Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Maafkan Aku, Ibu
.
Riko melangkah keluar dari rumah mewah itu, hatinya hancur berkeping-keping namun tekadnya membaja. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak ingin melihat wajah Laras lagi. Ia berjalan menuju tempat parkir, di mana motor bututnya terparkir dengan setia.
Motor itu adalah satu-satunya harta yang ia miliki, saksi bisu perjuangan dan kerja kerasnya selama ini. Riko menaiki motor itu, menghidupkan mesinnya, dan melaju meninggalkan rumah mewah itu. Meninggalkan segala kebohongan, pengkhianatan, dan kepalsuan.
Riko memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang ramai. Sinar matahari yang mulai terik menerpa wajahnya, seolah ingin mengeringkan air mata yang masih tersisa di pipinya.
Tujuannya hanya satu: pulang ke rumah kontrakan yang selama ini ia tinggali dengan ibunya. Rumah kontrakan yang sederhana, namun penuh dengan cinta dan kehangatan. Riko ingin bertemu ibunya, memeluknya erat, dan bersujud meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
Riko menyesal telah membohongi ibunya demi mengejar cinta Laras. Ia menyesal telah mengorbankan mimpinya demi kebahagiaan wanita yang ternyata hanya memanfaatkannya. Riko berjanji menebus semua kesalahan dan membahagiakan ibunya.
Sesampainya di depan rumah kontrakan, Riko memarkirkan motornya dan turun. Ia berjalan menuju pintu rumah, hatinya berdebar-debar. Ia tidak tahu bagaimana reaksi ibunya saat melihatnya kembali.
Tangannya yang terulur untuk mengetuk pintu terhenti. Ia merasa ragu sekaligus takut. Namun, dengan tekadnya yang bulat, akhirnya ia menggerakkan tangannya.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan tampaklah wajah Bu Maryam, ibunya yang sudah mulai menua, namun tetap memancarkan kehangatan dan kasih sayang.
"Riko?" ucap ibunya terkejut, matanya membulat.
Riko menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah ibunya. "Ibu, maaf…" ucap Riko dengan suara bergetar, air matanya kembali mengalir. "Maafin Riko…"
Hanya dua patah kata yang tak bisa ia lanjutkan, sebelum akhirnya tubuh kekar yang belakangan sedikit kurus itu luruh. Riko berlutut tepat di depan kaki ibunya.
"Maafkan Riko, Ibu," ucap Riko dengan suaranya yang bergetar. Kedua tangannya menyentuh kaki ibunya. "Riko telah mengecewakan Ibu."
“Riko, apa yang kamu lakukan?" Bu Maryam terkejut dan spontan bergerak mundur melihat apa yang dilakukan oleh Riko. Wanita itu buru-buru meraih bahu Riko dengan dua tangannya yang telah mulai keriput. "Ayo bangun, jangan seperti ini!” ucap Bu Maryam seraya berusaha menarik tubuh anaknya agar segera berdiri.
Namun, Riko bergeming. Pria yang kini usianya genap dua puluh tujuh tahun itu menjatuhkan keningnya bersujud di depan kaki ibunya.
"Maafkan Riko. Riko bersalah pada Ibu, Riko berdosa, Riko durhaka,” tangis yang ia tahan sejak sepanjang perjalanan, tumpah seketika.
Bu Maryam terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi, lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepala Riko. Wanita tua yang kemudian ikut berlutut mensejajarkan tubuh dengan anaknya.
“Ibu memaafkanmu, Nak," ucapnya meskipun tak tahu kenapa anaknya meminta maaf bahkan sampai bersujud. Mencoba mengingat ke masa yang berlalu. Tidak ada. Riko tak pernah melakukan kesalahan. Jika ada anak paling patuh dan paling manis, itu adalah Riko, anaknya. Lalu, kenapa minta maaf?
Tangannya yang ringkih meraih wajah Riko dan mengangkatnya. Matanya menatap Riko dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
“Ibu selalu memaafkanmu. Ayo bangun,” ucapnya.
"Ibu…" Riko menegakkan badannya dan segera memeluk ibunya. Tangis-tangisan pun terjadi.
Bu Maryam mengelus punggung Riko dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Sudah, Nak. Jangan menangis," ucap ibunya dengan suara yang lembut. "Apapun yang kamu lakukan, Ibu selalu memaafkanmu.”
Bu Maryam masih bingung. Namun, hatinya mengatakan ada sesuatu yang buruk baru saja dialami oleh putranya. Hati wanita tua itu berdenyut nyeri. Apakah Riko baru saja bertengkar dengan istrinya?
Meski tak hadir di pernikahan yang ternyata palsu, namun Riko meminta restu sebelum menikah. Ingin mulutnya bertanya, namun ia tahan. Tak ingin jika pertanyaannya justru akan membuat putranya semakin sedih.
Riko melepas pelukan setelah merasa puas meluapkan segala perasaan rindu dan bersalahnya. Bu Maryam mengusap air mata yang masih mengalir di pipi putranya.
"Sudah besar masih cengeng," ejek Bu Maryam, padahal dia sendiri juga menangis. Lebih parah karena tidak tahu apa yang ia tangisi. Hanya karena melihat anaknya menangis, ia juga ikut menangis.
Riko mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Terkekeh dengan ejekan ibunya.
“Ayo masuk, Nak," ucap Bu Maryam menarik tubuh Riko agar berdiri. "Tak baik bicara di depan pintu. Nanti dilihat tetangga."
Riko mengangguk dan mereka berdua pun melangkah masuk ke dalam rumah. Rumah kontrakan yang sederhana, namun terasa begitu hangat dan nyaman. Ia melihat sekelilingnya, memperhatikan setiap sudut ruangan. Masih sama seperti terakhir ia tinggalkan.
Bu Maryam menuntun Riko menuju ruang tamu. Riko sedikit terkejut, karena ternyata ada orang lain di rumah kontrakan itu. Jadi, saat ia menangis tadi, ada yang mendengar?
"Riko, ini tadi ada Bu Aminah main ke sini," ucap ibunya yang sebelumnya juga lupa ada tetangga yang berkunjung.
Riko mengangguk hormat dan menyalami Bu Aminah. Ia juga mengenal Bu Aminah. Tetangga yang paling dekat dengan ibunya. "Apa kabar, Bu," sapa Riko sopan.
"Ibu baik, Nak Riko,* balas Bu Aminah dengan senyum yang lebar. "Ibumu pasti senang kamu pulang.”
Riko tersenyum pahit. Ia merasa benar-benar berdosa terhadap ibunya. Begitu mengagungkan cinta Yang ternyata palsu, sampai-sampai ia menjadi jarang menemui ibunya. Bahkan, gaji dari bekerja di toko elektronik, yang seharusnya sebagian bisa ia berikan pada ibunya, malah justru selalu ia gunakan untuk mengutamakan nyonya Ratna, hanya karena berharap suatu saat wanita itu bisa menerimanya sebagai menantu.
"Sudahlah, Nak," sela ibunya, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Riko. "Mari kita duduk. Kamu pasti lelah."
Riko mengangguk lalu duduk di kursi tak jauh dari Bu Aminah. Bu Maryam pergi ke dapur dan sesaat kemudian kembali dengan segelas air putih yang segera ditenggak habis oleh Riko.
"Maryam, Riko," ucap Bu Aminah, "Sepertinya mau hujan. Ibu pulang dulu ya. Ada jemuran pakaian yang harus Ibu angkat."
Ibu Maryam menatap Bu Aminah seraya mengerutkan kening. Mau hujan apanya. Jelas-jelas langit cerah. Tapi, kemudian ia mengerti. Mungkin, Aminah ingin memberi ruang untuk ia dan Riko.
"Terima kasih sudah menemaniku tadi, ya, Minah," ucap Bu Maryam.
Bu Aminah menganggukkan kepala. "Sama-sama. Aku juga butuh teman ngobrol kok. Sepi kalo sendirian di kontrakan," ucap Bu Aminah. Ia lalu menoleh ke arah Riko. "Ibu pulang dulu.
Riko tersenyum dan mengangguk hormat. "Terima kasih sudah menemani ibuku, Bu Aminah," ucap Riko tulus.
Bu Aminah tersenyum dan melangkah menuju pintu. "Sudah ya, Ibu pamit," ucap Bu Aminah, lalu melangkah keluar.
"Hati-hati di jalan, Minah!" seru Ibu Maryam.
Setelah Bu Aminah pergi, Ibu Maryam menatap Riko dengan tatapan yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Ceritakanlah semuanya," ucapnya lembut.
Riko menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan semua yang telah ia alami. Ia menceritakan tentang pernikahannya dengan Laras yang ternyata hanya kebohongan, tentang perlakuan buruk keluarga Darmawan, tentang pengkhianatan Laras, dan tentang keputusannya untuk meninggalkan rumah mewah itu.
Selama Riko bercerita, ibunya mendengarkan dengan seksama. Sesekali, ibunya mengusap air matanya yang kembali menetes.
Setelah Riko selesai bercerita, suasana di ruang tamu itu menjadi hening. Hanya terdengar suara isak tangis ibunya.
"Ya Tuhan…” ucap wanita tua itu
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