NovelToon NovelToon
Keturunan Pendekar

Keturunan Pendekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Anak Yatim Piatu / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Matahari

Tubuh Raka meluncur dan semakin mengecil, dari pandangan tiga iblis gunung kunyit

" Kak Badra, melihat perawakan dan penampilan serta ilmunya sepertinya pemuda itu yang kita cari, tetapi mengapa yang wanita tak ada?" tanya Ludira,

" sepertinya ia , memang pemuda itu yang menghancurkan tambang di desa Galian, sepertinya mereka berpisah" sahut Badra

" Kalau begitu ayo kita kembali ke gunung kunyit pekerjaan kita telah beres" ajak Sunar sambil memegang bahunya yang terluka, ia ingin secepatnya mengobati luka lukanya

" Ayo kita kembali" sahut Badra . mereka berjalan pergi dari tempat itu. tak menghiraukan mayat anak buahnya yang bergeletakan di pelataran.

setelah Tiga Iblis Gunung Kunyit pergi Ki Aji segera keluar begitu juga dengan para warga mereka mengintip pertarungan Raka dengan Tiga iblis dan melihat Raka yang terpental masuk ke dala jurang

" Bagaimana Ki apa pemuda itu akan selamat?" tanya seorang warga sambil melihat ke arah jurang

" aku tak tahu tepi melihat dalamnya jurang neraka ini kemungkinan untuk selamat kecil" Jawab Ki Aji Sena ia menggelengkan kepala menyesali Raka yang terjatuh ke dalam Jurang Neraka

" Mayat mayat ini bagaimana Ki? apa kita lemparkan saja ke dalam jurang?" tanya salah satu warga lagi

" jangan kita tak tahu apa pemuda itu selamat atau tidak, jika ia selamat di bawah bisa jadi celaka jika tertimpa mayat yang kita lemparkan, ayo kita kuburkan saja di hutan luar " sahut Ki Aji , dalam hati ia berdoa agar Raka yang terjatuh bisa selamat walau kemungkinan itu kecil.

Dengan menggunakan gerobak sapi milik warga dua puluh anak buah Tiga Iblis Gunung Kunyit di bawa ke hutan luar desa, untuk di kuburkan di hutan luar desa.

Dengan di pimpin Ki Aji mereka menguburkan anak buah Tiga Iblis dalam satu liang yang besar

Sementara Raka yang terjatuh berusaha meraih apapun yang bisa ia jadikan pegangan , kini ia melihat sebuah dahan pohon yang cukup besar , ia mengulurkan tangan mencoba meraih dahan itu

Tap

Kraaak

Krosaaaak

Aaaaaaah

dahan itu berhasil ia raih, namun karena derasnya luncuran ia jatuh dahan itu patah dan ia kembali terjatuh, tetapi kali ini daya luncurnya berkurang, Raka segera mengempos tenaganya dan menjadikan dahan yang patah itu sebagai pijakan untuk melompat, ke arah pepohonan tang tumbuh di dinding jurang itu

Hiaaaaat

Tap

kini ia berhasil meraih satu pohon , ia beristirahat sejenak menenangkan hatinya yang tadi detak beberapa kali lebih cepat karena jatuh ke jurang,

" Huh, selamat" Raka duduk di salah satu dahan yang agak besar , ia duduk bersila dan mengumpulan kembali tenaganya yang terkuras habis karena bertarung melawan Tiga Iblis yang sakti.

" aku harus meningkatkan tenaga dalamku" gumam Raka dalam hati, jika melawan Tiga Iblis Gunung Kunyit saja ia kalah bagaimana ia akan mengalahkan Hantu Berkabut yang merupakan dedengkotnya golongan Hitam. dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh Raka turun ke dasar jurang,, ia melompat dari satu pohon ke pohon lain

Hiaaaat

tap

setelah beberapa kali berloncatan memanfaatkan pohon Raka berhasil juga sampai di dasar jurang

Dasar jurang ternyata sangat sempit namun memiliki jalur yang panjang seperti jalan setapak, Raka berjalan menyusuri jalan itu, ia tak merasa takut kelaparan di sana karena melihat banyak hewan hutan di sepanjang jalan, kelinci dan ayam hutan yang paling sering ia lihat, setelah berjalan beberapa lama kini di hadapan Raka terhalang sebuah dinding tebing yang terjal, sebuah goa gelap juga terlihat di tengah dinding tebing itu.

Udara di dasar Jurang Neraka terasa lembap dan dingin, namun bagi Raka, keheningan di sini adalah berkah setelah pertarungan maut yang nyaris merenggut nyawanya. Ia berdiri di depan mulut goa yang menganga lebar di tengah dinding tebing. Goa itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani masuk. Namun, insting pendekarnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang besar bersembunyi di balik kegelapan itu.

"Jika takdir membawaku jatuh ke tempat ini, pasti ada alasan di baliknya," gumam Raka sambil melangkah masuk.

Baru saja kakinya menginjak lantai goa yang terasa licin, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara mekanis yang halus. Klik.

"Wush!"

Dari lubang-lubang kecil di dinding goa, semburan api merah berkobar dahsyat, menutup seluruh lorong. Raka dengan sigap melakukan salto ke belakang, hawa panasnya nyaris membakar ujung pakaiannya. Belum sempat ia bernapas lega, lantai yang ia injak tiba-tiba bergetar.

Ser

ser

ser

"Anak panah!"

Raka melihat puluhan anak panah melesat dari arah depan. Dalam ruang yang sempit itu, ia tak mungkin menghindar sepenuhnya dengan melompat. Ia mengempos tenaga dalamnya, mengaktifkan kembali Rajeg Wesi. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia memutar sisa kain jubahnya untuk menangkis anak panah yang datang bagai hujan deras.

Trang! Trang! Trang!

Beberapa anak panah yang lolos hanya terpental saat mengenai kulitnya yang telah diperkuat tenaga dalam. Namun, jebakan goa ini seolah memiliki kecerdasan sendiri. Saat Raka mencoba merangsek maju, lantai di bawahnya mendadak berubah menjadi lembek dan menghisap kakinya.

"Lumpur hidup!"

Raka merasakan kakinya terhisap dengan cepat hingga batas lutut. Semakin ia meronta, semakin dalam ia tenggelam. Di saat yang sama, dinding goa mulai menyempit, perlahan bergerak hendak menghimpitnya.

"Tenang... aku harus tenang," bisik Raka pada dirinya sendiri. ia mengerahkan langkah bayangan dan mengempos tenaganya sampai puncaknya

Blap!

Ia berhasil melesat keluar dari lumpur hidup tepat sebelum dinding batu itu beradu dengan dentuman keras. Dengan beberapa kali lompatan cepat di dinding goa, Raka akhirnya mencapai sebuah ruang luas di ujung lorong yang gelap.

Di tengah ruangan luas itu, tidak ada lagi kegelapan. Sebuah pilar batu berdiri di tengah kolam air jernih, dan di atas pilar itu tertancap sebilah pedang yang mengeluarkan cahaya keemasan yang sangat terang, menyilaukan mata Raka. Cahayanya sehangat matahari pagi, mengusir hawa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya.

Raka berjalan mendekat. Di bawah pedang itu, terukir aksara kuno yang bergetar saat terkena cahaya: Pedang Matahari

Dengan penuh hormat, Raka menjulurkan tangannya. Saat jemarinya menyentuh hulu pedang  sebuah sengatan energi murni merambat masuk ke seluruh pembuluh darahnya.  Raka menarik pedang itu.

Sring!

Pedang itu tercabut dengan suara berdenting yang merdu. Begitu terlepas dari pilar batu, ruangan itu seketika menjadi terang benderang. Cahaya dari bilah pedang itu memantul ke dinding-dinding goa,

Raka terkesima. Seluruh dinding goa itu ternyata dipenuhi dengan pahatan gambar-gambar pendekar dalam berbagai posisi silat yang rumit. Di atas setiap rangkaian gambar, tertulis nama jurusnya: Sembilan Jurus Pedang Matahari.

"Ini adalah ilmu tingkat tinggi yang jauh melampaui apa yang pernah kupelajari," batin Raka takjub.

Ia membaca bait pertama: Pedang adalah cahaya, dan cahaya tidak mengenal rintangan. Satukan nafasmu dengan putaran semesta.

Raka memutuskan untuk menetap di sana. Ia sadar, dengan kemampuannya saat ini, ia hanya akan menjadi bulan-bulanan jika kembali bertemu dengan Badra dan kawan-kawannya, apalagi menghadapi Hantu Berkabut. Ia butuh kekuatan yang mampu mengalahkan kekuatan Hantu Berkabut

Hari demi hari dilewati Raka di dalam goa. Ia memulai dengan meningkatkan tenaga dalamnya. Ia duduk bersila di samping Pedang Matahari yang ia tancapkan di tanah. Hawa hangat dari pedang itu membantu mempercepat sirkulasi tenaga dalamnya. Energi dari Buah Dewa yang masih tersisa di dalam tubuhnya kini benar-benar menyatu dan disempurnakan oleh hawa murni dari goa tersebut.

Setelah merasa tenaga dalamnya cukup kuat, ia mulai berlatih jurus pertama: Cahaya Fajar Membelah Kabut.

Raka mengayunkan pedangnya. Setiap gerakan menciptakan garis cahaya yang membelah udara. Jurus ini sangat berbeda dengan Pedang Kilat miliknya yang mengandalkan kecepatan murni. Pedang Matahari mengandalkan ketajaman energi yang mampu menghancurkan pertahanan lawan bahkan sebelum bilah pedang menyentuh fisik.

Bulan pertama, Raka menguasai tiga jurus pertama. Tubuhnya kini lebih padat, dan gerakannya lebih sempurna. Namun, jurus keempat, Gerhana Penelan Sukma, menuntut konsentrasi yang luar biasa. Ia harus mampu memadamkan cahaya pedangnya dalam sekejap untuk melakukan serangan kejutan, lalu meledakkannya kembali dengan kekuatan penuh.

Seringkali Raka gagal, mengakibatkan ia terlempar oleh energi pedangnya sendiri. Namun, kegagalan itu justru membuatnya semakin penasaran. Ia teringat wajah Anggun, teringat dendam orang tuanya, dan teringat hinaan dari Tiga Iblis Gunung Kunyit.

"Aku tidak boleh kalah oleh egoku sendiri!" raung Raka di tengah kesunyian goa.

Ia berlatih tanpa henti. Makanannya hanyalah ikan dari kolam jernih dan beberapa tumbuhan jamur yang tumbuh di celah batu. Namun, anehnya, ia tidak merasa lapar atau haus yang berlebihan. Energi dari Pedang Matahari seolah-olah memberi makan pada tubuhnya

Pada bulan ketiga, Raka mulai melatih jurus pamungkas yang terpahat di dinding terdalam: Matahari Puncak Langit. Gambar di dinding menunjukkan seorang pendekar yang dikelilingi oleh aura api yang dahsyat, mampu meratakan sekelilingnya hanya dengan satu tancapan pedang ke tanah.

Raka berdiri di tengah ruangan. Ia memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke arah Pedang Matahari. Bilah pedang itu mulai bergetar hebat, mengeluarkan suara seperti ribuan lebah yang terbang. Cahaya di ruangan itu menjadi sangat terang hingga seolah-olah matahari benar-benar turun ke dalam goa.

"Hiaaaaaaat!"

Raka mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar yang rumit, lalu menghantamkan ujungnya ke lantai batu.

Whosh

BOOM!

Gelombang energi berwarna emas meledak dari titik tumpu pedang, merambat ke seluruh penjuru ruangan. Dinding-dinding goa bergetar hebat, namun tidak runtuh. Raka berdiri di tengah ledakan itu, napasnya stabil, dan tubuhnya tidak lagi merasakan beban sedikit pun. Ia telah mencapai tingkatan baru dalam dunia persilatan.

Raka melihat ke arah pintu goa. Sudah berapa lama ia berada di sini? Ia tidak tahu pasti, namun janggut dan rambutnya sudah tumbuh lebih panjang. Tatapan matanya kini tidak lagi liar karena dendam, melainkan tenang dan dalam seperti samudera, namun menyimpan api yang siap membakar siapa pun yang berbuat jahat.

Ia menyarungkan Pedang Matahari ke dalam sarung pedang kulit yang ia temukan di dekat pilar. Pedang itu kini tampak seperti pedang biasa, cahayanya hanya akan muncul saat sang pemilik menghendakinya.

"Tiga Iblis Gunung Kunyit... Badra... Hantu Berkabut... Tunggulah aku," ucap Raka dengan nada dingin namun penuh keyakinan.

Ia melangkah keluar dari goa, melewati kembali semua jebakan yang sebelumnya nyaris membunuhnya. Kali ini, ia bergerak begitu cepat dan ringan sehingga anak panah dan semburan api bahkan tidak mampu menyentuh ujung pakaiannya. Lumpur hidup pun hanya terasa seperti lantai keras di bawah kakinya karena ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai tingkat kesempurnaan.

Sampai di dasar jurang, Raka menatap ke atas. Dinding tebing yang menjulang tinggi itu tidak lagi tampak menakutkan baginya. Dengan Pedang Matahari di punggungnya dan ilmu baru di dalam dadanya, Raka memulai pendakiannya kembali ke dunia atas.

1
Was pray
baru aja muncul si raka tokan sama saka repe udah tenggelam.... 🤣🤣
angin kelana
untuk kesaktian ajian,jurus,pusaka agar di berinama agar menjiwai novel silat indonesia.
angin kelana
lanjuuuutt
angin kelana
awal yg menarik lanjuuuuttt..
Redy Ryan Little
Bagus
Hendra Yana
ditunggu up selanjutnya
Was pray
kasihan di Raka, isoh ngambang Ra isoh nyuling, isoh nyawang Ra lisoh nyanding.. sengsara membawa luka
Hendra Yana
lanjut
Hendra Yana
semangat
Dewi kunti
smg tidak terpecah belah
Was pray
wah saka dikasih hati minta jantung, Raka nasibnya gak pernah mujur, ibarat berakit-raki ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu sengsara kemudian, 😄😄
Blue Angel: ha ha ha
total 1 replies
Hendra Yana
di tunggu up selanjutnya
Blue Angel
kembali ke jaman dulu
Blue Angel: inbok aja
total 2 replies
Dewi kunti
hadeeeeehhh tegang bacanya
Batsa Pamungkas Surya
👍🙏lanjutkan💪
Dewi kunti
kayak kurang tepat ya kalimatnya "berguru di pada Ki geni"
Blue Angel: ha ha ha, untung sunar nya udah di bikin koit yah
total 6 replies
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mantaaaap
Hendra Yana
up lagi dong
anggita
ikut dukung like👍 iklan👆👆, untuk novel laga lokal. moga lancar novelnya.
Blue Angel: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!