Berawal dari hubungannya dengan seorang pria bernama Aldi, Rindu terlalu naif dan berfikir hanya Aldi lah satu satunya pria yang tulus mencintainya.
hingga suatu kejadian pahit membuat Rindu tersadar,jika Aldi bukanlah pria yang tepat untuknya. dan kisah Rindu pun bermula, kejadian demi kejadian pahit membawanya pada sosok seorang pria angkuh. siapa sangka pria itu akhirnya menjadi suaminya.
akankah Rindu menemukan kebahagiaan setelah pernikahan?
atau cobaan demi cobaan masih harus menguji Rindu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia Riadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.34#Penyesalan
Sungguh perasaan Aldebaran dibuat tidak menentu, ada rasa penyesalan di hatinya.ia menyesal karena membiarkan Rindu pergi menemui Vano. ia tidak menduga kalau pada akhirnya perasaan cemburu itu akan menyiksanya.
Al hanya berharap kalau Rindu bisa memahami perasaannya.
Yang ku perjuangkan sekuat usahaku, jika kau tidak memperjuangkan sepenuh hatimu,tetap saja pada akhirnya kita akan berlalu.
bisik Al dalam hati,dan masih dalam keadaan setengah sadar dibawah pengaruh alkohol yang diminumnya.
Gadis itu masih berusaha menggoda Aldebaran.
"Pergilah!! aku hanya ingin sendiri. jangan sampai tanganku ini mengotori wajah mulusmu itu"
dan wanita itu pun berlalu dengan rasa kecewa.
Sementara itu Bima masih berusaha menghubungi Al,namun masih juga tidak mendapa jawaban.
***
Rindu sudah bersiap untuk kembali pulang.ia masih enggan menanggapi pertanyaan cinta Vano pada dirinya.
"Nona jangan terburu buru dalam memberikan jawaban, fikirkanlah dulu. dan aku di sini akan selalu menunggu jawaban itu sampai hatimu siap"
Rindu hanya mengangguk setuju.
Selama perjalanan pulang,fikiran Rindu disesaki oleh sosok dua orang laki laki. Rindu yang masih mengharap pernyataan cinta dari Aldebaran. sementara di depan mata sudah ada lelaki yang jelas jelas dengan lantang mengungkapkan perasaan nya.
mereka sama sama tampan dan sukses.
yang membedakan hanyalah dua sifat yang saling bersebrangan di antara mereka.
Vano yang penuh kelembut dan Aldebaran yang tempramental namun selalu menjadi pelindung terdepan untuk Rindu.
Sesampainya di kediam Al, rindu duduk di beranda depan. ia sedang berfikir apa yang harus dia katakan pada Aldebaran nanti. nafasnya tidak beraturan bercampur dengan dinginnya udara malam yang mulai menusuk.
Namun saat dirinya memasuki ruangan, ia tidak juga mendapati sosok pria itu.
Rindu pun mencari salah satu asisten rumah tangga untuk menanyakan keberadaan Aldebaran.
" Tuan Al pergi kemana?"
"maaf non, saya tidak tau"
ada sedikit rasa khawatir dalam diri Rindu.
***
Berulang kali Bima menatap layar ponselnya, ia masih terus berusaha menghubungi Al untuk melapor masih juga belum mendapat jawaban telpon.
"sial!" Bima membantingkan ponselnya.
Al masih menikmati suasana malam itu, ia seakan terbawa oleh suasana hatinya. hingga hari pun menjelang subuh para pelanggan sudah mulai meninggalkan tempat itu dan kelab akan segera tutup.
"Tuan maaf kita akan tutup" kata seorang pegawai.
"Baiklah aku akan pulang"
dengan langkah gontai Al meninggalkan kelab tersebut.
Al masih berusaha menjaga kesadarannya,ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Suara kerasnya rem mobil memecah kesunyian pagi itu,Al kehilangan kendali dan melakukan manuver hingga kendaraannya menghantam sebuah pembatas jalan.
mobil tergelincir dan terpental keluar jalur berlawanan. kepalanya mengalami benturan hebat,bau darah segar mengalir.
pandangan Al perlahan kabur,lalu semuanya menjadi gelap.
Hari beranjak pagi, Rindu terbangun dari tidurnya,namun ia masih tidak mendapti Al disisinya, hatinya semakin gelisah ia merasakan ada firasat buruk yang sedang terjadi pada Aldebaran.
tiba tiba suara langkah kaki berlari mendekati kamarnya.pintu diketuk dengan kerasnya.
