Bebby Daniella Putri menjadi yatim piatu sejak batita akibat korban kecelakaan yang menimpa satu keluarganya, tanpa identitas. Bebby diangkat anak oleh Daniel Frederick, Dokter Muda yang menyelamatkan nyawanya. Daniel mengangkat anak karena rasa kasihan dan sebagai permohonan maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan waktu muncul benih benih cinta di antara mereka berdua. Daniel sebagai orang tua angkat telah menepis perasaan itu. Bagaimana kisah mereka... dan siapa sebenarnya Bebby?
Yuuukkk ikuti kisah mereka guys ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34.
Miranda membuang lingerie yang sudah dia lepas dengan begitu saja di lantai. Dia yang sudah polos itu pun lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan santai. Tangan Miranda pun lalu memegang bukit kembarnya sendiri, dia melakukan self service alias bersolo karier di atas sofa yang tidak jauh dari sofa panjang tempat Daniel berbaring.
Miranda menikmati permainannya sendiri, bagian bagian tubuhnya yang biasanya dipermainkan oleh jari jari Renold kini dilakukan oleh jari jarinya sendiri. Miranda pun mulai mendesah dan basah. Sedangkan Daniel tetap saja memejamkan matanya. Efek suntik kebiri membuatnya dia benar benar tidak ada gairah sexual meskipun suara desah kenikmatan dari suara mulut Miranda begitu sangat jelas di telinganya. Daniel tidak mengubah posisi tidurnya terus saja membelakangi Miranda, menghadap sandaran sofa. Matanya juga terus terpejam. Otak Daniel justru sedang berpikir pikir menebak nebak ke daerah mana dia akan dipindah tugaskan. Dia berharap mendapat tugas yang sangat jauh dari ibu kota.
Beberapa menit kemudian...
“Gila, itu laki laki benar benar tidak terpengaruh sedikit pun.” Gumam Miranda di dalam hati setelah mencapai puncak kenikmatan dan tersandar lemas di sofa.
“Apa benar yang orang orang bilang jika dia memang impoten, tidak punya gairah seksual.” Gumam Miranda dalam hati lagi sambil melihat tubuh Daniel yang tampak diam saja. Sejak tadi tidak menunjukkan gerakan gelisah dan nafas memburu karena terbakar gairah.
“Hmm coba aku cek barang miliknya, jangan jangan masih berupa burung pipit.” Gumam Miranda dalam hati lagi lalu dia mulai pelan pelan bangkit berdiri.
Miranda pelan pelan berjalan menuju ke tempat Daniel terbaring. Telapak tangan dia terulur pelan pelan ke arah bagian burung Daniel.
Sesaat sontak kedua orang yang berada di dalam kamar itu sama sama kaget. Daniel tampak kaget karena ada tangan menggerayangi burungnya. Miranda kaget karena burung Daniel benar benar dalam posisi lemes, dan Miranda pun juga kaget karena tangan nya dikibaskan dengan sangat keras oleh Daniel. Miranda dengan cepat menarik tangannya yang terasa sakit.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Daniel sambil melindungi burungnya dengan kedua tangannya.
“Ehhhmm.. Ehhh... itu.. itu...” ucap Miranda tidak bisa melanjutkan kalimatnya dia masih memegangi telapak tangan yang sakit karena dikibaskan oleh Daniel dengan sangat keras. Ekspresi wajah Miranda campur aduk antara kaget, kesakitan dan kecewa.
“Kamu tahu sendiri kan aku tidak ada gairah dengan kamu! Meskipun kamu telanjaang bulat! Kamu bisa mengajukan gugat cerai!” ucap Daniel lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Daniel justru senang jika Miranda benar benar percaya kalau dirinya impoten.
“Kak, aku akan menyembuhkan Kak Dan.” Ucap Miranda saat Daniel belum keluar dari kamar.
“Tidak usah!” ucap Daniel sambil membuka pintu kamar.
