Mati kemudian hidup kembali namun bangun di tubuh seseorang yang berbeda.
Clarissa hidup sebagai seorang ratu bernama Meira.
"Skandal konyol macam apa ini" Gumam Clarissa.
"Yang Mulia, anda berubah sepenuhnya. Anda tidak seperti yang dulu. Terlihat dari kekejaman yang anda buat sekarang!" Ucap Rodiah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyera Kesita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti aku!
Tik..tik..tik...
Gerimis dari semalam belum usai. Pagi yang sedikit gelap. Dedaunan yang tertiup angin pun bisa terdengar. Gerimis tapi angin kencang. Suara petir pun juga turut andil dalam kekacauan kecil di pagi hari.
Seorang wanita masih meringkuk di balik selimut. Udara yang dingin tak mendukungnya untuk bangkit dari tempat tidur.
tok..tok..tok..
Dayang masuk untuk menyediakan perlengkapan mandi Ratu mereka. Tak hanya itu, mereka juga menyediakan sarapan, karena mereka yakin Meira tak akan makan di ruang makan.
"Selamat pagi, nona. Pagi sudah menyongsong. Apakah nona tak mau bangkit untuk sekedar minum teh?" Rodiah masih berdiri menunggu Meira bangun. Tak butuh waktu lama , Meira akhirnya bangkit juga. Ia meregangkan badannya agar tidak lemas. Matanya masih sulit dibuka.
"Letakan saja. Kalian tunggu di luar. Aku akan mandi setelah memakan sarapan ini,"
"kalian bersiaplah kita akan pergi mengelilingi kota para bangsawan!" Perintah Meira pada dayang dayangnya. Dengan wajah datar, Meira mengambil roti dan memakannya.
"Kenapa Nona Meira menjadi seperti ini! Padahal kemarin dia tertawa seperti wanita~" Naomi menghentikan ucapannya setelah mendapat delikan tajam dari Meira.
Mereka pun pergi meninggalkan Meira sendiri.
***
Hiruk pikuk dari kota bangsawan terdengar bahkan sebelum mereka sampai tepat di kota itu. Sebenarnya, tak ada urusan Meira di kota itu. Namun, ia hanya ingin mengenali sifat bangsawan di kerajaannya.
Belum sempat Mereka menginjakan kakinya di kota itu. Mereka sudah disuguhi pemandangan buruk. Sepertinya pertengkaran ibu dan anak. Meira berhenti melangkah. Ia ingin menonton kisah yang sama dengan kisahnya sewaktu ia adalah Clarissa.
"Bu, Aku hanya ingin kasih sayangmu yang kau berikan pada Audrey. Aku ingin merasakannya juga!!" Teriak anak laki laki itu sambil menarik tangan ibunya. Badannya setengah membungkuk. Ia sedang memohon.
"Cih, Tak sudi punya anak sepertimu! kau anak ayahmu! bukan aku!" Dengan kasar, wanita yang dipanggil ibu itu menghempas kasar anak lelaki itu.
"Kenapa bu? kenapa dengan ayah? apakah karena aku mirip dengannya? atau karena kau membencinya lalu kau juga membenciku?!!" pertengkaran mereka mengundang pasang mata untuk menonton. Apakah mereka tak punya malu? batin Meira.
"Matilah kau bedebah! jangan kau ganggu keluarga baruku! Pergilah kau bersama ayahmu di neraka!"
"cukup, Aku tak tahan lagi! aku ingin menangis! ia seperti aku! seperti kisahku!" gumam Meira.
Meira diikuti para pengikutnya datang menghampiri penyebab keributan itu. Wanita yang sedari tadi mengutuki anaknya diam seketika lalu menampilkan senyum palsunya.
"Yang Mulia, Maaf keributan ini. Seseorang mengusikku," Wanita itu membungkuk memberikan salam.
"Cih, menjijikan!" ucap Meira dalam Hati.
"Seseorang?" Meira menatap anak lelaki itu iba. Ia sangat tampan. Matanya berwarna biru. Tapi tunggu! matanya memiliki warna yang berbeda, sebelah biru laut sebelahnya lagi abu cerah. Menakjubkan.
"Bukankah dia adalah anakmu? mengaoa bisa berubah menjadi seseorang? mengagetkan!" cela Meira.
"D-dia h-hanya~"
"Hanya APA!!!" Potong Meira dengan emosi.
"hmmm? hanya apa?" Tanyanya dengan pelan.
