Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.
Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.
Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.
Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Rania
"Om, please tolong aku. Pleasee....!"
Dave terkejut atas apa yang Rania lakukan padanya. Tanpa diduga, Rania menarik kaosnya hingga tubuhnya dan tubuh Rania tak menyisakan jarak barang secuil pun. Kemudian, Rania melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dave. Memeluknya erat. Wajahnya di tenggelamkan pada dada Dave sambil berulang kali menciumi dada bidang yang terbungkus oleh kaos berwarna putih itu. Sementara tangan Dave tetap pada posisi semestinya dengan saraf otot yang terasa kaku. Bawah perutnya seketika menegang, gara-gara sensasi yang Rania berikan saat ini.
"He-hentikann...!" ucap Dave tertahan, saat tak kuasa menahan rasa geli bercampur nikmat, dan membuat sang pusakanya semakin berdiri tegak di balik celana nya yang longgar.
Rania menghentikan aktifitasnya, lalu mendongak." Please, Om. Se-sentuh aku, pleasee!"
Sejenak Dave memejamkan matanya, Kemudian menurunkan pandangannya melihat pada wajah Rania yang tengah mendongak, karena posisi wajahnya diatas kepala Rania. Menatap lekat sorot matanya yang sayu, lalu berpindah pada bibir ranumnya yang terus menerus meracau lirih. Bibir cantik itu benar-benar sangat menggoda. Rasanya sayang sekali jika diabaikan begitu saja. Dave perlahan menurunkan bibirnya, dan di atas bibir Rania yang hanya berjarak beberapa inchi saja, bibir Dave tertahan sejenak. Lalu....
Cup
Sebuah kecupan sayang dan cukup lama pun Dave labuhkan pada kening Rania.
Ternyata, sebuah kecupan di kening saja tak membuat Rania puas. Rania pikir Dave akan menciumnya lebih. Rania menarik tengkuk Dave agar bibir Dave bisa dijangkau oleh bibirnya. Tetapi sebelum bibir Rania menyentuh bibir Dave, Dave mengarahkan bibirnya ke telinga Rania.
"Kita lakukan di rumah saja, sayang," bujuk Dave berbisik di telinga Rania.
Rania menggeleng pelan. Hasrat birahi yang sudah di ubun-ubun itu tak bisa ditundanya.
Dave tak menghiraukan tolakan Rania, dan terpaksa Dave mengangkat tubuh Rania tanpa persetujuannya.
"Om..."
Ssstttt
"Jangan protes. Saya akan memuaskan kamu di rumah nanti. Kamu sabar ya!" Dave kembali membujuk agar Rania tak lagi protes. Dan Rania pun diam.
Glek
Glek
Selama membawa tubuh Rania ke arah mobilnya, selama itu pula jakun Dave naik turun menelan salivanya.
Penampilan Rania yang aduhai luar biasa se xi, serta lirihan-lirihan manjanya, berhasil membuat pusaka Dave menegang tanpa sepengetahuan Rania. Bagaimana tidak demikian, dress bagian bawahnya tersingkap ke atas pangkal paha memperlihatkan semua paha nya yang putih mulus. Tali kecil di pundaknya pun terlepas memperlihatkan setengah gunung kembarnya yang mengkal tanpa pembungkus. Selain itu, mulutnya yang terus menerus meracau memintanya untuk disentuh semakin membuat Dave frustasi dan ingin segera menyalurkan nya.
Kelakuan Rania tadi nyaris membuat akal pikir Dave hilang. Beruntung, akal pikirnya masih waras. Dave sadar, istrinya yang sedang bersikap murahan ini dikarenakan pengaruh obat perangsang. Jika tidak, jangankan memohon minta di sentuh olehnya, disentuh secuil tanpa sengaja saja Rania akan merepet marah padanya.
Dave menurunkan tubuh Rania di jok belakang dengan alasan agar Rania tak menggangu konsentrasinya saat menyetir nanti. Setelah itu, Dave mulai menjalankan mobilnya.
Di tengah perjalanan, Rania terus meracau. Dave melihat Rania melalui kaca yang menggantung di depan nya, nampak Rania sudah melepas semua dress yang dikenakan nya, dan sekarang Rania dalam keadaan tanpa sehelai benang. Beruntungnya, kaca mobil Dave merupakan kaca non tembus pandang, jadi aman dan tidak akan ada yang melihat kelakuan Rania di dalam mobil selain Dave.
Hal itu sontak saja membuat milik Dave kembali bangun. Dave mengacak acak rambutnya semakin frustasi saja.
Beberapa saat kemudian, mobil Dave sudah tiba di rumahnya. Ya, Dave terpaksa membawa Rania ke rumahnya. Karena jika membawa Rania dalam kondisi seperti itu, apa kata orang tuanya nanti? pikir Dave.
Sebelum turun, Dave memasangkan dress Rania kembali dengan perasaan yang bercampur aduk. Dave juga terus berusaha menahan nafsunya agar tak tergoda oleh kelakuan istrinya yang terus menggodanya.
Sambil menggendong Rania ala koala, Dave memencet tombol rumahnya. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"Tuan!" ucap wanita baya itu, menatap bengong pada tuannya.
"Apa Lidya ada, Bi ?" Tanya Dave sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Tadi setelah Tuan pergi, non Lidya pulang ke apartemennya," sahut wanita baya itu sambil mengikuti langkah Dave dari belakang.
Dave menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. Hal demikian memperjelas penglihatan wanita baya itu pada wanita se xi yang sedang digendong oleh tuannya. Wanita itu merasa tak asing dengan wajahnya. Wanita itu pun kemudian mencoba mengingatnya. Namun, saat wanita itu diam sambil menatap pada wanita yang digendong tuannya, mata nya melebar kala Rania tiba-tiba mengecupi dada Dave tanpa rasa malu. Tak hanya wanita baya itu saja yang terkejut, Dave juga terkejut bercampur geli sekaligus malu pada Art nya itu. Dave buru-buru melanjutkan langkahnya.
"Nanti aku jelaskan, bi," kata Dave dengan suara sedikit tinggi sambil berjalan ke arah kamarnya.
Tiba di dalam kamarnya yang berukuran luas, Dave meletakkan Rania diatas king size nya. Belum sempat Dave beranjak, Rania memegang lengan Dave.
"Om...please!" Rania kembali memohon untuk disentuh disertai tatapan sayu yang penuh dengan nafsu.
Sejenak Dave terdiam melihat pada lengannya yang dipegang Rania, lalu berpindah pada wajahnya yang memelas itu.
"Saya, saya mau mandi dulu. Tubuh saya lengket dari sore belum mandi." Dave beralasan. Pegangan tangan Rania pun perlahan mengendur, bola matanya berkaca-kaca. Dave tak kuasa menatap bola matanya yang sudah digenangi air.
"Ma-maaf," ucap Dave, kemudian beranjak tanpa menghiraukan airmata Rania.
Di kamar mandi, Dave diam termenung di depan kaca wastafel. Memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan Rania dari pengaruh obat sialan itu.
Dave melihat ke arah shower nya." Apa Rania ku siram dengan air saja? Tapi...." Dave geleng-geleng kepala. Rasanya dirinya tidak akan tega menyiram air ke istrinya di tengah malam. Bagaimana kalau Rania jatuh sakit setelah disiram air nanti? Dave menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian membasuh wajahnya.
Setelah itu, Dave beranjak hendak keluar kamar mandi. Tapi alangkah terkejutnya Dave, saat Rania membuka pintu kamar mandi secara tiba tiba dalam keadaan tanpa sehelai benang. Jakun Dave naik turun. Pusakanya kembali menegang. Hal ini benar-benar menyiksanya. Dave merasa tak kuasa menahan hawa nafsunya yang sudah berada di ubun-ubun melihat tubuh molek tanpa cacat di hadapan nya.
Rania perlahan berjalan ke arah Dave, membuat Dave semakin menegang serta denyut jantung yang semakin cepat.
Perlahan Jarak mereka kian mendekat sampai tak menyisakan jarak barang sesenti pun. Tatapan saling beradu diiringi dengan hasrat birahi yang semakin dekat semakin memuncak diantara dua belah pihak.
"Ra..."
Hap
Belum sempat Dave berucap, Rania melahap habis bibir Dave. Sejenak Dave memejamkan matanya, membiarkan sekaligus menikmati permainan bibir manis Rania. Rania mengalungkan tangannya ke leher Dave dan terus menikmati bibir Dave yang masih tertutup rapat tanpa henti.
Semakin lama dan semakin lama, permainan bibir Rania yang menuntut itu semakin membangkitkan gairah Dave saja. Hingga akhirnya, Dave menyerah dan langsung menyambut bibir Rania dengan suka rela. Dua bibir itu saling pagut, mengecap dan bertukar Saliva diiringi dengan deru nafas yang saling memburu.
Dave mengangkat tubuh Rania tanpa melepaskan pagutan bibirnya, kemudian meletak kan tubuh Rania di atas king size nya.
ayo up lagi, kak