Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Dibohongi
Mata Sam terus memandangi pintu kamar Resa, Sam teringat ucapan Resa sebelumnya. Hatinya sangat ingin dekat dengan Resa. Tapi, dia tidak mampu mengusir Vania dari dalam hatinya.
"Vania Sekarang berubah, aku tidak punya alasan, untuk berhenti mencintainya, maafkan aku Resa, kamu benar. Mendekatimu, hanya membuat hatiku semakin bimbang," gumam Sam.
Sam teringat akan sesuatu, Vania berkata, kalau dia tidak mampu jauh dari Sam. Sam ingat, selama ini Vania sangat sering meninggalkannya, bahkan pernah meninggalkannya selama tiga bulan. Sam terus berpikir. Vania berubah pasti ada sesuatu yang dia lakukan atau sesuatu yang dia inginkan. Sam tidak perduli Sekarang jam berapa, dia melangkah menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Di kamar itu, Vania masih sangat lelap tertidur, Sam membetulkan posisi selimut yang menutupi tubuh Vania yang polos, karena kegiatan sebelumnya. Sam meraih ponselnya dan segera pergi dari kamar itu.
Sam langsung menelepon Pak Bim. Tidak berselang lama panggilan teleponnya di angkat Pak Bim.
"Iya, Tuan." Sahutan dari ujung telepon sana.
"Pak Bim. Apa yang terjadi di rumah, setelah saya pergi?"
"Nona, tidak mengadu pada Anda, Tuan?" Pak Bim, balik bertanya.
"Tidak."
"Tidak berselang lama setelah Anda pergi, banyak pihak yang datang kerumah ini. Saya mengusir mereka semua. Ternyata, Nona Vania menandatangani kontrak kerja sama, mengadakan Reality show di rumah ini, Tuan."
"Apa?" Sam sangat kaget mendengarnya.
"Saya terpaksa mengusir mereka semua, karena tidak ada izin dari Tuan."
"Kerja bagus Pak Bim!" Seru Sam.
Seketika, hati Sam terasa sesak. Dia menyudahi panggilan teleponnya dengan Pak Bim.
"Sudah kuduga, dia baik seperti ini, ada sesuatu yang dia rencanakan."
Sam terus membuat otaknya bekerja. Memikirkan bagaimana, agar selangkah lebih maju dari Vania. Dia langsung menelepon Dirga. Untuk meminta bantuan teman, sahabat juga saudaranya itu.
"Ada apa? Kenapa kau meneleponku selarut ini?" Suara Dirga terdengar serak.
"Aku di bohongi Vania," ringis Sam.
"Ck ck ck! Itu bukan hal baru, selama dia di sampingmu, selama itu pula dia selalu membodohimu!" Bentak Dirga.
"Ini keterlaluan, Dirga. Apakah dia tidak punya hati sedikit pun?"
Sam mulai menceritakan kepergian ibu dan neneknya, bersama Resa. Juga menceritakan kenapa dia menyusul ibu dan neneknya. Hingga Vania juga datang ketempat ini.
Dirga tertawa terbahak-bahak. "Apa imbalannya, jika aku bisa membuka matamu?" Tanya Dirga.
"Apa yang kamu mau?"
"Resa! Aku hanya inginkan Resa." Dengan mudahnya Dirga mengatakan hal itu.
Resa? Apakah dia sangat istimewa? Sehingga Dirga sangat menginginkannya.
Sam menyandarkan dirinya dari lamunannya. "Tidak bisa! Silahkan katakan apa mau mu. Tapi, jangan Resa!" Sam berusaha menahan suaranya.
"Ck ck ck, lebih baik biarkan Resa bahagia bersamaku, daripada dia bersamamu, dia tidak kamu anggap sebagai istri."
"Itu urusanku!" Sam berusaha menyembunyikan sesuatu yang hadir dalam hatinya.
"Jangan kau bilang, kau sudah jatuh cinta pada istri kedua yang kamu rahasiakan itu," ejek Dirga.
"Cepat, katakan apa yang kamu inginkan? Vania sudah menungguku di tempat tidur!" Sam berusaha mengelak.
"Baiklah, aku akan pikirkan yang lainnya," jawab Dirga.
Sam menyudahi panggilan teleponnya dengan Dirga. Di memandangi kearah kamar Resa. Dia meletakkan ponselnya di atas meja tamu, sedang kedua kakinya mulai melangkah menuju kamar tidur Resa. Sam beruntung karena pintu kamar itu itu tidak dikunci oleh Resa.
Di tempat tidur itu, terlihat seorang wanita yang berbaring dengan posisi miring. Perlahan Sam masuk kedalam kamar itu. Dia mengunci pintu kamar itu terlebih dahulu. Sam duduk di sisi tempat tidur, jemarinya membelai rambut Resa. Hingga membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Anda?!" Resa nampak ketakutan menyadari kehadiran Sam, di kamarnya. Dia ingin bangun. Tapi, Sam menahan pergerakan tubuhnya.
"Tetaplah di sana," ucap Sam.
"Maafkan aku," ucap Sam. Dia memandangi wajah Resa, begitu Sendu.
"Tuan, menjadi istri kedua Anda, sungguh sangat menyiksa saya. Tolong jangan siksa saya lagi dengan hal yang lainnya." Resa memohon.
Jemari Sam masih membelai rambut Resa. "Aku, merasa sangat bersalah padamu. Pernikahan ini, kehamilan ini." Tangan Sam berpindah membelai permukaan perut Resa, yang tertutup oleh selimut.
Ada kenyamanan tersendiri bagi Resa, saat tangan Sam menyentuh bagian perutnya. Resa merasakan sekujur tubuhnya terasa hangat.
Sam tersenyum, melihat rona wajah Resa, yang seketika memerah. Sam melanjutkan kembali ucapannya. "Semua ini, hanya merugikanmu, kamu tidak kuasa menolak semua ini, bukan?" Kini tangannya menggenggam erat telapak tangan Resa. Jadi jemari tangan mereka saling bertautan.
Resa hanya diam, hatinya sangat senang, Sam menyentuhnya. Walau hanya membelai pucuk kepalanya dan jemari tangannya.
"Resa, beri aku kesempatan untuk memberikan perhatian pada bayi yang saat ini kamu kandung." Pinta Sam.
"Tuan, tolong … jangan membuat saya merasa sedih, jalankan saja tugas Anda pada Nona Vania, jangan dengan saya, posisi saya hanya istri kedua yang tidak pernah Anda terima. Saya tahu, Tuan sama sekali tidak menginginkan saya."
Sam terus menggenggam tangan Resa begitu erat. Matanya hanya memandangi wajah Resa. Sedang Resa membuang wajahnya kearah yang lain.
Mata Resa melotot saat dia memandang kearah pintu kamarnya. Ada bayangan seseorang berjalan di depan pintu kamarnya tersebut. Melihat Resa nampak tegang. Sam juga memandang kearah pintu kamar itu. Mereka berdua sama-sama melihat bayangan seseorang di depan pintu kamar tersebut.
Perlahan gagang pintu kamar itu bergerak. Membuat Resa semakin ketakutan. Karena ada Sam di dalam kamarnya. Terlebih, di Villa ini hanya ada mereka berempat.
*****
Bersambung.
Maaf, sedikit dulu ya, mulai besok Author akan update minimal 6000 kata perminggu, karena itu tugas dari Noveltoon Writing Academy.
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja