Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Eka terus menatap wajah Kai yang tetap fokus pada jalan di depan. Dalam hatinya, ia sempat berpikir bahwa Kai akan berusaha meyakinkan Kakek untuk menolak pergi ke rumah orang tuanya. Namun, semua kekhawatiran itu ternyata hanya ada dalam pikirannya sendiri.
Pikirannya melayang kembali ke momen ketika Kai menjelaskan hubungan mereka pada Kakek Harjunot.
"Jadi, kamu merebut istri orang, Kai?" Suara Kakek Harjunot terdengar berat, penuh amarah yang ditekan.
Kai tetap tenang, tetapi genggamannya pada tangan Eka mengerat, seolah ingin memastikan bahwa ia tetap di sisinya. "Tidak, Kek. Aku sudah menyelidiki semuanya dengan jelas. Keluarga Wirawan yang menjual Eka... dan tanpa sengaja, dia masuk ke kamarku. Pernikahan mereka pun hanya sebatas di atas kertas."
Eka merasakan tangannya bergetar di dalam genggaman Kai. Ia ingin bicara, ingin membela diri, tapi tak ada satu pun kata yang bisa keluar dari bibirnya.
Kakek Harjunot menatap cucunya dengan tajam. Namun, matanya juga menangkap sesuatu yang tak bisa diabaikan—cara Kai menggenggam tangan Eka erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya. Tidak ada keraguan dalam sorot matanya.
Di balik kemarahannya, Kakek Harjunot menyadari satu hal—cucunya telah jatuh hati. Dan hubungan ini, bagaimanapun awalnya, bukanlah sebuah kesalahan. Terlebih, Eka kini mengandung anak Kai.
Eka menunduk, menahan napas yang terasa berat. Detik-detik itu membuatnya merasa seakan sedang dihakimi. Namun, di saat yang sama, genggaman tangan Kai memberinya ketenangan—sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu sedang ia butuhkan.
Kakek Harjunot menghela napas panjang, lalu menatap Kai dengan sorot mata sulit ditebak. "Lalu, apa yang kamu inginkan darinya, Kai?"
Kai tidak langsung menjawab. Ia menoleh pada Eka, seolah memberinya waktu untuk menenangkan diri. Kemudian, dengan suara yang tenang tapi penuh ketegasan, ia berkata, "Aku ingin bertanggung jawab, Kek. Bukan hanya karena Eka mengandung anakku, tapi karena aku memang menginginkannya ada di sisiku."
Eka menegang. Ia mendongak, menatap Kai dengan mata membulat. Benarkah itu yang ada di hati pria ini? Bahwa semua ini bukan sekadar tanggung jawab, bukan hanya karena keadaan memaksanya?
Kakek Harjunot masih menatap mereka dengan raut berpikir. Untuk sesaat, ruangan itu diliputi keheningan. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
Lalu, lelaki tua itu menghela napas berat dan akhirnya berkata, "Kalau begitu, buktikan, Kai. Jangan buat dia menyesali keputusannya memilihmu. Sekarang berangkat ke rumah eka dan bertemu bapaknya, waktu kalian sudah tidak banyak. Setelah semua berjalan lancar Kakek akan menyusul kalian."
Kai mengangguk mantap. Ia lalu menggenggam tangan Eka lebih erat, seakan ingin memastikan gadis itu tahu—ia tak akan melepaskannya. Sentuhan itu mengirimkan kehangatan yang perlahan menjalar di dada Eka, mengikis ketakutan yang selama ini mengungkungnya.
Kesadaran Eka kembali saat suara Kai terdengar di telinganya, rendah dan sedikit menggoda.
"Sampai kapan kamu mau melihatku seperti itu? Kamu nggak takut kalau saat ini juga aku bisa memakanmu?"
Eka tersentak kecil, baru menyadari bahwa sejak tadi ia terus menatap wajah Kai tanpa sadar. Pipinya langsung memanas. Kai meliriknya sekilas, smirk tipis di ujung bibirnya hampir tak terlihat.
"A-aku nggak lihat apa-apa…" bisik Eka buru-buru, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Kai hanya terkekeh pelan, tak berniat melepaskannya dari godaan singkat itu. Dengan satu tangan tetap di kemudi, ia mengulurkan tangan lainnya untuk mengacak pelan rambut Eka.
"Benarkah? Jangan terlalu tegang gitu, sebantar lagi aku akan menjadi milikmu, kamu bisa memandanginya secara eksklusif."