"Rin,cepatlah bangun"
Rindu pun bergegas membuka pintu kamar. terlihat Bima yang sedang mematung dengan wajah pucat.
"Ada apa pak Bima, Al tidak pulang dari semalam"
"Al mengalami kecelakaan,dia berada di rumah sakit"
Rindu seakan tidak percaya dengan pendengaran nya, sesaat dia hanya terdiam dan mencoba mencerna perkataan Bima.
"Cepat Rin,kita harus cepat"
rindu pun berlari menyusul Bima.
tanpa ragu Bima mempercepat laju mobilnya, dan merekapun tiba di sebuah rumahsakit.
"Dimana Al pak?" tanya Rindu sambil melangkah tergesa mengikuti Bima
"Aku mendapat informasi kalau dia masih dalam kritis"bergegas mereka memasuki ruang instalasi gawat darurat.
terlihat dari balik kaca para Dokter sedang menangi Al yang terkulai penuh darah.
melihat pemandangan itu, air mata Rindu jatuh, seolah ikut menumpahkan rasa sesak yang melingkupi jiwanya.
sesaat kemudian Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter bagaimana kondisi Al?"
"Apakah anda keluarga pasien?"
"ya saya keluarganya"
"kondisi pasien masih kritis, dia kehilangan banyak darah dan mengalami benturan hebat di kepalanya.sepertinya pasien berkendara dalam keadaan mabuk.kami akan usahakan semaksimal mungkin"
Bima seketika mengepalkan tangan nya dan
menghantam tembok yang berada di depan nya.
"bodoh kau Al!!apa yang kau lakukan"
melihat keadaan Bima yang tak terkendali tangis Rindu pun semakin pecah
"kau tahu kenapa Al sampai menjadi seperti ini?"Bima menatap Rindu dengan tajam.
"Sa-saya tidak tahu pak"jawab Rindu yang masih terisak.
"Kau jangan belagak seolah ambigu,Al mencintaimu.itulah sebabnya ia nekad mendatangi tempat hiburan malam dan mabuk mabukan.
ia cemburu, kau yang menyebabkan Al seperti ini!"
Rindu semakin frustasi mendengar ucapan Bima.badannya lunglai lalu ambruk terduduk di atas lantai dan menangis penuh penyesalan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang fatal pada Al, kau yang harus menanggung akibatnya"
Bima pun pergi dengan menahan amarah yang tengah memuncak dan Rindu hanya bisa terdiam memandangi Al dari balik pintu kaca.
Kenapa semuanya jadi serumit ini,Rindu hanya mengutuk dirinya sendiri.
ia masih tetap menunggu perkembangan Al, sedikitpun tidak beranjak dari depan pintu itu. karena memang Al masih dalam tahap isolasi dan ia tidak bisa menemaninya dalam satu ruangan.
Beberapa saat kemudian Dokter datang kembali dengan membawa hasil scan otak.
lalu ia pun memanggil Rindu untuk melaporkan hasil pemeriksaan.
"Nona sepertinya tuan Al mengalami koma, mohon maaf kami sudah berusaha dengan maksimal, dan kami hanya bisa merawat beliau tanpa bisa menjanjikan dia bisa kembali sadar atau tidak"
serasa di sambar petir, tubuh Rindu bergetar hebat.
"apa saya bisa menemuinya Dok?"
"silahkan"
Dokterpun mempersilahkan Rindu memasuki ruangan isolasi.
Ada rasa sakit di hati Rindu ketika melihat Al tidak berdaya.ia tidak percaya lelaki garang yang selalu menekan dirinya kini terbaring lemah dan hilang kesadaran. tangis Rindu kembali pecah,didekatinya ranjang besi yang berada di hadapannya.
"Al tolong bangunlah" suara Rindu parau menyayat.
"Aku tahu kamu mendengarku, tolong kembalilah. maafkan aku yang tidak pernah bisa menjaga perasaanmu"
tanpa Rindu tahu, Bima telah memperhatikannya dari balik pintu. dan tidak terasa air mata Bima pun ikut menetes, larut dalam kesedihan melihat sahabatnya tergeletak seperti tidak bernyawa.
***
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan.
silahkan tinggalkan jejak like & favoritnya.dan terimakasih bagi yang sudah menyumbangkan vote poin untuk novel ini