NovelToon NovelToon
WANG SHIN

WANG SHIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengawal / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

왕신 ー 24

...왕신...

...•...

ˢᵉˡᵃᵐᵃᵗ ᵐᵉᵐᵇᵃᶜᵃ!

“Jay ... apa kau merindukan seseorang?” tanya Shin, iseng tapi mengandung makna tersirat. Dia juga tidak menyembunyikan maksudnya melalui gelagat yang ditunjukkan.

Lee Jay, mulutnya penuh dengan biskuit, lebih dulu menelannya sebelum kemudian meneguk air putihnya sampai habis separuh volume.

“Merindukan seseorang?” ulangnya. “Siapa itu?” Dari nadanya belum ada ketertarikan, meneruskan memasukkan makanan itu lagi ke dalam mulut.

Shin tersenyum simpul. Menatap bibir gelas berisi vodka lalu menyesapnya dengan elegan. “Mungkin seorang jenazah,” katanya, konyol yang terlalu santai.

Jay mendelik karena telinganya baru saja dijejali kalimat yang menggelikan. “Ck!” decaknya acuh, memutuskan tidak peduli. “Candamu kering! Sebaiknya pikirkan yang lebih lucu!”

Gemeletak kaca beradu terdengar memantul saat toples biskuit dia letakkan kembali ke atas meja. “Ah, aku bahkan lupa kalau Shin Sunbae bukan orang yang suka bercanda,” cibirnya sambil menghela napas. “Dan tidak ada monster yang belajar bercanda,” tandasnya sambil kembali mengambil posisi merebah, mulai memainkan ponselnya lagi.

Kilatan lucu di mata Shin melahirkan kekehan tipis di bibirnya dengan mulut yang menguar aroma vodka. “Ingat? Siapa orang yang dulu sering kau mintai uang untuk membeli komik series kultivasi Tiongkok di toko Nona Yu?” tanyanya, memancing lagi.

Terlalu jelas dan menjurus untuk disebut teka-teki, sesaat setelah clue itu dicerna, wajah Lee Jay sudah berubah raut menjadi datar. Mood swing menyerangnya.

“Tidak lucu membahas seseorang yang sudah mati, Sunbae,” tanggapnya setengah ketus. “Sudah sejak lama aku memutuskan untuk melupakannya.” Badan diputar membalik, membelakangi Shin untuk menyembunyikan nanar.

Sikap itu menjelaskan bahwa keputusannya tidak terealisasi dengan benar.

“Jangan membohongi dirimu sendiri,” tegur Shin, masih dengan nada yang sama. “Jujur saja bahwa kau tidak pernah berhenti untuk merindukannya.”

Terdengar Jay mendesah dari posisi memunggung itu. “Tentu saja aku merindukannya!” dia mengaku sambil dengan cepat berbalik badan kembali. Karena pikirannya sudah tercemar dengan kenangan, merebah bukan lagi posisi yang nyaman untuk membahas orang yang sudah mati, dia menarik diri terduduk tegak.

“Jika sekarang dia benar-benar ada di hadapanku ... aku akan memeluknya sambil menangis dan berjanji, 'aku tidak akan memalak uangmu lagi untuk membeli komik hanya agar kita menjadi akrab, mungkin sebaiknya kita harus memulai mengejar wanita'!”

Itu menarik, Shin menanggapi dengan seringai santai.

Bunyi berdenting terdengar saat ia meletakkan gelas vodka-nya ke meja kaca. Kaki yang bersilang dilerai lalu berdiri, menyusul dua telapak tangan menyusupi kiri dan kanan saku celananya sambil membalik badan mulai melangkah santai. “Ayo temui dia. Realisasikan niatmu dan katakan itu secara langsung.”

Sampai sekian saat Jay masih belum beranjak, masih tercengang. Kepalanya sedang menyeimbangkan apa yang baru saja dikatakan Shin dengan kenyataan yang dia tahu.

Sampai bayangan Shin mulai menghilang di balik pintu ....

“Tunggu aku, Sunbae!” teriaknya sambil gegas beranjak untuk kemudian mengejar. “Apa maksudmu dengan ajakan itu?!”

Shin berhasil disusulnya, segera menyeimbangkan langkah berdampingan.

“Jelaskan padaku, Sunbae! Apa kau tahu di mana Xei dimakamkan?! Bukankah jasadnya saja tidak bisa diidentifikasi karena sudah terlalu hangus?!”

“Diam dan ikuti aku saja!”

Jay teredam, tapi kesal karena segalanya terasa ambigu. Pikirannya menolak tenang. Dia sudah terlanjur disinggung tentang hal dari seseorang yang benar-benar berusaha dilupakannya.

“Sunbae! Tolong jangan buat perasaanku jadi kacau begini?! Sebenarnya apa yang kau ketahui tentang Xei?! Kumohonー"

Breeenggg!

Kata-kata rusuh Jay terpotong oleh sepasang pintu kokoh yang terbuka menyibak kiri dan kanan tepat di hadapannya. Keadaan itu terpaksa membuatnya melotot lebar.

“Apa ini?” tanyanya dengan raut tercengang, sambil tetap melangkah mengikuti Shin. “Tempat apa ini, Sunbae?” Sekali lagi dia menoleh ke belakang, dan yang didapati hanya pintu yang sudah tertutup kembali.

Banyak berpikir membuatnya tidak cukup tanggap dengan setiap sekat dinding yang dilewati sepanjang jalan.

Seingatnya samar-samar: Mereka masuk ke ruangan kerja Shin yang biasa saja setelah dari ruangan mereka minum berdua tadi, di dalamnya ada rak buku terbelah membentuk pintu yang kemudian mereka masuki, dari sana masuk ke sebuah liftー yang tidak naik ke atas, melainkan turun ke bawahーruang bawah tanah.

Ingatan yang masih bagus rupanya.

Keluar dari lift, menyusur lorong panjang dengan dinding berkilau silver, sebelum akhirnya berakhir di pintu yang baru saja terbuka lebar dengan bunyi greg yang sedikit terdengar creepy.

Kali ini Jay tidak bicara, pandangannya sibuk mengedar ke sekeliling sambil tetap mengikuti Shin yang tidak terusik dengan ekspresi tenangnya itu.

Dan ketika semua berakhir ... di sebuah ruangan lainー yang penuh dengan cahaya dari layar-layar menyala ... mata Lee Jay mungkin sudah sampai batasnya untuk melotot, menyusul deru jantung yang menyerang kacau hingga tubuhnya mendadak beku.

Seorang duduk di sana, di salah satu kursi ergonomis menghadap layar.

“Sunbae dia ... siapa?” tanyanya, kaku terbata dan sedikit gemetar, tanpa mengalihkan tatapan dari sosok yang membelakangi itu.

Sampai sesaat setelah pertanyaannya keluar, orang di depan latar itu dengan perlahan berbalik hadap padanya, lalu jelaslah perupaannya.

“Hei! Kita bertemu lagi ..., Anak nakal tukang palak.”

Zppp!

Lee Jay merasa jiwanya ikut terenggut. Lututnya melemah. Perasaan tumpah ruang menggelegak dalam dirinya. Matanya yang sulit kedip sudah meremang berkaca-kaca.

“Xei,” dia mendesis, dorongan perasaan membawa kakinya memapah untuk mendekat dengan cara terkatung. “Kau kah itu, Xei?” tanyanya di sela langkah.

Setelah semakin dekat dan raut yang didekati semakin jelas, matanya langsung terpaku di mata itu. Mata terang menyala yang sangat dikenalinya. “Ini ... sungguh kau ... Alex Xei Ivanov?” Kaku dua tangannya terangkat naik untuk menangkup pipi lelaki yang tak beranjak dari kursinya itu.

“Ya ... ini akuーAlex Xei ... Lee Jay. Aku belum menjadi hantu dan masih suka memakan ramyun.”

Pengakuan itu seperti tusukan belati yang menyegarkan, dan ....

 “XEIII!” Pecah sudah raungan keras Jay, menggema menggetarkan udara. Tanpa babibu diterjangnya sosok itu dengan pelukan erat. “XEEEII!!!”

Dari sudut yang berbeda, Shin menyikapi pertemuan kedua kawan lama itu dengan caranya, bersidekap tangan dengan posisi bokong bersandar mejaーsetengah menekuk.

Jauh di lubuk hati, dia mengharu biru. Tidak bisa mengukur sebanyak apa kepuasan hatinya sekarang.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sama-sama bicara normal, puas dari rasa saling terkejut dengan kejutan yang hari ini diperankan dengan sangat apik oleh Shin sebagai tokoh utama.

Dalam beberapa waktu membersamai, Shin lebih banyak diam, mendengarkan ocehan mereka berdua yang kadang tidak enak untuk didengarーJay sinting yang sibuk membahas kultivasi, sumber dari komik yang sering dibacanyaーkebiasaan yang tetap sama meski usia sudah bertambah.

Tentu saja semua itu pecah setelah menjelaskan alasan kenapa Xei tidak mengungkapkan keberadaannya pada Jay. Kenapa harus menyembunyikan diri begitu dalam setelah Shin berhasil melarikannya dari tragedi itu.

Jay paham dan tidak memperpanjang kekecewaan. Terutama pada Shin yang jelas sudah melakukan yang terbaik dari yang seharusnya.

“Kapan-kapan kita harus berlibur bersama untuk bersenang-senang! Aku akan menghubungi semua teman wanitaku untuk memuaskan kalian!” Jay bersemangat.

“Tidak!” Shin dan Xei, tidak berminat.

1
chaa
semangat 💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: nggak, Kak.
gk semangat aku ... 😭
total 1 replies
Be___Mei
Hemmm, pekerjaan Shin nggak jauh jauh dari orang berkuasa.
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: emang gitu, Mak?🤓
total 1 replies
Be___Mei
Nahhh, kan. Gerak-gerik Nyonya Lim nggak bisa. Orang kaya elit emang begitu 🤧
Be___Mei
Pinter juga Nyonya ini
Be___Mei
Ian, cewek???
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Laki, Mak.
Ian Haris🤓
total 1 replies
Be___Mei
Cobain masakan Kalimantan juga ya 😂
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Jangan bilang buaya goreng?🤣
total 1 replies
Be___Mei
kwkwkwk barulah terungkap bahwa Shin tajir melintir 😂😂
Be___Mei
Udahlah, Shin. Cewek banyak kok di dunia. Salah satunya aku 🤭 cuma aku sedikit berbeda dengan Ana. Kalau Ana biasanya pakai gaun seksoi, aku pakainya daster 😂😂
Be___Mei
Aishhh!! Ana Sibal ****
Be___Mei
Ya elah, Neng! Dikasih aman malah kabur.
Be___Mei
Mamam tuh calon mantu idaman
Be___Mei
Iya juga. Ngapain coba meladeni Gibek padahal dia udah hapus ikatan kontrak sama Shin. Apakah dia mau berpijak di dua perahu?? Ana oh Ana
Be___Mei
Bayangin wajah visual artis kpopnya kebingungan. Pasti lucu tapi kasihan juga 🥲🤣
Be___Mei
Istri mana yang bisa menolak pesona seorang Shin?! Walaupun nikah kontrak, tapi mereka pasangan sah 🤧
Be___Mei
Teman Anda! Teman baru Anda 🤧 orang yang selalu kau andalkan, itu dia suami Ana
Be___Mei
Perasaanku mengatakan Takeda masih hidup. Pria sekuat itu tidak mudah jadi ubi kan mak???
Machan
kurang menantang ye, Shin😆
Machan
bisa jujur juga ternyata mulutnya
Machan
anjay, keren tatonya
Machan
pernah ngalamin ini saat rapat pembentukan anggota OSIS🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!