NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Raja Mafia

Obsesi Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Penyelamat
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13

Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.

Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.

Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.

Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya???

Yukkkk kepoin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OSRM BAB 15_Dinding Kaca yang Dingin

Anya tertegun. Rasa syukur karena Marco selamat tiba-tiba tertutup oleh rasa tercekik.

Ia menyadari bahwa serangan Antonio malam ini tidak membebaskannya, melainkan justru memperketat jeruji sangkarnya, Marco yang terluka dan terancam adalah Marco yang paling berbahaya.

"Marco, kamu tidak bisa..."

"Sstt," Marco menempelkan jarinya di bibir Anya.

"Jangan berdebat malam ini, aku hanya ingin bersamamu, aku ingin merasakan bahwa kamu milikku, seutuhnya." seru Marco.

Marco kemudian membimbing Anya kembali ke tempat tidur, ia tidak melepaskan tangan Anya sedikit pun, seolah-olah jika ia melepaskannya, Anya akan menghilang tertiup angin.

Di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela apartemen, obsesi Marco Valerius kini telah mencapai titik puncaknya, ia tidak akan lagi hanya sekadar melindungi tapi ia akan mengunci.

Satu minggu telah berlalu sejak malam berdarah di mansion perbukitan.

Bagi dunia luar, peristiwa itu mungkin hanya dianggap sebagai ledakan gas atau kecelakaan yang tidak terjelaskan di sebuah properti pribadi.

Namun bagi Anya, seminggu terakhir ini terasa seperti berada di dalam sebuah kapsul waktu yang berhenti berputar.

Apartemen penthouse di pusat kota ini adalah mahakarya arsitektur modern.

Segalanya serba otomatis, serba mahal, dan serba ada, namun bagi Anya, tempat ini jauh lebih mengerikan daripada mansion sebelumnya.

Jika di mansion ia masih bisa melihat pohon dan merasakan tanah, di sini ia dikelilingi oleh kaca dan baja.

Dari lantai 50 manusia di bawah sana hanya terlihat seperti titik-titik yang tidak berarti.

Anya berdiri di depan jendela besar ruang tamu, menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin.

Di luar sana Jakarta sedang sibuk-sibuknya di jam berangkat kantor, ia bisa melihat kemacetan yang mengular, orang-orang yang berlari mengejar bus, dan pedagang kaki lima yang mulai menggelar dagangannya.

Semua itu adalah hidupnya yang dulu, hidup yang sangat melelahkan, tapi setidaknya ia punya hak untuk melangkah ke mana pun kakinya mau.

"Nona Anya, sarapan Anda sudah siap."

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Anya, ia menoleh dan melihat seorang pelayan baru bernama Susi.

Marco telah mengganti hampir seluruh stafnya setelah serangan itu, hanya menyisakan beberapa orang yang benar-benar ia percaya.

Susi adalah wanita paruh baya yang sangat hemat bicara, seolah setiap kata yang ia ucapkan harus melalui sensor ketat.

"Terima kasih, Bi," jawab Anya lesu.

Ia berjalan menuju meja makan yang terbuat dari marmer putih bersih.

Di atasnya tersedia roti gandum, buah-buahan segar, dan segelas susu hangat. Semuanya tampak sempurna, namun selera makan Anya sudah hilang entah ke mana.

"Di mana Marco?" tanya Anya.

"Tuan Marco sedang berada di ruang kerja Nona, beliau sedang ada pertemuan penting lewat panggilan video sejak subuh tadi," jawab Susi sambil menunduk.

Anya menghela napas, sejak mereka pindah ke sini, Marco menjadi sangat sibuk.

Ia sedang membangun kembali kekuatannya, memburu para pengkhianat, dan memperkuat posisinya di dunia bawah yang sempat goyah.

Namun, sesibuk apa pun Marco, dia selalu menyempatkan diri untuk memeriksa Anya setiap satu jam sekali.

Jika tidak datang langsung, dia akan menatap Anya melalui puluhan kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut apartemen ini yaitu kecuali kamar mandi.

Anya merasa diawasi setiap detik, bahkan saat ia makan, ia tahu ada lensa kamera yang sedang menyorotnya, memastikan ia menelan makanannya dengan benar.

Setelah sarapan yang hambar itu, Anya mencoba berjalan menuju pintu keluar apartemen.

Ia hanya ingin tahu apakah penjagaannya seketat yang ia bayangkan, namun baru saja ia mendekati lorong depan, dua pria bertubuh besar dengan pakaian safari gelap sudah berdiri tegak menghalangi jalannya.

"Mohon maaf, Nona Anya. Tuan Marco memberikan perintah agar Anda tidak meninggalkan area dalam apartemen," ucap salah satu penjaga dengan nada dingin namun sopan.

"Aku hanya ingin ke teras atau lobi sebentar, aku butuh udara segar yang bukan berasal dari AC," protes Anya.

"Maaf, Nona. Tidak bisa."

Anya mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, aku ingin bicara dengan Marco. Sekarang."

"Tuan sedang tidak ingin diganggu, Nona."

Anya merasa kemarahannya mulai memuncak, rasa takut yang selama ini menyelimutinya perlahan berganti menjadi rasa haus akan kebebasan.

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kerja Marco di ujung lorong, persetan dengan perintah jangan diganggu.

Ia mendorong pintu ganda besar itu tanpa mengetuk.

Di dalam ruangan yang dipenuhi layar monitor dan tumpukan dokumen itu, Marco sedang duduk di balik meja mahoninya yang megah.

