Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
micin
Hari ini Zee memilih meliburkan dirinya. Entah lah, tapi ia ingin rehat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan nya.
Sore petang itu ia pamit pada emak untuk pergi menonton film. Seperti nya sudah sangat lama gadis itu tak pergi menonton. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya pergi ke bioskop.
Zee memilih genre film komedi untuk menemani malamnya. selesai menonton, ia berkeliling mall sambil melihat-lihat. Keluar masuk toko hanya sekedar untuk melihat barang-barang yang tak ia beli. Bukan karena tak memiliki uang, namun ia suka melakukannya.
Zee benar-benar menikmati masa liburnya hari ini. Sudah lama sekali ia tak seperti ini. Ternyata menyenangkan juga melakukan hal seperti ini.
Pukul 9 malam Zee memutuskan untuk pulang. Ia sudah puas berkeliling dan melihat-lihat. Ia merindukan kasurnya, membayangkan bisa tidur cepat seperti sebuah mimpi indah yang menjadi nyata.
Zee memilih naik bus untuk pulang. Ia memeriksa apakah ia membawa kunci rumah atau tidak, dan syukur lah ia membawanya. Ia tak perlu mengganggu istirahat emak.
Zee turun dari bus, berhenti disebrang club tempatnya bekerja karena disanalah tempat pemberhentian bus yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Gadis itu melangkahkan kakinya dengan riang. Namun semakin melambat kala melihat siluet anak kecil.
"Jam segini masa anak kecil masih berkeliaran sih.. " Gumam Zee menatap jam di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Sudah terlampau malam untuk seorang anak bermain.
Tiba-tiba Zee mengelus tengkuknya. Pikiran tentang hal-hal menyeramkan berkelebat dipikirannya.
"Itu beneran orang bukan ya.. " Gumam Zee yang semakin memperlambat langkah kakinya.
Semakin dekat, ia semakin menajamkan penglihatannya. Seorang anak perempuan yang mungkin usia nya masih 10tahun tengah duduk bersandar pada sebuah tembok. Kedua lututnya ditekuk guna menyembunyikan wajahnya.
Zee melihat situasi, kepalanya terlihat menengok ke segala arah, berharap melihat orang lain disana. Namun nihil, tak ada seorang pun selain ia dan anak perempuan itu.
"Beneran manusia lah pasti ya.. " Setelah meyakinkan dirinya, ia berjalan mendekati anak itu. Semakin dekat ia mendengar Isakan kecil dari anak kecil itu.
"Aduh kok aku merinding gini sih.. " Zee terus bergumam tak jelas.
"Huft.... " Zee bernafas lega saat melihat bayangan anak itu. Hantu tak memiliki bayangan kan? Itu isi pikiran gadis itu.
"Hai.. kamu kenapa? ". Zee berjongkok disamping anak itu dan memegang lembut lengan anak perempuan yang belum ia tahu siapa namanya itu.
Mendengar suara asing, anak perempuan itu segera mengangkat wajahnya dan memasang sikap waspada.
" Tenang.. aku bukan orang jahat kok". Zee paham dengan sikap waspada anak perempuan itu.
"Kamu ngapain di sini? kamu sama siapa? ". *Zee kembali menatap sekeliling, namun tetap sama tak ada siapapun disana selain mereka berdua.
" Ayo bangun.. nanti baju kamu kotor". Zee berdiri, tak kuat berjongkok lama karena membuat kakinya kram.
Gadis kecil itu menurut, ia bangun dan mengibaskan kotoran yang menempel di celana panjangnya. Ia kembali menatap Zee.
"Kamu disini sama siapa? ". Tanya Zee lagi namun gadis kecil itu justru menggeleng.
" Aku nyasar.. "
"Duh.. gimana ya". Gumam Zee
Ia tak mungkin meninggalkan anak ini seorang diri. Akhirnya ia mencoba menawarkan pilihan pada gadis kecil itu.
" Ehm.. kantor polisi dari sini lumayan jauh. Mau aku anter ke kantor polisi? Mereka bisa bantu kamu cari orang tua kamu". Tawar Zee yang langsung di jawab gelengan kepala oleh anak itu.
Melihat anak itu menggeleng, membuat Zee bingung. Haruskah ia membawa gadis kecil itu pulang?
"Kalo gitu, mau ikut aku pulang dulu?? Besok aku bantu cari orang tua kamu. Gimana?? ". Tanya Zee lagi.
" Atau kamu hafal nomor telepon orang tua kamu? ". Gadis kecil itu kembali menggeleng.
" Yaudah, kamu ikut aku pulang aja. Mau? ". Tak ada pilihan lain, ini sudah larut dan Zee juga sebenarnya sudah lelah.
Keduanya berjalan bersisian. Gadis kecil itu tampak beberapa kali mencuri pandang kearah Zee.
" Nama kamu siapa? ". Zee membuka obrolan.
" Sasa.. Nama aku Sasa kak". Zee tersenyum mendengar anak itu memanggilnya kakak. Ia merasa seperti punya seorang adik sekarang.
"Kaya nama micin yang suka dipake emak". Gumam Zee kemudian terkikik.
Sasa yang mendengarnya mendelik kesal. Zee adalah orang kedua yang menyebut namanya seperti merk sebuah msg.
