NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 — Pagi yang Terlalu Normal

Pagi datang tanpa aba-aba.

Tidak ada mimpi buruk yang menarik Airi keluar dari tidur. Tidak ada jeritan yang terperangkap di tenggorokan. Tidak ada dada yang terasa sesak seperti yang ia bayangkan akan terjadi setelah malam itu.

Yang ada hanya cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai apartemen, jatuh di lantai dengan warna keemasan yang lembut. Hangat. Tenang. Terlalu normal.

Airi membuka mata perlahan.

Langit-langit putih menyambutnya. Bersih. Tanpa noda. Tanpa poster. Tanpa jam dinding dengan detak yang mengganggu. Udara di ruangan itu dingin secukupnya, membawa aroma sabun dan samar-samar kopi segar. Ia butuh beberapa detik untuk mengingat di mana dirinya berada.

Apartemen Takahashi.

Kesadaran itu datang tanpa kepanikan. Tidak ada jantung yang berdegup kencang. Tidak ada dorongan untuk bangkit dan pergi. Tubuhnya terasa ringan, seolah ia baru keluar dari tidur panjang yang tidak disentuh oleh pikiran apa pun.

Dan justru itulah yang membuatnya gelisah.

Ia duduk di tepi sofa yang semalam dijadikan tempat tidur. Selimut abu-abu sudah terlipat rapi. Ponselnya tergeletak di meja kecil, layar tetap hitam. Ia ingat mematikannya dengan sengaja. Tidak ingin mendengar suara siapa pun. Tidak ingin menjawab pertanyaan yang bahkan belum ia pahami sendiri.

“Airi?”

Suara itu datang dari arah dapur.

Tenang. Rendah. Tidak terburu-buru.

Airi berdiri dan melangkah pelan. Takahashi sedang menuang kopi ke dalam cangkir. Kemeja santainya sedikit kusut, rambutnya masih berantakan dengan cara yang terasa alami. Ia menoleh dan tersenyum tipis. Bukan senyum lebar. Bukan pula senyum yang dibuat-buat.

“Kamu bangun,” katanya. “Aku buat sarapan ringan. Kalau kamu mau.”

Airi mengangguk kecil.

“Terima kasih, Sensei.”

Ia duduk di kursi makan. Meja itu bersih. Terlalu bersih. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan berlebihan. Tidak ada benda yang memberi isyarat tentang kehidupan personal selain kebutuhan dasar. Ruangan itu seperti sengaja diciptakan agar tidak menyimpan terlalu banyak jejak.

“Kamu tidur nyenyak?” tanya Takahashi sambil meletakkan roti panggang dan telur di depannya.

“Iya,” jawab Airi jujur.

Jawaban itu membuatnya sendiri terdiam sesaat.

Takahashi duduk di seberangnya, menjaga jarak yang sopan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada gerakan yang melampaui batas. Hanya percakapan yang berjalan rapi, seolah semuanya sudah ditempatkan pada porsinya masing-masing.

“Kamu masih mau kuliah hari ini?”

“Iya,” kata Airi. “Aku nggak mau ketinggalan.”

“Bagus,” jawab Takahashi. “Rutinitas itu penting. Supaya kamu nggak merasa hidupmu berhenti hanya karena satu malam yang berat.”

Kalimat itu terdengar logis. Masuk akal. Menenangkan.

Dan entah kenapa, Airi merasa lega mendengarnya.

“Kamu juga nggak perlu cerita ke siapa pun kalau belum siap,” lanjutnya sambil menyeruput kopi. “Kadang orang terlalu ingin tahu, tapi tidak benar-benar mendengarkan.”

Airi terdiam.

Wajah Ren melintas singkat di kepalanya. Tatapan panik itu. Suara ibunya yang bergetar. Tapi semua itu terasa jauh, seperti kenangan yang diletakkan di balik kaca.

“Kalau suatu saat kamu mau bicara,” kata Takahashi pelan, “aku ada.”

Tidak ada tekanan di sana. Tidak ada paksaan. Hanya penawaran yang terdengar aman.

Airi mengangguk.

Sekali lagi, mengangguk.

Ia berangkat kuliah seperti biasa.

Takahashi mengantarnya sampai gerbang apartemen. Tidak lebih. Tidak ada ajakan untuk masuk kampus bersama. Tidak ada pesan berlebihan. Hanya satu kalimat singkat.

“Hati-hati di jalan.”

Di dalam bus, Airi duduk di dekat jendela. Kota bergerak seperti biasanya. Orang-orang berangkat kerja. Mahasiswa dengan wajah mengantuk dan earphone di telinga. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi semalam.

Dan Airi terlihat baik-baik saja.

Itulah yang paling berbahaya.

Begitu ia menginjakkan kaki di kampus, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.

Ren berdiri di dekat tangga fakultas. Wajahnya tegang, lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas. Haruto menyandarkan punggung ke tiang, tampak santai, tapi matanya tak pernah lepas dari Airi. Yukito berdiri sedikit di belakang, memegang tas dengan dua tangan, ekspresinya cemas namun diam. Mei berdiri di sisi Hinami.