“Hiks... hiks... hiks...” suara isak tangis Miranda, entah sungguh sungguh menangis atau hanya akting semata. Miranda pun melangkah menuju ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
“Aku benar benar tidak bisa mendapatkan kepuasan dari Kak Daniel. Tapi aku tidak bisa mengatakan ini pada Mama dan Mama mertua karena perutku ini.” Gumam Miranda sambil mengusap perut datarnya.
“Dia benar benar impoten kenapa tidak mau disembuhkan.” Gumam Miranda lagi tampak ekspresi wajahnya sedang berpikir pikir.
“Hmmm aku sekarang tidur saja... Besok cari cara lagi, pusing tidak menyangka kalau dia benar benar impoten.” Ucap Miranda sambil memejamkan matanya.
Waktu pun terus berlalu, di pagi hari Daniel dan Miranda sarapan pagi di ruang makan. Mereka berdua tampak biasa biasa saja bagai tidak ada masalah di malam hari. Miranda pun tampak berakting menjadi istri yang baik melayani Daniel makan pagi, sedang Daniel masih saja dingin dan cuek.
“Kamu apa sudah mulai bekerja hari ini Mir?” tanya Nyonya Frederick saat masuk ke ruang makan bersama Tuan Frederick dan melihat Miranda memakai baju kerja, rok span pendek dan atasan blues dilengkapi dengan blazer.
“Iya Ma, ada meeting penting tidak bisa diwakilkan.” Jawab Miranda sambil menoleh ke arah Nyonya Frederick yang akan mendudukkan pantatnya.
“Biar Daniel mengantar ke kantor kamu dulu, dan nanti pulangnya biar dijemput oleh Daniel sepulang Daniel kerja.” Ucap Nyonya Frederick selanjutnya.
Daniel yang sedang mengunyah makanan pun langsung kaget, dan menatap Sang Mama. Dengan cepat Daniel menelan makannya dan selanjutnya minum air mineral. Ah untung saja tidak tersedak.
“Ma, aku harus cepat cepat sampai rumah sakit dan nanti aku sampai malam...” ucap Daniel karena dia akan mengantar Bebby ke rumah Marco.
“Maka cepat cepat kalian selesaikan sarapannya, dan segera berangkat. Besok lagi kalian harus siap lebih pagi. Miranda nanti biar menunggu kamu pulangnya.” Ucap Nyonya Frederick sambil melayani suaminya mengambilkan sarapan.
“Ma, biar Miranda bawa mobil sendiri saja.” Ucap Miranda karena dia pun juga akan berkencan dengan Renold.
“Pokoknya kalian berdua harus pergi dan pulang bersama. Titik.” Ucap Nyonya Frederick sambil menatap tajam Daniel dan Miranda secara bergantian.
“Begitu kan Pa?” ucap Nyonya Frederick selanjutnya sambil menatap Sang suami dan Tuan Frederick hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya.
Daniel dan Miranda pun segera menyelesaikan makan paginya dan segera pamit pada Tuan dan Nyonya Frederick.
Miranda terus mengikuti langkah Daniel yang tampak cuek dan tergesa gesa. Sesaat mereka berdua sudah sampai di depan mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Sopir. Daniel dan Miranda segera masuk ke dalam mobil. Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesaat kemudian...
“Kak, turunkan aku di depan gedung Bank itu. Biar aku naik taxi on line saja.” Ucap Miranda yang merasa tidak nyaman berada di dalam mobil Daniel karena Daniel melajukan mobilnya sangat kencang dan memasang ekspresi wajah kaku.
“Kamu nanti pasti lapor ke Mama kalau aku menurunkan kamu di jalan.” Ucap Daniel sambil terus fokus pada kemudi mobil nya.
“Tidak Kak, kasihan Kak Dan kalau terlambat.” Ucap Miranda sambil menoleh menatap Daniel dari samping.
Akan tetapi Daniel terus saja melajukan mobilnya saat melewati gedung sebuah Bank yang ditunjuk oleh Miranda.
🤣🤣