Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*35
Wajah penuh harap Naya yang Paris lihat malah memunculkan bayangan Mika. Saat itu, Paris baru ingat apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Sontak, pria itu langsung bangun dari duduknya dengan cepat.
"Astaga. Mika."
Wajah sayu Naya langsung berubah sedih.
"Mika? Kenapa dengan dia?"
"Aku lupa mengabari Mika soal kamu. Ah, bukan. Karena cemas dengan keadaan mu yang terluka, aku lupa bicara dengan Mika
saat aku meninggalkan rumah. Aku langsung pergi tanpa pamit. Mika pasti bingung dengan sikapku tadi."
Wajah cemas Paris terlihat dengan sangat jelas. Hal itu membuat Naya semakin merasa tidak nyaman. Dia terluka dengan sikap Paris yang bisa mementingkan perasaan wanita lain di depannya. Yah, meskipun wanita itu hadir karena ulah tangannya sendiri.
"Paris."
"Tunggu sebentar, Nay. Aku harus bicara dengan Mika dulu." Paris berucap sambil sibuk dengan gawai nya. Wajahnya masih terlihat cemas. Dengan gerakan cepat, Paris berusaha menghubungi Mika.
Panggilan pertama masuk. Tapi sayangnya, Mika tidak menjawab panggilan tersebut. Paris merasa semakin tidak nyaman. Tangannya bergerak cepat untuk melakukan panggilan ulang agar bisa segera mendengarkan suara Mika.
"Paris, mungkin dia sibuk. Karena itu, dia tidak menjawab panggilan yang masuk."
"Sibuk? Bagaimana kalau dia marah padaku?"
Deg. Jantung Naya semakin tidak bisa Naya kontrol. "Marah?" Naya benar-benar sakit hati. Sungguh, dia sangat amat tak percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini. Paris, sang suami pujaan hati yang dulunya hanya punya dia satu-satunya wanita di dalam hati, kini bisa bersikap sangat berbeda pada wanita lain.
"Paris. Yang terluka sekarang adalah aku. Kenapa kamu bisa begitu cemas memikirkan istri keduamu?"
Gerakan tangan Paris terhenti. Dia langsung menoleh ke arah Naya yang sedang tertunduk dengan wajah sedih. "Nay, kamu terluka. Tapi, hati Mika juga harus aku jaga. Mika-- "
"Paris. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Bunga baru lebih harum bagimu. Tapi tolong, bersikaplah adil untuk menjaga dua hati. Aku tidak ingin cemburu atau pun iri. Tapi, karena kamu sudah punya dua istri, perlakukan lah kedua istrimu dengan adil. Jangan sakiti hati mereka, Paris."
"Apa maksud kamu, Nay? Aku tidak berniat untuk menyakiti hati siapapun. Lagian, aku-- "
"Paris, aku merelakan mu menikah lagi karena rasa bersalahku padamu. Aku mencarikan kamu istri baru agar tanggung jawab yang tidak bisa aku penuhi, bisa dia penuhi. Aku merelakan hatimu terbagi. Tapi tolong, jangan sakiti kami meski hatimu itu ada dua wanita di dalamnya."
"Paris, sejatinya, wanita tidak akan pernah rela untuk berbagi suami dengan wanita yang lainnya. Jika tidak ada alasan yang benar-benar sangat kuat, maka tidak akan pernah ada wanita yang rela suaminya menikah lagi."
"Naya."
"Aku rela kamu punya dua istri, Paris. Tapi tolong, di depan ku, jangan ceritakan tentang dia. Jangan ingatkan namanya saat kamu bersama aku. Jangan bawa dia ketika kamu sedang bersama ku. Begitu pula sebaliknya, Paris. Jagalah hati dua istrimu dengan baik."
Paris terdiam. Perlahan, benaknya mencerna dengan cermat apa yang sudah Naya ucapkan. Lalu, benak itu membenarkan semua yang istri pertamanya ucap.
"Kanaya. Maafkan aku. Aku akan berusaha untuk adil pada kalian berdua sekarang. Aku akan temani kamu malam ini di rumah sakit. Tapi, aku akan mengabari Mika dulu."
"Istirahatlah. Aku akan keluar," ucap Paris sambil melangkah pergi.
Tidak ada kata yang bisa Naya ucap. Manik matanya tiba-tiba terasa perih ketika dia menatap punggung Paris yang berjalan semakin menjauh. Perlahan, buliran bening jatuh melintasi pipi.
'Tuhan, terlalu sakit. Berbagi suami itu sangat menyakitkan. Aku baru menyadarinya, kalau aku tidak sekuat yang aku duga. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini ternyata. Tidak seperti yang telah aku bayangkan sebelum aku mengambil keputusan. Andai saja saat itu, aku lebih memilih merelakan karier ku dari pada calon anak kami. Pasti, rumah tangga kami akan sangat bahagia dengan calon anak yang semakin berkembang di dalam rahimku.'
Naya terisak memikirkan semua hal yang telah terjadi. Sementara itu, di sisi lain, Mika yang baru selesai mandi, langsung mendengar bunyi panggilan masuk ke dalam ponsel. Ya. Wanita itu tidak menjawab panggilan Paris karena dirinya sedang berada di kamar mandi sebelumnya.
Dengan tangan berat, Mika menjawab panggilan tersebut. "Halo." Suara lembut Mika terdengar.
"Halo, Mika. Maaf, aku sudah pergi tanpa berucap sepatah kata terlebih dahulu. Maafkan aku yang pergi secara tiba-tiba. Kamu marah sama aku, Mi?"
"Marah? Tidak. Tentu saja tidak."
'Aku tidak marah. Tapi aku kesal. Aku kecewa. Hanya saja, aku tidak punya hak untuk menunjukkan semua itu,' ucap Mika dalam hati.
'Tuhan, hilangkan lah semua rasa jahat yang ada dalam hatiku. Aku tidak ingin merasakan perasaan apapun. Aku dan dia, hanya sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan.'
Terbesit dalam pikiran Mika secara tiba-tiba, suatu saat nanti, dia akan pergi meninggalkan Paris. Dia akan pergi setelah hubungan Paris dan Naya kembali membaik.