"Baiklah, Saya umumkan di depan kalian para saksi! Wanita ini tidak akan memiliki hak kebangsawanan. Pangkatnya diturunkan menjadi rakyat biasa seperti kalian!"
"Jadi aku tak mau mendengar ada yang menghormati dia,"
"MENGERTI!!!" Teriak Meira dihadapan beberapa pasang mata yang tak lain adalah rakyatnya sendiri.
Mendengar perintah Meira, orang orang pun menjawab perkataan Meira.
"Mengerti, Yang Mulia!!!" ucap sekitar ratusan orang disana.
"Mohon maafkan aku! dia adalah anakku! Aku menyayangi dia. Aku akan memperlakukan dia lebih baik!" Wanita itu membungkuk menciumi kaki Meira memohon ampub. Bukannya iba, Meira semakin jijik dengan kelakuannya.
"Siapa namamu? sepertinya tak sopan jika tidak mengetahui namamu?"
"Namaku Emerald, Yang Mulia. Kehormatan bagiku pengampunanmu," ucap wanita itu menangis.
"Cih, Pergilah dengan sisa hartamu! Wanita sepertimu tak punya kehormatan sehingga pengampunan tak sudi memihak padamu"
"Aku akan minta maaf pada anakku! Aku akan bersujud di kakinya di depan semua orang!" Teriak Emerald.
"Anakmu? Katakan padanya dia bukan ibumu!" Perintah Meira pada anak itu. Tapi, anak itu hanya diam saja. Dia hanya sibuk menyeka air matanya.
"Katakan!! Ini perintahku!" Meira berteriak pada anak itu. Karena ketakutan akhirnya anak itu pun menurut.
"Dia bukan lagi ibuku," kata anak itu pelan.
"Kau memutuskan sesuatu yang benar. Aku memahami kondisimu. Sekarang, aku bertanya, maukah kau menjadi anakku?" Tanya Meira didepan semua orang termasuk Emerald. Dengan segala keterkejutannya, Anak itu membelalakan matanya. Ia menghentikan tangisnya. Senyuman ragu terbit dari bibirnya. Berbeda dengan Emerald Ia tak bisa menghentikan perasaan terkejutnya. Mungkin dengan ini dia akan sadar.
"Tapi, apakah kau akan jahat padaku?" tanya anak itu dengan polosnya.
"Apa kau yakin aku orang jahat?" Meira kembali bertanya, dan anak itu membalasnya dengan gelengan.
"Berarti kau setuju! Ayo kita pulang?" Meira menggenggam tangan basah anak itu. Lalu, membawanya dalam kereta kudanya.
"Kereta kudanya banyak sekali!" Ucap anak itu.
"Namamu siapa anak tampan?" Tanya Meira.
"Namaku Lais Penrod. Nenekku bilang ia berharap agar aku menjadi komandan yang pemberani!!" Anak itu memamerkan ototnya yang sama sekali tak menonjol. Meira menepuk pelan kepala anak itu.
"Jadilah anak ibu yang pemberani mulai sekarang,"
"Terimakasih ya, dengan kau menjadi ibuku adalah hadiah ulang tahun terbaikku!"
"jadi, ini hari ultahnya! kasihan anak ini!" Batin Meira.
"Wahh, kalau begitu berapa umurmu?"
"Aku sudah berumur 7 tahun. Berarti aku sudah besar. Aku sudah bisa menjadi komandan yang pemberani!"
"Kau cepat akrab juga ya!" puji Meira
"Kau sudah menjadi ibuku. Hadiah dariku, aku akan jadi anak yang baik!" ucapan Lais membuat Meira terharu. Bagaimana Seorang anak kecil bisa berkata seperti itu dengan polos. Tanpa sadar, Meira memeluk Lais dengan hati yang tersentuh.
"Bagaimana Emerald bisa menyianyiakan anak baik seperti ini!" gumam Meira.
Rodiah dan dayang lainnya melihat pemandangan yang mengharukan. Ratu Mereka bisa menjadi sosok ibu. Auranya begitu kuat. Dia sangat cocok menjadi ibu.
"Tuan Vartan pasti bangga!" gumam Rodiah.
***
Hai hai...
Bagaimana dengan ceritanya.
Jangan lupa Vote, like, follow dan komen untuk kelanjutan mood saya.
Terus baca karyaku. Karena dengan membaca karyaku kalian sama dengan mendukungku untuk terus menulis.
Bagikan dengan teman kalian. Jadikan karyaku sebagai bahan rekomendasi kalian untuk teman teman kalian. Terimakasih.
kurang menghargai karyanya sendiri dan pembacanya ..hmm..chayoooo..