Cerita ini kelanjutan dari( Cinta tuan Dokter yang posesif).
Reihan Darendra Atmaja, dokter muda yang terkenal begitu sangat ramah pada pasien namun tidak pada para bawahannya. Bawahannya mengenal ia sebagai Dokter yang arogan kecuali pada dua wanita yang begitu ia cintai yaitu Mimi dan Kakak perempuannya.
Hingga suatu hari ia dipertemukan dengan gadis barbar. Sifatnya yang arogan seakan tidak pernah ditakuti.
Yuk simak seperti apa kisah mereka!. Untuk kalian yang nunggu kelanjutannya kisah ini yuk merapat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Zoviza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.
Reska terkejut bukan main mendengar penuturan dari Reihan. Sejak kapan pria yang terkenal arogan ini memiliki sifat pemurah. Selama ini Reihan dikenal sebagai pria yang memiliki kepedulian yang rendah bahkan nyaris tidak peduli dengan sekitarnya. Tapi kenapa tiba-tiba Reihan dengan mudahnya memberikan tumpangan pada sahabatnya. Ia tahu Jessi adalah asisten pribadi pria itu tapi ini adalah pertama kalinya Reihan begitu peduli pada asistennya. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara sahabatnya ini dengan Reihan.
"Tapi-- saya tidak memiliki uang untuk membayar sewanya Dokter," jawab Jessi terdengar lirih.
"Apa saya terdengar mengatakan akan menyewakannya padamu?," jawab Reihan kini dengan sorot mata dinginnya menatap Jessi yang terlihat tertunduk.
Jessi menggeleng cepat, gadis itu mengusap sisa air matanya dengan kasar. Andai tadi ia tidak pergi ke pemakaman, ia yakin kebakaran ini tidak akan terjadi. Lalu siapa yang sudah membakar rumahnya, ia selama ini tidak memiliki musuh.
"Jessi...aku turut bersimpati atas apa yang sudah terjadi. Semoga kamu tabah menghadapinya," ucap Rio yang tiba-tiba saja datang dan kini berdiri dihadapan Jessi menatap Jessi dengan tatapan iba.
"Ya...," angguk Jessi.
"Bagaimana untuk sementara waktu kamu tinggal di rumah sepupuku," tawar Rio.
Jessi menggeleng pelan, bukan ia tidak mau tapi ia ingin menghindari keluarga Rio. Perkataan Ibunya Rio beberapa hari yang lalu masih membekas di hatinya.
"Maaf Rio, aku tidak bisa. Kamu pasti mengerti kan alasanku," jawab Jessi.
A
"Ya. Tapi kamu akan tinggal dimana Jessi?. Rumah kamu sudah tidak bisa ditempati lagi. Atau begini saja, kamu tinggal bersama aku dan Mama," ucap Rio membuat Reska tampak terkejut mendengar permintaan Rio.
"Rio... kamu tahu Ibu kamu itu tidak menyukai Jessi. Lalu kamu mau ajak Jessi tinggal sama kalian?. Gila kamu Rio?," ujar Reska menjawab pertanyaan Rio.
"Ya aku itu hanya--
"Stop...," teriak Jessi membuat keduanya langsung bungkam. Kepalanya pusing memikirkan nasibnya kedepannya, tapi kedua sahabatnya malah bertengkar.
"Rio..maaf, sudah aku katakan kalau aku tidak bisa," ujar Jessi tanpa menatap pada Rio sedikitpun.
"Oke... baiklah," jawab Rio terlihat sedikit kecewa.
***
Jessi ikut Reihan ke apartemen milik pria itu, tidak ada satupun barang-barang miliknya yang bisa diselamatkan dari kebakaran yang melalap kediamannya.
Ting
Alfan
📩: Besok ada balap motor dan hadiahnya besar. Cukup untuk membiayai hidupmu untuk satu bulan ke depan.
Jessi menghela nafas beratnya, ia sudah lama meninggalkan dunia jalanan. Dulu ia seringkali ikut balap motor tapi demi sang Ibu ia memilih untuk berhenti dan menjalani hidup dengan tenang dan damai. Tapi apa ini, tiba-tiba temannya menghubunginya dan mengajaknya kembali untuk balapan.
Jessi tidak langsung mengiyakan ajakan temannya itu. Ia harus memilih untuk memikirkannya. Ini adalah masalah janjinya pada Ibunya. Ia memang membutuhkan banyak uang sekarang, apalagi rumahnya baru saja terbakar dan kini tidak lagi bisa ia tempati.
"Jarak apartemen dengan rumah sakit cukup dekat," ucap Reihan membuat Jessi yang semulanya menatap keluar jendela mobil menoleh padanya.
"Terimakasih atas bantuannya Dokter, saya berjanji jika besok saya akan mencari kontrakan," jawab Jessi. Ia sudah memikirkannya kalai ia akan mencari kontrakan untuk tempat tinggalnya sementara waktu atau mungkin selamanya.
