NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Tahun Bertahan

Lima tahun.

Lima tahun Antoni hidup di rumah ini.

Anak itu sekarang sudah bisa jalan. Bisa ngomong. Bisa lari-lari kecil.

Tapi matanya... matanya nggak kayak anak lima tahun pada umumnya.

Matanya udah ngeliat terlalu banyak hal yang seharusnya nggak pernah diliat anak seusia dia.

Antoni kurus. Tingginya pas seratus satu sentimeter. Beratnya cuma empat belas kilo—kurang dari standar anak lima tahun yang harusnya tujuh belas sampe sembilan belas kilo.

Rambutnya lebat, hitam, tapi kusut jarang disisir. Kulitnya sawo matang, ada bekas luka kecil di siku kanan bekas jatuh bulan lalu waktu lari dari Dyon yang lagi marah.

Bajunya jersey sepakbola warna biru Jersey tim club favorit temennya, nomor tujuh tujuh di punggung, nama pemain kesayangannya Ciro Alves tercetak di atas nomor. Jersey itu pemberian Bu Ratih bulan lalu, pas ulang tahun Antoni. Satu-satunya hadiah ulang tahun yang pernah dia dapet seumur hidup.

Antoni sayang banget sama jersey itu. Dipake hampir tiap hari. Sudah lusuh, warnanya mulai pudar, tapi dia tetep pake.

Hari itu Minggu sore Antoni lagi main di ruang tamu. Main bola plastik kecil warna merah bola murahan yang dia temuin di pinggir jalan seminggu lalu.

Dia tendang bola ke tembok

BUNG… .

mental. Dia kejar. Tendang lagi. Mental lagi.

"Gooool!"

Teriak Antoni kecil, tangannya diangkat kayak pemain bola beneran yang abis cetak gol.

Dia senyum. Senyum jarang—senyum yang cuma keluar kalau dia lagi main sendirian, lagi nggak ada yang liat.

Tapi tendangan berikutnya—

Bolanya kena meja. Meja goyang. Gelas di atas meja—gelas plastik isi air—jatuh.

BRAK!

Gelas pecah. Air tumpah. Membasahi lantai.

Antoni langsung kaku. Jantungnya deg-degan. Mata nya melebar.

"O—oh nggak... nggak... nggak..." bisiknya pelan, suaranya gemetar.

Dari kamar—kamar Dyon—

"APA-APAAN ITU?!"

Suara Dyon. Keras. Marah.

Pintu kamar dibanting—BRAK. Dyon keluar—mata nya merah, muka nya kusut, bau arak nyengat. Dia lagi mabuk—kayak biasa.

Antoni mundur. Mundur sampe punggung nya nabrak tembok. Matanya menatap Dyon—menatap penuh ketakutan.

"A—aku... aku nggak sengaja, Pak... aku... aku cuma main bola terus... terus gelas nya jatuh... aku nggak—"

"MAIN BOLA?!" Dyon jalan cepet ke Antoni. "GUE UDAH BILANG BERAPA KALI JANGAN MAIN BOLA DI DALEM RUMAH?...

ANJING DASAR ANAK SETAN…!"

"Maafin aku, Pak... aku janji nggak ngulang lagi... aku—"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Antoni. Keras banget sampe Antoni terhuyung, jatuh ke lantai. Pipi nya langsung merah, bengkak darah keluar dari sudut bibirnya.

"ANAK KURANG AJAR! GUE UDAH KASIH LO TEMPAT TINGGAL, MAKAN, LO MALAH BIKIN MASALAH TERUS!"

"Maaf... maaf Pak... aku salah..." Antoni nangis. Nangis keras. Tangan nya nutupin pipi yang sakit.

Dari dapur—Lestari denger. Langsung keluar.

"DYON JANGAN!" Lestari teriak, lari ke ruang tamu.

Lestari sekarang—dua puluh tiga tahun. Badannya masih kurus, tapi nggak sekurus dulu. Rambutnya udah lumayan panjang, dikuncir asal. Mukanya... muka yang kelihatan lebih tua dari usia nya. Garis-garis halus di dahi, di sekitar mata. Bekas bertahan hidup.

"JANGAN SENTUH ANAK AKU!"

Lestari langsung berdiri di antara Dyon dan Antoni—lindungi Antoni pake badannya sendiri.

"Minggir," kata Dyon dingin.

"Nggak. Kamu nggak boleh mukul dia lagi. Dia cuma anak kecil. Dia nggak sengaja—"

"MINGGIR GUE BILANG!" Dyon dorong Lestari keras.

Lestari terdorong—kakinya nggak kuat nahan, tubuh nya limbung ke belakang—kepala nya kejedot tembok.

BRAK!

"AAKH!" Lestari teriak kesakitan. Tangannya langsung pegang belakang kepala—berasa pusing, pengen muntah.

"IBU!" Antoni teriak. Langsung berdiri, lari ke Lestari. "Ibu nggak apa-apa?! Ibu!"

Antoni peluk Lestari—peluk erat, nangis makin keras. "Maafin aku, Bu... ini salah aku... aku yang bikin gelas jatuh... maafin aku..."

Lestari peluk Antoni balik—peluk sambil nahan sakit di kepala. "Nggak apa-apa, Nak... ini bukan salah kamu... bukan..."

Dyon berdiri di depan mereka. Napas nya berat. Mata nya natap mereka dengan tatapan... jijik.

Terus dia ketawa. Ketawa sinis. Ketawa yang bikin bulu kuduk merinding.

"Anak lo? Lo bilang anak lo?" Dyon menyeringai. "Anak gue juga! Gue berhak ngajarin dia! Gue bapaknya! Gue punya hak!"

"Kamu bukan bapak!" Lestari teriak—pertama kalinya dia teriak kayak gini. "Bapak itu yang sayang sama anak nya! Yang lindungi anak nya! Bukan yang mukul! Bukan yang bikin anak nya takut! Kamu bukan bapak! Kamu... kamu monster!"

Hening.

Wulandari keluar dari kamarnya—dengerin dari tadi. Dia cuma berdiri di pintu kamar, tangan dilipat di dada, ngeliat dengan muka datar.

Dyon natap Lestari lama. Mata nya menyipit.

"Lo... lo berani bilang gue monster?"

"Iya. Kamu monster. Monster yang merusak hidup aku. merusak hidup anak ku."

Dyon tangannya kepal—kayak mau mukul lagi.

Tapi dia nggak jadi. Dia cuma ludah ke lantai—tepat di samping Lestari.

"Terserah lo mau bilang apa. Gue nggak peduli. Yang penting—" dia nunjuk Antoni—"anak itu tetep tinggal di sini. Tetep jadi tanggung jawab gue. Lo nggak bisa kemana-mana."

Dyon balik ke kamarnya. Pintu ditutup—nggak dibanting, tapi keras.

Wulandari geleng-geleng kepala. "Dasar ribut. Bikin gue nggak bisa istirahat." Dia balik ke kamarnya juga. Pintu ditutup.

Lestari dan Antoni sendirian di ruang tamu.

Lestari peluk Antoni erat. Antoni masih nangis di pelukan nya.

"Ssshh... udah nggak apa-apa, Nak... Ibu ada... Ibu lindungi kamu..."

"Ibu... aku takut... aku takut sama Bapak..." Antoni bisik pelan, suara nya serak abis nangis.

“Bapa bilang aku anak setan bukannya setan itu takutnya”

Lestari nggak bisa jawab. Tenggorokannya tercekik. Air mata nya keluar—netes ke pundak Antoni.

"Ibu juga takut, Nak... Ibu juga..."

“Kamu anak baik bukan anak setan nak

Mereka peluk lama. Lama banget. Sampe tangis mereka pelan-pelan berhenti.

Lestari bawa Antoni ke kamar gudang—kamar mereka. Antoni tidur di tikar yang sama kayak dulu. Nggak ada kasur. Nggak ada bantal. Cuma tikar sama selimut tipis.

Lestari baringkan Antoni. Liat pipi Antoni yang bengkak—merah parah, pasti sakit.

Dia ambil kain bersih, celupi ke air dingin, peras, tempelkan ke pipi Antoni.

Antoni meringis. "Sakit, Bu..."

"Ibu tau sakit, Nak... tapi harus dikompres biar bengkak nya turun... tahan ya..."

Antoni ngangguk pelan.

Lestari kompres sambil mengelus kepala Antoni. Antoni pelan-pelan ketiduran—capek abis nangis.

Lestari natap wajah Antoni yang tidur. Wajah polos. Wajah yang seharusnya penuh senyum tapi sekarang penuh lebam.

Ada bekas tamparan baru di pipi kiri. Bekas tamparan lama di pipi kanan—udah agak pudar tapi masih kelihatan. Bekas luka kecil di dahi—bekas kena lempar sandal Dyon dua minggu lalu.

Lima tahun.

Lima tahun Antoni hidup kayak gini.

Lima tahun dia liat Ibu nya dipukul. Dengar Ibu nya nangis. Lima tahun dia sendiri dipukul, dibentak, dihina.

Lima tahun.

Dan Lestari baru sadar—

"Aku... aku nggak bisa biarkan ini terus. Kalau aku terus diem... kalau aku terus bertahan di sini... Antoni bakal jadi kayak apa? Dia bakal... dia bakal rusak. Jiwanya bakal rusak."

Lestari ngerem. Pikiran nya mulai jalan.

"Aku harus kabur. Aku harus bawa Antoni kabur dari sini."

Tapi gimana?

Dia nggak punya uang. Nggak punya tempat tujuan. Nggak punya siapa-siapa.

"Tapi aku harus. Aku nggak peduli gimana caranya. Aku harus keluar dari sini. Demi Antoni."

Keputusan itu mulai tertanam di kepala. Mulai mengakar.

Tapi... tapi dia takut. Takut banget.

Kalau dia kabur terus ketangkap? Dyon pasti marah. Pasti... pasti ngebunuh dia. Atau lebih parah—ngebunuh Antoni.

"Aku harus punya rencana. Rencana yang mateng. Nggak bisa asal kabur. Harus... harus mikir."

Lestari mengelus pipi Antoni yang bengkak. "Ibu janji, Nak... suatu hari nanti... kita akan kabur dari sini. Kita akan hidup bahagia. Cuma kita berdua. Nggak ada Bapak yang jahat. Nggak ada Nenek yang kejam. Cuma kita. Ibu janji..."

Antoni tidur nyenyak sekarang. Napas nya teratur.

Lestari berbaring di samping Antoni. Matanya natap langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba.

"Tapi gimana caranya?"

Pertanyaan yang terus berputar di kepala.

"Aku butuh uang. Buat ongkos. Buat sewa rumah. Buat makan. Gimana aku bisa dapet uang?"

Dia inget—uang dari cuci baju. Lima ribu sehari. Tapi lima belas ribu harus disetor ke Wulandari. Jadi dia cuma dapet lima ribu.

Lima ribu sehari. Seratus lima puluh ribu sebulan.

Nggak cukup. Nggak cukup buat kabur. Nggak cukup buat hidup di tempat lain.

"Aku harus cari kerja lain. Kerja yang gajinya lebih gede. Tapi... tapi gimana? Aku nggak punya keahlian apa-apa. Aku cuma lulusan SMA. Aku nggak pernah kerja kantoran. Aku... aku cuma bisa cuci baju, masak, beresin rumah..."

Pikiran nya buntu.

Tapi tekad nya... tekad nya udah bulat.

"Aku harus kabur. Entah kapan. Entah gimana. Tapi aku harus."

Dia merem. Capek. Badannya sakit semua—kepala masih pusing bekas kejedot tembok.

Tapi sebelum tidur—

Dia bisik pelan, "Ya Allah... tunjukin jalan. Kumohon. Aku... aku nggak kuat lagi. Aku butuh jalan keluar. Kumohon..."

Doa yang sederhana. Doa yang penuh harapan.

Doa yang... yang mungkin—cuma mungkin—bakal dijawab.

---

Pagi harinya, Lestari bangun jam setengah empat kayak biasa. Antoni masih tidur—pipinya masih bengkak tapi udah agak mendingan.

Lestari shalat subuh. Sujudnya lama. Nangis di sujud.

"Ya Allah... aku mohon petunjuk... aku mohon jalan..."

Selesai shalat, dia ke dapur. Mulai masak.

Di tengah masak—tiba-tiba ada yang ketok pintu belakang.

Lestari buka—Bu Ratih berdiri di sana.

"Pagi, Neng. Ibu mau ngasih ini." Bu Ratih ngasih kantong plastik—dalemnya ada roti, susu kotak, sama buah pisang. "Buat Antoni. Kemarin Ibu liat dia main di depan, kelihatan kurus. Ibu khawatir."

Lestari matanya berkaca-kaca. "Makasih, Bu... makasih banyak..."

Bu Ratih natap Lestari lama. "Neng... kamu... kamu kepikiran buat pergi nggak? Ninggalin rumah ini?"

Lestari kaget. "Bu... Bu tau darimana—"

"Ibu liat mata kamu. Mata kamu udah beda. Kemarin kamu masih kayak... kayak orang yang pasrah. Sekarang mata kamu kayak orang yang... yang lagi mikir sesuatu. Lagi rencana sesuatu."

Lestari diem. Nggak bisa bohong ke Bu Ratih—satu-satunya orang yang peduli sama dia selama ini.

"Aku... aku kepikiran, Bu... tapi... tapi aku nggak tau gimana caranya... aku nggak punya apa-apa..."

Bu Ratih pegang tangan Lestari. "Kalau kamu serius mau pergi... Ibu bantu. Ibu nggak bisa bantu banyak. Tapi Ibu bantu sebisa Ibu."

"Bu... kenapa... kenapa Bu mau bantu aku?"

"Karena Ibu nggak tega liat kamu menderita terus. Kamu manusia. Kamu berhak hidup bahagia. Antoni juga berhak tumbuh di tempat yang aman."

Lestari nangis. Peluk Bu Ratih. "Makasih, Bu... makasih..."

"Tapi kamu harus sabar. Kamu harus punya rencana mateng. Jangan asal kabur. Nanti malah bahaya."

Lestari ngangguk. "Aku ngerti, Bu... aku... aku bakal mikir baik-baik..."

Bu Ratih pergi setelah itu.

Lestari berdiri di dapur. Pikiran nya mulai jalan lagi.

"Rencana. Aku butuh rencana."

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun—

Ada harapan.

Harapan kecil.

Tapi... ada.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!