Aurora terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di dunia asing yang begitu indah, penuh dengan keajaiban dan dikelilingi oleh pria-pria tampan yang bukan manusia biasa. Saat berjalan menelusuri tempat itu, ia menemukan sehelai bulu yang begitu indah dan berkilauan.
Keinginannya untuk menemukan pemilik bulu tersebut membawanya pada seorang siluman burung tampan yang penuh misteri. Namun, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan—bulu tersebut ternyata adalah kunci dari takdir yang akan mengubah kehidupan Aurora di dunia siluman, membuatnya terlibat dalam rahasia besar yang menghubungkan dirinya dengan dunia yang baru saja ia masuki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang Menipis
Saat Aurora dan Raviel memasuki Benteng Terakhir, mereka langsung disambut oleh suasana yang penuh keputusasaan.
Di balik dinding batu yang kokoh, kaum manusia yang tersisa hidup dalam ketakutan dan kelaparan. Para prajurit yang masih bisa bertarung beristirahat dengan luka-luka di tubuh mereka, sementara anak-anak dan orang tua bersembunyi di sudut-sudut benteng, mata mereka kosong dan penuh kecemasan.
Benteng ini mungkin masih berdiri, tetapi mereka semua tahu waktunya sudah hampir habis.
Sera menuntun mereka ke balairung utama, tempat Orion, Sang Pelindung Terakhir, sedang berdiri di depan meja strategi, dikelilingi beberapa penasihatnya.
Orion adalah pria tinggi dan kuat, dengan bekas luka di wajahnya. Mata birunya tajam, tetapi kelelahan jelas terlihat di raut wajahnya.
Ketika Sera memperkenalkan Aurora dan Raviel, Orion hanya menatap mereka lama, seolah menimbang sesuatu.
“Jadi kalian datang dari Kerajaan Langit,” katanya akhirnya, suaranya berat. “Dan kalian ingin menghentikan Noctyros?”
Aurora mengangguk. “Kami datang untuk mengakhiri kegelapan ini.”
Orion tertawa kecil, tetapi tanpa kebahagiaan. “Kalau begitu, kalian datang terlambat.”
Raviel menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
Orion melemparkan sebuah peta lusuh ke atas meja. “Lihat sendiri.”
Aurora dan Raviel menatap peta itu—dan mata mereka melebar.
Benteng Terakhir dikelilingi dari segala arah.
Pasukan Noctyros tidak hanya berjumlah ribuan, mereka juga telah menanam pilar-pilar kegelapan di sekitar benteng, memperlambat regenerasi energi cahaya yang melindunginya.
“Kami sudah bertahan selama mungkin,” lanjut Orion. “Tapi kegelapan semakin kuat setiap harinya. Kami kehilangan lebih banyak prajurit dibanding yang bisa kami latih. Jika keadaan terus seperti ini ....”
Ia menatap mereka dengan ekspresi pahit.
“Benteng Terakhir akan jatuh dalam tiga hari.”
Suasana di ruangan itu berubah tegang.
Aurora mengepalkan tangannya. “Tidak. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Orion menghela napas. “Dan apa yang bisa kalian lakukan?”
Raviel menatap peta dengan tajam. “Kita harus menghancurkan pilar-pilar kegelapan. Tanpa itu, pertahanan benteng akan pulih dan Noctyros tidak bisa menerobos dengan mudah.”
Orion mengernyit. “Itu berarti kalian harus keluar dari benteng, dan menghadapi pasukan bayangan di luar sana.”
Aurora mengangguk. “Kami tidak punya pilihan lain.”
Orion terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Baiklah. Tapi kalian tidak bisa melakukannya sendirian. Aku akan mengirim Sera dan beberapa prajurit terbaik kami untuk membantu kalian.”
Sera tersentak, tetapi tidak membantah. Ia hanya menatap Aurora dan Raviel dengan tatapan penuh tekad. “Kalau ini bisa menyelamatkan benteng, aku akan ikut.”
Raviel menarik napas dalam. “Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu. Kita harus bergerak sebelum Noctyros menyadari rencana kita.”
