Kin Rui, seorang putri petinggi mafia legendaris dari Doragonshadou di Jepang harus merubah identitasnya untuk sebuah balas dendam.
Dia meninggalkan Jepang untuk dan menjalani beberapa pelatihan yang begitu keras untuk menjadikannya wanita yang tangguh dan tak terkalahkan.
Hingga 18 tahun kemudian, Kin Rui kembali ke Jepang dengan identitas baru dan akan mulai melakukan aksi balas dendamnya.
Sebuah balas dendam yang akan berakhir begitu menyakitkan, karena dia harus melenyapkan ayah biologisnya sendiri.
Apakah Kin Rui bisa menyelesaikan misi balas dendamnya?
Ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Ryuga
Angin malam yang begitu dingin dan kencang masih berhembus menyapu kota Tokyo yang sudah dipenuhi dengan kelap-kelip lampu yang begitu indah. Meskipun sudah semakin larut, namun kota ini tak pernah terlihat sepi. Jalanan masih cukup ramai dengan lalu lalang mobil.
Sebuah BMW hitam metalik keluaran terbaru kini mulai melakukan parkir dengan begitu gesit di halaman markas utama Doragonshadou setelah melakukan perjalanan dari Ginza.
Dua orang pria mulai menuruni mobil itu, lalu seorang gadis dengan pakaian serba hitam dan mengenakan sebuah jaket kulit berwana hitam juga mulai turun dari mobil itu.
Mereka bertiga adalah Viollete, Ryuga dan Roy yang baru saja menyelesaikan sebuah misi di Ginza untuk menyelamatkan seorang gadis, putri dari seorang pengusaha di Jepang.
Roy dan Ryuga mulai melenggang bersama memasuki gedung megah nan kokoh itu. Namun Viollete malah menghentikkan langkah kakinya ketika berada di hadapan sebuah gedung megah itu dan menatap nanar gedung di hadapannya itu.
Yeap,.sebuah gedung yang terlihat begitu besar dan berdiri dengan kokoh, dan menjulang begitu tinggi, dan tentunya sebagai sebagai simbolis dari Doragonshadou yang begitu kuat, besar dan tak terkalahkan berdiri di tengah-tengah ramainya kota Tokyo.
Bangunan yang bernuansa gelap namun terlihat begitu mewah dan menakjubkan itu sudah berdiri selama hampir 58 tahun, dan selama ini hanya ada beberapa renovasi saja dalam 58 tahun itu. Gedung itu dipenuhi dengan kaca dan keramik dan tentunya menggunakan bahan anti peluru, karena mengingat selain Doragonshadou adalah seperti pahlawan dunia, namum tentu saja juga akan ada yang membenci Doragonshadou dan menjadikannya sebagai musuh.
"Vio! Kemarilah!!" teriak Roy membuyarkan angan Viollete yang entah sedang memikirkan apa saat menatap gedung megah di hadapannya itu.
Viollete yang sudah tersadar dari lamunannya, kini mulai menyusul kedua pria itu dan mulai memasuki markas utama Doragonshadou. Sebuah jalan utama dilaluinya begitu saja, dan mulai melewati lorong panjang, hingga akhirnya mereka bertiga mulai memasuki sebuah elevator.
Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka bertiga selama di dalam elevator. Mereka hanya berdiri dengan tegap dan menatap lurus ke arah pintu masuk. Sebenarnya Roy sangat ingin sedikit berbincang dengan Viollete, namun Roy merasa tidak enak dengan Ryuga.
Karena sepertinya Ryuga begitu tidak menyukai Viollete, terlebih setelah kejadian penyelamatan di Ginza beberapa waktu yang lalu. Ryuga berfikir jika Viollete begitu tidak menghargai Ryuga sebagai seniornya dan dianggap sebagai pembangkang.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu elevator mulai terbuka kembali. Ryuga mulai melenggang meninggalkan elevator dan mulai disusul oleh Roy dan juga Viollete.
Kini mereka mulai memasuki sebuah ruangan yang berukuran tidak cukup besar namun tempat ini dipenuhi dengan beberapa alat yang begitu canggih dan futuristik. Di tengah ruangan itu ada sebuah meja dengan beberapa kursi yang sudah mengitarinya. Dan mungkin ruangan ini adalah ruangan Ryuga.
Ryuga mulai duduk di salah satu kursi tanpa mengatur tuas dari kursi tersebut, karena sudah dirasa mendapatkan posisi yang nyaman, begitu juga dengan Roy yang juga mulai duduk.
"Duduklah, Vio! Tuan Wilson akan segera datang." ucap Roy dengan ramah.
Tanpa menjawab apapun, kini Viollete mulai duduk bergabung bersama dengan mereka. Ryuga mulai mengambil sebuah berkas di hadapannýa dan memeriksanya kembali. Rupanya berkas itu adalah, data diri Viollete.
