NovelToon NovelToon
Mandala Yin Yang

Mandala Yin Yang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Romansa / Penyelamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tian Xuan

Che Tian, seorang Saint terkuat di alam dewa, kecewa ketika kekasihnya, Yuechan, direbut oleh Taiqing, penguasa alam dewa yang dipilih oleh Leluhur Dao. Merasa dihina, Che Tian menantang Taiqing dan dihukum, diturunkan ke bumi untuk mencari kekuatan yang lebih besar. Dengan senjata sakti, Mandala Yin Yang dan Kipas Yin Yang, Che Tian membangun kekuatan baru dan mengumpulkan murid-murid yang setia. Dalam perjalanannya, ia menghadapi pengkhianatan dan rahasia alam semesta, sambil memilih apakah akan membalas dendam atau membawa keseimbangan yang lebih besar bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tian Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Cinta yang Terlambat

Che Tian menarik napas dalam, menatap tiga orang di depannya yang masih terdiam dalam keheningan.

Lin Haotian mencoba bersikap biasa saja, tetapi ada sedikit kesedihan di matanya. Ye Qingxian menatap kosong ke arah lantai, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sementara itu, perempuan yang tadi hendak bunuh diri masih menundukkan kepala, air matanya belum benar-benar berhenti.

Namun Che Tian belum selesai.

Ia kembali mengangkat tangannya, dan domain pun terbuka sekali lagi.

Di Dalam Ilusi

Seorang pemuda berdiri di depan sebuah makam tua yang dipenuhi bunga liar.

Namanya Mo Tianheng.

Ia dulu adalah seorang pendekar muda yang tak memiliki apa pun selain keberanian dan tekad.

Namun ada satu hal yang selalu ia miliki—seorang gadis bernama Bai Ruyue.

Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Dunia mereka kecil, sederhana, dan hanya berisi satu sama lain. Bai Ruyue adalah satu-satunya yang selalu percaya pada Mo Tianheng. Saat dunia mengolok-olok impiannya, hanya Bai Ruyue yang berkata, "Aku percaya kau bisa melakukannya."

Namun Mo Tianheng memiliki ambisi besar. Ia ingin menjadi kuat, ingin menaklukkan dunia, ingin memiliki segalanya.

Dan karena ambisi itu, ia meninggalkan Bai Ruyue.

"Aku akan kembali setelah mencapai puncak dunia."

Bai Ruyue tersenyum dan mengangguk, percaya pada janjinya.

Namun, tahun demi tahun berlalu.

Mo Tianheng menaklukkan banyak medan perang. Ia menjadi terkenal di seluruh negeri. Kekuatannya diakui, dan banyak wanita yang mendekatinya, tetapi tidak satupun yang bisa menggantikan Bai Ruyue di hatinya.

Dan akhirnya, ketika ia merasa cukup kuat, ia kembali ke kampung halamannya, siap untuk menepati janjinya.

Namun yang ia temukan hanyalah sebuah makam tua.

Bai Ruyue telah pergi.

Ia menunggu selama bertahun-tahun.

Menunggu di tempat yang sama, hari demi hari, menolak lamaran siapa pun, tetap percaya bahwa suatu hari Mo Tianheng akan kembali.

Namun tubuh manusia tidak bisa menunggu selamanya.

Ia jatuh sakit dan meninggal dalam kesendirian, dengan hati yang masih penuh harapan.

Di makam itu, Mo Tianheng menemukan sepucuk surat yang telah menguning oleh waktu.

Dengan tangan gemetar, ia membukanya dan membaca:

"Tianheng, apakah kau masih ingat hari di mana kita bermain di bawah pohon persik?"

"Saat itu, kau berkata bahwa kau akan kembali dan membawaku bersamamu."

"Aku percaya padamu."

"Namun... kenapa kau belum juga datang?"

"Aku sudah menunggu terlalu lama..."

"Jika suatu hari kau kembali dan menemukan surat ini, aku hanya ingin kau tahu... bahwa aku tidak pernah membencimu."

"Aku hanya menyesal... karena aku tidak cukup kuat untuk bertahan lebih lama."

"Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku."

"Aku harap di kehidupan berikutnya... kau tidak akan membuatku menunggu lagi."

Mo Tianheng berlutut di depan makam itu.

Ia menggenggam surat itu dengan erat, tubuhnya gemetar.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lelaki yang telah menaklukkan dunia itu menangis seperti anak kecil.

Menyesali segala yang telah ia tinggalkan.

Menyesali bahwa ia datang terlambat.

Menyesali bahwa cintanya tidak bisa lagi terbalas.

Kembali ke Dunia Nyata

Che Tian perlahan membuka matanya, mengakhiri ilusi itu.

Suasana di dalam ruangan begitu sunyi.

Lin Haotian menundukkan kepala, matanya sedikit memerah.

Ye Qingxian memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan air matanya.

Namun perempuan yang tadi hendak bunuh diri kini menangis tersedu-sedu.

"Kenapa...?" isaknya. "Kenapa selalu ada orang yang datang terlambat...? Kenapa harus menunggu sampai semuanya sudah berakhir...?"

Che Tian menatapnya dengan tenang.

"Karena manusia sering kali tidak menyadari sesuatu yang berharga sampai mereka kehilangannya," ujarnya pelan. "Dan saat mereka ingin memperbaiki semuanya... waktu sudah tidak memberi mereka kesempatan."

Perempuan itu menangis semakin keras, tubuhnya bergetar.

Mungkin karena ia melihat dirinya dalam kisah itu.

Mungkin karena ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Lin Haotian menghela napas panjang. "Kisah yang menyedihkan lagi... Dari mana kau tahu semua cerita ini?"

Che Tian tersenyum tipis.

Namun dalam hatinya, ia berbicara pada dirinya sendiri:

"Karena aku pernah menjadi Mo Tianheng."

Tak ada yang tahu.

Tak ada yang akan tahu.

Namun bagi Che Tian, kisah ini bukan sekadar dongeng.

Ini adalah luka yang telah ia simpan selama ratusan tahun.

Dan meskipun dunia telah berubah, luka itu tetap ada di hatinya—sebagai pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh ditunda.

Karena waktu tidak akan menunggu siapa pun.

Lin Haotian, Ye Qingxian, dan perempuan itu menatap Che Tian.

Mata mereka masih basah oleh air mata, tetapi ada sesuatu yang berbeda sekarang.

Rasa hormat.

Rasa kagum.

Rasa syukur karena seseorang telah membuka mata mereka akan kenyataan hidup.

Lin Haotian mengepalkan tangannya, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Che Tian... tidak, Guru... terima kasih."

Ye Qingxian mengikutinya, suaranya sedikit bergetar. "Guru..."

Perempuan itu, yang hampir mengakhiri hidupnya tadi, kini menatap Che Tian dengan penuh rasa haru. "Guru..."

Che Tian terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.

Namun di dalam hatinya, ia hanya bisa bergumam:

"Aku tidak pantas disebut guru... Karena, bahkan aku pun pernah terlambat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!