NovelToon NovelToon
Romeo Love Story

Romeo Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta setelah menikah / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ryuuka20

Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.

Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.

Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Kejutan

Hari masih sore, setelah merapikan barang-barangnya di kantor, Romeo langsung pergi ke toko yang menjual dimsum mentai kesukaan Tina. Ia memilih paket yang cukup banyak, ingin memberikan kejutan buat istri tercinta. Setelah membayar, ia masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin.

Tak lama kemudian, suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang tergeletak di dasbor. Romeo mengambilnya dengan terpancing rasa penasaran—siapa lagi yang bakal kirim pesan sore hari seperti ini? Namun wajahnya langsung berubah saat melihat isi pesan itu.

Dari nomor yang tak dikenal, datang sebuah pesan berisi sebuah foto. Di dalamnya, Tina dan Jovan—temannya dulu di kantor—terlihat sedang duduk bersama di sudut sebuah café, wajah mereka sedang tertawa riang sambil berbincang.

Romeo terkejut, jari-jari tangannya yang sedang memegang ponsel sedikit gemetar. Ia menatap foto itu berkali-kali, tidak percaya apa yang dilihatnya. Udara di dalam mobil terasa semakin panas padahal AC masih menyala. Pikirannya langsung bergejolak—kenapa Tina bersama Jovan? Kenapa dia nggak bilang padaku?

Ia menekan pelan kemudi dengan tatapan yang semakin gelisah, lalu mencoba menenangkan diri. "Mungkin hanya bertemu secara kebetulan saja," gumamnya pelan, meskipun hati sudah mulai terasa tidak nyaman.

Ia mencoba menghubungi nomor yang mengirim pesan itu, tapi ternyata tidak bisa dihubungi kembali. Tak ada pilihan lain, ia mematikan mesin mobil sejenak dan mencoba menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Romeo tidak merasa marah, hanya rasa khawatir yang menguasai dirinya sepenuhnya. Bagaimana mungkin istrinya ada bersama orang lain tanpa memberitahunya? Pikiran buruk mulai mengganggunya, namun ia tetap mencoba menjaga emosinya.

Ia segera menelepon nomor Tina berkali-kali, jari-jari menggesek layar ponsel yang masih menampilkan foto itu. Setiap kali panggilan masuk, hanya suara nada dering yang terus berulang tanpa ada tanggapan.

"Kenapa tidak mau menjawab ya?" gumamnya pelan sambil menatap kemudi dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia menekan pelan pedal gas, mobilnya perlahan melaju menuju arah rumah, namun mata sering menyambung ke ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan balik dari Tina.

Sedangkan di tempat lain, Tina yang sedang sibuk di rumah—ia tengah membersihkan rumah dan menyiapkan makanan dengan penuh perhatian. Tangan-tangan yang terbiasa mengelola urusan rumah tangga dengan baik itu, kini terlihat sedikit merah karena sering mencuci dan bersentuhan dengan air serta sabun pembersih. Ia tidak menyadari ponselnya yang tergeletak di sofa bersama dompetnya, tidak menyadari bahwa ponselnya jatuh dari saku saat ia sedang membersihkan rumah.

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar—Romeo datang dengan langkah lebar dan tegas.

"Lo kemana aja?" Romeo bertanya dengan nada datar dan dingin, wajahnya tegang, tangannya mencekal lengan Tina dengan kuat. Tina terkejut melihat wajah Romeo yang berbeda dari biasanya, ia mencoba melepaskan diri.

"Romeo Lo kenapa sih?" ucap Tina dengan suara penuh kebingungan, berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Romeo yang mulai terasa menyakitkan. "Gue lagi sibuk aja di rumah kok, bersihin-bersihin dan nyiapin makanan."

Romeo tidak menjawab, ia hanya melepaskan cengkramannya perlahan, tangannya bergeser ke saku celananya lalu mengeluarkan sebuah foto dari sana. "Foto ini dari kemaren sore kan?"

"Reo, duduk dulu..." kata Tina menenangkan Romeo yang menggeleng sambil menarik tangan Tina ke kamarnya.