Ketika Airi mendekat, udara seakan berhenti bergerak.

“Airi?” suara Ren keluar lebih cepat dari niatnya.

Airi berhenti. Menatap mereka satu per satu. Lalu tersenyum kecil.

“Pagi.”

Satu kata itu cukup untuk mengubah segalanya.

“Kamu ke mana semalam?” Haruto melangkah setengah.

“Aku butuh istirahat,” jawab Airi ringan. “Sekarang aku baik-baik saja.”

Yukito menatapnya lama. Terlalu lama. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi lidahnya terasa berat.

Ren mendekat. “Ibu kamu—”

“Aku sudah kirim pesan,” potong Airi cepat. “Nanti aku pulang.”

Tidak ada nada defensif. Tidak ada kebohongan besar. Hanya jawaban-jawaban pendek yang menutup ruang.

Hinami memperhatikan semuanya dengan tenang. Terlalu tenang.

“Kelas mau mulai,” katanya akhirnya. “Masuk dulu.”

Airi mengangguk dan berjalan mendahului.

Dan di saat itulah Hinami tahu.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Jam istirahat pertama.

Hinami menghampiri Airi di koridor. “Ikut aku sebentar.”

Nada suaranya bukan permintaan.

Airi ragu sesaat, lalu mengangguk. Mei berdiri tanpa berkata apa-apa dan ikut bersama mereka.

Mereka masuk ke toilet perempuan lantai dua. Sepi. Hanya bunyi air dari keran yang tidak tertutup rapat. Hinami memastikan pintu terkunci.

“Kamu ke mana semalam?” tanya Hinami langsung.

“Aku istirahat.”

“Di mana?” Mei menyela, suaranya lembut tapi tegas.

Hening sesaat.

“Di tempat yang aman.”

“Dengan siapa?” tanya Hinami lagi.

Airi mengangkat wajah. Tatapannya jernih. Terlalu jernih.

“Sensei Takahashi.”

Mei menegang.

Hinami hanya mengangguk kecil, seolah mencatat sesuatu di dalam kepalanya.

“Kamu tidur di sana?” tanya Mei pelan.

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak ngabarin?” suara Mei bergetar. “Kami nyari kamu semalaman.”

“Aku nggak mau bikin ribet.”

Kalimat itu menusuk.

Hinami menatap Airi lebih dalam. “Apa yang dia katakan ke kamu?”

Airi mengernyit. “Kenapa nanyanya begitu?”

“Karena kamu berubah,” jawab Hinami jujur. “Dan perubahan ini bukan karena kamu sembuh.”

Airi terdiam.

“Airi,” kata Mei lirih, “dia dosen. Dewasa. Posisi kalian nggak seimbang.”

“Aku tahu,” jawab Airi cepat. Terlalu cepat. “Tapi dia nggak ngapa-ngapain.”

“Itu bukan poinnya,” kata Hinami pelan. “Poinnya kenapa kamu merasa lebih aman sama dia daripada sama kami.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Airi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Aku capek,” katanya akhirnya. “Capek dijagain. Capek ditanyain. Capek disuruh kuat.”

Mei menggeleng pelan. “Kami nggak pernah minta kamu kuat sendirian.”

“Tapi aku merasa begitu,” balas Airi datar. “Sama dia, aku nggak perlu jadi apa-apa.”

Hinami menatap Mei. Mei menunduk.

Kecurigaan itu kini tidak lagi samar.

“Airi,” kata Hinami lembut, “kalau suatu hari kamu sadar ada yang salah, kamu harus tahu… kami ada.”

Airi tersenyum kecil. “Aku tahu.”

Tapi Hinami juga tahu.

Kepercayaan itu belum sepenuhnya kembali.

Percakapan mereka berakhir tanpa penutup yang jelas. Airi melangkah keluar dari toilet, diikuti Hinami dan Mei. Ia hampir bertabrakan dengan Ren di lorong.

“Airi.”

Ia berhenti. “Kenapa?”

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

Airi menatapnya lama. Ada rasa bersalah di sana. Ada lelah. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tidak bisa.

“Aku baik-baik saja.”

Ren tersenyum tipis.

Namun dadanya terasa semakin berat.

Karena untuk pertama kalinya, ia merasa Airi menjauh bukan karena takut.

Melainkan karena percaya pada tempat yang salah.

Dan di lorong kampus yang ramai itu, Takahashi memang tidak terlihat.

Namun jejaknya ada di mana-mana.

Di langkah Airi yang terlalu tenang.

Di jawabannya yang terlalu rapi.

Di ketenangan yang datang terlalu cepat.

Dan itu membuat semua orang yang mencintainya akhirnya sadar.

Bahaya tidak selalu datang dengan wajah menakutkan.

Kadang ia datang dengan suara lembut, ruangan yang bersih, dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!