Aurora menatap langit yang semakin gelap di luar benteng.
---
Malam itu, Aurora, Raviel, Sera, dan sekelompok kecil prajurit terbaik menyelinap keluar dari Benteng Terakhir. Mereka bergerak cepat di bawah bayangan, menghindari patroli makhluk bayangan yang berkeliaran di sekitar benteng.
Di kejauhan, pilar-pilar kegelapan menjulang tinggi, memancarkan aura jahat yang mengalir seperti kabut hitam. Ada lima pilar yang harus dihancurkan—dan mereka harus melakukannya sebelum fajar.
Sera menunjuk pilar terdekat. “Kita mulai dari yang ini. Jika kita berhasil menghancurkannya, mungkin kita bisa melihat efeknya pada pertahanan benteng.”
Aurora dan Raviel mengangguk, lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.
Namun, ketika mereka hanya tinggal beberapa langkah dari pilar itu.
GRRRRRRR!
Dari balik kegelapan, makhluk-makhluk bayangan mulai muncul, jumlahnya lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Mata mereka merah menyala, dan tubuh mereka seperti kabut hitam yang terus berubah bentuk.
“Mereka sudah menunggu kita,” gumam Raviel, menarik pedangnya.
Sera bersiap dengan tombaknya. “Tidak ada jalan mundur. Kita harus bertarung.”
Aurora mengangkat pedangnya, dan dalam sekejap, pertempuran pecah!
Pasukan bayangan menyerbu dari segala arah, tapi Aurora dan Raviel bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Raviel mengayunkan Pedang Garuda Emas, melepaskan gelombang energi cahaya yang membelah beberapa makhluk sekaligus.
Sementara itu, Aurora memanggil Cahaya Aetheroin, membentuk lingkaran perlindungan yang melindungi Sera dan prajurit lainnya.
Sera sendiri bertarung dengan gesit, tombaknya berputar seperti kilatan petir, menembus tubuh makhluk-makhluk bayangan satu per satu.
Namun, setiap kali mereka menghancurkan satu makhluk, lebih banyak lagi yang muncul dari dalam kegelapan.
“Kita tidak bisa bertarung selamanya!” seru Sera. “Aurora, bisakah kau menghancurkan pilarnya sekarang?”
Aurora menggertakkan giginya. “Aku butuh waktu beberapa detik lagi!”
Raviel melompat ke udara, mengepakkan Sayap Emasnya, lalu turun dengan kecepatan tinggi. Dengan satu tebasan penuh energi, dia menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan sebagian besar musuh di sekitar mereka.
“Aurora! Lakukan sekarang!”
Aurora mengangkat tangannya ke arah pilar, dan dengan seluruh kekuatannya, dia menyalurkan Cahaya Aetheroin langsung ke inti kegelapan!
BRRAAAKKK!!!
Pilar itu mulai retak, dan kemudian ....
BOOOM!!!
Pilar meledak dalam cahaya terang! Gelombang kejutnya menghancurkan makhluk-makhluk bayangan di sekitarnya, memaksa mereka mundur ke dalam kegelapan.
Sera terengah-engah. “Itu berhasil! Tapi kita masih punya empat pilar lagi!”
Aurora menatap pilar-pilar lain yang masih berdiri. “Kita harus terus maju, sebelum Noctyros menyadari apa yang kita lakukan.”
Raviel mengangguk. “Ayo, kita tidak boleh berhenti sekarang.”
Dengan semangat baru, mereka bergerak menuju pilar berikutnya.
Setelah menghancurkan pilar pertama, mereka dan para prajurit tidak membuang waktu. Mereka segera berlari menuju pilar kedua sebelum pasukan bayangan sempat berkumpul kembali.
Namun, efek dari kehancuran pilar pertama terasa lebih besar dari yang mereka duga. Langit di atas benteng berubah, cahaya bulan yang sebelumnya tertutup kabut hitam kini mulai terlihat samar.
“Ini berarti pertahanan benteng mulai pulih,” ujar Sera. “Tapi kita masih harus menghancurkan empat pilar lagi.”