Romeo menggeleng keras sambil menarik tangan Tina dengan sedikit lebih kuat menuju kamar mereka. "Gak bisa duduk... kita harus ngomong sekarang juga!" ucapnya dengan nada yang semakin tinggi, namun tetap terkontrol. Dia mendorong Tina perlahan ke arah tempat tidur, matanya tidak pernah lepas dari wajah istri yang kini tampak semakin khawatir.

Tina duduk di ujung tempat tidur, tangan kanannya masih dipegang Romeo. "Reo, tenang dulu ya... Foto itu memang dari kemaren sore, tapi bukan seperti yang lo pikirkan," ujarnya dengan suara lembut namun jelas, mencoba menenangkan suaminya yang masih tampak tegang.

Romeo akhirnya melepaskan tangannya dan berdiri di depan Tina, tangannya menekuk di pinggang. "Bukan seperti apa yang gue pikirkan? Lo dan Jovan duduk bareng di café, tertawa riang kayak orang pacaran aja! Kenapa nggak bilang sama gue? Kenapa harus diam-diam?" serunya, matanya mulai menunjukkan sedikit emosi yang tersembunyi di balik rasa khawatirnya.

Tina menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kita ketemu secara kebetulan di depan café itu, Reo. Jovan lagi mau ke kantor cabang baru di sini, dia cuma mau cerita aja tentang pekerjaannya dan nanya kabar tentang kita. Gue juga nggak sengaja lupa bilang karena setelah itu langsung pulang dan sibuk bersihin rumah sampe lupa cek ponsel. Padahal gue juga nyariin ponselnya tadi karena lupa taruh dimana!" jelas Tina dengan penuh kesungguhan, matanya menatap Romeo dengan tatapan jujur.

Romeo duduk di sebelah Tina, dengan rasa gusarnya. "Besok-besok Lo abaikan aja dia..." ucap Romeo dengan nada kesal. Bahkan dari dulu sampai sekarang, Romeo tetaplah sama—tidak suka dengan kehadiran Jovan di antara mereka. "Yaudah Lo mandi aja dulu, gue mau siap-siap..."

Romeo menatapnya dengan wajah bingung, dahinya mengernyit. "Mau kemana?"

"Ya Lo siap-siap aja dulu, pakai baju yang gue siapin ya..." kata Tina sambil berdiri dan keluar dari kamar, meninggalkan Romeo yang masih bingung menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup.

Tina langsung menuju ruang kerjanya. Ia ingat betul hari ini adalah 11 Januari—hari ulang tahun Romeo. Tina sudah lama merencanakan kejutan untuk suaminya di taman belakang rumah, lengkap dengan dekorasi kecil yang penuh makna dan hidangan kesukaannya. Ia cepat-cepat membersihkan wajahnya lalu mengoleskan make up tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih berseri. Setelah itu, ia mengenakan dress biru muda dengan motif bunga-bunga yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

Tak lama kemudian, Tina kembali ke kamar dan melihat Romeo sudah mengenakan kemeja biru muda dengan motif yang sama persis dengan dressnya. Keduanya saling menatap sebentar, lalu Romeo membuka mulutnya dengan nada sedikit terkejut. "Tinaaa?"

Tina tersenyum hangat sambil menghampiri Romeo, tangannya dengan lembut menyusuri lengan kemeja suaminya. "Kita pakai pasangan lho," ujarnya dengan suara manis, lalu menarik tangan Romeo perlahan. "Ayo, ayo... gue ada kejutan buat Lo."

Tina menarik tangan Romeo dengan lembut, dengan rasa penasarannya Romeo mengikuti langkah istri tercinta menuju taman belakang. Saat pintu kebun terbuka, Romeo langsung terkejut melihat pemandangan di depannya.

Lampu-lampu kecil berbentuk bintang bergelombang lembut di antara pepohonan, meja makan kayu kecil di tengah taman sudah dihiasi dengan kain meja warna putih dan bunga mawar merah yang segar. Di atas meja terlihat hidangan kesukaannya—dimsum mentai, sup krim jagung, dan kue ulang tahun kecil dengan lilin yang sudah menyala. Di sudut taman juga ada speaker kecil yang memutar musik instrumental yang lembut.

"Happy birthday Romeo...." ucap Tina dengan suara lembut dan penuh cinta, lalu mengecup pipi Romeo dengan lembut.

