Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendamba
Dona memegangi lengan Bu Sasmita, wanita itu kemudian berbisik.
"Ma ... kenapa Mas Arga bicara seperti itu?"
Bu Sasmita menepuk punggung tangan Dona.
"Jangan khawatir, dia mungkin masih sedikit shock, baru saja menjalani serangkaian perawatan. Mungkin efek obat juga. Untuk saat ini, kita iyakan saja. Apa yang dia katakan, jangan dulu dibantah. Kamu nurut saja sama Mama. Semuanya akan beres," gumam Bu Sasmita lirih.
"Oke, Dona akan ikut kata Mama saja."
Bu Sasmita mengangguk, puas dengan calon mantu yang penurut tersebut.
"Untuk saat ini kamu mungkin tidak mau membahas pernikahan dulu. Oke, Mama tidak akan membicarakan lagi. Sekarang kamu istirahat, Mama akan keluar sebentar bersama Dona."
Arga tidak merespon, ia hanya memalingkan muka dari ibunya tersebut.
Bu Sasmita keluar bersama Dona. Keduanya merencanakan strategi untuk membuat acara pernikahan bisa berjalan sesuai rencana mereka.
...****************...
Di dalam ruang rawat inap, Arga memanggil salah satu perawat. Lelaki itu meminjam ponsel sang perawat.
Tutttt!!!!
Lama sekali telpon tersambung, tapi tak membuat Arga menyerah untuk menelpon lagi.
Perawat sendiri masih menunggu ponselnya dipinjam, sampai akhirnya Arga mengatakan sesuatu dan membuat perawat itu pergi.
Sekarang ponsel itu masih di tangan Arga, meskipun sang perawat sudah keluar dari kamarnya, dia meminjam itu setengah jam untuk menghubungi seseorang.
"Angkat! Kamu di mana?" ucap Arga pada telpon yang masih berdering tersebut.
"Apa aku salah memasukkan angkanya???"
Arga kembali mengingat-ingat, dan memang nomor tengahnya ada yang salah.
"Pantas saja," gumamnya lalu mencoba menelpon lagi. Kali ini tidak menunggu lama, beberapa detik saja sudah di angkat.
Sebuah suara yang rasanya lama tak terdengar, akhirnya bisa Arga dengar kembali.
"Hallo .. Maaf, dengan siapa ini?" tanya orang di balik telepon tersebut.
"Hallo??? Ini siapa? Jika tidak penting, akan saya tutup!" ucapnya lagi.
Buru-buru Arga yang semula tertegun langsung mencegahnya.
"Aku! Ini aku!" suara Arga terdengar serak dan berat.
Suasana juga terasa hening sesaat, dilanjutkan dengan suara perempuan lagi yang seperti sesak menahan tangisnya.
"Ini kamu? Benar-benar kamu? Kamu di mana sekarang ... kenapa .. Kenapa pergi sangat lama ninggalin kita?"
Dua orang manusia itu sama-sama dilanda kerinduan, hanya mendengar suara masing-masing cukup membuat da da mereka sesak.
"Dengarkan aku, jangan bicara pada siapapun kalau aku menelepon," ucap Arga.
Fiona mengangguk, seolah olah Arga melihatnya. "B ... Baik."
"Sekarang katakan padaku, bagaimana kabar kalian? Bagaimana anak kita?"
"Ba... Baik. Anak .. Anak anak baik," ucap Fiona terisak. Suaranya putus-putus.
"Syukurlah. Kamu sekarang di mana?"
"Di rumah kita," jawab Fiona sambil mengusap pipinya.
"Oke. Jangan ke mana-mana. Tetap di sana, tetap tenang dan jangan bicara pada siapapun tentang telpon ini."
"Iya ... Baik. Tapi kapan kamu akan pulang?" suara Fiona masih patah-patah, putus-putus karena di selingi tangis.
"Segera, ada yang harus aku bereskan dulu. Yang paling penting, kamu tetap di sana dan tetap aman."
"Ya, aku akan tetap di sini."
"Bagus, sekarang aku tutup telponnya. Kamu jaga diri baik-baik dan anak-anak. Secepatnya kita akan bertemu.
"Janji?" ucap Fiona dengan nada tanya penuh ragu.
"Aku berjanji, tunggulah aku pulang ke rumah."
"Hemmm."
"Jaga dirimu," ucap Arga kemudian mematikan sambungan telponnya.
Tangis Fiona pecah, bukan karena rasa pedih yang tak terbendung. Tapi terselip rasa syukur dan lega, kabar dari Arga membuat langitnya yang semula tampak gelap, kini ada sedikit cahaya terang.
...****************...
Suatu malam, angin kencang membuat gorden kamar Fiona melambai-lambai. Fiona terbangun karena dinginnya angin yang menerobos masuk kamarnya tersebut. Ia pun berjalan ke arah jendela.
"Aneh, sebelum tidur tadi perasaan sudah aku tutup semuanya," gumam Fiona.
PLUK!!!!
Kaget, sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggang Fiona dari arah belakang.
"Siapa????" Fiona meronta, takut itu adalah pencuri dan penyusup masuk, tapi setelah kepala pria itu bersandar di tengkuknya, Fiona seketika diam.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah