Apa yang terjadi jika ada seseorang yang masuk dalam hidupmu adalah orang yang usianya jauh di atasmu dan bukan type yang sefrekuensi denganmu. Di saat kamu mengharapkan bebas, namun dia adalah pria yang protective dan penuh aturan.
Ini adalah kisah cinta ringan sepasang manusia.. tentang seorang gadis usil dan riang namun bertemu dengan pria jebolan pesantren tapi mesumnya setengah mati.
Tampilannya mungkin urakan dan begajulan bak preman pasar memang begitu meresahkan tapi siapa sangka pria tersebut sangat menghargai wanita terlebih saat sudah jatuh cinta, garang tersebut lenyap dan berubah lembut.. selembut kapas.
note : TINGGALKAN JIKA TIDAK TAHAN KONFLIK DI DALAMNYA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Memperjuangkan segalanya.
Irene diam saja saat Bang Enggano berniat membawa Hanin turun serta dalam rombongan mereka. Sudah tentu semua karena hati Irene kini lebih berat dengan Bang Noven. Hanya saja Irene sangat takut jika Hanin akan masuk ke tengah hubungan mereka.
"Saya tau perasaanmu Irene. Saya ikhlas membatalkan pertunangan kita dan saya sendiri yang akan bilang pada Papamu." Kata Bang Enggano.
Irene melirik Hanin yang tengah sibuk dengan mainan barunya. Jam tangan milik Bang Enggano dan barang-barang yang belum pernah di lihatnya selama ini.
Jam tangan Bang Enggano berbunyi.
"Jangan di hantam jam tangan Abang..!!" Pesan Bang Enggano saat Hanin mulai kembali mengangkat batu.
Hanin mengurungkan niatnya dan meneliti barang lain.
"Kamu betah membawanya?" Goda Bang Noven.
"Aku nggak tega." Jawab Bang Enggano.
"Irene nggak suka Bang." Kata Irene terang-terangan.
Memang tidak ada yang salah dari perkataan Irene. Bagaimanapun keadaannya, tidak ada istri yang ikhlas suaminya dekat dengan wanita lain termasuk Irene. Bang Noven melirik ke arah sahabatnya. Hal ini sudah cukup membuat mereka terkena serangan jantung mendadak.
"Mohon pengertian mu Irene. Dunia mu telah kembali. Biarkan Abang menikmati dunia Abang sendiri. Mulai hari ini Abang lepaskan kamu, dan tolong jangan keras sama Hanin. Abang akan menjaga dan mendidiknya. Abang janji Hanin tidak akan mengganggumu." Pinta Bang Enggano.
"Ini apa?" Tanya Hanin.
zluuupp..
"Jangan..!!"
Asap membumbung ke arah sekitar dan bertebaran di sekitar rumah. Seluruh anggota menunduk. Bang Noven menyelamatkan Irene. Bang Enggano kelabakan mencari keberadaan Hanin sembari menahan nafas.
'Astagaaa.. Hanin memang benar-benar celaka ku. Bisa-bisanya dia main granat asap dan membongkar bekal persenjataan.'
Setelah beberapa saat akhirnya Bang Enggano menemukan Hanin tergelak sudah tidak sadarkan diri. "Hanin.. Ya Allah..!!" Secepatnya Bang Enggano menggendong Hanin ke wilayah udara terbuka dan segera menyadarkan Hanin.
Bang Enggano yang panik begitu kesusahan menyadarkan Hanin. Pikirannya frustasi, wajahnya terlihat sangat gelisah padahal penyelamatan darurat adalah misi di luar kepala bagi tentara.
"Irene bantu Bang..!!" Irene mengambil alih tindakan. Beberapa detik kemudian Hanin tersadar.
"Alhamdulillah..!!!!" Refleks Bang Enggano memeluk Hanin membuat Irene ternganga dan mundur teratur. "Bisa nggak sih sebentar saja kamu tidak buat Abang cemas. Jantung Abang nggak kuat, ada saja yang kamu lakukan buat kepalaku mau pecah." Gerutu Bang Enggano.
Irene menoleh melirik Bang Noven dan Bang Noven hanya menempelkan telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat agar Irene tidak ikut campur lagi. Mungkin bisa di katakan seorang Enggano sedang melabuhkan hatinya pada putri pedalaman.
...
Bang Enggano dan team sudah terhubung. Kini Bang Enggano sudah menyusul rekan di daerah perkampungan adat. Hatinya sudah mantap untuk menemui kepala desa setempat.
Kepala desa memperhatikan wajah Bang Noven dan Bang Enggano secara bergantian sembari melihat bukti yang kedua pria itu bawa di hadapannya.
"Saya sudah menerima kabar dari Pak Noven dan Pak Enggano. Saya juga sudah paham masalahnya. Tapi kami tidak bisa melepaskan sistem hukum adat. Kesalahan Pak Noven adalah membatalkan pernikahan karena suatu hal masih bisa kamu pertimbangkan perhitungannya tapi Pak Enggano yang berniat membawa keluar warga adat kami tentu sangat berat." Kata kepala desa adat.
"Apapun akan saya penuhi Pak."
"Baiklah. Bapak harus menyiapkan dua tempayan keramik dan sepuluh piring keramik di tambah dua ekor kijang bertanduk cabang tiga. Tapi sayangnya hukum ini sangat berat. Waktunya hanya tiga hari." Pinta kepala adat.
Bang Enggano menunduk sejenak. Tangannya mengepal sambil memikirkan hal terbaik dan tercepat untuk menyelesaikan masalah.
Hanin berdiri dari duduknya. Ia menghadap kepala adat. "Itu terlalu berat. Saya bersedia menjadi budak adat. Biarkan Pak Enggano pergi..!!"
"Saya akan penuhi..!!" Jawab Bang Enggano.
"Selama team saya bekerja memeriksa kesehatan warga. Saya akan berusaha menyediakan denda adat." Ucap tegas Bang Enggano.
"Pak Enggano. Laki-laki pantang menarik sumpah. Jika anda mantap.. saya akan mengetuk palu adat dan anda tidak boleh mundur. Jika anda tidak mendapatkan atau tidak lengkap di hari ke tiga maka hukum pelulusannya adalah hukum tikam..!!" Sekali lagi kepala desa menegaskan.
"Saya ingin menghalalkan Badia Natha Haninda menjadi istri saya. Biarkan saya berjuang secara terhormat sebagai laki-laki."
"Baik Pak Enggano." Kepala adat mengetuk palu.
:
"Kenapa lah Abang lakukan tanpa cakap sama Hanin. Hanin tak ingin merepotkan siapapun. Kalau Abang Gumantar lebih memilih wanita itu, Hanin tak peduli. Hanin tak mau ikut Abang..!! Hanin tak kenal Abang." Tolak Hanin.
Penolakan Hanin membuat Bang Enggano sungguh patah hati. Matanya sampai berkaca-kaca.
"Kau tau hutan ini sangat luas. Banyak binatang buas. Noven turun gunung.. kau mau hidup dengan siapa di sini???"
"Hanin punya Muna."
"Siapa Muna??" Tanya Bang Enggano sudah terbakar emosi.
"Monyet kesayangan Hanin." Jawab Bang Noven menyambar.
"Monyet bisa apa???"
"Ada Bana juga."
"Siapa lagi Bana??? Biar ku hajar sekalian..!!" Bentak Bang Enggano.
"Bantengnya Hanin."
Seluruh anggota menahan tawanya mendengar semua kawan Hanin.
Wajah Bang Enggano merah padam menahan marah. "Kamu harus ikut dengan Abang..!! Abang sudah berurusan dengan adat. Kamu jangan cari perkara Hanin..!!"
"Tak mau ya tak mau. Jangan paksa Hanin lah..!!" Ucapnya sambil berlalu pergi.
"Astagfirullah...!!! Haniiiinn..!!!! Ini anak memang minta di lipat yaa..!!" Gerutu Bang Enggano tapi Hanin malah menjulurkan lidah dan mengejek Bang Enggano. "Ya Allah, ajur tenan musuh Kowe."
"Kau jangan terbawa emosi begitu Gan." Tegur Bang Noven.
"Apa aku harus buat Hanin hamil dulu baru mau tenang??????" Jawab Bang Enggano berapi-api namun kemudian dirinya menyadari masih banyak anggotanya di sana. Bang Enggano mengubah mode wajah cool nya. "Eheem.. saya bercanda."
"Lanjut Dan.. sedikit khilaf juga nggak apa-apa." Kata seorang anggota.
"Kamu ini. Bagian yang begini saja semangat sekali." Bang Enggano kemudian menyusul Hanin.
***
Hingga pagi ini Hanin masih tidak mau bicara dengan Bang Enggano. Ia terus membuang muka pada pria tersebut.
"Abang pergi berburu dulu ya dek. Do'akan Abang dapat kijang..!!"
Bang Enggano berlalu begitu saja karena tak mendapat jawaban apapun dari Hanin.
"Aku cari tempayan dulu ke daerah luar kampung, mereka sudah mengenalku dan tak akan macam-macam denganku." Kata Bang Noven.
"Oke.. tolong ya Nov..!!" Ucap Bang Enggano penuh harap.
Bang Noven menepuk bahu sahabatnya lalu menggandeng Irene.
Baru kali ini hati Bang Enggano tidak bereaksi saat wanitanya bersama pria lain.
-_-_-_-_-
Hari sudah sangat gelap saat Bang Enggano kembali dari berburu. Tubuhnya sudah sangat lelah saat semua orang sudah terlelap dan disana hanya Bang Noven dan dua orang anggota yang sedang bergantian jaga.
"Malam sekali Gan?" Tanya Bang Noven.
"Sulit sekali dapat kijang." Jawab Bang Enggano. Pria tersebut menyandarkan punggungnya pada sebatang kayu.
"Maka dari itu kijang sangat berharga." Jawab Bang Noven.
Bang Enggano menengadah menarik nafas tapi kemudian Bang Enggano menjauh. "Hhhkkkk.."
"Ganoo.. kamu nggak apa-apa khan?" Bang Noven panik melihat sahabatnya muntah, ia menyentuh kening Bang Enggano. "Astagaaa.. pakai acara demam segala."
Pratu Dwipa segera menghampiri. "Biar saya bantu Dan. Letnan Enggano memang kurang istirahat."
"Istirahat dulu Gan. Kalau kamu sakit malah buyar semua." Kata Bang Noven.
"Kepalaku sakit Nov. Tolong bangunkan Irene. Nggak apa-apa khan?" Bang Enggano sampai bersandar di lengan Pratu Dwipa.
"Iya nggak apa-apa. Sebentar ya..!!"
.
.
.
.
saya mampir.... thor
🙏