Romeo berdiri tak bergerak sejenak, matanya memandangi seluruh dekorasi dengan tatapan penuh kagum dan emosi. Ia perlahan menatap wajah Tina yang sedang tersenyum padanya, lalu menariknya ke dalam pelukan erat. "Tina... ini semua lo yang siapin?" tanyanya dengan suara sedikit getar, rasa kesal tadi lenyap begitu saja digantikan oleh kehangatan yang meluap di dadanya.

"Ya sayangku," jawab Tina dengan lembut sambil memeluk balik Romeo. "Karena akhir-akhir ini Lo kerja terus, jadi mungkin Lo lupa merasakan hari spesial yang seharusnya didapatkan."

Romeo tertawa pelan, tangannya cepat-cepat menyeka air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya—ini yang pertama kalinya dia menangis karena rasa bahagia yang begitu mendalam. "Terima kasih banyak ya sayang..." ujarnya dengan suara yang masih sedikit bergetar, lalu mengucup dahi Tina lembut.

"Ayo kita makan kue..." ajak Tina lagi dengan senyum hangat. Mereka berdua duduk di atas bangku kayu yang nyaman, di hadapan meja kecil yang penuh dengan hidangan kesukaan mereka berdua—selain dimsum mentai dan sup krim jagung, juga ada tumis kangkung dan ayam bakar yang sudah Tina siapkan dengan hati-hati.

Setelah mereka berdua menyanyikan lagu ulang tahun bersama, Romeo meniup lilin di atas kue dengan satu keinginan dalam hatinya. Ia kemudian memotong kue dan memberikan potongan pertama kepada Tina. "Ini buat kamu sayang, tanpa kamu hari ini tidak akan spesial seperti ini," katanya dengan tatapan penuh cinta.

Tina menerima potongan kue dengan senyum lebar, lalu mereka mulai menikmati hidangan yang ada sambil berbincang santai. Udara segar taman malam itu semakin terasa hangat dengan kehadiran satu sama lain, menghapus semua kesalahpahaman dan kekhawatiran yang pernah ada sebelumnya.

1
💕кαѕу¢нαη❀ ⃟⃟ˢᵏ
ceritanya bagus, bikin baper
💕кαѕу¢нαη❀ ⃟⃟ˢᵏ
teh emang enak, apalagi sambil makan kue.. beih enak banget pasti nikmat
Ria Irawati
aaaa Zayanggg gk tuh
Panda%Sya🐼
Teh emang mantap di makan sama kue /Applaud/
Suo
Aku suka cerita Tina sama Romeo, jadi senyum senyum sendiri/Proud/
Suo
awww🥺🥺
Suo
Malam pertama kok mabok/Sob/
j_ryuka
santailah, 🤭
Kim Umai
jadi kamu mau istri kamu ngapain Romeo?
ininellya
AdUH Aku ga denger😭🙈
Hafidz Nellvers
Alurnya mengalir dengan rapi, nggak terasa dipaksakan. Transisi antar adegan juga halus. keren deh pokoknya
Hafidz Nellvers
masih muda udah oon🤣
Hafidz Nellvers
agus agus 😭
SarSari_
Ini bukan cinta pandangan pertama, tapi cinta yang tumbuh dari masa lalu. Premisnya sederhana tapi kuat banget secara emosional.

smngt kakak....
SarSari_
Adegan danau + pengakuan pelan-pelan itu dapet banget vibes sedihnya. Romeo akhirnya cerita, dan itu artinya Tina orang yang dia percaya. Tina di sini bukan cuma pendengar, tapi pegangan emosional Romeo. So sweet...😭😭
Kim Umai
awalnya kukira ini Romeo yg di cerita Disney wkwk, tapi keren kalian baca sendiri deh kalau penasaran
Kim Umai
nah kan, tiati Tina 🤣
Blueberry Solenne
iya pastinya ini kisah Romoe dan Tina, bukan sama Juliet wkwkwk
Vanillastrawberry
setiap baca tulisan Agus yang mampir di otak ku malah min yoongi BTS, agust d si kulkas berjalan 🤣🤣🤣
Vanillastrawberry
woi lah, cewek cantik di panggil Agus, bener bener lu ye roma kelapa 😅😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!