Lyra.
"Mas, mau kemana?"
Namun langkahnya terhenti sesaat ketika Lyra keluar kamar dan mendapatinya bersiap hendak pergi.
"Mau beli makanan buat kita makan siang nanti. Kamu tunggu di rumah saja ya."
Untungnya kebohongan yang sudah sering di lakukan tidak lagi membuat Dika canggung dan gugup menghadapi situasi. Tanpa menunggu tanggapan dari Lyra, Dika pun melangkah pergi.
Deru mesin mobil kian menjauh ketika Lyra sudah menutup pintu rumah. Entah mengapa, meski pernikahannya sudah di depan mata, ia masih merasakan keraguan di dalam hatinya. Takut jalan yang ia pilih ini adalah sebuah kesalahan.
-
-
-
Triiing...! Triiing...! Triiing...!
"Bu, ada telepon."
Iqbal memberikan handphone ibunya yang berdering di dekatnya saat ibunya sedang berada di dapur. Hari itu ia pulang ke rumah sebentar untuk mencari berkas kerja yang ketinggalan.
"Abang mu? Tumben menelpon jam segini?" Tanya Marina yang di tanggapi Iqbal dengan mengangkat bahu.
"Halo, Assalamualaikum Dik."
"Wa'alaikumsalam, Bu..."
Suara Dika di seberang sana terdengar jelas di telinga Iqbal karena ibunya menerima panggilan dengan di loudspeaker kan, kebiasaan orang tuanya jika sedang menelpon.
"Kamu tumben menelepon Ibu di jam kerja?"
"Aku..., ada hal penting yang ingin aku katakan pada Ibu."
Entah kenapa Iqbal menjadi tertarik untuk mendengar percakapan antara ibunya dan Dika setelah mendengar ucapan Kakaknya itu.
"Kayaknya serius sekali. Ada apa Dik?"
Dika menghirup napas sejenak. "Bu...aku ingin Ibu datang kesini minggu depan. Ibu bisa?"
"Kemana? Ke rumah dinas mu?"
"Iya."
"Kok mendadak Dik? Kenapa?" Marina merasa ada sesuatu yang terjadi kepada Dika.
Terdengar helaan napas berat di ujung sana. Membuat Marina semakin gelisah menunggu penuturan Dika.
"Bu... tolong rahasiakan ini dari Novia."
"Ada apa ini Dik, kamu jangan bikin Ibu cemas ah!"
"Aku..." Kalimat Dika menggantung. "Aku....akan menikah lagi minggu depan Bu."
Deg,
"Apa?!" seperkian detik Marina membeku, suaranya begitu lirih sampai nyaris tidak terdengar. "Kamu jangan bercanda Dik?!" Suaranya langsung naik tinggi 2 oktaf.
"Aku nggak bercanda Bu. Aku benar-benar akan menikah minggu depan. Tapi hanya nikah siri. Karena itu aku minta Ibu datang, dan... rahasiakan ini dari Novia."
Marina meremas baju bagian dadanya. Seketika pikirannya melayang ke Novia. Ia tak sanggup membayangkan, betapa menusuknya rasa sakit yang mungkin menyelimuti hati menantunya itu---menantu yang sangat disayanginya bagai anak sendiri.
"Ibu kecewa sama kamu!"
"Bu, tolong... kali iniiii saja, tolong ngertiin Dika."
Marina hanya diam. Bibirnya bergetar dan napasnya naik turun. Tidak menyangka anaknya akan melukai hati wanita yang merupakan istrinya sendiri. Padahal ia berusaha mendidik anak-anaknya agar tidak pernah melukai hati wanita mana pun. Sayangnya keinginannya itu tidak berlaku pada Dika.
Marina menghempaskan napas berat. Sangat berat karena ia yakin, setelah ini kehidupan rumah tangga anaknya tidak akan berjalan harmonis seperti sebelumnya.
"Bu..., Ibu masih dengar Dika kan?"
"Perempuan mana yang sudah menggoda mu Dik?"
"Bu, dia bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan baik-baik Bu."
Marina merasa Dika sudah di butakan oleh cintanya kepada wanita belum ia tahu siapa namanya.
"Apa kamu sudah menghamilinya sampai kamu nekad mau nikah lagi?!"
"Nggak Bu. Tapi aku sangat mencintainya dan nggak mau kehilangan dia."
Kepala Marina berdenyut. Ia merasa saat ini percuma berbicara dengan Dika. Ia menekan pelipisnya, menahan amarah dan kecewaan di dada.
"Ibu mau masak dulu. Ibu tutup teleponnya."
Tanpa menunggu tanggapan Dika, Marina memutuskan panggilan itu secara sepihak. Ia terduduk lemah di kursi meja makan, dan menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Hatinya kecewa akan perbuatan dan keputusan anaknya. Ia jadi merasa bersalah kepada menantunya.
Dan tanpa Marina sadari, sejak tadi Iqbal menguping percakapannya dengan Dika. Lelaki itu mengeratkan rahangnya menahan emosi yang bergemuruh di dada. Giginya bergemelutuk akibat saling beradu. Matanya memerah, napasnya memburu dengan tangan terkepal. Iqbal sangat marah dan kecewa, Dika tega menyakiti Novia.
"Iqbal, kamu belum kembali lagi ke kantor Nak?" Suara Marina terkesan terkejut melihat Dika masih ada di kamarnya
"Bu..., Bang Dika..."
Marina menghela napas berat. "Nanti kita bicarakan. Sekarang kamu kerja saja dulu ya, jangan sampai kamu di tegur," ujar Marina dengan lembut.
Iqbal tahu jika membahas hal itu sekarang pasti tidak sebentar. Ia pun mengangguk pelan mengiyakan dan menyalami sang Ibu untuk pergi kerja lagi.
"Iqbal pergi dulu Bu. Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Kembali Marina terduduk lemah di sofa ruang tamunya. Menatap kepergian Iqbal dengan mata sendu tapi pikirannya tertuju pada masalah Dika.
"Ya... Allah, bagaimana aku harus menghadapi menantu ku nanti?"
Air mata Marina luruh. Sebagai orang tua, ia ingin anaknya bahagia. Tetapi bukan berarti harus mengorbankan hati Novia yang masih sah menjadi menantunya. Apalagi wajah Ibra yang muncul di pelupuk mata, Marina tak sanggup membayangkan betapa terlukanya dan sedihnya bocah yang hanya tahu menanti kepulangan Papanya di setiap akhir pekan itu.
"Kenapa kamu memilih jalan seperti ini sih Dik? Apa kurangnya Novia?"
-
-
-
Dika mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di setir kemudi. Ia harus segera mencari tahu dimana penghulu yang bisa menikahkannya nanti. Tidak mungkin ia bertanya kepada orang-orang di kantornya, karena sudah pasti berita pernikahan ke duanya akan tersebar dan bisa saja, sampai ke telinga Novia.
Satu-satunya cara adalah bertanya kepada tetangganya. Namun hal itu juga pasti mengundang kehebohan karena para tetangganya pasti ingin tahu dan tentunya, ingin menghadiri acaranya nanti. Dan yang paling di takutkan Dika adalah perihal rumah tangganya dengan Novia bocor ke telinga Lyra. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Dika berdenyut.
"Haaaah..."
Dika memutuskan untuk pulang. Jika terlalu lama keluar, ia takut Lyra akan curiga seperti waktu itu. Namun sebelum itu ia singgah ke sebuah rumah makan untuk membeli beberapa jenis lauk untuk mereka makan.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra