"Biarlah ini menjadi taqdir yang harus aku lalui, bu"
Aku yakin suatu hari nanti Allah akan memberikan jodoh yang Allah Ridhoi untuk, Kia!
Nakia Rahmadhani Aulia, gadis yg berusia 22 tahun. Yang harus mengalami gagal menikah dengan pembatalan yang tak layak, yang membuat kedua orangtuanya kecewa kepada Rendy yang telah memutuskan tanpa alasan yang jelas.
Akankah Nakia bisa menata hatinya, dan menemukan jodoh yang terbaik untuknya?
Ikuti laju cerita cinta Nakia yang penuh luka di hatinya.
Selamat membaca karya pertamakku, ya. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam novel ini.
Selang beberapa bulan Kia dapat melupakan sosok Rendy dengan kehadiran Prama sang anak pengusaha. Yang memiliki kisah percintaan yang membuatnya menjadi seoang yang dingin terhadap wanita.
Lama-kelamaan ia sering bertemu dengan Nakia sang penjaga butik langganan almarhumah mamahnya. Mereka menjalani kisah cinta yang hampir kepelaminan. Namun taqdir lagi-lagi membuat Kia harus bersedih kembali karena kematian Prama yang 2 minggu lagi akan menjadi suaminya.
Setelah ke pergian sang calon suami membuat Kia terpuruk dan selalu bersedih bila menatap semua kenangan-kenangan bersamanya. Sampai akhirnya Kia tinggal jauh dari kedua orangtua, kakak dan adiknya.
Dapatkah Kia menemukan JODOH yang sudah siapkan oleh Sang Maha Kuasa? Ikuti selalu setiap episodenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pertunanganku
Episode 34. Pertunangan
Hari ini adalah hari dimana awal aku akan menempuh kehidupanku baru dan selangkah aku akan melepas masa lajangku. Tari sahabat kejaku pun datang ke rumah, apa lagi Ulan yang antusias sekali mendengar aku dan kak Prama tunangan secara resmi. Akupun mengabari Feby sahabat sekolahku dulu, entah kemana dia tak pernah terlihat lagi semenjak pertemuan terakhir kami waktu reonian empat bulan yang lalu, akupun mengabari mba Mesi tapi beliau berhalangan hadir karena sedang ada di luar daerah bersama suaminya mas Akrom.
"Masyaa Allah, Kia kamu cantik banget kalau udah di make up kaya gini, aku yakin pak Prama makin cinta sama kamu. Puji Tari yang melihat aku dari atas sampai bawah.
" Siapa dulu dong, Tar? yang make up in aku! Ucapku yang melirik ke arah Ulan yang masih membereskan alat make up yang ia bawa dari rumah, karena di kamarku hanya ada bedak bayi dan vitamin bibir karena aku memang tak pernah memelihara alat lenong seperti Ulan.
"Kamu itu pada dasarnya memang cantik, Kia! Mau didandanin atau gak pun kak Prama akan tetap sayang dan makin cinta sama kamu. Celoteh Ulan tak mau kalah dengan Tari yang sudah lama aku kenalkan dia kepada Ulan.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaykum... kak apa kakak sudah siap? Ucap Rahma yang sudah ada di ambang pintu kamarku.
" Ya dek, sebentar kakak tinggal benerin jilbab aja sedikit lagi, kamu masuk aja beruang madu. Jawabku.
Rahmapun menghampiriku sambil menutup mulutnya ketika melihatku yang sudah rapih. "Yaa Allah ini beneran kakakku si tikus dapur?. Ucapnya yang tak mau kalah dengan ledekanku tadi.
" Biasa aja dong gak usah mangap gitu! kakak tau, kakak itu memang cantik tapi gak segitunya juga kamu liatin kakak, dek! Yang kini kami berempat melangkah ke ruang tamu namun Tari dan Ulan berhenti tepat di ruang meja makan karna di luar sudah ada kak Prama, Pak Prayoga, mas Huda, Brayen dan satu temanya yang di dampingi wanita di sebalahnya yang waktu itu aku pernah menghadiri pesta pernikahannya.
"Sini sayang...! ucap ibu yang melihat kedatanganku bersama Rahma.
Akupun duduk di sebalah ibuku mata kak Prama dan mas Huda seolah memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Dua laki-laki itu menatap diriku yang sedikit tertunduk karena aku merasa gugup di depan orang banyak.
" Sayang, pak Prayoga sudah mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah kita, beliau melamar kamu untuk nak Prama, gimana apa kamu menerimanya? Ucap ayah yang membuat aku salah tingkah dan wajahku merona karena menahan gugup seketika tanganku terasa dingin ketika ayah mempertanyakan hal itu.
Ibu yang tau kegugupanku seraya memegang tanganku seolah memberikan kenyamanan dan ketenangan.
"Bismillah Inshaa Allah, Kia menerima lamaran kak Prama, yah! Ucapku yang masih dalam posisi menundukan kepala.
"Alhamdulillah..." ucap semua orang yang ada di ruangan.
"Kalau gitu, Prama silahkan kamu pakaikan cincin ini kejari manis nak Kia! Ucap pak Prayoga menyodorkan kotak berwarna bening dengan dua cincin berlian yang begitu indahnya.
Namun letika Prama ingin meraih kotak tersebut, aa Razi menghentikannya.
" Maaf... Maaf om, sebaiknya yang memakaikan cincin untuk adik saya, ibu saya saja, karena dari pihak keluarga om tidak ada yang menggantikan posisi almarhumah tante Melinda jadi Prama dan Kia belum jadi makhrom, maaf ya om!. Ucap Razi santun.
"Oohhh sepeti itu, ya tak apa nak Razi, maaf om belum terlalu paham masalah itu. Tukas pak Prayoga seraya memberikan cincin tunangan itu kepasa bu Aisyah.
****
Pemasangan cincinpun selesai. Dan acara makan-makan pun berlangsung dengan dua keluarga tersebut. Tapi tidak dengan Razi yang masih menatap gadis ayu yang selalu mengenakan jibab lebar berwarna coklat motif abstak dan dipadukan dengan gamis yang sederhana tanpa motif.
Senyum Tari terukir ketika matanya bertemu dengan tatapan Razi. Dan menundukan kembli pandanganya setelah ia memberikan senyumnya kepada pria yang tersenyun malu.
" Ehem... Ehem... Aa!! Udah sendok aja dulu nasinya! Biasa aja liatin Tarinya! Kasian tuh kak Darka yang sudah menunggu di belakang aa? Ucap Kia yang tau kalau aa nya menaruh hati kepada teman kerjanya itu. Karena waktu Prama mengantarkan Kia pulang waktu itu Sasa dan Tari ikut mengantarkan Kia. Karena Razi tidak mnegizinkan bila Kia dan Prama pulang hanya berduaan dalam mobil.
Razi 'pun dibuat salah tingkah atas perkataan adiknya itu. Niat hati ingin mengambil nasi namun ia hanya mengambil sepotong ayam dan satu sendok salad buah.
"Eh raja minyak elo gak salah makan ayam sama salad buah? Nasinya mana?. Tanya Draka yang antri di belakang Razi.
" Diem loe kanebo kering, gue emang lagi gak makan nasi biar perut gue gak gendut kaya perut elo. Jawabnya yang sudah menuntaskan sendokannya.
"Awas loe ya, kalu elo nikah dan gue liat elo gak tambah bengkak gue bakalan kasih elo sepedah kesayangan gue. Ucap Draka yang sudah mengambilkan nasi untuk istrinya.
"Gue pegang janji elo ya, kanebo kering! Jawab Prama meladeni tangtangan Draka.
Bu Aisyah yang menyaksikan kelakar anak dan sahabat anaknya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Seraya berkaya. " Kalian berdua ini tetap aja sama seperti dulu, selalu bawa-bawa Raja Minyak dan Kanebo Kering. Kalian ini padahal saling melengkapi karena kalau minyak tumpah kelantai kanebo kering itu bisa membuat lantai yang tadinya basah menjadi kering karena di lap dengan kanebo kering, dan kanebo punt tidak akan kering lagi kalau sudah kena minyak jadi adilkan saling melengkapi? Celoteh bu Aisyah yang menanggapi candaan dua lelaki itu.
"Tante bisa aja cari makna filoshofinya"
Ucap Draka yang duduk di sebelah Razi dan Prama.
***
"Mas Huda tidak makan? Tanya Kia yang menghampiri Huda yang sedang duduk di bangku teras. Dan membuat lelaki yang sedikit pediam itu kaget dan menoleh kearah Kia.
" Kebetulan mas masih kenyang jadi belum sanggup bila harus mengisinya lagi. Jawbanya yang sambil memandang bunga yang mekar di malah hari.
"Padahal masakan itu aku dan ibu loh yang masak. Tukas Kia yang duduk di kursi sebelah Huda.
"Ini bunga yang mekarnya hanya di malam hari saja kan, ya? Tanya Huda mencari bahan obrolan dengan Kia.
" Iya ini namanya bunga Wijaya Kusuma, tanaman ini gak hanya disi ini aja di belakang rumahpun banyak. Biasanya ayah akan membagikan kepada teman ngaji ibu, karena ibu-ibu disini sangat suka dengan bunga ini. Jawab Kia sambil turun menghampiri bunga tersebut.
"Nak Huda kenapa tidak makan? Ayo makan dulu sana, Ucap pak Hasbi yang ada di ambang pintu rumah.
"Tidak om terima kasih, kebetulan saya tadi sudah makan waktu sore jadi perut saya masih kenyang. Jawab Huda yang sambil memegang bunga wijaya kususma.
" Nak Huda suka dengan bunga itu? Bawa saja untuk tanaman di rumah, disini banyak bunga itu, om kalau sehabis pulang kerja pasti akan memisahkan pohon-pohonnya agar jadi banyak, karena teman-teman istri om biasanya suka kesini untuk memintanya. Ucap pak Hasbi.
"Anak saya yang satu ini memang sangat suka melihat bunga-bunga, pak Hasbi! Makanya sewaktu almarhum masih hidup belau selalu membawa Huda ketika hendak membeli bunga untuk tanaman di rumah. Ucap pak Prayoga yang bergabung dengan dua lelaki itu.
Kia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam dan mengajak ngobrol Tari, dan mencari sosok sahabatnya Ulan yang sedari tadi tidak telihat olehnya.
****
Ulan kemana ya?kok aku gak liat dia di dalam di luarpun gak ada? Ucapnya bingung.
"Kalau gak salah dia tadi pamit ke halaman belakang dech Kia" Kalau gak salah sama pak Brayen. Ucap Tari yang menghampiriku.
Dan benar saja ketika Tari dan Kia menuju pintu belakang disana ada Ulan dan Brayen sedang mengobrol bersama dengan Rahma adik Kia.
" Wahh... Wah... Kalian ini kelihatan akrab ya? Apa jangan-jangan kalian ini ada hubungan apa-apa nih? Ucap Kia yang duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu.
"Apaan sih Kia, aku itu baru kenal kak Brayen disin, itupun aku gak sengaja liat Rahma yang lagi bercanda dengan kak Brayen. Jawab Ulan yang mengerucutkan bibirnya.
"Oohhh aku pikir kalian ini udah saling kenal! Tapi kalau kalian saling dekat dan jadian, wahh... Aku gak yakin Brayen bakalan nikahin kamu, Lan! Secara Brayen kan suka PHPin anak orang. Gue sebagai sahabat elo gak bakalan setuju kalau Ulan pacaran sama Brayen. Ucap Kia yang tak sadar ada Rahma ditengah-tengah mereka.
"Iiihhh... Kakak, kok ngomongin pacar-pacaran sih... Kan ada aku yang belum cukup umur buat ngedenger itu semua. Kalau gitu akau masuk aja dech ke kamar dari pada telingaku dikotori kata-katanya orang dewasa.
"Udah sana beruang madu yang manis. Ucap Brayen. " Jangan denger omkngan Kia ya, Lan! Gue itu laki-laki setia sama pasangan, Kia nya aja tuh sirik kalau gue deket sama cewe yang gue deketin. Ucap Brayen yang duduk di saung bambu yang tak cukul besar itu.
"Masyaa Allah, ya Kia disini suasananya asri banget, ada kebun kecil dan saung yang bikin nyaman kalau ada di sini? Ucap Tari angkat bicara yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Kia dan Brayen.
****
Jampun menunjukan pukul 10 malam keluarga Prama dan teman-temannya pun sudah pulang tinggal Tari yang belum di jemput pulang. Kia yang sudah membersihkan wajahnya dari make up dan mengganti bajunya dengan baju tidur motif daun.
"Kamu nginep disini aja ya, Tar? Orangtuamu masih di jalan kali kotak x kali jadi belum bisa jemput. Aku janji dech bakalan anterin kamu sama aa Razi besok, pake taksi online, ya? Ucap Kia yang tak enak hati karena Tari sampai larut malam belum di jemput, seandainya Kia minta tolong dengan Razi pun, pasti Razi mau pun Tari tidak akan mau bila pulang hanya berduaan dalam satu motor. Karena Razi dan Tari sama-sama satu pemahaman dalam menjaga diri.
Ponsel Tari pun berdering menandakan panggilan masuk pada ponselnya.
"Wa alaykum salam... Ya bi... Tari masih di rumah Kia.
Oohh begitu, ya sudah ia... Tari akan menginap disini dulu. Ucap Tari yang menerima panggilan tersebut. Panggilanpun berakhir.
" Benerkan? Kamu bakalan disuruh nginep dulu sama umi abi kamu di rumahku. Yaa ampun aku seneng kamu akhirnya bisa nginep di sini nemenin aku. Ucap Kia kegirangan. Karena dia punya niatan akan mendekatkan Tari dengan aa nya.
Akhirnya Tari pun meletakan tas yang akan ia kenakan ketempat asalnya.
Kia yang sibuk mencari baju tidur untuk Tari pun akhirnya menemukan rok oanjang yang serinh ia gunakan ketika ikut pengajian remaja beberapa tahun yang lalu.
"Tari kamu pake baju tidurku yang ini ya? Dan ini roknya kalau kamu mau ke luar dari kamarku. Maaf ya kalau rumahku tak senyaman rumah kamu. Ucap Kia yang sudah memberikan baju tidur motif bunga berlengan panjang untuk Tari.
"Kia, aku seneng kok nginep di rumah kamu, rumah ini begitu menyejukan gak kaya di rumah aku yang full panasnya. Hehe. Ucap Tari yang sudah menuju kamar mandi untuk memakai baju tidur Kia.
Selesai Tari dari kamar mandi merekapun bercengkrama membicarakan prihal pernikahan Kia dan Prama yang akan di laksanakan sebulan lagi. Selain membicarkan hal pernikahan Kia berniatan akan menjodohkan Tari dan kakaknya yang ia sayangi. Karena Kia tau pasti selera aa Razi seperti Tari, yang selalu menjaga izzahnya sebagai wanita.
" Tari, aku boleh tanya sesuatu gak? Tanya Kia yang sambil memeluk boneka Jerapah pemberian dari laki-laki yang ia cintai.
"Mau nanya apa sih, Kia? perasaan aku udah cerita semua tentang diriku?. Jawabnya yang sambil memainkan benda pipih ditangannya.
" Kalau seandainya aa Razi ngekhitbah kamu, apa kamu mau terima khitbahan aa ku? Ucap Kia yang sambil menatap mata Tari yang langsung menatap Kia karena kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan Kia.
"Aa.... apaaa...?" Ucap Tari gugup.
"Ini aku lagi berandai-andai aja, Tar? Kamu gak usah kaget gitu. Ucap Kia yang memaerkan gigi dan senyum indahnya.
" Lagian kamu ada-ada aja nanyanya, kan aku juga jadi kaget, Kia. Ucapannya malu.
"Tapi yakin kalau aa ku itu kayanya suka dech sama kamu, secara kamu dan aa ku kan sebelas dua belas, sama-sama sholih dan sholihah yang anti pacaran. Ucap Kia yang memegang kedua tangan Tari.
" Hemm... masalah jodoh semua ku pasrahkan kepada abi dan ummiku, Kia. Krena mereka orngtuaku yang berhak memilihkan jodoh untukku. Ucap Tari yang menunduk.
"Hemm... tapi kan gak ada salahnya bila aa ku mengutarakan niatnya kepada orangtuamu. Ucapku berharap aaku bisa dengan Tari, karena walau baru bebeapa bulan aku mengenal Tari, aku tau wanita seperti apa Tari itu.
" Ya sudah, jangan bahas ini lagi, ya! mensing kita tidur karena besok kan kita liburan. Ucap Tari yang membaringkan badannya yang membelakangi Kia.
.
.
.
.
.
**Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya mentemen**...!
jangan lupa meninggalkan jejak like dan komennya ...
masukan ya sangat di tunggu