Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Perjamuan di Atas Tebing Maut
Gema suara kepakan sayap burung phoenix emas milik Jenderal Agung Zhao membuat warga Kota Anggrek Hitam gemetar. Seekor burung api raksasa mendarat di alun-alun kota, diikuti oleh ratusan prajurit elit berbaju zirah naga. Atmosfer di kota itu berubah menjadi sangat berat; tekanan Qi dari seorang pendekar Jiwa Sejati Level 3 seperti gunung yang menindih dada semua orang.
Namun, di tengah tekanan itu, Boqin Tianzun berjalan keluar dari kediamannya dengan santai. Ia hanya mengenakan jubah sutra putih polos, tangannya memegang sebuah kipas kayu.
"Zhao, kau berisik sekali." ucap Boqin, suaranya pelan namun anehnya terdengar jelas di telinga sang Jenderal mengatasi riuh rendah suara prajurit.
Jenderal Zhao, seorang pria berjanggut lebat dengan tatapan mata seperti elang, turun dari punggung phoenix-nya. Ia menatap Boqin dengan penuh selidik. Ia terkejut menemukan seorang pemuda yang terlihat sangat muda namun memiliki ketenangan seorang kaisar kuno.
"Kau... yang mengambil alih kota ini?" tanya Zhao, suaranya menggelegar. "Dan kau yang bertanggung jawab atas hilangnya Matahari Suci?"
Boqin tidak menjawab secara langsung. Ia menjentikkan jarinya, dan seketika sebuah meja batu lengkap dengan dua cangkir teh muncul dari balik tanah tepat di antara mereka. Teknik manipulasi bumi dan ruang ini membuat mata Zhao menyipit.
"Duduklah. Teh ini baru saja diseduh oleh istriku. Jika kau menumpahkannya, kepalamu tidak akan cukup untuk membayarnya." ucap Boqin sambil duduk dengan elegan.
Zhao merasa terhina, namun ia penasaran. Ia duduk di hadapan Boqin. Saat ia mencoba melepaskan aura Jiwa Sejati Level 3 miliknya untuk menekan Boqin, ia merasakan sesuatu yang mustahil. Auranya seperti membentur dinding tak kasat mata yang sangat dalam. Alih-alih menekan Boqin, auranya justru terserap habis, membuat Boqin tampak semakin kuat.
"Aku datang atas perintah Kaisar," ucap Zhao sambil memegang cangkir teh itu dengan tangan bergetar. "Kekaisaran tidak bisa membiarkan seorang pembantai sepertimu menguasai kota strategis ini tanpa kendali."
Boqin menyesap tehnya, lalu menatap Zhao dengan mata yang tiba-tiba berubah menjadi merah darah sedalam lautan neraka.
"Kaisarmu ingin kendali?" Boqin tertawa kecil, suara tawanya sangat dingin. "Katakan padanya, kota ini adalah taman bermain untuk istriku. Jika dia mengirim satu prajurit lagi melintasi perbatasan kota ini, aku tidak akan hanya membantai sektemu. Aku akan mencabut jantung ibukota naga dan menggantungnya di puncak menara ini."
Jenderal Zhao bangkit, tangannya menghunus pedang besar yang memancarkan energi petir. "Lancang! Kau pikir kau bisa melawan seluruh kekuatan Kekaisaran Naga Langit sendirian?!"
Boqin berdiri perlahan. "Aku tidak butuh seluruh kekuatanku. Aku hanya butuh sepuluh detik."
Sebelum Zhao bisa bereaksi, Boqin mengulurkan satu jarinya ke arah burung phoenix emas di belakang Zhao.
ZAP!
Tanpa ada ledakan besar, burung phoenix spiritual yang sangat kuat itu tiba-tiba membeku, lalu hancur menjadi debu emas dalam sekejap mata. Jiwa binatang suci itu terhisap masuk ke dalam telapak tangan Boqin.
Jenderal Zhao tertegun. Phoenix itu adalah rekan hidupnya yang setara dengan kultivator ranah Jiwa Sejati. Hancur hanya dengan satu jentikan jari?
"Pulanglah, Zhao," bisik Boqin sambil berjalan memunggungi sang jenderal. "Bawa prajuritmu pergi. Dan pastikan mulai besok, Kekaisaran mengirimkan upeti berupa tanaman obat langka ke kota ini setiap bulan sebagai permohonan maaf karena telah mengganggu istirahat istriku. Jika tidak... aku akan datang ke istana untuk mengambilnya sendiri."
Boqin masuk ke dalam rumah, di mana Sua Mei sedang menata bunga di vas. Wajah garang Boqin hilang seketika, digantikan oleh senyum yang sangat hangat.
"Siapa tamu itu, Boqin? Sepertinya dia membawa banyak orang." tanya Sua Mei cemas.
"Hanya seorang pedagang tersesat, Mei," jawab Boqin sambil memeluknya dari belakang. "Dia hanya datang untuk mengantarkan beberapa hadiah untukmu nanti. Jangan khawatirkan mereka."
Di luar, Jenderal Zhao memerintahkan seluruh pasukannya mundur dengan wajah pucat. Ia tahu, pemuda di dalam rumah kayu itu bukan sekadar manusia; dia adalah bencana berjalan yang sedang mencoba hidup tenang.