"Viollete Karimova. Apa kamu belum pernah bekerja bersama orang lain sebelumnya?" pertanyaan yang terdengar begitu dingin tiba-tiba saja mulai dikeluarkan oleh Ryuga.
"Ya. Aku belum pernah bekerja apapun selama ini." jawab Viollete dengan jujur
Ryuga masih memeriksa kembali data diri itu, namun ekspresinya terlihat begitu dingin, seperti dia yang memang kurang menyukai Viollete.
"Apa kamu tidak tau jika di dalam bekerja, mematuhi perintah dari atasanmu dan seniormu adalah sebuah keharusan, Viollete Karimova?" pertanyaan atau lebih tepatnya sebuah sindiran dilontarkannya begitu saja oleh Ryuga.
Viollete hanya menatap ke arah meja dan terdiam beberapa saat karena memang merasa bersalah, jika saat itu Viollete mengabaikan perintah dari Ryuga dengan bergerak sendiri tanpa memberikan informasi padanya.
"Maafkan aku, Senior. Aku terlalu bersemangat hingga melupakan keberadaan kalian saat itu." ucap Viollete dengan jujur, bahkan disaat berada dalam bahayapun Viollete tak mengharapkan kehadiran Ryuga maupun Roy saat itu, karena Viollete memang benar-benar lupa. Atau lebih tepatnta dia selalu terbiasa melakukan hal apapun secara mandiri.
"Cih ... apa kamu merasa paling hebat?" Ryuga sedikit mendengus dan tersenyum miring menatap gadis itu. "Kamu melupakan keberadaan kami? Sungguh sangat tidak masuk akal!!" imbuh Ryuga sembari melemparkan berkas itu di atas meja dengan keras.
"Maafkan aku, Senior." ucap Viollete dengan tulus.
"Di dalam kerja team, semua harus dilakukan bersama dan harus kompak! Bukan bergerak perorangan seperti itu!" ucap Ryuga menandaskan kembali masih dengan intonasi yang sama. "Aku harap tuan Wilson akan mengambil keputusan yang tepat dan tidak tertipu dengan wajah lugumu itu!!" imbuh Ryuga tersenyum miring.
TRING ...
Sebuah notifikasi pesan mulai terdengar dan berasal dari ponsel Ryuga.Perlahan Ryuga mulai meraih sebuah benda pipih dari dalam saku pakaiannya untuk melihat pesan itu.
Ryuga, kalian pulang saja dulu. Aku tidak bisa ke datang ke markas utama Doragonshadou sekarang. Putri bungsuku demam dan tidak mau berada jauh dariku. Beritahukan kepada Viollete untuk menemuiku besok pagi di ruanganku. Wilson.
Rupanya pesan itu berasal dari Wilson. Setelah membalas pesan itu, Ryuga mulai menyimpan kembali ponselnya.
"Tuan Wilson tidak bisa datang. Kalian boleh pulang." ucap Ryuga menatap Viollete dan Roy secara bergantian. "Dan kamu Viollete, tuan Wilson menyuruhmu untuk menemuinya besok pagi di ruanganya!"
"Baik, Senior Ryuga." Viollete menyauti dengan nada pelan. "
Ryuga segera bangkit dan mulai meninggalkan ruangan itu. Lalu menyusul Roy dan Viollete yang meninggalkan ruangan itu.
"Viollete, ini sudah jam 11 PM, apakah ada yang menjemputmu?" Roy yang masih berada di dalam satu elevator bersama dengan Viollete kini mulai bertanya dan sedikit menoleh menatap Viollete.
"Tidak. Aku akan naik taxi saja. Ayah dan adikku jam segini pasti sudah tidur." sahut Viollete seadanya.
"Kalau begitu bagaimana jika aku antar? Pulang sendirian dengan naik taxi di waktu selarut ini sangat berbahaya untuk seorang gadis. Kamu tinggal dimana? Biar aku antar." ucap Roy tak tega membiarkan Viollete pulang sendirian.
Tidak boleh!! Jangan biarkan siapapun dekat denganku apalagi mengetahui tempat tinggalku! Jika tidak, suatu saat mereka bisa saja mengetahui identitas asliku. Aku tidak mau seorangpun mengetahui diriku yang sebenarnya!!
Batin Viollete mulai mulai berfikir ke arah sana.
"Terima kasih, Senior Roy. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri." ucal Viollete lalu membungkukkan badannya dan segera menginggalkan elevator dengan cepat setelah pintu terbuka.
Dengan cepat Viollete mulai meninggalkan gedud megah ini dan mulai menghadang sebuah taxi untuk segera kembali pulang.
...⚜⚜⚜...
pelukan hangat dan tutur kata yuna yg penuh kasih makin membuat rui terharu dan meraaa bersalah ya walau hanya dalam hati saja , selamat y rui kini kamu telah berkumpul kembalk dengan keluarga asli mu maka belajarlah untuk menjadi lebih baik lagi dan mengikis dendam yg telah tertanam dengan cinta dan kasih sayang untuk keluargamu 🤗🤗