Reihan menaikkan sebelah alisnya menatap Jessi dengan tajam."Kamu yakin?," tanya Reihan.
Jessi terlihat menghela nafas beratnya. Ia sudah memutuskan untuk mengambil tawaran Alfan. Hanya itu satu-satunya cara ia mendapatkan uang dengan cara cepat. Kembali balapan dan jika ia menang maka ia akan memiliki uang. Ia bekerja dengan Reihan baru beberapa hari dan untuk menunggu gajian sangat lama.
"Ya...," angguk Jessi.
"Terserah kamu saja. Dan jika kamu mau tinggal lebih lama di apartemenku juga tidak masalah," jawab Reihan menatap lurus jalanan yang ia lewati.
Jessi terkekeh pelan mendengar penuturan Reihan." Anda sangat baik Dokter, tapi kenapa anda begitu percaya pada saya?. Apakah Dokter tidak takut jika bisa saja saya menipu anda dan menjual apartemen anda, mungkin," ucap Jessi.
"Jika kamu melakukannya, anggap saja aku bersedekah," jawab Reihan sekenanya. Apartemen itu dibeli bukan dengan uangnya melainkan uang Opa. Opanya menghadiahkan apartemen itu setelah kelulusannya dulu sebagai Dokter.
Jessi sedikit terkejut dengan jawaban Reihan tapi itu hanya sementara. Gadis itu yakin Reihan tidaklah bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Mana mungkin ia menyedekahkan apartemennya. Yang ada dirinya akan di penjarakan oleh pria ini.
Sebenernya tadi ia sudah menolak untuk menerima tawaran Reihan tapi ia tidak punya pilihan lain selain menerima pertolongan dari atasannya. Jika ia menumpang pada Reska, Nenek sahabatnya itu tidak menyukainya karena ada sedikit permasalahan dengan Ibunya dulunya. Ia juga tidak memiliki keluarga selain Ibunya yang kini terbaring sakit di rumah sakit. Sementara untuk Papanya, ia sudah menganggap pria itu tiada setelah apa yang dilakukannya dulunya dengan meninggalkan Ibunya demi wanita lain.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Reihan sampai di kawasan apartemen. Reihan memarkirkan mobilnya di basement lalu turun di ikuti oleh Jessi. Pria itu menggulung lengan bajunya hingga siku lalu membuka kancing atas kemejanya.
Jessi yan melihat pemandangan itu sejenak terpesona melihat ketampanan dari atasannya itu tapi ia buru-buru sadar dengan apa yang ia pikirkan. Atasannya ini ternyata memiliki hubungan dengan Kakak angkatnya dulunya. Dan ia bisa menyimpulkan semuanya itu dari apa yang ia lihat di pemakaman tadi sore. Reihan membawakan buket bunga mawar putih yang merupakan bunga kesukaan dari mendiang Alana. Mana mungkin ia berpikiran untuk menyukai Reihan. Ia dan pria itu sungguh jauh berbeda. Dan ia tidak akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Ibunya dulu menikah dengan pria kaya berujung ditinggalkan.
"Sandi apartemen ini adalah xxxxxx," ujar Reihan menekan beberapa tombol sesampainya didepan unit apartemennya.
Jessi hanya menyimak lalu mengangguk pelan. Ia memandangi sekeliling dan ia yakin ini adalah apartemen mewah.
"Ayo masuk!," ucap Reihan membukakan daun pintu lebar-lebar untuk Jessi. Pria itu masuk lebih dulu dan berdiri membelakangi Jessi. Apartemen ini dua hari yang lalu ia tempati.
Ternyata dugaan Jessi benar jika apartemen ini sangat mewah. Baginya ini bukanlah apartemen melainkan penthouse.
"Kamar itu bisa kamu tempati," tunjuk Reihan pada sebuah kamar yang kemarin ditempat Aiden, sementara kamarnya sendiri ads di lantai dua.
Jessi mengangguk dengan pelan."Iya Dokter, terimakasih untuk tumpangannya malam ini," jawab Jessi.
"Hmm," jawab Reihan berdehem pelan.
"Oh ya di kulkas ada bahan makanan jika kamu ingin memasak. Tapi tunggu dulu, kamu bisa memasak bukan?," tanya Reihan.
"Bisa Dokter," jawab Jessi.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Besok pagi aku akan mampir kesini," ucap Reihan segara pergi meninggalkan Jessi tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Tubuhnya terasa sangat lelah, ia ingin beristirahat. Sebenernya ia bisa saja menginap disini tapi itu tidak mungkin. Jika Maminya tahu ia satu atap dengan seorang gadis bisa-bisa Maminya menggantungnya.
...****************...
Yang minta visual Jessi dan Reihan. Ini Author kasih ya. Kalian bisa membayangkan sendiri visualnya sesuai imajinasi kalian jika tidak suka dengan visual yang author kasih.
Dokter Reihan
Jessi
Untuk hari ini visual mereka dulu ya