Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya, Herlina terpaksa menikah dengan Harlord, seorang CEO muda yang tampan, namun terkenal dengan sifat dingin dan kejam tanpa belas kasihan terhadap lawannya.
Meski sudah menikah, Herlina tidak bisa melupakan perasaannya kepada George, kekasih yang telah ia cintai sejak masa SMA.
Namun, seiring berjalannya waktu, Herlina mulai terombang-ambing antara perasaan cintanya yang mendalam kepada George dan godaan yang semakin kuat dari suaminya.
Harlord, dengan segala daya tariknya, berhasil menggoyahkan pertahanan cinta Herlina.
Ciuman Harlord yang penuh desakan membuat Herlina merasakan sensasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya?" Herlina terperangah dengan perasaannya sendiri. Tanpa sadar, ia mulai menyerahkan diri kepada suami yang selalu ia anggap dingin dan tidak berperasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Satu hari setelah mereka pulang dari bulan madu.
Herlina duduk di meja makan, matanya terarah pada secangkir teh hangat yang sudah hampir habis. Suasana pagi yang begitu tenang, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati. Setelah beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara pada suaminya.
"Aku ingin berbicara sebentar," ucapnya pelan.
Suaminya, Harlord, yang sedang membaca surat kabar, menurunkan korannya dan menatapnya dengan penuh perhatian. "Mau bicara apa?"
Herlina menghela napas. "Aku ingin ijin mengunjungi rumah orangtuaku hari ini. Sudah lama aku tidak bertemu mereka, dan mereka juga pasti kangen sama aku. Apakah boleh?" tanya Herlina dengan wajah memohon.
Harlord terdiam sejenak, kemudian meletakkan surat kabar dan menatap Herlina. "Hari ini kamu ingin pergi?" tanya Harlord.
"Iya, siang ini. Kalau kamu mau ikut juga boleh," jawab Herlina agak ragu.
Harlord tersenyum kecil. "Tidak, kamu saja. Aku ada meeting dengan klien siang ini hingga sore hari. Aku akan menyuruh supirku yang mengantarkan kamu kesana, aku bisa menyetir sendiri." ucap Harlord lalu kembali membaca korannya.
Herlina merasa lega. "Terima kasih banyak."
"Aku titip salam saja untuk mereka." Harlord tersenyum kecil.
Dengan hati yang riang, Herlina pergi ke kamarnya untuk bersiap ke rumah orangtuanya. Walaupun mereka suami dan istri, Herlina dan Harlord punya kamarnya masing-masing.
...*****...
Hari ini cuaca cerah, matahari merangkak naik perlahan di balik pepohonan di sekeliling rumah. Herlina turun dari mobil sambil membawa sebungkus kue dan roti yang baru dibelinya dari pasar pagi tadi.
“Herlina, Nak!" sambut Liana yang kebetulan sedang berkebun di halaman depan.
“Mama,” Herlina meletakkan dahulu kantung roti yang ia bawa, dan menyambut pelukan hangat ibunya.
"Ya ampun nak..., kamu nggak perlu repot-repot bawa makanan, mama dan papa sekarang sudah bisa belanja di supermarket dan memperkerjakan satu asisten rumah tangga." tutur Liana, kembali menggandeng putrinya masuk ke rumah.
Herman yang kebetulan sedang membaca koran sambil minum kopi, terkejut melihat Putrinya pulang.
"Herlina? Kamu mampir juga?” ujar Herman matanya sedikit membelalak, masih terkejut.
Herlina mengangguk sambil menghampiri ayahnya. “Papa aku kangen, makanya aku mampir sebentar.” seru Herlina dengan suara manja.
Herlina pun duduk di dekat ayah dan ibunya, menikmati sepotong roti dan kue sambil berbincang tentang pengalamannya belajar berkuda.
“Awalnya aku nggak berani, takut kuda-nya lari kencang. Tapi setelah coba dua kali keliling padang rumput, jadi berani,” Herlina bercerita penuh semangat.
Ayahnya yang mendengarkan dengan antusias tertawa kecil. "Gak nyala nak, kamu kan dulu penakut, lihat kelinci aja kamu ikutan lompat.”
Liana menimpali, “Baguslah kalau acara bulan madu kalian berjalan lancar, papa dan mama tinggal menantikan cucu. Kamu harus banyak makan, ya, supaya sehat-sehat terus, nanti bisa ajak cucu-cucu berkuda juga.” ucap Liana tertawa kecil
Herlina tersenyum tersenyum datar, tahu kalau ia dan suaminya belum sampai ketahap itu. Daripada menjawab celetukan ibunya, Herlina memilih minum teh dan makan kue.
.
Waktu menjelang sore, Herlina pun berpamitan pada ayah dan ibunya. Ia segera memasuki mobil dan berkendara menuju rumah kediaman suaminya. Saat perjalan Herlina sadar ia melewati sebuah taman, taman yang familiar, taman tempat george biasanya sedang ngamen.
Ia menyuruh sang supir menepikan mobil di dekat taman. Taman yang dulu sering ia datangi dan lewati bersama teman-temannya, tempat yang selalu ramai oleh anak-anak yang bermain dan orang-orang yang berolahraga.
Namun ada satu kenangan yang tak bisa ia lupakan dari taman itu. George sang mantan, biasanya mengamen di sudut taman dekat air mancur, dengan gitar tua miliknya.
“George,” bisik Herlina dalam hati.
George, sedang asik memainkan sebuah lagu. Meski wajahnya sedikit berubah tirus, namun senyumnya tetap sama.
Tanpa disadari, mata mereka saling bertemu pandang. Seketika itu juga waktu seakan berhenti. Herlina merasa jantungnya berdegup kencang. George pun berhenti sejenak dari permainan gitarnya, menatap Herlina dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka berdua hanya saling memandang dalam diam, seolah membiarkan kenangan lama mengalir kembali di antara mereka.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
**Jangan lupa meninggalkan jejak kebaikan dengan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘**