NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.16

Hutan itu berbau amis. Bukan amis rawa, melainkan amis darah segar.

Shen Yu terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pohon besar dengan suara krak yang menyakitkan. Tulang rusuknya yang baru sembuh patah lagi. Darah segar menyembur dari mulutnya, menodai jubah murid luarnya yang sudah compang-camping.

"Kau kuat juga untuk ukuran tikus," Han Hu berjalan mendekat sambil memutar-mutar tombaknya. Ujung tombak itu meneteskan darah Shen Yu.

Di sekeliling Shen Yu, tiga pembunuh bayaran yang masih bisa melihat mengepungnya. Mata mereka merah karena iritasi bubuk keras, tapi niat membunuh mereka semakin membara.

"Habisi dia," perintah Han Hu bosan. "Tuan Muda Jin pasti sudah lari jauh. Kita harus mengejarnya."

Seorang pembunuh menerjang, pedangnya mengarah lurus ke leher Shen Yu.

Shen Yu mencoba mengangkat tangannya, tapi tubuhnya terlalu berat. Kehabisan Qi. Kehabisan tenaga. Pandangannya mulai kabur.

Apakah ini akhirnya? Mati di lumpur hutan antah berantah?

Saat bilah pedang itu tinggal satu jengkal dari lehernya, darah dari luka di dada Shen Yu merembes menembus baju dalam, menyentuh permukaan Giok Retak.

DHEG!

Bukan kehangatan yang ia rasakan. Kali ini, Giok itu terasa sedingin kematian. Sebuah denyut kelaparan yang purba dan mengerikan meledak dari benda itu, langsung menusuk ke jantung Shen Yu.

Sebuah bisikan tak terdengar menggema di kepalanya: Lapar... Darah... Hidup...

Mata Shen Yu yang tadinya sayu mendadak terbuka lebar. Pupil matanya yang hitam legam berubah menjadi merah darah yang berpendar.

Waktu seolah melambat.

Tangan Shen Yu bergerak sendiri, didorong oleh insting buas. Ia menangkap bilah pedang pembunuh itu dengan tangan telanjang.

Sreeet!

Telapak tangannya teriris, darah mengucur. Tapi Shen Yu tidak melepaskannya. Sebaliknya, darahnya yang menyentuh pedang itu merambat naik seperti akar hidup, menuju gagang pedang, menuju tangan si pembunuh.

"Apa...?" Pembunuh itu terbelalak. Ia merasa tenaganya disedot paksa.

Shen Yu menarik pedang itu, mendekatkan wajahnya ke wajah si pembunuh, lalu melepaskan satu pukulan telak ke dada lawan.

Tinju Penghancur Batu Aura Haus Darah.

BUAGH!

Saat tinju Shen Yu menyentuh dada pembunuh itu, tidak ada ledakan tenaga. Yang terjadi adalah penyerapan.

Kulit pembunuh itu seketika keriput. Matanya cekung. Rambutnya memutih dalam sedetik. Jeritan tertahan di tenggorokannya saat vitalitas hidupnya ditarik keluar secara paksa, mengalir masuk ke tangan Shen Yu, lalu ke Giok, dan akhirnya menjadi energi murni yang membanjiri tubuh Shen Yu.

Luka-luka di tubuh Shen Yu menutup dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Tulang rusuknya tersambung kembali dengan bunyi krak-krak yang mengerikan.

Si pembunuh jatuh ke tanah. Kering. Mati. Seperti mayat hidup yang berusia ratusan tahun.

Hening.

Dua pembunuh lain dan Han Hu mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi.

"Ilmu... Ilmu Iblis..." gagap salah satu pembunuh. "D-Dia Kultivator Iblis!"

Shen Yu berdiri tegak. Ia memiringkan kepalanya, merasakan sensasi mabuk kekuatan yang memusingkan. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh haus pembunuhan.

"Masih kurang," suara Shen Yu serak, terdengar seperti dua suara yang bertumpuk.

"Bunuh dia! Serang bersamaan!" teriak Han Hu panik, auranya meledak ke Tahap 4. Ia menusukkan tombaknya dengan jurus andalan: Tombak Pemecah Gunung.

Shen Yu tidak menghindar. Ia menerjang maju menyambut tombak itu.

Jleb!

Tombak itu menembus bahu kiri Shen Yu. Tapi Shen Yu tidak berhenti. Ia terus maju, membiarkan tombak itu menembus tubuhnya semakin dalam hanya untuk memangkas jarak.

Han Hu terbelalak ngeri melihat kegilaan ini. "Kau gila!"

Shen Yu mencengkeram leher Han Hu dengan tangan kanan, dan wajah pembunuh kedua dengan tangan kiri.

"Makan."

Wuuuung!

Aura merah pekat meledak.

"ARGHHHHHH!"

Jeritan Han Hu dan pembunuh itu bersahutan, memecah kesunyian hutan. Tubuh kekar Han Hu mengejang hebat. Otot-ototnya menyusut. Qi Tahap 4 miliknya yang ia banggakan disedot habis tanpa sisa, menjadi makanan bagi Giok Retak.

Dalam sepuluh detik, Han Hu, murid senior yang sombong itu, jatuh ke tanah sebagai mayat kering dengan wajah terpelintir ketakutan abadi.

Pembunuh terakhir, melihat teman-temannya tewas dengan cara mengerikan, menjatuhkan senjatanya dan berbalik lari sambil berteriak histeris.

"Jangan pergi..."

Shen Yu memungut tombak Han Hu, lalu melemparnya dengan kekuatan mengerikan.

Jleb!

Tombak itu menembus punggung pembunuh terakhir, memaku tubuhnya ke batang pohon besar.

Hutan kembali sunyi. Hanya ada suara napas berat Shen Yu.

Ia berdiri di tengah ladang pembantaian. Tubuhnya bermandikan darah musuh, namun kulitnya sendiri mulus tanpa luka sedikit pun. Energi vitalitas yang berlebih membuatnya merasa panas, seolah terbakar dari dalam.

Tiba-tiba, semak belukar di kejauhan tersibak.

"Di sini! Aku mendengar suara pertarungan di arah ini!"

Itu suara Jin Bo.

Jin Bo muncul dengan napas terengah-engah, diikuti oleh dua orang Penegak Hukum Sekte yang kebetulan sedang patroli di dekat hutan.

"Shen Yu! Bertahanlah, aku memba—"

Kata-kata Jin Bo terhenti di tenggorokan.

Pemandangan di depannya bagaikan lukisan neraka.

Empat mayat yang mengering aneh tergeletak di lumpur. Han Hu, yang tadi begitu gagah, kini tampak seperti kerangka berbalut kulit. Dan di tengah semua itu, berdiri Shen Yu.

Punggung Shen Yu menghadap mereka. Tangan kanannya masih meneteskan darah hitam dari leher Han Hu. Aura merah samar perlahan memudar dari tubuhnya, tapi hawa membunuh yang tersisa begitu pekat hingga membuat udara terasa dingin.

Para Penegak Hukum segera mencabut pedang mereka, waspada. "Apa yang terjadi di sini? Siapa yang melakukan teknik keji ini?!"

Shen Yu tersentak. Kesadarannya perlahan kembali. Warna merah di matanya memudar menjadi hitam normal. Rasa lemas yang luar biasa menghantamnya saat Giok Retak berhenti menyuplai energi dan kembali tidur.

Ia berbalik perlahan. Wajahnya pucat, tapi matanya kosong.

"Mereka... mereka menggunakan teknik terlarang," Shen Yu berbohong dengan suara lemah, otaknya bekerja cepat mencari alasan. "Han Hu... dia mencoba mengorbankan orang-orang ini untuk ritual darah... tapi gagal... dan berbalik menyerang dirinya sendiri..."

Itu kebohongan yang buruk. Tapi mayat-mayat kering itu memang ciri khas ritual darah yang gagal.

Shen Yu menatap Jin Bo. Tatapan memohon. Tolong, jangan bongkar aku.

Jin Bo menatap mata Shen Yu. Ia melihat ketakutan di sana, di balik topeng pembunuh itu. Jin Bo menelan ludah, menatap mayat Han Hu, lalu kembali ke Shen Yu.

Otak cerdas Jin Bo mengerti. Shen Yu yang membunuh mereka. Dengan cara yang tidak manusiawi.

Namun, Jin Bo teringat bagaimana Shen Yu tadi menerjang maju sendirian untuk memberinya waktu lari. Iblis atau bukan, Shen Yu menyelamatkan nyawanya.

Jin Bo menarik napas panjang, lalu berbalik pada Penegak Hukum.

"Benar," kata Jin Bo tegas, suaranya sedikit bergetar. "Saya melihat Han Hu mengeluarkan pil merah aneh sebelum saya lari. Dia pasti kehilangan kendali atas teknik sesatnya sendiri. Shen Yu hanya beruntung bisa selamat."

Penegak Hukum mengerutkan kening, memeriksa mayat Han Hu. "Sekte Darah Besi memang sering menggunakan teknik bunuh diri seperti ini. Cih, sampah sekte luar."

Mereka menyarungkan pedang. "Bereskan mayat-mayat ini. Kalian berdua, ikut kami untuk memberi kesaksian."

Saat Penegak Hukum sibuk, Jin Bo berjalan mendekati Shen Yu.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak menepuk bahu. Ia hanya berbisik pelan saat melewatinya.

"Hutang nyawaku lunas. Tapi Shen Yu... apa pun yang ada di dalam dirimu itu... suatu hari nanti ia akan memakanmu."

Shen Yu hanya bisa menunduk, menatap tangannya yang bersih tanpa luka namun terasa sangat kotor.

Ia selamat. Tapi ia tahu, hari ini ia telah kehilangan sebagian dari kemanusiaannya.

1
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😈👿😈Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡🤬😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👻👻👻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👿😈👿Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🔜🔜🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😁😁😁Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄🙄🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🥹🥹🥹Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!