Sekali lagi, kata-kata itu membuat dada Eka menghangat. Kai mungkin terdengar santai, tapi setiap ucapannya selalu punya makna yang lebih dalam.
"Ka… kamu sudah nggak marah?" tanya Eka, masih menyimpan kegelisahan di hatinya. Semalam, Kai tetap dingin meskipun ia tetap menunjukkan perhatiannya.
"Menurutmu?" Kai menanggapi singkat.
Eka menggigit bibirnya, ragu-ragu sebelum akhirnya berbisik, "Kai… kamu bisa saja tidak melakukan ini. Aku akan menjelaskan semua pada Bapakku."
Kai mendengus pelan. "Menjelaskan kalau kamu sudah hamil di luar nikah dan lelaki itu tidak ada di sampingmu? Kamu berencana apa lagi, Eka?"
Eka menelan ludah kasar. Bukan… bukan itu yang ia maksudkan. "Aku tidak punya rencana apa pun. Karena aku nggak mau kehilanganmu."
Kai menatapnya sekilas sebelum menyeringai kecil. "Mulutmu ini manis sekali. Apa kamu sekarang mencoba menggodaku agar aku lengah?"
Eka mengembuskan napas panjang, kesal dengan tuduhan itu. "Bisa gak kamu tidak terus-menerus mencurigaiku?"
Kai mengangkat alis, tatapannya tajam namun tetap dengan nada menggoda. "Entahlah. Aku merasa kamu punya karakter lain dari peran istri tersakiti. Sepertinya kamu lebih cocok bermain sebagai antagonis karena banyak trik."
Eka mendengus, kali ini benar-benar kesal. "Karena aku wanita zaman reformasi, yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Bukan sosok yang bisa dijajah."
Kai tertawa kecil, matanya berkilat penuh ejekan. "Herannya, butuh satu tahun agar kamu bisa sampai di tahap ini."
Eka mengepalkan tangannya, tapi dengan cepat memasang senyum termanisnya. "Sepertinya kamu sudah tahu semua. Jadi menurutmu, kalau aku punya dendam dan ingin membalas semuanya, apa aku salah?"
Kai menatapnya lama sebelum menjawab. "Tidak."
Eka mengerjap. "Jadi kamu mau membantuku?"
"Tidak."
"Patkai…!" serunya kesal, sementara Kai hanya tertawa puas melihat ekspresi frustrasinya.
Kai dan Eka terus berbincang sepanjang perjalanan. Kadang bercanda, kadang serius, dan tak jarang saling mengejek satu sama lain. Waktu berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya, setelah hampir delapan jam di perjalanan, mereka tiba di kampung halaman Eka—Jogja.
Saat mobil memasuki jalanan kecil yang dikelilingi persawahan, Eka menatap keluar jendela dengan tatapan penuh nostalgia. Ada kehangatan tersendiri yang menyelimuti hatinya, meskipun kegelisahan tetap mengintai di sudut pikirannya.
"Masih sama seperti dulu?" tanya Kai, meliriknya sekilas.
Eka mengangguk pelan. "Iya… Tapi entah kenapa rasanya berbeda."
Kai tidak langsung menanggapi. Ia hanya memperlambat laju mobil, memberi kesempatan bagi Eka untuk menikmati suasana. Udara Jogja yang lebih sejuk, suara jangkrik yang mulai terdengar, serta aroma tanah basah setelah hujan—semuanya terasa begitu familiar namun sekaligus asing.
"Kita langsung ke rumahmu?" Kai akhirnya bertanya.
Eka menggigit bibirnya ragu. Ada ketakutan yang sejak tadi menghantuinya. Bagaimana jika ayahnya menolak kehadirannya? Bagaimana jika ia tidak diterima lagi di rumah itu?
"Eka?" Kai memanggilnya pelan, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
Eka menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, kita ke rumah."
Kai tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk pelan punggung tangan Eka sebelum kembali fokus ke jalan. Saat mobil yang dikendarai Eka memasuki pekarangan rumahnya, matanya menangkap tenda yang mulai didirikan di halaman. Dahinya berkerut tipis. Ia melirik Kai sekilas sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan bertanya kepada salah satu warga.
"Ini ada acara apa, Pak?" tanya Eka.
"Loh, Ka, gimana sih kamu? Besok kan resepsi pernikahan kamu. Masak kamu nggak tahu?"
"Resepsi?" Eka mengulang dengan suara lirih. Belum sempat ia mencerna kata-kata itu, suara yang begitu familiar terdengar di telinganya.
"Adit?"