Dia sedang bicara dalam bahasa Italia dengan nada yang sangat keras dan penuh amarah.

Begitu pintu terbuka, Marco langsung terdiam, dia memberikan isyarat pada lawan bicaranya di layar untuk menunggu, lalu mematikan mikrofonnya.

"Anya? Ada apa? Aku sedang sibuk," tanya Marco.

Wajahnya yang tegang sedikit melunak saat melihat Anya, namun matanya tetap memancarkan otoritas yang besar.

"Sampai kapan, Marco?" tanya Anya langsung, suaranya bergetar karena emosi.

Marco mengerutkan kening. "Sampai kapan apa?"

"Sampai kapan aku harus dikurung di sini seperti binatang peliharaan? Aku tidak boleh keluar, aku tidak boleh bicara dengan siapa pun kecuali pelayanmu yang bisu itu, dan aku tidak boleh membuka jendela! Aku merasa tercekik, Marco!"

Marco berdiri perlahan, dia berjalan mendekati Anya, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu.

Dia berhenti tepat di depan Anya, aroma tembakau dan parfum mahalnya menyeruak.

"Aku melakukan ini demi keselamatanmu, Anya. Apa kamu sudah lupa apa yang terjadi minggu lalu? Antonio hampir membunuhmu!"

"Tapi itu karena kamu, Marco! Mereka mengincarku karena aku bersamamu! Jika kamu memang ingin aku aman, seharusnya kamu lepaskan aku, biarkan aku kembali ke hidupku yang dulu di mana tidak ada orang yang tahu siapa aku!"

Mendengar kata "lepaskan", mata Marco berubah menjadi gelap secara instan.

Dia mencengkeram bahu Anya, tidak cukup kuat untuk menyakiti, tapi cukup untuk membuat Anya tidak bisa bergerak.

"Lepaskan kamu?" Marco tertawa rendah, suara tawanya terdengar sangat mengerikan.

"Setelah semua yang aku korbankan? Setelah aku hampir mati untuk menjagamu? Tidak akan pernah, Anya. Tidak akan pernah." lanjutnya.

"Tapi aku tidak bahagia di sini, Marco! kamu bilang kamu ingin menjagaku, tapi kamu justru membunuh jiwaku secara perlahan. Aku lebih baik hidup miskin dan bekerja keras daripada harus tinggal di istana kaca ini tapi tidak punya hak atas diriku sendiri."

Marco menundukkan wajahnya, menatap langsung ke mata Anya.

"Kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa kita bangun, Anya. Tapi nyawa? Nyawa hanya ada satu dan aku tidak akan membiarkan nyawamu terancam hanya karena kamu ingin menghirup udara segar." ucapnya.

"kamu egois!" teriak Anya.

"Ya, aku memang egois kalau itu menyangkut dirimu," balas Marco tanpa ragu.

"Aku sudah kehilangan banyak hal dalam hidupku, Anya. Orang tuaku, kepercayaanku, kedamaianku. Aku tidak akan membiarkan dunia merampasmu juga dariku. kamu adalah satu-satunya hal yang tidak boleh rusak dalam hidupku." tegas Marco.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
💝F&N💝
bagus👍😅😅❤️❤️❤️
Salsa Selvi
semoga pasukan Marco berhasil melumpuhkan Antonio bersama yg lain nya ya tor
Salsa Selvi
tor selamat kan Marco ya tor sama Anya
Salsa Selvi
tor kata nya Marco si raja mafia kok selalu kalah cepat sama Antonio sih tor disini aku kasihan sama Marco tor ditambah lagi Anya ngk pernah mau nurut sama perkataan Marco
Salsa Selvi
semangat kk nulis nya
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
Salsa Selvi
menarik cerita nya kk
Lala_Syalala: terima kasih kak untuk ulasan baiknya, semoga selalu suka ya sama ceritanya 🙏🙏😊😊
total 1 replies
Atik Marwati
Marco benar benar mengorbankan nyawanya untuk anya🥰🥰
Atik Marwati
semangat Anya...jangan mau kalah oleh kejahatan 🥰🥰
Wiemiey Erwina Ddc
alur cerita menarik..aku harap Marco dan Anya bersatu menjadi pasangan suami-isteri..saling melindungi..vest ,🫶
Lala_Syalala: terima kasih kak untuk ulasan baiknya, semoga selalu suka ya sama ceritanya 🙏🙏😊😊
total 1 replies
💝F&N💝
👍👍👍👍👍
💝F&N💝
bagus😅👍
ceritanyabagus
💝F&N💝
bagus
imel
ntar ketahuan lagi sama Antonio 🤭
dyah EkaPratiwi
alhamdulilah selamat
dyah EkaPratiwi
semoga tidak tertangkap
Atik Marwati
semoga aman
imel
astagaaa jantungku jedag jedug 🤣
Wulan Sari
cerita yg ini bikin deg2 an semoga ga ketahuan 🤲
Wulan Sari
ceritanya semakin menarik ke sini semakin menarik bikin penasaran saja lho tp yg penting nt di akhir cerita happy end semangat 💪 salam sukses selalu ya Thor 👍❤️🙂🙏
Wulan Sari: cip 👍 semangat 💪 karya lainnya 😘🙏
total 2 replies
Wulan Sari
yaaaaa semoga Marco tidak di temukan Thor cerita selanjutnya ya Thor ibu mohon 😀🤭.....
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!