Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 5.
Ruangan ICU itu kembali sunyi.
Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menegangkan. Seolah seluruh udara di dalamnya tertahan sejak pertanyaan itu terucap.
“Maaf… kamu siapa?” Ulang Rangga.
Milea berdiri mematung di samping ranjang. Senyum yang tadi sempat merekah di bibirnya perlahan membeku. Dadanya terasa kosong, seperti baru saja ditarik paksa oleh sesuatu yang tak terlihat.
Ia menatap Rangga, suaminya yang kini menatap balik dengan mata penuh kebingungan.
Bukan pura-pura, bukan bercanda.
Tatapan itu terlalu polos.
Dokter segera bergerak. “Tenang, Tuan Rangga. Anda baru sadar, jangan dipaksakan dulu.”
Rangga mengerjapkan mata, lalu kembali menatap Milea. Alisnya mengernyit, seolah mencoba mencocokkan wajah di hadapannya dengan potongan memori di kepalanya.
“Kepala saya… sakit,” ucapnya lirih.
Milea tersentak, refleks ia langsung menggenggam tangan Rangga.
“Kamu di rumah sakit, kamu kecelakaan.”
Rangga menatap tangan yang menggenggam tangannya. Tatapannya turun, lalu naik lagi ke wajah Milea. Tidak ada penolakan, tidak ada juga keakraban.
Hanya kebingungan murni.
“Nama kamu…?” tanyanya ragu.
“Aku Milea, istri kamu.”
“Istri?” Rangga mengulang pelan, seolah mengeja kata asing.
Ia mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mesin-mesin medis, selang, dinding putih.
“Kamu bercanda? Aku… belum menikah.”
Kalimat itu membuat Nyonya Atalia yang baru masuk ke ruangan langsung terhenti langkahnya.
Dokter pun saling pandang.
“Tuan Rangga,” ujar dokter dengan nada hati-hati, “Bisa sebutkan umur Anda sekarang?”
Rangga berpikir sejenak. “Dua puluh dua.”
Detik itu juga, udara terasa runtuh.
Nyonya Atalia menutup mulutnya. Milea kehilangan keseimbangan, hampir jatuh jika tak berpegangan pada sisi ranjang.
Dokter menarik napas panjang.
“Tuan Rangga, sekarang usia Anda tiga puluh dua tahun.”
Rangga tertawa kecil, begitu ringan.
“Dokter bercanda ya? Tahun ini harusnya aku baru lulus kuliah, mana mungkin aku sepuluh tahun lebih tua?”
Nada itu…
Nada itu bukan Rangga yang Milea kenal.
Nada itu ringan, tidak dingin. Tidak tegas, tidak juga kaku.
Itu suara Rangga… sepuluh tahun yang lalu.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan.
Dokter menanyai banyak hal, tentang nama lengkap. Tentang orang tua, tentang pekerjaan.
Rangga bisa menjawab semuanya, namun hanya sampai titik tertentu.
“Aku masih kerja di firma konsultan,” katanya yakin. “Baru mulai, sih. Lagi ngejar karier...”
Dokter mencatat.
“Tuan Rangga, Anda sekarang adalah Direktur Utama Azof Group.”
Rangga menatap sang Dokter dengan mata membelalak. “Apa?”
Ia tertawa kecil. “Yang bener aja.”
Ia menoleh ke Milea. “Ini semacam prank keluarga, ya?”
Milea tak sanggup menjawab.
Dokter akhirnya menyimpulkan dengan suara tenang namun berat, “Pasien mengalami amnesia retrograde. Ingatannya berhenti di sekitar usia dua puluh dua tahun. Ada kemungkinan ingatan kembali, tapi juga ada kemungkinan tidak.”
Kata-kata itu menggantung lama di benak Milea. Ingatan suaminya berhenti. Berarti… Rangga tak mengingat sepuluh tahun terakhir hidupnya.
Tak mengingat pernikahan mereka, tak mengingat dinginnya rumah tangga mereka. Tak mengingat rencana perceraian itu.
Rangga menatap semua orang di ruangan itu, lalu kembali ke Milea.
“Kalau kamu istriku, kenapa aku sama sekali nggak inget kamu?”
Pertanyaan itu terdengar benar-benar jujur, Dan itu… menyakitkan.
Milea tersenyum getir. “Mungkin… karena kita belum saling mengenal waktu itu.”
Rangga mengangguk pelan. Lalu, tanpa diduga. “Tapi sekarang... aku kenal kamu.”
Tatapan Rangga lembut, tidak dingin seperti biasanya saat menatap Milea.
Milea tercekat.
Beberapa jam kemudian, Rangga dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia tampak lebih segar, meski masih lemah. Namun satu hal yang jelas, sikapnya berubah total.
Rangga banyak bertanya pada Milea.
“Ini rumah sakit apa?”
“Kamu kerja di mana?”
“Kita udah nikah berapa lama?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Milea kelelahan secara emosional.
Namun yang paling mengejutkan adalah…
Cara Rangga menatap Milea. Tidak lagi kosong, tidak acuh. Melainkan penuh rasa ingin tahu, dan ketertarikan.
“Kamu cantik,” ucap Rangga tiba-tiba saat Milea membantunya minum.
Milea tersedak.
“A-apa?”
Rangga tersenyum kecil. Senyum yang ringan, nyaris nakal. “Aku jujur.”
Sementara Nyonya Atalia yang duduk di sudut ruangan, menyembunyikan ekspresi kagetnya. Matanya berkaca-kaca, ia merasa menemukan putranya yang dulu sebelum tragedi yang terjadi pada Radit.
Milea memalingkan wajah, “Kamu dulu… memang begini?”
Rangga tertawa pelan. “Aku memang selalu begini.”
Tidak! Kamu yang bersamaku selama empat tahun, begitu dingin.
Malam itu, Milea duduk sendirian di lorong rumah sakit. Kepalanya pening, hatinya kacau.
Rangga yang sekarang bukanlah Rangga yang ingin menceraikannya. Suaminya berjiwa muda, lebih hangat. Dan... lebih tampak manusiawi.
Namun justru itu yang membuat Milea takut.
“Kalau ingatannya kembali…” bisiknya lirih.
“Kalau dia kembali jadi Rangga yang dingin…”
Dadanya sesak, ia tak tahu harus berharap atau tidak. Karena untuk pertama kalinya setelah empat tahun… Rangga menatap dirinya seolah dia berarti untuk pria itu. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada dibenci.
Di dalam kamar, Rangga berbaring sambil menatap langit-langit. Nama Milea berputar di kepalanya. Entah kenapa, setiap kali wanita itu pergi meninggalkannya di kamar, dadanya terasa kosong.
“Aneh, padahal baru kenal.” Ia tersenyum kecil.
Tanpa ia sadari, hatinya sudah bergerak lebih dulu.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