" Hehehe.. jangan melotot ih, aku takut jadinya". Zee terkekeh melihat anak kecil itu memasang wajah galak.
"Nama aku Zeefanya. Panggil aja kak Zee". Sasa mengangguk kan kepalanya.
Zee melirik Sasa sekali lagi. Memindai semua barang yang menempel pada tubuh gadis kecil itu. Semua barang branded dan harganya tentu mahal.
" Anak orang kaya sih inimah". Batin Zee
"Masih jauh kak? ". Tanya Sasa memecah kesunyian yang ada. Seperti nya gadis kecil itu juga lelah.
" Enggak. Tuh rumahnya udah keliatan". Zee menunjuk rumah sederhananya.
Zee merogoh tas selempang nya mencari kunci rumah yang selalu ia bawa. Setelah mendapatkan nya ia segera membuka pintu rumah dan membawa Sasa masuk.
"Ayo masuk.. maaf ya seadanya". Sasa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Zee.
" Duduk dulu.. kakak ambilin minum dulu". Sasa duduk dikursi ruang tamu. Sementara Zee berlalu kedapur untuk mengambil minum.
"Eh.. si micin udah makan belum ya". Gumam Zee yang tengah mengisi gelas dengan air.
" Ini minum dulu.. " Sasa menerima segelas air dari tangan Zee dan mengucapkan terimakasih sebelum ia meminum hingga tandas air putih yang diberikan Zee padanya.
"Lah haus banget si micin".
" Mau lagi? ". Tanya Zee saat melihat Sasa menghabiskan air minumnya dalam sekali minum.
" Enggak usah kak.. dah cukup kok, makasih kak". Zee tersenyum melihat etika anak itu.
"Kamu udah makan? ". Tanya Zee kemudian duduk disamping Sasa.
Kepala Sasa menggeleng pelan, sejujurnya ia lapar namun malu mengatakan nya.
" Sebentar ya, aku liat dulu di dapur ada makanan atau engga". Zee kembali ke dapur untuk melihat masih adakah makanan.
"Cuma ada nasi aja.. " Gumam Zee
"Kamu boleh makan mie instan nggak? ". Tanya Zee dari dapur. Sasa berjalan mendekati Zee
" Nggak ada apa-apa, cuma ada nasi. Tapi masih ada mie instan ". Terang Zee pada Sasa.
" Kata mama nggak boleh terlalu sering makan mie kak. Tapi aku udah lama nggak makan mie kok, jadi nggak masalah". Sasa tersenyum senang, sudah lama sekali ia tak memakan makanan lezat itu.
"Bener nih nggak apa-apa?? ". Tanya Zee memastikan. Ia tahu gadis kecil didepannya ini bukan dari kalangan biasa, oleh sebab itulah ia menanyakan kesediaan gadis itu untuk memakan mie instan.
Kepala Sasa mengangguk semangat saat Zee menanyakan keberatan dan kesediaannya untuk memakan mie instan.
" Kita tambah telur sama sayuran deh biar seimbang". Ucap Zee kemudian membuka jaket yang sejak tadi masih ia kenakan.
"Micin.. " Panggil Zee pada Sasa yang langsung melotot kesal.
"Ehehe.. lupa aku, enakan panggil micin". Zee nyengir menatap Sasa yang juga tengah menatapnya.
" Terserah kakak deh.. " Akhirnya Sasa pasrah saja. Membiarkan Zee memanggil dirinya sesuka hati.
"Kamu mau ganti baju dulu? ". Tanya Zee pada Sasa.
" Atau mau mandi dulu? Tapi ngga ada air panas disini". Sasa mengangguk paham.
"Tapi aku nggak punya baju ganti kak.. " Sasa juga sudah merasa gerah, namun mandi tanpa berganti pakaian juga akan sama saja rasanya.
"Aku ada baju yang udah nggak muat di aku,masih bagus kok" . Zee diam sesaat, ia ingat beberapa waktu lalu membeli dalaman secara online namun kekecilan. Sepertinya muat untuk si micin, begitu pikir Zee.
" Sebentar aku ambilin ganti nya dulu ya.. " Zee berlalu kedalam kamar nya dan tak lama kembali dengan satu stel pakaian tidur lengkap dengan dalamannya juga handuk.
"Ini masih baru kok, belum pernah aku pake. Jadi tenang aja". Sasa menatap piyama tidur yang diberikan Zee, terlihat bersih dan terawat.
Tanpa ragu ia mengambil pakaian yang diberikan Zee. Padahal biasanya ia tak bisa secepat ini beradaptasi dengan orang baru. Namun dengan Zee, ia merasa aman meskipun baru pertama bertemu.
" Kamu mandi dulu sana. Aku bikinin makanan". Sasa dengan patuh menuruti perintah Zee. Gadis kecil itu masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur.
"Serasa punya anak deh jadinya". Zee terkekeh sendiri kemudian mulai menyalakan kompor untuk memasak mie.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Anak sapa Zee main angkut aje, ntar mak bapaknya nyariin tu anak😌😩...
...Gas tipis-tipis deh ya, dikit-dikit yang penting up🤭🫰Jangan lupakan ritualnya readers, happy reading semuanya 🫰🫰❤💋🥰🤩...
...Sarangheyo sekebon untuk semua reader ku🫰🫰❤💋🤩🥰🥰😍💋😘😘😘😘...