Aurora merasakan energi di sekelilingnya berubah. “Tapi itu juga berarti Noctyros pasti menyadari apa yang kita lakukan.”
Benar saja—tidak lama setelah mereka melangkah lebih jauh, suara raungan mengerikan menggema di langit malam.
KEHAADIRANNYA SUDAH TERBANGUN.
Sera menoleh dengan wajah tegang. “Apa itu?”
Raviel mengepalkan pedangnya lebih erat. “Noctyros sedang mengirim sesuatu, atau seseorang untuk menghentikan kita.”
Dari balik kegelapan, sesosok makhluk muncul.
Ia berbeda dari pasukan bayangan sebelumnya. Tubuhnya tinggi, berotot, dengan sayap hitam yang berkibar di punggungnya. Matanya merah menyala, dan di tangannya terdapat pedang kegelapan yang berdenyut dengan energi hitam.
Sera terbelalak. “Itu ... itu adalah Jenderal Abyssios. Panglima utama Noctyros!”
Abyssios melangkah maju, suaranya dalam dan menggema.
“Ratu dan Raja Langit, akhirnya kita bertemu.”
Aurora dan Raviel berdiri tegak, siap bertarung.
“Kami akan menghancurkan semua pilar ini dan mengakhiri kegelapanmu!” tegas Aurora.
Abyssios hanya tertawa kecil. “Kalian pikir bisa melawan kekuatan Noctyros? Sang Dewa Kegelapan sudah bangkit sepenuhnya. Tidak ada cahaya yang bisa mengalahkan kegelapan abadi.”
Raviel mengangkat pedangnya. “Maka biarkan aku membuktikan bahwa kau salah.”
Abyssios tersenyum sinis, lalu dengan kecepatan luar biasa, ia melesat ke arah mereka.
Abyssios menyerang Raviel lebih dulu, pedangnya beradu dengan Pedang Garuda Emas milik Raviel dalam ledakan energi yang mengguncang tanah.
Aurora langsung menyerang dari samping, mengayunkan pedangnya dengan energi cahaya, tetapi Abyssios menangkis dengan mudah, lalu membalas dengan pukulan kuat yang membuat Aurora terdorong mundur.
Sera dan para prajurit mencoba membantu, tetapi bayangan Abyssios tiba-tiba terpecah menjadi puluhan klon, menyerang mereka dari segala arah.
“Awas!” teriak Sera saat ia berusaha menangkis serangan dari klon bayangan.
Raviel dan Aurora bertarung sekuat tenaga, tetapi Abyssios terlalu cepat dan kuat.
Kemudian, Abyssios mengangkat tangannya ke langit—membentuk tombak hitam raksasa, lalu melemparkannya ke arah Aurora!
“AURORA!” teriak Raviel, melesat untuk melindunginya.
Namun sebelum tombak itu menghantam, cahaya emas muncul dari tubuh Aurora!
Aurora membuka matanya, dan dalam sekejap, Kitab Emas di tangannya bersinar terang. Cahaya suci menyelimuti tubuhnya, lalu sepasang sayap emas mulai terbentuk di punggungnya.
Abyssios terhenti, matanya membelalak. “Apa ini?”
Aurora merasakan kekuatan baru mengalir dalam dirinya. Kitab Emas telah membuka bentuk sejatinya.
Ia kini bukan hanya Ratu Kerajaan Langit, tetapi juga Jantung Cahaya, inti dari kekuatan Aetheroin, sang Garuda Sejati.
Dengan satu kibasan sayapnya, Aurora menciptakan gelombang cahaya besar yang menghancurkan semua klon bayangan Abyssios dalam sekejap!
Seraphine dan para prajurit terpana melihatnya.
Raviel tersenyum bangga. “Ini kekuatan sejatinya.”
Abyssios mundur selangkah, tetapi dengan cepat menguatkan tekadnya. “Tch! Menarik. Tapi kekuatan itu tidak akan cukup untuk menghentikanku.”
Aurora menatapnya dengan mata bersinar. “Kalau begitu, kita lihat siapa yang akan menang.”
Dengan kekuatan baru Aurora, pertempuran melawan Jenderal Abyssios akan mencapai puncaknya.